Bagaimana komentar para pendukung Jokowi yang menghimbau "kerja sama...,musyawarah....". Saya bertanya-tanya sendiri apa orang ini sedang hidup di "surga"?? Lha wong keputusan MA dengan terang-terangan dikentutin oleh pejabat pemerintah bahkan oleh presiden, kok masih bisa menuntut kepada rakyat supaya "kerja sama...musyawarah".. Ini orang tidak lihat bagaimana bedil, gas air mata, dan pentung adalah jawaban yang diterima massa ketika mereka menolak kebijakan pemerintah...Mengertilah kita banyak orang tidak punya waktu untuk mengikuti perjuangan petani Kendeng. Kalau begitu, tahu dirilah, jangan ngomong asal ngomong menjajakan teori sosdem "kolaborasi kelas". Tidak mau pakai kata kolaborasi, boleh, pakailah kata "kerja sama kelas". Yang penting hakekat dan intinya sama: kolaborasi adalah sinonim dari kerja sama.
"Tentang Suara Sumbang MenyikapiAksi Dipasung Semen 2" Ini adalah masalah kemanusiaan. Ketika saudarakita telah berjuang sampai taraf nekad kalau boleh dibilang, maka berarti penguasa tengahpongah. Menyemen kaki adalah gambaran tentang terpasungnya keadilan dan nuranikemanusiaan. Perlawanan terhadap tirani penguasa dalam berbagai kasus telahmembuahkan berbagai kenekadan. Dalam konteks demokrasi, saat melawan kita tidak harus menenteng senjata danberperang untuk saling bunuh-bunuhan. Revolusi di Tunisia terjadi ketikaseorang warga membakar dirinya sendiri karena ketidakadilan yang terusdipertontonkan penguasa. 13 November 1970, ada seorang Chun Tae-il, buruhpabrik garmen di kota Seoul, yang membakar diri di depan aksi. ‘Stop eksploitasi buruh!Jangan biarkan kematianku sia-sia!’ teriaknya sesaat sebelum api menjilattubuhnya. Amarah massa segera mengguncang Korea Selatan. Di Irlandia, tercatat nama Bobby Sands, pejuangkemerdekaan Irlandia. Berulangkalimasuk tahanan, ia tak pernah menyerah. Di ujung protesnya, ia nekat mogokmakan. Di hari 65, tubuhnya terjungkal. Ia meninggal 5 Mei 1980, di usia 26. Lebih memilukan, nyawa Rachel Corrie yang rebah ditengah padang Gaza pada 2003. Di tengah desingan peluru militer Israel, gadispemberani yang datang jauh dari Amerika Serikat sebagai relawan itu berlari menyongsongtank yang hendak robohkan rumah-rumah warga. Ia berdiri tegak. Buldosermerangkak perlahan. Orang berteriak-teriak dan melambaikan tangan. Buldoser tetap merangkak,melindas tubuh Corrie. Berkali-kali, hingga luluh lantak. Pada07 Desember 2011, seorang buruh berlari ke depan Istana Negara Jakarta dengantubuh terlalap api untuk menuntut keadilan, penyelesaian pelanggaran HAM, danpersoalan kemiskinan. Sondang Hutagalung dia namanya. Kini, untuk kedua kalinya. Warga dari Pegunungan Kendeng melakukan aksinekad dengan menyemen kakinya. Mereka adalah warga dari Rembang, Pati, dan Blora yangtengah berjuang atas nama alam, ruang hidup, dan kemanusiaan untuk menolakpendirian dan penambangan pabrik semen di wilayah mereka. Bagi sebagian orang beranggapan bahwa aksi-aksi nekad itu adalahkekonyolan dan keputusasaan yang tidak akan merubah apa-apa. Sebagian berserubahwa mereka adalah korban dari propaganda dari para aktivis. Yang lebih sinismenganggap bahwa aksi tersebut adalah bagian dari kerja untuk mencari uang. Ada juga yang meminta pihak aparat menghukum dan menghakimipenanggungjawab atau pemimpin aksi, karena menilai aksi tersebut sangatmembahayakan. Disisi yanglain ada sebagian orang yang menasbihkan dirinya peduli lingkungan dan menolakpabrik semen tapi menyinyiri setiap ada saudaranya yang tengah berjuang, sambilsesekali bertanya kok para pimpinannya tidak ikut menyemen kaki? Merekayang memandang remeh, sinis, membully, dan menertawakan aksi nekad menyemenkaki tersebut, terlintas dibenakku sedang menyeduh teh atau kopi, sambil dudukongkang-ongkang memijit-mijit ponselnya untuk update status di Facebook atauTwitter. Atau mungkin bersikap nyinyir untuk mendapat perhatian penguasaatau pabrik semen agar diberi jatah uang makan atau pulsa untuk jadi buzzer. Atau mungkin berbuat seperti itukarena sedari awal telah menjilat-jilat pantat penguasa atau perusahaan agartetesan CSR tetap mengalir. Sementara disisi yang lain para petani Pegunungan Kendeng sedang menahansakit, amarah, dan duka tatakala semen yang semakin mengeras memasung kakinya.Amarah dilontarkan terhadap pola penguasa yang tidak mau mendengar suararakyatnya. Sementara duka mengalir dilautan ketidakadilan yang tengahdipertontonkan. Mereka yang memasung kaki dan dituduh untukmendapat pundi-pundi uang dan dimanfaat oleh para aktivis sebagai ladangpekerjaan adalah cara berpikir yang dangkal. Itu adalah cara berpikir penguasa yang kemudian memaksamasyarakat dipasung kemanusiaannya. Aku tak yakin yang mengatakan seperti itupernah meluangkan waktunya untuk bertanya pada mereka yang dipasung tentanglatar belakang perlawanannya. Cara berpikir seperti itu juga melihatbahwa masyarakat itu bodoh, tak memiliki prinsip, dan seperti benda mati yangdapat digerak-gerakan kesana kemari. Semoga yang berpikir seperti itu lekastaubat, karena bisa jadi sambil mengatakan seperti itu tangannya tengahmenunjuk mukanya sendiri. Keteguhanperlawanan yang mampu bertahan lama tidak akan terbayar dengan pundi-pundi uang.Sikap itu dibentuk olehkesadaran. Mereka yang selalu bersentuhan dengan alam menyadari akanbahaya pendirian dan penambangan pabrik semen. Mereka yang hanya memiliki sebidang tanah untuk rumah danpertanian menyadari kekejaman industri pertambangan semen ini. Itu yangmembuat perlawanannya mekar berseri. Tidak pernah layu walaupun berbagai niatburuk berdatangan silih berganti. Perlawanan itu tidak akan pernah terbeli oleh sekarung emas atau bahkaniming-iming CSR sekalipun. Dia tidak akan pernah mati. Akan berlipatganda. Menjadi palu gada yang akan menghancurkan kesewenang-wenangan danmembangun kembali sistem yang peduli pada kemanusiaan. Mari kita bangunkan diri kita kemudian berdiri danberjalan untuk turut berjuang dalam barisan perlawanan. Ditulis oleh Lintang Selatan
