Usep memaparkan sebanyak 22,6 persen warga DKI setuju jika saat ini intoleransi 
di Jakarta mencapai tahap sangat mengkhawatirkan. Kemudian sebanyak 48,7 persen 
menyebut mengkhawatirkan, dan sisanya sebanyak 21,3 persen tidak memberi 
jawaban. 

"Jadi secara keseluruhan yang khawatir dengan isu intoleran ini mencapai 71,4 
persen," kata Usep dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (23/3). 
..."Mereka (Anies-Sandi) mudah diuntungkan dengan politik identitas yang jadi 
bahan memunculkan intoleransi ini, apalagi paslon nomor tiga bisa merangkul 
FPI," kata Usep. 
,,,
Intoleransi Kian Mengkhawatirkan di Pilkada Putaran Kedua

Tiara SutariKamis, 23/03/2017 19:33 WIB   
   - Sebarkan:
    
   - 
    
   - 
    
   - 
Ilustrasi. (CNN Indonesia/Marselinus Gual)Jakarta, CNN Indonesia -- Public 
Opinion and Policy Research (Populi) Center menyebut Intoleransi di kalangan 
warga ibu kota meningkat selama Pilkada DKI Jakarta putaran kedua. Praktik 
intoleransi bahkan disebut  sudah masuk tahap mengkhawatirkan.

Direktur Populi Center Usep S Ahyar mengatakan praktik intoleransi yang 
meningkat terbukti dengan semakin banyaknya sebaran fitnah dan 
larangan-larangan berbau agama yang dilontarkan satu kelompok untuk menjatuhkan 
kelompok lainnya. 

| 
Lihat juga:
Djarot Berpeci di Surat Suara Putaran Kedua Pilkada 2017 |

Meningkatnya intoleransi juga didukung oleh survei yang dilakukan oleh Populi 
Center. Usep menyebut, dari data survei yang dihimpun lembaganya, warga Jakarta 
membenarkan tingginya tingkat intoleransi selama Pilkada. 

Usep memaparkan sebanyak 22,6 persen warga DKI setuju jika saat ini intoleransi 
di Jakarta mencapai tahap sangat mengkhawatirkan. Kemudian sebanyak 48,7 persen 
menyebut mengkhawatirkan, dan sisanya sebanyak 21,3 persen tidak memberi 
jawaban. 

"Jadi secara keseluruhan yang khawatir dengan isu intoleran ini mencapai 71,4 
persen," kata Usep dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (23/3). 

| 
Lihat juga:
Polda Metro Kantongi Nama Aktor Intelektual Spanduk Kebencian |

Isu intoleransi selama Pilkada DKI putaran kedua juga diyakini berdampak besar 
bagi pasangan calon yang bertarung, yakni Anies Baswedan-Sandiaga Uno dan 
Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat. 

Usep menyebut sedikit banyak isu tersebut memberi banyak keuntungan bagi 
pasangan calon, terlebih untuk pasangan calon nomor urut tiga Anies-Sandi. 

"Mereka (Anies-Sandi) mudah diuntungkan dengan politik identitas yang jadi 
bahan memunculkan intoleransi ini, apalagi paslon nomor tiga bisa merangkul 
FPI," kata Usep. 

Sayangnya, saat ditanya soal waktu, metode, jumlah responden terkait survei 
intoleransi itu, Populi enggan memberikan gambaran detailnya. 

| 
Lihat juga:
Copot Spanduk Provokatif, Sumarsono Tak Takut Hadapi Tuntutan |

Isu SARA belakangan memang menyeruak. Sejumlah musala dan masjid di Jakarta 
memasang spanduk yang melarang menyalatkan jenazah yang semasa hidupnya 
mendukung pasangan Ahok-Djarot. Alasannya, Ahok dianggap sebagai penista agama 
dan calon pemimpin kafir. 

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebenarnya telah mengambil langkah untuk 
mencopot spanduk-spanduk tersebut. 

Pemprov DKI bekerjasama dengan pihak kepolisian dan aparat dari Kementerian 
Agama. Namun, di lapangan, masih ada sejumlah masjid dan musala yang memasang 
spanduk tersebut. (wis/asa)

Kirim email ke