Bener partai politik punya andil bikin Indonesia rusak.

Tetapi ini bukan sejak 2009. Sejak jaman soeharto pun sudah ada suara yg 
mengatakan seperti ini mis: kelompok petisi 50, interupsi brigjen bo’ink dll. 
Gus dur malahan pernah bilang “semua partai politik boleh menggunakan atribut 
nama gus dur tetapi PKB muhaimin Iskandar tidak boleh”.

 

Yang tidak benar adalah membebankan semua persoalan ke partai politik saja. 
Apalagi menyuruh parpol harus bertanggung jawab dan semua parpol harus dihukum. 
Kalau pertanggungjawaban dan hukuman akan bikin parpol Indonesia tambah rusak, 
kan artinya mau bikin NKRI bubar.

 

Ya ini sangat tidak benar apalagi ente terus2an menyerang PDIP!

 

Yang betul harusnya kesalahan2 parpol itu dibetulin, diperbaiki tanpa 
menghilangkan parpol di Indonesia.

 

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Friday, March 24, 2017 3:43 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] Survei: Partai Politik Makin Tidak 
Dipercayai,Masyarakat [1 Attachment]

 

  

Sudah lama banyak orang partai mengaku seperti ini. Menjelang

pemilu 2009 malah pada berjanji untuk berbenah mengingat 



suara Golput terus bertambah dan sering lebih banyak dari suara

pemenang pemilu. Sialnya, partai-partai itu culas. Mereka bikin 



aturan yang tidak menghitung setiap pemilik hak suara. Akibatnya,

suara Rakyat yang Golput dan sangat banyak itu tidak pernah dianggap 



sebagai faktor demokrasi.





Karena semakin tidak dipercaya maka semua partai itu harus 



pertanggungjawabkan keadaan negara yang selama ini mereka kuasai.

Keadaan yang semakin melenceng jauh dari cita-cita proklamasi.





Semua partai itu harus dihukum, ditekan lebih keras supaya mereka 



mau berbenah dan betul-betul bekerja untuk Rakyat. Hukum partai 



secara keseluruhan. Jangan cuma ketuanya saja yang menghukum kader, 



apalagi hanya lantaran partainya kalah pemilu.





Bagaimana negara nggak rusak, lha partainya kayak gerombolan mafia.

 

--- j.gedearka@ <mailto:j.gedearka@> ... wrote:


https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858765/survei-partai-politik-makin-tidak-dipercayai-
 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858765/survei-partai-politik-makin-tidak-dipercayai-masyarakat>
 

masyarakat 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858765/survei-partai-politik-makin-tidak-dipercayai-masyarakat>
 

 

Survei: Partai Politik Makin Tidak Dipercayai Masyarakat

Kamis, 23 Maret 2017 | 09:29 WIB

 



Ilustrasi DPR. ANTARA/Widodo S. Jusuf

TEMPO.CO <http://tempo.co/> , Jakarta - Sejumlah lembaga survei menilai tingkat 
kepercayaan masyarakat terhadap partai politik di masa pemerintahan Presiden 
Joko Widodo-Jusuf Kalla semakin buruk. Akibatnya, masyarakat akan ogah memilih 
partai politik tanpa figur tepercaya serta antikorupsi untuk membawa perubahan 
bagi daerah atau negara. “Sebanyak 51,3 persen masyarakat menilai politik 
buruk,” ujar Direktur Eksekutif Indobarometer Muhammad Qodari di Jakarta, Rabu, 
22 Maret 2017.

Survei dilakukan menyambut 2,5 tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Metode yang 
digunakan adalah acak untuk menghitung 1.200 responden di 34 provinsi dengan 
angka margin of error sekitar 3 persen. Selain masalah politik, hasil sigi 
menyatakan masyarakat puas atas kinerja Jokowi-Kalla, tapi meminta perbaikan di 
sisi ekonomi, terutama lapangan pekerjaan.

Baca: Survei: Menteri Susi Dinilai Publik Paling Baik Kinerjanya 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858702/survei-menteri-susi-dinilai-publik-paling-baik-kinerjanya>
 

Qodari melanjutkan, masifnya ketidakpercayaan itu juga berdampak terhadap 
tingkat kedekatan masyarakat kepada partai. Sebanyak 62,9 persen masyarakat 
merasa tidak dekat dengan partai. “Efeknya, masyarakat juga tidak percaya 
kepada lembaga DPR,” ujarnya. Peneliti dari Indobarometer, Hadi Suprapto, 
menjelaskan, masyarakat semakin tidak percaya kepada partai karena banyak kader 
partai yang terjerat kasus hukum, termasuk korupsi.

Direktur Program Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirajuddin Abbas 
mengatakan lembaganya juga pernah mengeluarkan hasil serupa pada Oktober tahun 
lalu, saat dua tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Salah satu hasilnya, ucap dia, 
tingkat kedekatan partai juga menurun. “Dari di atas 10 persen menjadi tinggal 
9 persen,” ucapnya.

Akibatnya, kata Sirajuddin, masyarakat ogah memilih partai ataupun legislator 
jika kondisi ketidakpercayaan tetap berlangsung hingga pemilu legislatif 2019. 
Apalagi, kata dia, ada gejala terbalik dari masyarakat akibat pemilihan kepala 
daerah yang menampilkan figur serta ketokohan. Sirajuddin memprediksi gejala 
ini akan menjalar ke pilpres karena partai berimplikasi langsung kepada setiap 
calon.

Baca: Hasil Survei DPR Lembaga Terkorup, Zulkifli Hasan: Jadi Koreksi 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858735/hasil-survei-dpr-lembaga-terkorup-zulkifli-hasan-jadi-koreksi>
 

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono membenarkan bahwa tingkat 
kepercayaan terhadap partai semakin buruk. Alasannya, ucap dia, partai tidak 
bisa menampilkan transparansi keuangan kepada masyarakat. Partai, menurut dia, 
juga masih lebih fokus mencari kekuasaan dan kurang mempedulikan kepentingan 
masyarakat, seperti meningkatkan kesejahteraan dan pendidikan serta menjamin 
kesehatan. “Kami akui ini,” tuturnya.

Begitu juga dengan DPR. Menurut Agung, banyak faktor yang menyebabkan 
masyarakat tidak percaya kepada DPR, yang merupakan cerminan partai. Selain 
karena ada kader yang terseret kasus hukum, seperti korupsi, ucap dia, produk 
undang-undang yang merupakan pekerjaan DPR pun semakin berkurang.

Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Rachland Nashidik mengatakan masalah 
ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai dari dulu tidak pernah berubah. 
“Anggota Dewan perlu ditingkatkan kualitasnya agar kepercayaan publik lebih 
tinggi,” kata dia.

Baca: Survei Indo Barometer: Popularitas AHY Bayangi Jokowi dan Prabowo 
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/23/078858691/survei-indo-barometer-popularitas-ahy-bayangi-jokowi-dan-prabowo>
 

Politikus PDI Perjuangan, Maruarar Sirait, mengatakan masalah ini terjadi 
karena partai kurang memperhatikan figur kader yang dicalonkan, kurang dekat 
dengan rakyat, dan kurangnya program yang menyentuh rakyat serta kebijakan yang 
pro-masyarakat. “Ini masalahnya dan harus diperbaiki,” ujar anggota DPR ini. 
Ihwal lembaga DPR yang buruk, kata dia, hal itu tidak berubah dan konsisten 
ketidakbaikannya. “Rakyat percaya figur dan kebijakan.”

Juru bicara Istana Kepresidenan, Johan Budi Sapto Pribowo, enggan 
menanggapinya. Dia meminta hal itu ditanyakan ke menteri yang terkait. Begitu 
pun dengan Sekretaris Kabinet Pramono Anung, pesan aplikasi yang Tempo kirim 
hanya dia baca.

AHMAD FAIZ

 

 



Kirim email ke