Seminggu jelang Pilkada, Ahok-Anies bersaing ketat di medsos dan survei
·         13 April 2017

      http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39586089

·         Kirim
Hak atas fotoGETTY IMAGES

Debat terakhir Pilkada DKI Jakarta putaran kedua telah usai dilaksanakan Rabu 
(12/04) malam. Data komentar netizen dan hasil survei tingkat elektabilitas 
memperlihatkan kedua pasangan calon (Paslon) gubernur-wakil gubernur, 
Ahok-Djarot dan Anies-Sandi, bersaing ketat.

Lembaga riset berbasis software kecerdasan buatan, Indonesia Indicator, 
mencatat selama dua jam debat berlangsung, dari total 41.564 percakapan di 
media sosial, paslon nomor urut dua, Ahok-Djarot unggul tipis 51%. Sementara 
paslon nomor urut tiga, Anies-Sandi tertinggal di 49%.

Hak atas fotoINDONESIA INDICATOR

Ketika BBC Indonesia menghubungi Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi 
Indonesia Indicator, menanyakan apakah keunggulan dua persen akan mengunci 
kemenangan Ahok-Djarot di hari Pilkada, Rustika menegaskan 'tidak'.

"Siapa yang lebih unggul? Fifty-fifty. Tidak signifikan (keunggulannya). 
Sebenarnya kami pernah melakukan survei serupa buat Pemilu di Amerika dan 
Pilkada di daerah lain. Nah, Pilkada di Jakarta ini ketat sekali 
pertarungannya," kata Rustika, Kamis (13/04).

Image captionPada diskusi netizen di media sosial, Ahok-Djarot unggul tipis 
dari Anies-Sandi.

Dia menambahkan paslon biasanya menang jika unggul di beberapa poin seperti 
'exposure berita, sentimen dan konteks'.

Namun di Pilkada DKI Jakarta keunggulan pada unsur-unsur tersebut 'tidak dapat 
terkonfirmasi'. Ini dilihatnya dari data paslon yang merupakan Top Person 
(orang yg paling banyak diberitakan) dan Influencer (orang yang paling banyak 
dikutip di berita).

§  Yang perlu Anda ketahui dari debat terakhir Pilgub DKI Jakarta 2017

§  Sidang 18 Ahok: Jaksa belum siap, tuntutan ditunda

§  Debat kedua cagub DKI Jakarta: Masih 'dangkal' dan 'normatif'

Berdasarkan data Indonesia Indicator pada 7 Maret hingga 10 April, Anies 
Baswedan menjadi sosok paling Influencer, dengan total 16.351 kutipan. Ahok 
berada di posisi kedua dengan 12.123 kutipan.

"Padahal dalam sejarahnya, yang jadi influencer itu selalu adalah paslon 
petahana (Ahok). Ini berarti Anies paling banyak berperan penting dalam 
pembentukan wacana-wacana terkait Pilkada Jakarta," tutur Rustika.

Hak atas fotoINDONESIA INDICATOR

Meskipun begitu, Ahok menduduki posisi teratas Top Person dengan 15.028 berita, 
disusul Anies dengan 11.076 berita.

Perbandingan kedua data Top Person dan Influencer ini dinilai Rustika janggal, 
"Karena seorang Top Person harusnya juga menjadi Influencer. Ahok merupakan Top 
Person, tetapi Anies yang jadi Influencer, berarti banyak pernyataan yang tidak 
tekonfirmasi (dari Influencer)."

Hari-hari yang menentukan
Kepada BBC Indonesia, Rustika menegaskan ramainya pembahasan di media sosial 
tidak lagi bisa 'dijadikan patokan untuk hari-H (Pilkada)'.

"Situasinya dinamis dari hari ke hari. Siapa yang menang, siapa yang kalah, 
dari hari ke hari itu bisa berubah," tuturnya.

Samanya kekuatan masing-masing calon, juga terlihat pada survei Indonesia 
Indicator jelang Debat Pilkada DKI yang diadakan oleh program Mata Najwa, akhir 
Maret lalu. Ahok-Djarot unggul dari sisi tanggapan media online, sementara di 
media sosial, Anies-Sandi yang memimpin.

Hak atas fotoINDONESIA INDICATOR

Menjelang pilkada yang semakin dekat, Rustika menekankan hari-hari terakhir 
inilah 'yang sangat menentukan (kemenangan)' karena ingatan netizen di media 
sosial yang pendek.

"Mudah lupa dengan apa yang terjadi kemarin. Yang paling terjadi sekarang, 
itulah yang paling mudah diingat," jelas Rustika.

Dia menyarankan masing-masing paslon untuk berhati-hati menjaga persepsi yang 
baik hingga hari pencoblosan, 19 April mendatang.

Merebut yang 'galau'
Sementara itu, berdasarkan survei terkini lembaga survei Saiful Mujani Research 
and Consulting (SMRC), 5 April lalu, Anies-Sandi unggul tipis 1% dibandingkan 
Ahok-Djarot. Paslon nomor urut tiga memimpin tingkat elektabilitas dengan 
47,9%, sementara paslon nomor urut dua dengan 46,9%.

Serupa dengan di media sosial, peneliti dari SMRC, Sirojudin Abbas mengklaim 
hasil itu belum kuat menegaskan dominasi Anies-Sandi karena 'baru dianggap 
signifikan, kalau mengungguli lawannya sebesar dua kali margin of error.'.

"Karena margin-nya 4%, maka baru dinilai signifikan kalau lebih unggul 8% dari 
calon lain," tuturnya kepada BBC Indonesia, Kamis (13/04).

Hak atas fotoGETTY IMAGES
Image captionSuasana jelang Pilkada DKI Jakarta periode pertama.

Apalagi pada debat Rabu (12/04), Abbas melihat Ahok-Djarot 'sedikit lebih 
unggul kalau dilihat sekilas dari pembicaraan di media'. SMRC sendiri belum 
melakukan survei lanjutan usai pelaksanaan debat terakhir itu.

§  Membangun Jakarta? Debat kedua cagub Jakarta dinilai lebih baik

§  Sidang 18 Ahok: Jaksa belum siap, tuntutan ditunda

Meskipun demikian, dia menegaskan sekitar 85-90% dari pemilih masing-masing 
paslon adalah 'pemilih setia' yang tidak akan memindahkan dukungan ke paslon 
lain.

Sementara 8-13% pemilih masih berpotensi pindah (swing voters). Jumlah 'pemilih 
galau' ditambah 5,2% pemilih yang masih abstain inilah yang dinilai Abbas harus 
diperebutkan Ahok-Djarot dan Anies Sandi.

Image captionAnies dan Sandi berpelukan usai debat, Rabu (12/04)

Menurutnya, Ahok yang sebenarnya sudah mendapatkan dukungan pemilih Muslim usai 
bergabungnya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Persatuan Pembangunan 
(PPP) namun harus terus perluas mendapatkan suara dari Muslim Jakarta yang 
moderat, sebelum 19 April."

Sementara Anies-Sandi yang telah mendapatkan dukungan dari committed muslim dan 
yang sedikit radikal -menurut Sirojudin Abbas- harus memanfaatkan waktu 
seminggu untuk mengakses pemilih pemula yang kritis dan kembali ke kampanye 
yang lebih mendukung pluralisme.


Kirim email ke