Bubur Merah Putih, Simbol Kehidupan Kembali Petani Kendeng 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170413163842-20-207419/bubur-merah-putih-simbol-kehidupan-kembali-petani-kendeng/
 Tiara Sutari, CNN Indonesia
 Jumat, 14/04/2017 05:59 WIB
 
 

 
 Petani Kendeng merayakan hasil KLHS dengan menghidangkan bubur merah putih 
yang dianggap memiliki simbol kehidupan. (CNN Indonesia/Tiara Sutari)
 
 Jakarta, CNN Indonesia -- Sembilan piring beralaskan daun pisang diletakan 
dalam sebuah nampan besar. Tiap piring berisi bubur berwarna merah dan putih. 
Para petani Kendeng merayakan syukur atas keluarnya hasil Kajian Lingkungan 
Hidup Startegis (KLHS) tahap I, semalam. 

Mereka menyambut baik KLHS yang menyebutkan kawasan cekungan air tanah (CAT) di 
Watuputih tidak boleh ditambang sampai hasil KLHS tahap II dikeluarkan. 

"Ini namanya bubur merah-putih, simbol kehidupan, kami membuat dan memakan ini 
bersama-sama sebagai ucap syukur kepada pencipta dan juga terimakasih kepada 
pemerintah," kata Gunretno dari Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng 
(JMPPK), di gedung Lembaga Bantuan Hukum, Jakarta, Kamis (15/4).

Cara menikmati bubur cukup unik. Sembilan perempuan Kendeng membawa sembilan 
piring dan menyuapi para tamu yang hadir. Sebuah sendok terbuat dari daun 
pisang digunakan untuk menyuapi bubur. 

"Matur nuwun yu, " kata Sukinah, saat menyuapi salah satu warga di depan Gedung 
LBH Jakarta. 
 Lihat juga:Pemerintah Didesak Jadikan CAT Watuputih Kawasan Lindung 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170413150609-20-207362/pemerintah-didesak-jadikan-cat-watuputih-kawasan-lindung/

 Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino


Meski tampak sederhana, bubur merah putih itu memiliki makna yang mendalam. Gun 
menyebut, mereka mengartikan merah putih merupakan simbol tulang dan darah, 
simbol awal mula kehidupan. Beras yang digunakan sebagai dasar pembuatan bubur 
pun dibawa langsung dari Rembang, Jawa Tengah. 

"Ini simbol kehidupan, kami petani hidup kembali," kata Gun. 

Para petani di Pegunungan Kendeng, katanya, merasa hak-haknya diakui setelah 
pemerintah melalui KLHS melarang aktivitas tambang di kawasan Gunung Watuputih. 

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki mengatakan Tim Pelaksana KLHS 
merekomendasikan penambangan di CAT Watuputih belum dapat dilakukan, hingga ada 
keputusan status CAT itu dapat ditambang atau tidak.

Teten memaparkan KLHS dibagi menjadi dua yakni KLHS Tahap I mencakup zona 
Rembang (CAT Watuputih) dan Tahap II mencakup keseluruhan pegunungan Kendeng 
yang melintasi tujuh kabupaten di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Hasil KLHS tahap I dijadikan rujukan oleh Kementerian ESDM untuk melakukan 
penelitian lebih lanjut dalam melakukan pendalaman terhadap fungsi lindung CAT 
Watuputih, melalui pengumpulan data primer,” kata Teten. 
 Lihat juga:Semen Indonesia Ngotot Lanjutkan Produksi Pabrik Rembang 
http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170413162251-92-207399/semen-indonesia-ngotot-lanjutkan-produksi-pabrik-rembang/
Gun menyatakan KLHS tahap pertama menunjukkan CAT Watuputih memang tak bisa 
ditambang. Oleh karena itu, dia menyebut kegiatan syukuran tersebut tidak bisa 
dikatakan sebagai sesuatu yang terburu-buru dilakukan. 

"Karena sudah jelas, kami tidak terburu-buru mengucapkan syukur, ini bukan 
perayaan, ini ucap syukur kami bahwa Gusti Allah bersama kami," kata Gun. 

Dia juga menyebut, selama proses kajian tahap II nanti belum dikeluarkan, para 
petani Kendeng akan terus mengawal dan memastikan hasil KLHS tahap II sesuai 
dengan fakta yang ada. 

"Kami tetap akan kawal, supaya nanti hasilnya juga tidak diplintir, pak 
Gubernur tidak seperti sebelumnya tiba-tiba mengeluarkan izin lagi," kata dia. 

Para petani Kendeng, selain membagikan bubur merah-putih, mereka juga mengajak 
media untuk bernyanyi kidung dandang gula bersama diiringi dengan musik khas 
yang berasal dari pukulan alu dan lesung.
 Lihat juga:Pukul Lesung, Simbol Tolak Penambangan Semen Rembang 
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170412234500-20-207159/pukul-lesung-simbol-tolak-penambangan-semen-rembang/
(yul)
 

Kirim email ke