*Res: Wah hebat sekali , **Doktor, Imam Besar sekarang tambah gelar
pangeran? hehehehehe*


*http://www.suara-islam.com/read/kolom/opini/22582/Habib-Rizieq-Syihab-Pengeran-Diponegoro-Abad-Ini
<http://www.suara-islam.com/read/kolom/opini/22582/Habib-Rizieq-Syihab-Pengeran-Diponegoro-Abad-Ini>*



*Habib Rizieq Syihab, Pengeran Diponegoro Abad Ini*

27 Mei 17:31 | Dilihat : 2101

[image: Habib Rizieq Syihab, Pengeran Diponegoro Abad Ini] Habib Muhammad
Rizieq Shihab

Oleh: Iramawati Oemar

Kalau ada pemilihan tokoh "Man of the Year 2016" di Indonesia, Habib Rizieq
Syihab lah yang paling layak dinobatkan sebagai pemenangnya. Sosoknya
menjadi fenomenal dalam triwulan terakhir tahun 2016, sejak ia memimpin
Aksi Bela Islam (ABI). Segera saja figur Habib Rizieq yang semula hanya
dikenal sebagai imam FPI, sontak ber-revolusi menjadi pemimpin gerakan
kebangkitan ummat Islam Indonesia.

HRS yang semula kurang diperhitungkan, karena aksi yang dipimpinnya paling
hanya diikuti "jamaah" FPI saja, sekarang, suka tidak suka, HRS "wajib"
dipertimbangkan baik-baik jika ada aparat pemerintahan yang hendak
menyepelekannya.

Tak kurang Presiden Jokowi pun sudah mengalaminya. Presiden yang semula
memilih "mencueki" Aksi Bela Islam II pada 4 Nopember 2016, berbalik
menjadi "peserta dadakan" dalam Aksi Bela Islam III - 212.

Ya, Presiden Jokowi dibikin pontang-panting akibat "ulah" Habib Rizieq
Shihab sejak awal Nopember 2016 lalu. Betapa tidak, Jokowi terpaksa menemui
mantan kompetitornya saat Pilpres 2014 lalu, Prabowo Subianto, mendatangi
kediamannya di bukit Hambalang, naik kuda (sesuatu yang belum pernah
dilakukan Jokowi), demi meminta Pak Prabowo agar ikut meredam rencana aksi
ummat Islam.

Esok harinya, Jokowi mengundang para pimpinan ormas Islam besar untuk
datang ke istana. Lalu malamnya kembali menggelar pertemuan dengan para
ulama serta pimpinan pondok pesantren se-Jawa Barat dan Banten. Pokoknya,
semua ulama kondang dan pimpinan organisasi Islam besar sudah ditemui
Jokowi, hanya satu yang dia tak ingin temui : Habib Rizieq Shihab! Dan
tentu saja GNPF MUI, organisasi yang menginisiasi Aksi Bela Islam.

Ya, Habib Rizieq Shihab dan Ustadz Bachtiar Nasir adalah 2 tokoh utama Aksi
Bela Islam yang oleh Presiden Jokowi justru tak hendak ditemui!

Namun sayangnya langkah Jokowi itu justru tak banyak membuahkan hasil.
Sebagian yang ditemui Jokowi bahkan berbalik mempertanyakan kenapa ormas
dan tokoh yang akan menggerakkan aksi justru tak diundang, tak diajak
bicara, tak diminta berdialog untuk mencari solusi bersama.

Alhasil, ABI II - 411 pun berlangsung dan sangat mengejutkan banyak pihak.
Tak satupun intelijen yang memprediksi aksi itu bakal diikuti ummat Islam
sebanyak itu. Kapolri menduga jumlahnya tak akan lebih dari 65 ribuan
orang. Konon BIN katanya bahkan mengira pesertanya hanya 35 ribuan saja.

Para buzzer pendukung Presiden di dunia maya ikut andil menciptakan
miss-leading perception, dengan menyebar foto lama, dimana kondisi masjid
Istiqlal sepi dari jamaah. Mungkin maksud hati mengecilkan nyali yang akan
ikut, agar mengurungkan niatnya.

Namun apa daya, faktanya tidak demikian. Sejak pagi massa menyemut menuju
Istiqlal. Pihak PT. KAI bahkan menyatakan lonjakan jumlah pengguna kereta
api di Jakarta hari itu mencapai 4x lipat penumpang reguler.

Inilah awal kebangkitan ummat, yang gerakannya dipimpin Habib Rizieq Shihab.

Presiden pun "kabur" duluan, mendadak meninjau proyek jalan kereta api,
yang jangankan pembangunan fisiknya, pembebasan lahannya saja belum kelar.
Meski sehari sebelumnya sempat menjanjikan dirinya akan berada di istana,
tidak kemana-mana, namun prediksi intelijen yang meleset, membuat presiden
terpaksa harus mengingkari kata-katanya sendiri.

Ya, tak satupun yang memprediksi aksi ini bakal diikuti 2 jutaan orang dari
berbagai daerah, dari beragam ormas, bukan hanya FPI saja. Suka atau tidak
suka, pemerintah harus berpikir ulang untuk menyepelekan HRS dan GNPF MUI.

Tak dianggap ketika mengetuk pintu istana, Habib Rizieq kembali menyeru
ummat, kali ini untuk mengetuk "pintu langit". Aksi Super Damai 212,
menorehkan catatan sejarah. Lagi-lagi, tak ada intelijen yang mampu
meramalkan bahwa massa yang hadir akan sebanyak itu. Meski penghadangan
sudah dilakukan di berbagai daerah, pelarangan bis-bis antar kota
mengangkut peserta ASD 212 dan razia yang dilakukan aparat kepolisian di
berbagai daerah, tapi anehnya antusiasme ummat Islam justru makin tinggi.
Dilarang menyewa bis, sejumlah santri muda nekad jalan kaki, longmarch
menuju Jakarta.

Sepanjang jalan mereka kemudian menuai simpati masyarakat yang dilewati.
Bantuan logistik tiada henti. Bahkan kaum lelaki yang semula cuek, enggan
peduli dengan ABI, kemudian terketuk hati mereka menyaksikan kegigihan
santri-santri Ciamis. Berangkatlah mereka menuju Jakarta.

Sekali lagi, ini "kekonyolan" aparat. Mereka seperti tak paham hukum alam,
seperi halnya hukum fisika, semakin besar tekanan, semakin besar pula gaya
yang timbul. Makin represif, maka akan semakin dahsyat reaksi perlawanannya.

Polri yang tadinya ngotot tak mengijinkan jalanan di Jakarta jadi tempat
sholat Jum'at dan hanya menyiapkan lahan sekitar Monas saja, pada 2
Desember 2016, terpaksa jadi penonton saja ketika massa yang terus
berdatangan sejak dini hari, membludak dan mengorganisir diri mereka secara
spontan, membentuk lautan manusia dalam balutan busana putih, berbaris rapi
dalam shaf-shaf yang memanjang memenuhi jalanan sekitar Monas hingga
Cempaka Putih.

Lagi-lagi Presiden Jokowi terhenyak. Tak dinyana bisa sebanyak itu yang
hadir di jantung Jakarta!!

Tidak mudah memimpin jutaan orang dari berbagai daerah, beragam ormas,
beraneka macam latar belakang sosial. Sedikit saja provokasi, psikologi
massa bisa tersulut. Apalagi di sekelilingnya ada gedung-gedung dan obyek
vital Pemerintahan. Sangat mudah kalau memang niatnya mau membuat rusuh dan
kekacauan.

Namun, faktanya jutaan ummat yang berkumpul ini damai, jauh dari tindakan
anarkhis. Maka, Jokowi pun mendadak sontak ingin bergabung. Dalam derai
hujan, rombongan istana lengkap Presiden dan Wapres, Menkopolhukam, Menteri
Agama, bahkan Menko serba bisa Luhut Binsar Panjaitan yang non Muslim pun,
terpaksa mengiringi, hadir ke Monas.

Atas kehendak Allah Yang Maha Sempurna mengatur segalanya, diluar rencana,
KH. Ma'ruf Amin, Ketua Umum MUI, yang jauh hari sudah dijadwalkan menjadi
khatib dan imam sholat Jum'at, ternyata hari itu berhalangan hadir. Beliau
mengutus wakilnya. Ternyata, wakilnya pun tak bisa hadir.

Terpaksalah Habib Rizieq menjadi khatib siang itu. Sholat Jum'at tidaklah
sah tanpa khotbah, dan lelaki Muslim balligh yang tidak sedang udzur wajib
mengikuti sholat Jum'at lengkap dengan khotbahnya. Jadilah siang itu Jokowi
yang berbalik mendatangi Habib Rizieq Shihab, tokoh yang selama ini
dihindari untuk ditemuinya.

Suka tidak suka, siang itu Jokowi terpaksa duduk manis didepan panggung
Habib Rizieq, tertunduk mendengarkan ceramahnya.

Usai acara, Jokowi hendak "mencuri panggung", dia mengambil microphone dan
mengucapkan terima kasih pada jamaah yang hadir. Masih di panggung yang
sama, berjarak beberapa langkah dari tempat Presiden berdiri, Habib Rizieq
yang masih memegang microphone juga meriakkan tanya pada ummat : siapkah
berevolusi jika hukum tak ditegakkan? "SIAAAPP!!!" serentak jamaah menjawab
seruan Habib Rizieq.

Ya, hari itu PANGGUNG BUKAN MILIK JOKOWI! Massa ummat Islam lebih mendengar
seruan HRS ketimbang Presiden.

Dua kali aksi damai melibatkan jutaan ummat, adalah fakta tak terelakkan
bahwa informally, Habib Rizieq Shihab adalah pemimpin ummat sejati.
Seruannya didengar, ajakannya dipatuhi.

Ini tentu "MENGERIKAN" bagi penguasa, karena HRS memposisikan dirinya di
kelompok yang berseberangan dengan penguasa, yang mengkritisi penguasa.
Maka, HRS HARUS DIHENTIKAN!!!

Dan..., dimulailah cerita ANEH BIN AJAIB yang tidak masuk akal sehat orang
yang mau berpikir.

Firza Husein, sosok yang tiba-tiba saja muncul dalam jajaran para
"pe-makar".

Siapa Firza?! Namanya TIDAK PERNAH TERDENGAR sebelumnya di kalangan aktivis
dan kritikus kekuasaan. Beda dengan Ratna Sarumpaet, misalnya. Apalagi Sri
Bintang Pamungkas. Ibu Rachmawati Soekarno, meski bukan aktivis tapi dalam
2 tahun terakhir beliau kerap pedas melontarkan kritik. Sedangkan Firza?!
Who is SHE?!

Hampir 2 bulan berselang sejak Firza jadi tersangka kasus makar, tetiba
jagat dunia maya dihebohkan beredarnya "chat sex" yang katanya antara Firza
Husein dan Habib Rizieq.

Masuk akalkah seseorang yang ponselnya sudah disita Polri sejak 2 Desember
2016 kemudian 28 Januari 2017 mengunggah postingan di internet?!

Katakanlah benar ada foto diri Firza tanpa busana di ponsel yang disita
polisi, sebagai koleksi pribadi, mana mungkin foto itu dengan sendirinya
nyelonong tampil di internet?!

Apalagi situs-situs yang mengunggah foto itu beserta chat sex-nya BARU
DIBUAT TANGGAL 28 Januari 2017. Tentu yang mengunggah adalah ORANG YANG
MEMILIKI AKSES TERHADAP PONSEL TERSEBUT.

Lalu bagaimana Habib Rizieq bisa dikaitkan dengan kasus foto Firza?! Jelas
nyelonongnya foto itu ke internet saja sudah aneh, apalagi chat sex yang
diributkan sangat mungkin rekaan semata. Ada banyak smiley disitu yang
artinya capture itu editan. Saat ini, dimana ponsel berbasis Android sudah
sangat umum dipakai, setiap orang bisa mengunduh aplikasi pembuat meme dan
fake chat. Mudah sekali. Semudah mengedit foto di ponsel.

Lihatlah sekarang makin marak beredar fake chat, terutama yang menggunakan
nama Kapolri, Kapolda Metro Jaya, sebagai bentuk perlawanan publik.

Seolah publik hendak berkata : "Maaf Jendral, kalau cuma bikin kayak
ginian, kami juga bisa kok! Tinggal kreatifitas kami saja mengolah materi
obrolannya".
Lalu sekarang, Firza ditetapkan jadi tersangka. Atas kasus apa?! Bukankah
Firza sudah MEMBANTAH bahwa itu foto dirinya? Bukan hanya bantahan di depan
penyidik, tim kuasa hukumnya pun berulangkali menegaskan bantahan kliennya.

Oke, katakan Firza pernah memotret dirinya dalam keadaan tanpa busana, lalu
siapa yang menyebarkan?! Kalau foto itu tersimpan dalam galery ponselnya
pribadi, tidak ada yang salah bukan?! Ratusan bahkan mungkin ribuan orang
yang mendokumentasikan kehidupan pribadinya di dalam ponsel. Sepanjang
tidak disebarkan, semestinya tak ada delik hukum.

Nah, kalau pun benar itu foto Firza yang beredar di 3 situs, siapa yang
mengedarkan jika ponsel itu SUDAH DISITA POLISI sejak 2 Desember 2016?!

Apalagi kalau kemudian "maksa" banget mengkaitkan dengan Habib Rizieq. HRS
tidak punya reputasi main perempuan. Dia dikenal keras dalam orasinya,
garang jika mempimpin FPI menggerebek warung remang-remang penjaja
prostitusi liar, penjual miras illegal, tempat perjudian dan beragam
kemaksiatan lain.
Itu reputasi HRS selama ini.

Terlalu gegabah polisi, intelijen atau siapapun yang hendak membangun opini
bahwa HRS ternyata gemar melakukan chat sex. Lalu kenapa opini itu yang
dibangun???

HRS berusaha dijerat dengan berbagai kasus hukum. Yang paling heboh
sebelumnya adalah aduan Sukmawati Soekarno soal penghinaan "LAMBANG
NEGARA". Padahal, yang dimaksud "lambang negara" adalah "burung garuda
pancasila", seekor garuda yang menoleh ke sisi kanan, didadanya menggantung
tameng dengan 5 simbol mewakili setiap sila dalam Pancasila.

Sedangkan yang dipersoalkan Sukmawati adalah pidato HRS 2 tahun lalu yang
membahas sejarah Pancasila yang pada akhirnya menempatkan "Ketuhanan Yang
Maha Esa" sebagai sila pertama, seperti yang kita kenal saat ini. Jadi,
sama sekali gak nyambung bukan?!

Itu sebabnya Kejaksaan kini mengembalikan lagi berkas HRS dengan tuduhan
penghinaan lambang negara, kepada Polda Jabar.

Akan tetapi penguasa butuh sesuatu yang INSTANT untuk MENGHANCURKAN
KREDIBILITAS DAN INTEGRITAS MORAL HRS. Kelamaan kalau menggunakan kasus
hukum yang membutuhkan pembuktian kuat.

Maka, dibuatlah kasus yang ada bumbu SEX dan SKANDAL PEREMPUAN. Ini issu
yang "menarik" dan membuat publik akan "terlibat" dalam pusaran issu
semacam ini. Kapanpun, di negara manapun, terhadap tokoh apapun, issu ini
paling mujarab!

Clinton saja nyaris di-impeach karena kasus skandalnya dengan Monica
Lewinsky. Tapi sayangnya polisi atau siapapun pihak yang menginisiasi kasus
ini tak punya bukti fisik jejak perselingkuhan HRS dengan Firza. Tak ada
bekas sperma seperti pada rok Monica Lewinsky. Tak ada bukti rekaman
pembicaraan seperti pada kasus Antasari Azhar dengan Rani Juliani, 8 tahun
silam. Kalau hanya fake chat, siapapun bisa bikin.

Berharap HRS hancur dengan cara seperti itu? Sayang, ummat Islam TIDAK
SEBODOH yang disangka si perekayasa kasus. Lihatlah bagaimana kaum Muslimin
melawan. Jika fake chat itu awalnya diviralkan di media sosial, kini ummat
pun melawan di medsos, menunjukkan kepercayaan mereka pada ulama, termasuk
Habib Rizieq Shihab.

Sekali lagi, ini hukum alam, seperti hukum fisika. Tidakkah sang perekayasa
kasus belajar dari fenomena belakangan ini?

Aksi Bela Islam makin dihadang makin besar animo masyarakat untuk hadir.

Sembako ditebar dengan liar, makin besar kesadaran kaum rasional bahwa ada
keburukan di balik itu, jangan pilih yang menyuap pemilih dengan sekantong
sembako.

Pak Tito Karnavian, Pak Budi Gunawan, Pak Iriawan, anda semua polisi senior
yang sudah malang melintang di dunia penyidikan dan intelijen. Jadi
pikirkan sekali lagi kasus "maksa" melibatkan HRS dalam fake chat sex itu.

Lalu kenapa HRS tidak pulang saja ke Indonesia? Tidak sesimpel itu
kondisinya sekarang.

Dulu..., ketika HRS "hanya" ketua FPI, hanya pemimpin bagi laskar FPI,
mudah bagi HRS berurusan dengan hukum. Kalau harus ditahan, dipidana
penjara, ya jalani saja. Buktinya HRS sudah pernah 2 kali dipenjara dan dia
tidak berulah di dalam penjara.

Para pendukungnya tidak meminta HRS dibebaskan atau diistimewakan di rutan
tertentu yang dipilihnya. HRS TERBUKTI PATUH MENJALANI HUKUMAN KURUNGAN
PENJARA. Tak ada yang ditakutinya.

Tapi..., HRS sekarang berbeda. Dia bukan lagi sekedar imam bagi FPI, namun
imam bagi sebagian ummat ISLAM di Indonesia. Tentu, ada saja Muslim yang
tak suka padanya, wajar itu. Tapi leadership HRS atas ummat Islam tidak
bisa disepelekan. HRS sudah menjadi ICON KEBANGKITAN DAN PERGERAKAN UMMAT
ISLAM. HRS sudah menjadi SIMBOL PERLAWANAN TERHADAP PENGUASA yang kurang
berpihak pada ummat Islam.

Jadi, jika HRS masuk dalam jebakan, kemudian dia dipaksakan ditahan,
seperti halnya Ustadz Al Khaththath, maka bisa dibayangkan perlawanan ummat
Islam yang marah.

Ustadz Al Khaththath ditangkap, dituduh makar, namun hingga kini, hampir 2
bulan berlalu, tak jelas kasusnya. Bahkan kabarnya beliau ganya diperiksa 2
kali saja, setelah itu dibiarkan berada di tahanan.

HRS bukanlah orang bodoh. Dia tentu punya pertimbangannya, pemikiran dan
strategi yang matang. Jika kepulangannya untuk masuk ke dalam jebakan, maka
akan menyulut kemarahan dan perlawanan ummat Islam. Padahal, sebentar lagi
Ramadhan. HRS ingin ummat Islam menjalani Ramadhan dengan tenang.

Toh polisi juga harus berpikir ulang untuk membuat kasus ini kuat secara
hukum. Mau minta bantuan interpol?! Hei, HRS belum lagi tersangka. Lagian
akan jadi bahan tertawaan jika Polri mengejar seseorang pakai jasa interpol
hanya karena orang itu DIDUGA telah melakukan chat sex pribadi.

Tentu akan hebat jika yang dikejar itu gembong pelaku perdagangan wanita
dan anak-anak untuk dijual dalam bursa prostitusi onlen. Nah ini, chat sex
yang lemah sekali dasarnya. Apalagi dari tanggal dibuatnya situs pengedar,
sudah tidak masuk akal dibanding tanggal ponsel "pelaku" disita polisi.

Pangeran Diponegoro dulu dengan gentleman bersedia menghadiri undangan
dialog dari pemerintah Belanda. Tapi apa yang terjadi? It was an
entrapment!! Pangeran Diponegoro masuk dalam jebakan busuk dan beliau
dipenjara, diasingkan selamanya.

Habib Rizieq Shihab ibarat Pangeran Diponegoro abad ini. Keduanya sama-sama
membangkitkan kesadaran ummat Islam atas kesemena-menaan. Keduanya sama
mengobarkan semangat juang dilandasi aqidah. Keduanya sama-sama dianggap
berbahaya.

Ahok yang selama ini dianggap tak akan mampu ditumbangkan, ternyata kalah
telak dalam Pilgub. Ini fakta, suka atau tidak suka orang harus
mengkalkulasi kekuatan HRS. Kalau tak cukup kuat menghadirkan sosok yang
mampu menyaingi pengaruh HRS, ya harus bisa membungkam HRS.

Itu sebabnya, segala cara, segala macam skenario, termasuk yang tidak masuk
akal, harus dibuat agar HRS bisa dijebloskan ke penjara, paling tidak
sampai 2019. Dia lah batu sandungan terbesar bagi penguasa saat ini.

Kirim email ke