Bung Chan, Kemarin saya menghadiri suatu ceramah. Duduk semeja dengan seorang wanita sudah berambut putih, yang 3 bulan sekali pinjam banyak buku bibliotheek perkumpulan sekaligus. Waktu omong2 dia tunjukkan buku tulisan Junus Jahya, Peranakan Idealis. Saya bilang, saya punya buku itu, tetapi belum terbaca. Dia cerita kalau Lie Eng Hok, itu ayah angkatnya, yang pernah ditahan di Boven Digul, dan waktu meninggal di kubur di Taman Pahlawan. Hanya saja di tulisan Junus yahya, bulan meninggalnya keliru. Lalu saya ditunjuki pengumuman di koran hari meninggalnya. Tiba2 saya ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, waktu saya mengikuti suatu ceramah. Waktu istirahat, saya berkenalan dengan bung pardede, yang menunjuki saya foto bersama temannya orang Tionghoa di Digul.Waktu itu dia sebut namanya, tetapi saya tidak ingat. Bung Pardede ini juga cerita tentang dua orang Tionghoa bersaudara, yang keluar masuk Singapore beli senjata . Rupanya grup lain, bukan grup dari Tonny Wen. Baru pagi ini saya baca singkatan ceriita tentang Lie Eng Hok. Ya, benar ada disebut dengan Pardede di Digul : http://www.iki.or.id/publikasi/lie-eng-hok-1893-1961-perintis-kemerdekaan Wanita tadi cerita kalau dilarang ibunya berpolitik, karena ayah angkatnya dibuang di Digul, dan ayah kandungnya, pengurus BAPERKI, di tahun 65 masuk tahanan dan meninggal di rumah tahanan. Salam, KH
