http://internasional.kompas.com/read/2017/09/06/06274631/apa-yang-terjadi-jika-as-menghukum-mitra-
dagang-korut
Apa yang Terjadi Jika AS Menghukum Mitra
Dagang Korut?
Kompas.com - 06/09/2017, 06:27 WIB
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berbicara di Springfield,
Missouri, pada 30 Agustus 2017. (Foto:Dokumentasi)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, berbicara di Springfield,
Missouri, pada 30 Agustus 2017. (Foto:Dokumentasi)(AFP)
*KOMPAS.com -* Seberapa realistis bagi Amerika Serikat
<http://indeks.kompas.com/tag/Amerika-Serikat> untuk memutus hubungan
dagang dengan semua negara yang berbisnis dengan Korea Utara
<http://indeks.kompas.com/tag/Korea-Utara>?
Inilah ancaman Presiden AS <http://indeks.kompas.com/tag/AS> Donald
Trump <http://indeks.kompas.com/tag/Donald-Trump> di /Twitter/ menyusul
uji coba nuklir <http://indeks.kompas.com/tag/nuklir> Korut
<http://indeks.kompas.com/tag/korut> ke enam yang baru lalu.
Sebuah uji coba terbesar sampai saat ini, dan yang diklaim sebagai uji
coba bom hidrogen yang sukses.
*Baca: Korut Umumkan Kesuksesan Uji Coba Bom Hidrogen Berdaya 100
Kiloton
<http://internasional.kompas.com/read/2017/09/03/14305401/korut-umumkan-kesuksesan-uji-coba-bom-hidrogen-berdaya-100-kiloton>
*
Komunitas internasional telah mencoba segala hal, kecuali tindakan
militer untuk menghentikan Korut.
Namun tidak ada satu pun upaya, baik sanksi, isolasi, atau bahkan
ancaman pemusnahan yang dapat mengurangi ambisi nuklirnya.
Jadi sekarang, lebih dari hanya sekadar menghukum Korut, Presiden Trump
pun berniat, akan menghukum semua negara yang masih berbisnis dengan
Korut dengan menghentikan perdagangan AS dengan negara-negara tersebut.
*Baca: Trump Ancam Putuskan Hubungan dengan Mitra Dagang Korut
<http://internasional.kompas.com/read/2017/09/04/16250051/trump-ancam-putuskan-hubungan-dengan-mitra-dagang-korut>
*
Untuk melihat seberapa realistis tindakan itu -pertama-tama harus
melihat negara-negara mana yang memiliki hubungan bisnis dengan Korut.
*Rekan dagang Korea Utara*
Menurut Badan Perdagangan Investasi dan Promosi Korea, KOTRA, ada
sekitar 80 negara yang berdagang dengan Pyongyang
<http://indeks.kompas.com/tag/Pyongyang> pada 2016 termasuk:
Antara lain, China, Rusia, India, Pakistan, Singapura, Jerman, Portugal,
Perancis, Thailand, dan Filipina.
*Baca: China Kritik Ancaman Sanksi Dagang Trump Terkait Korut
<http://internasional.kompas.com/read/2017/09/05/11491091/china-kritik-ancaman-sanksi-dagang-trump-terkait-korut>
*
Total perdagangan Korut dengan semua negara dalam daftar tersebut
bernilai $6,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 87,7 triliun.
Angka itu tumbuh sekitar lima persen per tahun. Memang, nilai
perdagangan bagi sebagian negara-negara itu tergolong kecil dan nilainya
menurun. Namun, ada beberapa temuan yang menarik.
Singapura -yang menjadi negara di posisi ke-8 di dalam daftar rekanan
dagang terbesar Korut, mengalami penurunan jumlah perdagangan dengan
Pyongyang hingga 90 persen pada 2016.
Sementara, Filipina - mengalami peningkatan sebesar 171 persen dalam
nilai perdagangan dengan Korut.
Baik Singapura, maupun Filipina, keduanya adalah rekan dagang AS.
Bahkan, banyak dari negara di dalam daftar tersebut adalah rekan dagang
AS, dan sebagian besar nilai perdagangan mereka dengan AS, jauh melebihi
jumlah transaksi yang mereka lakukan dengan Korut.
Namun, ada satu negara yang berpotensi mengendalikan situasi ini. Tak
perlu kaget mengetahui bahwa konsumen dan penyuplai terbesar Pyongyang
adalah China.
Sekitar 90 persen perdagangan Korut dilakukan dengan China.
Beijing kebanyakan membeli batu bara dan mineral dari Pyongyang, dan
menyuplai makanan dan bahan bakar yang krusial untuk penduduk Korut.
Data dari 2016 tidak jelas merefleksikan apa yang terjadi saat ini,
setelah pada Februari lalu China melarang Korut membeli batu bara.
Jadi saat Trump mengatakan AS akan memutus bisnis dengan negara-negara
yang berdagang dengan Pyongyang, sudah pasti salah satunya adalah China.
Namun, tentu sulit untuk melihat bagaimana hal itu dapat terwujud tanpa
kerusakan terhadap ekonomi AS.
Begini penjabarannya:
Dalam perdagangan, China adalah rekan dagang terbesar AS.
AS membeli lebih dari 450 miliar dollar AS atau Rp 6.000 triliun,
barang-barang dari China tahun lalu, dan mengekspor 115 miliar dollar AS
atau Rp1.500 triliun ke China.
Memutus perdagangan dengan Beijing dapat membebani AS dengan hampir satu
juta bidang, berkaitan dengan barang-barang, dan jasa yang diekspor ke
China.
Bahkan, ancaman Trump menerapkan tarif ke China, karena memanipulasi
mata uang akan berdampak sangat buruk pada harga barang-barang di AS,
membuat harga sebuah iPhone naik sekitar lima persen misalnya.
*Ekonomi global*
Jangan lupa, segala sesuatu yang mempengaruhi China juga mungkin
mempengaruhi ekonomi global.
Institusi peneliti global Capital Economics mengatakan, jika AS berhenti
membeli barang-barang dari China sekaligus, negara itu akan menderita
sebesar tiga persen dari PDB mereka.
Itu akan memberi dampak tidak langsung di perekonomian Asia, yang
sebagian besar memandang China sebagai rekan dagang terbesar mereka, dan
pembeli barang-barang dari China.
Itu sebabnya, Menteri Ekonomi Steve Mnuchin mengajukan cara yang tidak
begitu langsung untuk 'menghukum' negara-negara ini.
Dia mengatakan dalam sebuah wawancara dengan /FoxTV/ pada Senin
(4/9/2017), telah disiapkan sebuah paket sanksi yang akan memutus 'semua
perdagangan dan bisnis lain' dengan Pyongyang.
Dia pun menambahkan, ada jauh lebih banyak hal yang dapat dilakukan AS
secara ekonomi. Namun itu pun mirip dengan hal serupa lain yang pernah
dilakukan AS sebelumnya.
Jadi, yang tersisa saat ini justru adalah AS yang memiliki pilihan
ekonomi yang semakin sedikit, untuk benergosiasi dengan Pyongyang.
Meski, jika Presiden Trump melanjutkan ancaman perdagangannya, hampir
pasti hal itu akan menciptakan reaksi buruk di kongres.
Sulit untuk melihat bagaimana Trump dapat menjual sebuah kebijakan
dengan efektivitas yang dipertanyakan, dan yang dapat merusak AS secara
ekonomi dibandingkan apa yang dapat dibatasi dari opsi nuklir Korut.
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
* Krisis Semenanjung Korea
<http://indeks.kompas.com/topik-pilihan/list/4576/krisis.semenanjung.korea>
EditorGlori K. Wadrianto
SumberBBC Indonesia <http://www.bbc.com/indonesia>
Tag:
* nuklir <http://indeks.kompas.com/tag/nuklir>
* Amerika Serikat <http://indeks.kompas.com/tag/Amerika-Serikat>
* Donald Trump <http://indeks.kompas.com/tag/Donald-Trump>
* Pyongyang <http://indeks.kompas.com/tag/Pyongyang>
* AS <http://indeks.kompas.com/tag/AS>
* korut <http://indeks.kompas.com/tag/korut>
* Korea Utara <http://indeks.kompas.com/tag/Korea-Utara>