----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: 
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Kamis, 5 Oktober 2017 22.00.27 
GMT+2Judul: [GELORA45] Sukarni Kartowirjo, Sosok Penting di Balik Sejarah Teks 
Proklamasi RI
     

Jumat 07 November 2014, 18:40 WIB
Pahlawan Nasional

Sukarni Kartowirjo, Sosok Penting di Balik Sejarah Teks Proklamasi RI
- detikNews


Foto : Wikipedia

Jakarta - Sukarni Kartodiwirjo menjadi salah seorang tokoh pejuang dari Jawa 
Timur yang mendapat penghargaan gelar pahlawan nasional dari Presiden Joko 
Widodo. Pria kelahiran Blitar ini punya peran penting di balik sejarah proses 
pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI.

Saat prosesnya, Sukarni adalah sosok yang mewakili kelompok muda agar pasangan 
Soekarno-Hatta secepatnya memproklamasikan kemerdekaan negara pada 17 Agustus 
1945. Dia tidak menginginkan pasangan itu terlalu berpikir lama menyatakan 
kemerdekaan negara. Sejarah ini yang membuat kelompok pemuda harus melakukan 
‘penculikan’ terhadap kedua pemimpin itu ke Rengasdengklok, Jawa Barat.

Sosoknya sejak kecil digambarkan sebagai orang yang membenci Belanda. Lahir di 
Blitar, Jawa Timur, 14 Juli 1916, Sukarni punya catatan gemar berkelahi dengan 
anak-anak Belanda. Hal ini dilakukannya hampir setiap hari. Pola pikir membenci 
Belanda ini karena tertanam oleh gurunya yang juga tokoh pergerakan Indonesia 
saat itu, Mohammad Anwar.

Dengan pola pikir yang tertanam seperti itu, tidak mengherankan kalau Sukarni 
kelak menjadi remaja kritis dan punya nasionalisme yan tinggi. Saat usia 14 
tahun, dia sudah bergabung dengan organisasi perhimpunan Indonesia Muda. Sejak 
itulah, sikap pejuang, kritis, dan tanpa kompromi semakin muncul. Sampai ketika 
Sukarni didaulat menjadi Keetua Pengurus Besar Indonesia Muda. Saat itu Sukarni 
baru berusia 20 tahun 

Menjadi pimpinan kumpulan anak muda yang kritis, Sukarni menjadi incaran 
pemerintahan kolonial Belanda untuk ditangkap. Namun, dalam usaha penangkapan 
itu, dia berhasil melarikan diri hingga beberapa tahun ke depan. Tapi, beberapa 
tahun kemudian Sukarni tertangkap di Balikpapan, Kalimantan Timur. Begitu 
Jepang coba mengambil alih Indonesia, Sukarni dan beberapa temannya malah 
dibebaskan. Di era jajahan Jepang, Sukarni sempat bekerja di kantor berita 
Antara.

Kemudian, takdir juga mempertemukan Sukarni dengan Tan Malaka di masa jajahan 
Jepang. Sosok Tan Malaka ini yang membuatnya semakin berevolusioner terhadap 
perjuangan bangsa. Pertemuan ini juga menjadi cikal awal berdirinya Partai 
Murba. Sukarni juga didaulat menjadi Ketua Umum.

Hubungan antara Sukarni dengan Tan Malaka semakin erat ketika kedudukan pusat 
pemerintahan RI berada di Yogyakarta. Hubungan ini dibuktikan ketika Sukarni 
menjabat sebagai Sekjen Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. 
Karena sikapnya yang berani, Sukarni sempat dijebloskan ke penjara pada 1946 di 
Madiun.

Dalam riwayat hidupnya, Sukarni juga pernah ditunjuk sebagai Duta Besar 
Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok pada 1961.Dia juga pernah ditunjuk 
sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung pada 1967. Tokoh yang pernah mendapat 
penghargaan Bintang Mahaputra ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971.





(hat/nwk)
    

Kirim email ke