Uskup Belo dan Ramos Horta telah menerima Nobel Perdamaian sebelum diadakan 
jajak pendapat.

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

Kalian imperialis tentu tahu bahwa di Papua setiap pemilu 
memakai sistem noken, makanya minta referendum. Ya kan?

Tidak ada masalah dengan referendum, apalagi Indonesia 
adalah negara kesatuan, jadi eferendum haruslah melibatkan 
warga lainnya.
Rakyat Indonesia tidak mau lagi kecolongan seperti membiarkan 
Timtim dikelabui jajak pendapat hanya garagara Habibie kebelet 
diiming-iming Nobel Perdamaian. Faktanya, Habibie dikibuli imperialis 
yang justru memberi Nobel itu pada Bello & Horta. 

Sekarang di mana Bello, kabarnya stress berat?
--- jonathangoeij@... wrote:

 Apa yang telah terjadi pada rakyat Papua sampai saat ini adalah lepas dari 
mulut harimau masuk kemulut buaya, lepas dari penjajahan Belanda untuk jadi 
jajahan Indonesia. Bahkan lebih parah lagi karena penjajah Indonesia saat itu 
merupakan boneka perusahaan Amerika, yang jadi centeng untuk mengamankan 
pengerukan harta kekayaan alam dari gangguan/kerecokan pemiliknya sendiri.
Pemaksaan Papua untuk tetap jadi jajahan Indonesia tanpa memberi kesempatan 
referendum ibaratnya seperti seorang gadis yang diperkosa untuk kemudian 
dipaksa kawin dengan pemerkosanya itu.


On Wednesday, December 6, 2017, 11:21:49 AM PST, jetaimemucho1@... wrote:


Batasan wilayah negeri-negeri jajahan di Dunia Ketiga diwarisi dari jaman 
kolonial. Kalau tidak mau mengakui ini, ya baliklah ke jaman Majapahit, 
Sriwijaya dan kemudian ratusan kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh 
Nusantara!   Kalau ada yang mengutik-ngutik lagi perbatasan itu yang diwarisi 
jaman kolonial, tindakan itu selalu datang dari pihak penjajah juga. Bagaimana 
dengan suku-suku bangsa yang ada de segala pelosok Indonesia? apakah mereka 
juga ditanya mau tidak masuk dalam wilayah Indonesia? Apakah juga diadakan 
referendum di pulau-pulau lain? Hal itu sama sekali out of question!!! Dalam 
tulisan saya, saya sudah singgung Sumpah Pemuda. Bagi saya itu adalah 
pernyataan kesatuan seluruh Indonesia termasuk Papua Barat!! Bukan hanya suku 
bangsa Papua yang tidak mengirimkan wakilnya. Banyak suku bangsa lain yang 
tidak bisa mengirim. Karena perkembangan kesadaran tidak merata. Sudah tentu 
klaim wilayah Indonesia adalah wilayah yang diduduki Belanda adalah klaim 
sepihak bangsa Indonesia!!! Klaim yang DITOLAK OLEH BELANDA!! Makanya Belanda 
berusaha memecah belah Indonesia melalui pendirian negara-negara boneka yang 
bisa dikuasainya! KMB juga dihadiri oleh wakil dari negara-negara boneka 
Belanda dan akhirnya lahirlah RIS!!! Sudah tentu ada orang yang memang bersedia 
menjadi bonekanya Belanda, seperti orang-orang Maluku dengan RMSnya! Begitu 
juga orang-orang Papua yang pada tahun 1961 minta supaya benderanya berkibar 
disamping bendera Belanda dan lagu kebangsaannya dinyanyikan bersama dengan 
lagu kebangsaan belanda. Orang-orang itu adalah boneka-bonekanya Belanda yang 
memihak kepada kaum kolonial Belanda dan menentang kemerdekaan Indonesia. Nah, 
jadi tergantung sikap kita masing-masing: mau merdeka dari kolonialisme Belanda 
atau mau jadi antek kolonial Belanda!! Setuju dengan Nation building atau mau 
terus menjadi mangsa kolonial belanda. RMS yang melawan akhirnya digempur. Dan 
sudah tentu anda tahu mengapa Belanda tidak mau pergi dari Papua, bukan???Soal 
penindasan, penghisapan, dan kekejaman rezim neoliberal sejak Suharto sampai 
sekarang , tidak bisa diukur  atau dibandingkan dan dijadikan alasan untuk 
"memisahkan diri". Saya bisa merasakan seperti penderitaaan darah daging saya 
sendiri semua penderitaan rakyat Indonesia, tidak perduli suku bangsa dan 
agamanya!! Apa yang diderita rakyat papua juga diderita rakyat suku bangsa 
lain. Jadi sebenarnya musuh rakyat Papua sama dengan rakyat seluruh Indonesia: 
rezim neoliberal yang mewakili kepentingan kaum tuan tanah, kaum komprador dan 
kaum imperialis!!! Yang mendesak bagi rakyat Papua adalah menuntut reforma 
agraria sejati untuk mengembalikan tanahnya yang dirampas atau dijual dengan 
melalui penipuan!! Mengenai organisasi-organisasi pendukung pemisahan diri, 
sudah saya ungkapkan dalam tulisan yang lalu, apa yang perlu diteliti dan 
dianalisa, supaya rakyat Papua jangan akhirnya "bebas" dari harimau dan masuk 
ke mulut buaya!!! Terus terang saya tidak rela rakyat Papua HANYA mengganti 
kulit dan suku bangsa orang yang menindas dan menghisapnya saja!!! 

On Wednesday, December 6, 2017 7:43 PM, jonathangoeij@... wrote:

Klaim bahwa wilayah2 bekas jajahan Belanda jadi satu negara saya rasa merupakan 
klaim sepihak Indonesia saja, tetapi apakah Papua mengakui klaim ini dan 
bersedia jadi bagian Indonesia selamanya itu merupakan lain cerita. Juga tidak 
ada jurisprudensi-nya sama sekali yang mengatakan wilayah2 bekas jajahan 
kemudian jadi satu negara. Wilayah2 bekas jajahan Portugis jadi puluhan negara, 
demikian juga bekas jajahan Inggris, Perancis, Sepanyol, Jerman, Italy, dlsb. 
jadi banyak sekali negara2 terpisah.
Selama sekian lama rakyat Papua telah mengalami genosida besar2an tidak kalah 
dgn pembantaian PKI th 1965 itu bahkan lebih parah lagi, seringkali desa2 
ditumpas habis begitu saja sampai ke-akarnya. Hal seperti ini sudah merupakan 
rahasia umum. Belum lagi eksploitasi SDA gila2an tanpa memperhatikan pencemaran 
lingkungan yang mengakibatkan penyakit dan kematian. 
Apakah rakyat Papua pernah mendapat kesempatan memilih? Pepera yang lalu 
merupakan referendum dagelan dgn seribuan orang dipilih/didatangkan TNI, boleh 
dibilang merupakan referendum dibawah "todongan bedil." Semuanya serba palsu, 
pura2 dan rekayasa. Tidak ada bedanya dengan klaim PKI atau pentolan-nya 
terlibat pembunuhan para jendral dan karenanya layak dibantai, suatu kebohongan 
besar yang dipiara sampai sekarang. Negara yang serba palsu.
Apakah rakyat Papua tidak berhak menentukan nasib sendiri melalui referendum 
one person one vote?Adalah benar banyak rakyat yang tertindas, tetapi apakah 
itu menghapus hak bangsa Papua menentukan nasib sendiri?Lagipula referendum 
bukan selalu berarti merdeka, tetapi intinya keputusan diserahkan rakyat apakah 
tetap mau bergabung atau mau memisahkan diri.
Suatu ironi kalau sebuah negara yang dengan lantang mengatakan "kemerdekaan 
adalah hak segala bangsa" kemudian justru menghilangkan kemerdekaan itu.

On Wednesday, December 6, 2017, 9:29:03 AM PST, jetaimemucho1@... wrote:

Satu fakta sejarah yang dilupakan oleh Pdt. Benny Giay adalah Papua barat 
adalah jajahan Belanda, sehingga ketika Indonesia menyatakan merdeka dari 
Belanda, Papua Barat sudah menjadi bagian dari Indonesia. Dan fakta lain yang 
dilupakan adalah Papua Barat tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan. Itu 
satu bukti bahwa Papua Barat adalah jajahan Belanda. Jadi tidak ada Pepera pun 
Papua Barat adalah bagian dari Indonesia. Menuntut keadilan, menolak 
pelanggaran berat aparat militer rezim Indonesia di Papua Barat adalah hak 
rakyat Papua, tapi mereka tidak berhak memutar balik fakta sejarah dan menuduh 
Indonesia menganeksi dan menduduki Papua Barat!! Rakyat Papua Barat harus juga 
tahu bahwa penderitaan mereka tidak unik, rakyat suku bangsa di pulau-pulau 
lain juga menderita penghisapan dan penindasan rezim neoliberal yang kejam!!! 
Tahu tidak mereka dan Pdt Benny itu tentang pembantaian 3 juta manusia dan 
pemenjaraan dan penghilangan ribuan orang tak berdosa??? Belajarlah sejarah 
dengan benar!!!Jangan dikira rakyat papua itu "diistimewakan" oleh rezim boneka 
imperialis dalam hal penindasan dan penghisapan!! Rezim menindas dan menghisap 
di seluruh Indonesia, tidak perduli suku bangsa dan agamanya... Tahu tidak 
mereka nasib suku bangsa di Riau (Orang rimba), orang Dayak, orang Samin, 
sukubangsa di Gunung Rinjani..???

On Tuesday, December 5, 2017 11:43 PM, jonathangoeij@... wrote:
 Suara-suara kritis bisa menjadi masukan. Saya kira orang Indonesia 
ini—aduh—lebih baik kami pisah karena tidak bisa berpikir kritis terhadap 
sejarah. Pemimpin-pemimpin menipu. Kemarin saja di Timika, semua orang percaya 
bahwa delapan orang menyandera 1.300 orang. Itu bagaimana? Jadi Indonesia itu 
ada di Jawa, ada di rakyat Indonesia, ada di pemerintah, semua tipu oleh orang 
yang dikendalikan tentara, oleh militer. Bagaimana? 
...Kalau Pak Jokowi itu diam, tidak bicara banyak, hanya banyak menipu dan 
banyak pencitraan. Ini menandakan takut sama tentara, sama polisi, karena tidak 
banyak bicara soal kekerasan. 
...



Pdt. Benny Giay:

"Kami Orang Papua Lama-Lama Punah"

Salah seorang paitua paling dihormati di Papua meminta pemerintahan Indonesia 
berdialog secara bermartabat untuk membahas keadilan politik bagi Papua.

Reporter: Arbi Sumandoyo01 Desember, 2017dibaca normal 5 menit   
   - "Kami hidup di negara yang kemanusiaannya tidak ada"—Benny Giay


Salah seorang paitua paling dihormati di Papua meminta pemerintahan Indonesia 
berdialog secara bermartabat untuk membahas keadilan politik bagi Papua.
tirto.id - Sejak Papua Barat diserahkan ke pemerintah Indonesia lewat mekanisme 
internasional pada 1963, dan penentuan integrasi politik secara paksa pada 
1969, sejak itulah kekerasan dan pengerahan militer ke Papua tak pernah surut. 
Terbaru, intensitas kontak senjata di kawasan tambang PT Freeport Indonesia di 
Tembagapura, Mimika, yang diklaim otoritas Indonesia sebagai "penyanderaan", 
menjadi sorotan media di tengah iklim buruk pers bebas dari dan ke Papua.

Pendeta Benny Giay, salah seorang paitua yang paling dihormati oleh rakyat 
Papua, Ketua Sinode Gereja Kemah Injil Indonesia (KINGMI) di Tanah Papua, 
angkat bicara mengenai insiden tersebut. Ia juga bicara solusi penyelesaian 
masalah di Papua di mana “pemerintah Indonesia harus duduk berbicara” dengan 
rakyat Papua. 

Di akhir pembicaraan, dan menjelang bulan perayaan Natal, Pendeta Benny menitip 
doa: “Saya berdoa supaya anak-anak Indonesia yang baru-baru, Mama-Mama Papua 
yang baru lahir, akan lebih baik. Saya percaya kepada Mama Jawa, Mama Sumatera, 
dan Mama-Mama yang lain dan Mama-Mama Papua yang masih ada sekarang lahir.

Asal mereka berpikir kritis, mereka tidak akan mewarisi budaya politik orang 
Indonesia yang penuh dengan rekayasa. Menari-nari dengan koruptor-koruptor. 
Mereka harus mendapat pendidikan yang humanis, pendidikan yang menyapa sesama. 
Bukan berdasarkan agama, warna kulit, rambut, tapi berdasarkan kemampuan."

Berikut wawancaranya kepada Arbi Sumandoyo via telepon, Kamis kemarin. 

Bagaimana pendapat Anda mengenai penyelesaian untuk Papua? 

Pertama, saya kira, negara ini, pemerintah ini, negara ini, rakyat Indonesia 
ini, sedang hanyut. Saya jelaskan: sedang hanyut dalam ideologi negara yang di 
awang-awang. Hidup di negara yang tidak manusiawi. Maksud saya: pemerintah ini, 
rakyat Indonesia ini, sedikit manusiawi, sedikit kaki masih di bumi, bisa 
berefleksi. Dia bisa ada gerakan untuk memeriksa diri 50 tahun. 

Harusnya, kamu tidak memikirkan Papua, kamu bunuh saja, kami tidak bisa 
revolusi. Sudah 50 tahun, setelah peristiwa 65 itu. Jadi akar persoalan 
mengenai Papua itu sebenarnya ada di situ. Negara ini, rakyatnya, 
koran-korannya, medianya tidak mendidik. Tidak mendengar suara-suara kritis 
dari Pramoedya Ananta Toer. 

Suara-suara kritis bisa menjadi masukan. Saya kira orang Indonesia 
ini—aduh—lebih baik kami pisah karena tidak bisa berpikir kritis terhadap 
sejarah. Pemimpin-pemimpin menipu. Kemarin saja di Timika, semua orang percaya 
bahwa delapan orang menyandera 1.300 orang. Itu bagaimana? Jadi Indonesia itu 
ada di Jawa, ada di rakyat Indonesia, ada di pemerintah, semua tipu oleh orang 
yang dikendalikan tentara, oleh militer. Bagaimana? 

Akhirnya semua ikut ditipu, semua dikendalikan. Kapan rakyat ini, koran ini 
dapat berpikir kritis? Jadi rakyat Indonesia itu harus merevolusi. Penyelesaian 
itu ada di Jakarta. Kami di Papua tidak akan ngomong, tidak akan berbicara. 
Kami sudah komit, saya kira rakyat kami sudah komit. 

Kami melihat pendidikan kami tidak baik, kesehatan kami tidak baik, kami 
disingkirkan, kami menerima dan menghormati itu semua. Kami tidak apa-apa mati 
karena harga diri. Kami hidup di negara yang—aduh—kemanusiaan tidak ada. 

Semua bermula dari omong kosong. Semua yang dikendalikan oleh pikiran-pikiran 
yang bodoh itu. Kepentingan-kepentingan tentara, kepentingan golongan, 
kepentingan partai—mana untuk rakyat? 

Menurut Anda, apa yang terjadi di Tembagapura kemarin? 

Saya kira itu biasa: uang pembangunan ada, uang keamanan ada. Itu kami di Papua 
sudah tahu. Uang pengamanan sudah ada, kemudian bikin masalah di Freeport. Bagi 
kami itu sudah jelas. Jadi laporan beberapa orang itu dibesar-besarkan, sampai 
tadi saya bilang: Semua penipu habis. 

Beberapa waktu lalu saya sudah bilang: semua koran ditipu dengan istilah 
"Kelompok Kriminal Bersenjata." Polisi dan tentara mencari keuntungan, jadi 
pakai istilah KKB. 

Anda memandang kehadiran Freeport seperti apa? 

Saya kira itu menjadi akar persoalan. Jadi, menurut kami, karena 
konflik-konflik ini, kami kemudian jadi rajin membaca sejarah. Kami duga, akar 
persoalannya orang Papua tidak diberi pendapat dari awal. Saya baca sejarah. 
Saya kira Indonesia lewat Perjanjian New York tanggal 15 Agustus 1962 hanya 
dikasih kepercayaan untuk mengamidministrasi. Biarkan orang Papua untuk 
menentukan pendapatnya pada 1969. Indonesia harus siapkan. 

Rakyat Papua itu menentukan: apakah mau merdeka atau bergabung dan tinggal di 
Indonesia? Titik. Hanya itu. Tapi banyak orang-orang diarahkan untuk memilih 
Indonesia. Bagi kami, itu sudah salah. Kami orang Papua lama-lama punah. Jadi 
bagi kami, semua akar-akar persoalan itu ada di situ. 

Jadi Anda mau menjelaskan muara persoalan Papua ada di Pepera? 

Akar persoalan itu adalah penentuan pendapat rakyat (Pepera). Jadi, tahun 1960, 
Belanda harus angkat kaki. Belanda bilang ke PBB: Tidak. Kalau begitu: arahkan 
orang Papua untuk memilih, menentukan pendapat. Penentuan pendapat itu, kan, 
ada aturannya, masyarakat harus disiapkan. Indonesia masuk tahun 1963—itu untuk 
menyerang Papua. Nah, tahun 1969 baru orang Papua disuruh menentukan dan ini 
terjadi dengan paksaan.

Jadi, pemerintah harus duduk berbicara. Saya sudah bertemu presiden beberapa 
kali. Pertama, presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 16 Desember 2011. Kedua, 
pada 26 Desember 2014, bertemu dengan Pak Jokowi. 

Saya kasih tahu: Pak, kenapa dengan Aceh, kenapa dengan GAM, NKRI bisa duduk 
dan berdialog? Kenapa Papua tidak bisa? 

"Tidak, tidak, NKRI tidak bisa,"—presidennya tidak bisa duduk dan berdialog 
dengan orang Papua. 

Mereka selalu bilang: Orang Papua mau berbicara dengan siapa? 

Sekarang sudah ada ULMWP (United Liberation Movement for West Papua), kenapa 
orang Indonesia tidak bisa berbicara dan duduk dengan orang Papua? Kami meminta 
keadilan. 

Apa jawaban SBY dan Jokowi ketika Anda menemui keduanya? 

Kalau Pak Jokowi itu diam, tidak bicara banyak, hanya banyak menipu dan banyak 
pencitraan. Ini menandakan takut sama tentara, sama polisi, karena tidak banyak 
bicara soal kekerasan. 

Kalau SBY bilang banyak ultranasionalis di Jakarta yang tidak mau dialog, tidak 
mau komunikasi. Dia mau bikin Jakarta sentris. Berpusat di Jakarta terus dan 
mereka mau Jakarta yang atur terus. 

Soal lain: akar persoalan itu, saya kira, orang-orang menganggap warga kulit 
hitam ini warga negara kelas dua. Coba Anda baca komentar-komentar soal 
gubernur pertama Papua, Frans Kaisiepo. Itu orang Papua pertama pendukung NKRI 
dan gambarnya ditaruh pada uang kertas sepuluh ribu rupiah. Orang-orang anggap 
dia—komentar-komentar di Facebook—aduh, kami malu. Itu Mama Kaisiepo harus 
tanggapi itu. Saya mau kasih tahu anaknya. Bapaknya dulu pelopor integrasi 
NKRI; sekarang dianggap "kera." 

Kenapa orang seperti Frans Kaisiepo dianggap kera kemudian bukan dianggap 
pahlawan? Kasih tahu kami, to!

Kami memang sudah dari sang pencipta, sang sejarah, sudah menciptakan kami. 
Hitam keriting itu ciptaan Tuhan. Sekarang Kaisiepo jadi pahlawan integrasi dan 
Indonesia ambil Papua dan sekarang dia dituding balik sebagai monyet. Saya 
kira, bangsa ini, negara ini, pemerintah ini, koran-koran ini, masyarakat 
sipil, gereja-gereja ini, aneh. 

Baca juga: Mengenang Perjuangan untuk Papua dalam Selembar Rp10 Ribu

Kenapa aneh? 

Saya kira mereka sudah tidak ada nurani. Ras dan kemanusiaan serta HAM tidak 
ada dalam opini-opini kemiliteran. Opini-opini sang diktator. Kita harap 
Indonesia berubah. Berubah karena dirinya sendiri. 

Saya sedang baca laporan-laporan tahun 1964 yang dibawa ke Jawa untuk 
diindoktrinasi. Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Sukarno kasih pengantar 
di situ soal Pancasila. Tetapi pelaksanaan tidak ada. Jadi negara ini juga 
bukan hanya untuk presiden, menteri-menteri; tapi juga suku Badui, orang 
Ahmadiyah, orang Syiah, semua milik kita negara ini. 

Upaya-upaya apa untuk bicara dengan pemerintah soal Papua? 

Kita terus meminta untuk duduk berbicara—tapi, ya sudah. Yang jelas, media 
sosial ada sekarang. Kami orang Papua juga banyak masalah, karena kami bukan 
malaikat, Indonesia juga banyak masalah, kami bukan suci dan kami juga harus 
koreksi diri. Kami sudah lama meminta dialog untuk duduk berbicara.  

Bagaimana Anda melihat upaya pemerintahan Jokowi untuk membangun Papua yang 
diklaim memperhatikan Papua? 

Saya pikir pembangunan yang Indonesia bikin di Papua itu dilandaskan atas 
Pancasila, minus sila pertama ("ketuhanan yang Maha Esa"), minus sila kedua 
("kemanusiaan yang adil dan beradab"), dan minus sila kelima ("keadilan 
sosial"). Sehingga (minus-minus ini) melahirkan nasionalisasi Papua. 

Kembali soal peristiwa terbaru di Tembagapura, Anda memandangnya bagaimana? 

Saya kira memang ada masalah bahwa Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua 
Merdeka (TPN-OPM) membuat kegiatan di situ. Kami juga berkelahi dengan bahasa 
kami. Kami juga tolak militer karena bikin kami kacau. Tapi ya itu sudah: 
negara ini juga jalan sendiri. Ini semua, kan, kita tidak atur. Sudah banyak 
kepentingan. Semua kekerasan di Papua. Dan kita juga salah untuk tidak melihat 
insiden-insiden ini secara kritis. 

Kalau angkat senjata itu kasih kesempatan kepada tentara dan polisi untuk 
betul-betul memanfaatkan. Kami juga curiga, mereka-mereka yang ikut kegiatan 
TPN-OPM juga ada kerja sama dengan TNI dan Polri. 

Bagaimana soal klaim dari otoritas Indonesia? 

Tidak ada penyanderaan di Tembagapura. Saya punya jemaat di situ. Saya cek. 
Menurut saya, itu hanya bahasa politik bikin heboh saja. 

Soal peristiwa kemarin di Tembagapura, kami ada kenangan yang sama. Bulan 
Desember, tanggal 25, tahun 1994. Itulah yang melahirkan Agustus 1995. Uskup 
Agung membuat pelaporan pelanggaran HAM di Timika. Jadi kami marah itu kemarin 
kepada kelompok bersenjata. 

(Catatan: Peristiwa ini dikenal "Tragedi Timika", Uskup Agung Jayapura, Mgr. 
H.F.M. Munninghoff, O.F.M. membuat laporan pelanggaran HAM yang disampaikan ke 
Komnas HAM di Jakarta. Baca di sini.)

Jadi sebetulnya Anda tidak sepakat ada gerakan senjata di Papua? 

Iya. Sekarang jalannya sudah ada: jalan perundingan. Dialog. Sudah bermartabat. 

Baca juga artikel terkait PAPUA atau tulisan menarik lainnya Arbi Sumandoyo 
(tirto.id - arb/fhr)




Kirim email ke