From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Thursday, December 7, 2017 1:19 PM
  







Jokowi dan para pemimpin dunia kutuk keputusan Trump soal Yerusalem
  a.. 2 jam lalua.. Bagikan artikel ini dengan Facebook  a.. Bagikan artikel 
ini dengan Twitter  a.. Bagikan artikel ini dengan Email  a.. Kirim
Hak atas fotoAFP 
Presiden Jokowi menyerukan agar OKI dan PBB segera membahas keputusan Presiden 
AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel yang disebutnya melanggar 
berbagai resolusi PBB.

Dalam pernyataan pers di Istana Bogor, Kamis (7/12), Presiden Joko Widodo 
menyebut "pengakuan sepihak itu melanggar berbagai resolusi Dewan Keamanan PBB 
yang di sana AS merupakan sa;lah satu anggota tetap, juga Majelis Umum PBB," 
kat jokowi.

Pengakuan AS atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, kata Jokowi, "bisa 
mengguncang stabilitas keamanan dunia."

Saya meminta AS mempertimbangkan kembali keputusan tersebut.

Ia juga menyerukan PBB dan Organisasi Konferensi Islam (OKI) untuk segera 
membahas dan meentukan sikap.

"Saya akan datang sendiri ke sidang OKI itu," katanya.

  a.. Hamas sebut keputusan Presiden Trump akan 'membuka gerbang neraka' 
  b.. Presiden Trump sudah umumkan Yerusalem sebagai ibu kota Israel 
  c.. Berkaca dari Yerusalem: bagaimana memilih Ibu kota negara?
KTT OKI akan berlangsung di Istanbul, 13 Desember mendatang.

"Saya, rakyat Indonesia, kita semua, akan terus bersama rakyat Palestina dalam 
perjuangan untuk mencapai kemerdekaan Palestina," tandas Jokowi.

Sebelumnya, dalam acara Bali Democracy Forum yang diadakan di Serpong, Kamis 
(7/12) ini Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi tampil mengenakan selendang 
Palestina.

"Saya berdiri di sini, mengenakan selendang Palestina untuk menunjukkan 
komitmen kuat pemerintah Indonesia, rakyat Indonesia, untuk selalu bersama 
rakyat Palestina, untuk hak-hak mereka," kata Menlu Retno.

"Kami mengutuk pengakuan (AS terkait Yerusalem) itu," Retno menegaskan.

 
Keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota 
Israel memang disambut dengan gelombang kecaman dan kritik dari berbagai 
penjuru dunia.

Amerika menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mengakui Yerusalem 
sebagai ibu kota Israel.

Para pemimpin dari dunia Muslim dan masyarakat internasional lain melontarkan 
kemarahan mereka, dan sebagian memperingatkan bahwa langkah itu menimbulkan 
potensi kekerasan dan pertumpahan darah.

Trump juga mengumumkan rencana pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke 
Yerusalem.

Status Yerusalem merupakan jantung konflik panjang Israel-Palestina, karena 
Israel mencaplok Yerusalem Timur yang bagi Palestina merupakan ibu kota negara 
mereka di masa depan.

Trump mengatakan bahwa langkah itu merupakan "pengakuan atas kenyataan saat ini 
dan kenyataan sejarah" namun bukan merupakan pernyataan politik, dan tidak akan 
mengubah batas-batas fisik dan politik Yerusalem.

"Akhirnya hari ini kita mengakui hal yang sudah jelas: bahwa Yerusalem adalah 
ibu kota Israel," kata Presiden Trump.

"(Pengakuan) ini, tidak lebih dan tidak kurang, adalah sebuah pengakuan atas 
realitas. Hal ini juga merupakan hal yang benar untuk dilakukan. Ini hal yang 
harus dilakukan," kata dalam pidato khusus itu.

Bagaimana dunia bereaksi atas keputusan yang merupakan perwujudan dari janji 
kampanye Trump ini?

Palestina
Presiden Mahmoud Abb as mengatakan bahwa keputusan tersebut berarti Amerika 
Serikat 'mencabut perannya sebagai mediator perdamaian' setelah selama satu 
dasawarsa mensponsori proses perdamaian Israel-Palestina.

"Langkah-langkah yang menyedihkan dan tidak dapat diterima ini merupakan hal 
yang secara sengaja melemahkan semua upaya perdamaian," katanya dalam pidato 
televisi yang telah direkam sebelumnya.

Dia menegaskan bahwa Yerusalem adalah 'ibukota abadi negara Palestina.'



Ismail Haniyeh, pemimpin Hamas, kelompok Palestina yang menguasai Jalur Gaza, 
mengatakan: "Rakyat Palestina kami di mana pun tidak akan membiarkan 
persekongkolan ini berlalu, dan pilihan mereka terbuka untuk membela tanah dan 
tempat-tempat suci mereka."

Seorang juru bicara kelompok tersebut mengatakan bahwa keputusan tersebut akan 
"membuka gerbang neraka bagi kepentingan AS di wilayah ini".

Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa pengumuman Presiden 
itu Trump adalah sebuah 'monumen bersejarah.'

Dia menyebut hal itu merupakan keputusan yang 'berani dan adil.'

Disebutkannya, pidato tersebut merupakan "langkah penting menuju perdamaian, 
karena tidak akan ada perdamaian yang tidak mencakup Yerusalem sebagai ibu kota 
Negara Israel".

Dia mengatakan ba hwa kota tersebut telah "menjadi ibu kota Israel selama 
hampir 70 tahun".

Menteri Pendidikan Naftali Bennett juga memuji keputusan tersebut, dengan 
mengatakan, "Amerika Serikat telah menambahkan batu bata lain ke dinding 
Yerusalem, ke dasar negara Yahudi," dan mendesak negara-negara lain untuk 
mengikuti jejak Trump.

Dunia Muslim
Di Turki, Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu mengatakan, keputusan tersebut 
"tidak bertanggung jawab".

Dalam cuitannya di Twitter ia menulis bahwa "keputusan tersebut bertentangan 
dengan hukum internasional dan resolusi-resolusi PBB terkait."

Hak cipta gambar @MevlutCavusoglu@MEVLUTCAVUSOGLU
Raja Salman mengatakan kepada Trump melalui telepon sebelum sikap AS itu 
diumumkan, bahwa pemindahan kedutaan atau pengakuan Yerusalem sebagai ibukota 
Israel "akan merupakan provokasi mencolok terhadap umat Islam di seluruh dunia".

Liga Arab menyebutnya "tindakan berbahaya yang akan menimbulkan dampak" di 
seluruh wilayah. Mereka juga mempertanyakan peran AS di masa depan sebagai 
"mediator terpercaya" dalam perundingan damai.

Iran mengatakan keputusan tersebut menimbulkan risiko munculnya gelombang 
"intifadah baru." Kementerian luar negerinya me ngatakan bahwa AS melanggar 
resolusi internasional.

Raja Yordania, Abdullah, menyerukan dirumuskannya upaya bersama untuk 
"mengatasi konsekuensi keputusan ini," dan seorang juru bicara pemerintah 
mengatakan bahwa Trump telah melanggar hukum internasional dan piagam PBB.

Menteri luar negeri Qatar mengatakan bahwa tindakan tersebut merupakan "hukuman 
mati bagi semua orang yang mencari perdamaian".

Masyarakat internasional
Paus Fransiskus mengatakan: "Saya tidak dapat membungkam keprihatinan saya yang 
mendalam atas situasi yang muncul dalam beberapa hari ini. Pada saat yang sama, 
saya sangat mengharapkan semua orang untuk menghormati status quo kota, sesuai 
dengan resolusi PBB yang relevan."

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Antonio Guterres, mengatakan 
pernyataan Presiden Trump "akan membahayakan prospek perdamaian bagi Israel dan 
Palestina".

Guterres mengatakan bahwa Yerusalem merupakan "subjek terakhir (Israel dan 
palestina) dan harus diselesaikan melalui perundingan langsung antara kedua 
belah pihak".

Perundingan semacam itu harus mempertimbangkan "aspirasi-aspirasi yang absah 
dari pihak Palestina dan Israel," katanya.

Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionDalam pernyataan pers di Gedung Putih, 
Presiden Trump juga mengatakan Israel memiliki hak untuk menentukan ibu 
kotanya. 
Uni Eropa meminta "dimulainya kembali proses perdamaian yang berarti menuju 
solusi dua negara" dan mengatakan "harus ditemukan suatu cara, melalui 
negosiasi, untuk menyelesaikan status Yerusalem sebagai ibukota masa depan 
kedua negara, sehingga aspirasi dari kedua belah pihak bisa terpenuhi ".

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan keputusan Trump untuk mengakui 
Yerusalem sebagai ibukota Israel "sangat disesalkan".

Dia menyerukan digalangnya upaya untuk "menghindari kekerasan dengan segala 
cara."

Cina dan Rusia juga menyatakan keprihatinan mereka bahwa langkah itu dapat 
menyebabkan peningkatan ketegangan di wilayah tersebut.

Hak atas fotoREUTERSImage captionYerusalem adalah kota suci bagi tiga agama 
besar: Islam, Kristen, Yahudi. 
Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan pemerintah Inggris tidak setuju 
dengan keputusan AS itu, yang disebutnya 'tidak membantu dalam hal prospek 
perdamaian di kawasan itu.'

"Kedutaan Ingris untuk israel berkantor di Tel Aviv dan kami tak punya rencana 
untuk memindahkannya."

"Sikap kami tentang status Yerusalem sudah jelas dan sudah berlangsung lama: 
harus ditentukan dalam penyelesaian yang dirundingkan antara Israel dan 
Palestina, dan Yerusalem pada akhirnya harus menjadi ibukota bersama negara 
Israel dan Palestina. Sejalan dengan Resolusi Dewan Keamanan (PBB) yang 
relevan, kami menganggap Yerusalem Timur sebagai bagian dari Wilayah Pendudukan 
Palestina. "

Juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan di Twitter bahwa Berlin 
"tidak mendukung sikap (Trump) ini karena status Yerusalem hanya dapat dirundin 
gkan dalam kerangka solusi dua negara".





Kirim email ke