*HTI organisasi terlarang, tetapi suratkabarnya tetap hidup. Jadi apa artinya terlarang? PKI dilarang dan surat kabarnya pun dilarang terbit.*
2017-12-09 7:48 GMT+01:00 'Chan CT' [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Felix Siauw, Muallaf yang Melampaui Batas Kajitow Elkayeni > 09-Desember-2017 https://seword.com/umum/felix- > siauw-muallaf-yang-melampaui-batas-ryPbS7h0- > > Sebagai seorang muslim sejak lahir, saya jadi malu bersaudara seagama > dengan muallaf seperti Felix Siauw. Saya menyesal, Felix memilih islam > sebagai agamanya. Di tengah rasa malu yang memuncak itu, kadang saya > berpikir, apakah keislaman saya ini perlu saya evaluasi lagi? > > Semenjak saya belajar bicara dan berjalan, doktrin agama ini telah saya > terima. Kedua orang tua saya lulusan pesantren. Lingkungan tempat saya > tumbuh homogen, seratus persen muslim, Jawa. Dari satu guru ke guru yang > lain. Dari satu pesantren ke pesantren yang lain. Saya telah melampaui > semua kegelisahan filsafati. Pernah jadi sosok fanatik yang meyakini jihad > dan pertumpahan darah sebagai jalan satu-satunya untuk memuliakan islam. > Membawa slogan dengan penuh amarah, 'al-islamu ya'lu wala yu'la 'alaih > (islam yang tertinggi, tidak ada yang lebih tinggi dari islam)'. > > Sampai akhirnya, tulisan-tulisan Gusdur membuat saya sadar. > Pendapat-pendapat Habib Quraish Shihab dan Kyai Husein Muhammad membuka > pemahaman baru. Islam tidak mesti digambarkan dengan brutal dan sadis. > Islam harus terbuka pada perbedaan, kebhinekaan, kebaruan ijtihad. Islam > bukan agama marah dan penuh kebencian. Islam harus rahmatan lil'alamin, > menjadi ramat bagi seru-sekalian alam. > > Sementara ulama-ulama Wahabi, HTI (Hizbut Tahrir Indonesia), IM (Ikhwanul > Muslimin), berusaha merusak sendi utama itu. Mereka merobohkan islam dari > dalam. Islam yang sudah dibangun ratusan tahun dengan bersusah payah oleh > Walisanga. Oleh orang-orang mulia yang rela mengalah demi kemaslahatan. > Sunan Kudus melarang penyembelihan sapi, Sunan Kalijaga memakai pakaian > Jawa, kemenyan dan wayang. Sunan Giri menggunakan tembang dan dolanan > anak-anak sebagai media. Sunan Gresik menata irigasi dan pertanian. > Sementara ulama radikal yang melenceng itu membawa jargon kearaban dan isu > pemurnian agama. Semua selain mereka dianggap sesat. > > Yang lebih menyedihkan lagi, para muallaf yang pemahaman agamanya > dipertanyakan itu, tiba-tiba didaulat menjadi ulama. Bermodalkan ayat > terjemahan dan hadits sepotong-sepotong, mereka mengkafirkan yang lain. > Mereka menjadi corong penyesatan berjamaah. Ustadz karbitan yang baru > mengenal kulit agama itu menjadi dajal kecil di masjid-masjid tertutup. > Sebagian memang memahami sedikit bahasa Arab dan kaidah fikih, meskipun > untuk disebut ulama, jelas masih sangat kurang memadai ilmunya. > > Felix Siauw adalah salah satu muallaf itu. Orang yang baru saja pindah > agama dengan segala keterbatasan ilmunya. Ia murtad dari agama sebelumnya, > dengan embel-embel telah mendapat pencerahan. Esok, bisa jadi ia pindah > agama lagi jika mendapat pencerahan baru. Orang yang tidak memiliki > kesetiaan beragama ini kemudian dijadikan jargon pemurnian agama. Seorang > muallaf pendobrak. Ia menyalahkan pendiri bangsa, para ulama Aswaja. > Mempertanyakan nasionalisme dan keislaman moderat. > > Padahal seorang muallaf, meski telah dua puluh tahun memeluk islam > sekalipun berhak menerima zakat, karena kadar keislamannya dipertanyakan. > Namun muallaf yang jelas serba fakir ilmu seperti Felix Siauw ini merasa > 'allamah melampaui ulama-ulama sepuh Nusantara. Ia lahir dari organisasi > terlarang bernama HTI. Tidak mau mengakui Pancasila sebagai dasar negara > (sesuai pemberitaan muslimoderat.net). Tidak menerima sistem demokrasi > dan ingin menggantinya dengan sistem khilafah. Orang ini tersesat ke ceruk > yang sangat dalam, tapi menuduh orang lain yang ada di jalur yang benar, > sebagai yang tersesat. > > Menghadapi makhluk tak tahu diri seperti Felix Siauw ini menimbulkan rasa > malu luar biasa. Tahun-tahun panjang mempelajari agama islam menjadi > sia-sia. Rasa hormat pada Kyai sepuh dan ulama Nusantara seolah tak > berguna. Tiba-tiba saja orang yang bodoh dalam hal agama, yang baru saja > murtad dari agama sebelumnya itu, mengobarkan permusuhan atas nama islam. > Agama yang saya peluk sejak lahir, yang saya daras siang-malam dari > berbagai guru sejak kanak. Ia yang bahkan tidak sepadan jika dibandingkan > dengan saya ini berani-beraninya memusuhi NU, memusuhi Banser, memusuhi > ulama-ulama yang jauh lebih alim dari saya. > > Felix baru masuk islam di kisaran tahun 2002-2003, tahun itu saya sudah > berceramah ke mana-mana, meski untuk tingkatan pelosok kampung. Saya sudah > berani menyebut diri sebagai macan podium. Tahun itu saya sudah mempelajari > dasar-dasar kitab kuning dan lulus dengan nilai terbaik dari pesantren > pertama. Tentunya sesudah melalui pendidikan agama dari keluarga, kemudian > madrasah diniah dan tsanawiyah selama tujuh tahun lebih. Masih pula > dilanjutkan ke pesantren lain untuk kilatan. Dan proses pembelajaran itu > terus berlanjut sampai sekarang. Meskipun begitu, saya tidak berani > menyebut diri ulama. Menyebut diri ustadz saja tidak berani, padahal pernah > mengajar di madrasah tsanawiyah dan menjadi guru ganti di aliyah. > > Provokasi Felix Siauw, juga keanggotaannya sebagai ormas terlarang (HTI), > sudah cukup meresahkan. Kejadian di Bangil tempo hari adalah puncak dari > kemarahan dan kegelisahan warga. Felix tentunya membangun opini berbeda dan > berusaha membelokkan pemberitaan sesuai versinya. Orang ini (dan kelompok > undergorundnya) seolah mengganggap diri lebih islam dari jutaan nahdliyin. > Ia sengaja menyusup, berpura-pura sebagai saudara untuk merebut dukungan > mereka. Beberapa orang dungu, dengan pengetahuan agama minim, banyak yang > terhasut. Felix dianggap mujahid, pendakwah yang dizalimi. > > Padahal bisa jadi ia adalah versi lain Christiaan Snouck Hurgronje yang > menyusup dalam islam di jaman penjajahan Belanda dulu? > > Drama muallaf yang melampaui batas itu terus berlanjut. Terus terang saya > malu berada satu perahu dengannya. Sepak terjangnya yang meresahkan dengan > membawa nama islam, membuat saya kadang sampai pada keputusan krusial, > Felix atau saya yang mesti keluar dari agama ini? > > Kajitow Elkayeni > > > > >
