http://www.mediaindonesia.com/news/read/135613/di-bawah-naungan-infrastruktur/2017-12-08



Di Bawah Naungan Infrastruktur

Jum'at, 8 December 2017 09:13 WIB Penulis: *Adiyanto *

<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/grafis-insfastruktur.jpg>
<http://www.mediaindonesia.com/files/news/2017/12/grafis-insfastruktur.jpg>

Sumber: Kementerian PU-Pera/Foto: Thinkstock/Grafis: Tim MI

TAHUN 2018 tinggal memasuki hitungan hari. Sejak sebulan terakhir,
bermuncul­an sejumlah ramalan tentang kondisi perekonomian. Istilah
kerennya, *economic outlook*. Umumnya, penerawangan yang dilakukan pakar
ataupun lembaga ilmiah memandang cerah ekonomi Indonesia ke depan.

Namun, rata-rata itu disertai pula sejumlah catatan mengenai hal yang perlu
diperbaiki ataupun diantisipasi pemerintah. Lembaga Penyelidik­an Ekonomi
dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), misalnya, meramalkan
pertumbuhan ekonomi naik sedikit dari 5,2% pada tahun ini menjadi 5,3% di
2018. Pertumbuhan konsumsi, menurut mereka, cukup lemah. Namun, itu dapat
terdongkrak bila tren investasi di sektor riil meningkat dan harga
komoditas yang lebih tinggi berlanjut. Pertumbuhan di 2018 dan mungkin
2019, kata mereka, akan banyak didorong investasi dan ekspor.

Lembaga yang bernaung di bawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UI itu
menilai risiko eksternal cukup terkendali. Hal itu ditandai dengan
kemampuan sejumlah bank utama dalam menaikkan suku bunga acuan tanpa
mengganggu pasar keuangan.

Namun, mereka mengingatkan, dalam mendorong pembangunan infrastruktur,
pemerintah perlu lebih membuka peluang bagi peran swasta lantaran kapasitas
fiskal negara yang masih rendah.

Dalam usaha mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang
berkeadilan, pemerintahan Jokowi memang menempatkan infrastruktur sebagai
agenda ­utama dan mengalokasikan anggaran besar untuk menggenjot sektor
tersebut.

Meskipun secara teori infrastruktur dapat mempercepat aktivitas ekonomi dan
meningkatkan pertumbuhan, menurut LPEM, kenyataan masih belum menunjukkan
demikian. Di saat alokasi anggaran infrastruktur pada 2017 meningkat 177%
dari anggaran 2014, pertumbuhan ekonomi pada tahun ini cuma terkerek
sedikit.

“Penciptaan lapangan kerja yang disebut-sebut sebagai dampak positif yang
timbul dari belanja infrastruktur dan konstruksi juga belum terlihat,”
demikian menurut laporan tersebut.

Jangka panjang

Dalam sebuah seminar terkait dengan infrastruktur akhir Oktober lalu,
Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Indonesia memerlukan pembangunan
sarana dan prasarana untuk memenuhi kebutuhan dasar serta meningkatkan
kesejahteraan masyarakat yang selama ini belum dirasakan secara optimal.

Sebagai negara kesatuan yang terdiri atas berbagai pulau, menurut Menkeu,
kebutuhan infrastruktur sangat mendesak untuk mendorong konektivitas serta
mewujudkan terjadinya keadilan sosial dari sisi politik, hukum, dan
ekonomi. “Tentu dampaknya tidak bisa instan,” ujarnya.

Hal senada dikatakan ekonom Institute for Deve­lopment of Economics and
Finance (Indef) Enny Sri Hartati. Dalam diskusi di Jakarta, Kamis (23/11)
lalu, dia mengatakan pembangunan infrastruktur memang punya *timeline*,
tapi tidak serta-merta langsung memberikan efek. Enny mengatakan
proyek-proyek infrastruktur pemerintah dianggap masih membeban­i keuangan
negara lantaran proyek infrastruktur yang bernilai ribuan triliun rupiah
itu belum rampung dan belum memberikan dampak nyata terhadap penerimaan
negara dalam jangka pendek atau menengah ini.

Menkeu mengakui tantangan pembangunan infrastruktur tak hanya pada
pembiayaan, tapi juga *institutional arrangement *yang memadai untuk
memenuhi target ketersedia­an infrastruktur, baik dari sisi sumber dana,
skema dan kelembagaan, maupun hasil. Upaya yang diperlukan untuk mengatasi
tantangan itu antara lain dengan menyelaraskan kepentingan para
*stakeholder* serta adanya skema pembiayaan yang inovatif dan kreatif.

Dalam Perpres Nomor 79 Tahun 2017 tentang Rencana Kerja Pemerintah 2018,
persoalan infrastruktur tetap masih menjadi agenda utama pemerintah, selain
memacu investasi. Tujuannya tak lain untuk pertumbuhan dan pe­merataan.
“Pembangunan yang kita jalankan bersama bukan hanya untuk yang tinggal di
kota-kota, melainkan juga untuk seluruh anak bangsa, baik yang tinggal di
perdesaan, daerah-daerah pinggiran, pulau-pulau terdepan, maupun kawasan
perbatasan,” kata Jokowi dalam suatu kesempatan. (Try/Tes/E-1)

Kirim email ke