Kalau berita ini tidak benar, apakah Ahok, keluarga atau pengacaranya akan diam 
saja? saya adalah pengagum Ahok walaupun pernah mencelanya. Saya juga shock 
membaca berita ini. Tapi kenyataan janganlah disangkal. Ini malah akan jadi 
bumerang bagi kita sendiri. Kedepan tidak akan dipercaya orang lagi.
 Jadi tanggapilah dengan bijak. Lebih baik cari kemanusiaannya, memaklumi apa 
yang telah terjadi sebagai hal manusiawi. 
 Itu pendapat saya. 
 

 

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

 Saya dapat informasi dari seseorang yang dekat dengan ahok dan veronica. 
Ketika berita ini keluar orang ini lagi disebelahnya veronica. Katanya veronica 
nangis tidak percaya ada orang yang bikin hoax ini.
 Lalu orang ini sibuk setengah mati untuk mengklarifikasi masalah ini.
 Dia sampai diundang ketemu Jokowi dan SBY.
  
 Silahkan dicerna. Kita lihat mana yang benar dan mana yang tidak benar.
  
 Nesare
  
  
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, January 8, 2018 11:13 PM
To: GELORA_In <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Gugatan Cerai Tak Seindah Kemesraan Ahok-Vero di Pilgub DKI


  
  
 Gugatan Cerai Tak Seindah Kemesraan Ahok-Vero di Pilgub DKI Martahan Sohuturon 
, CNN Indonesia | Selasa, 09/01/2018 09:24 WIB
 Selama Pilgub DKI 2017 berlangsung, Ahok-Veronica kerap menampilkan kemesraan 
dan keharmonisan. Kini hal itu seakan bakal sirna seiring gugatan cerai dari 
Ahok. (CNN Indonesia/Safir Makki).
 Jakarta, CNN Indonesia -- Kabar mengejutkan datang dari Basuki Tjahaja 
Purnama, mantan Gubernur DKI Jakarta yang tengah menjadi pesakitan setelah 
divonis bersalah dalam kasus penodaan agama. Pemilik sapaan karib Ahok itu 
menggugat cerai istrinya, Veronica Tan ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 
Jumat (5/1) lalu.

Ahok pernah mengaku bahwa dirinya bukan sosok yang romantis. Namun, bukan 
berarti dia tidak menunjukkan sikap mesra pada Vero, yang sembilan tahun lebih 
muda.

Kemesraan di antara keduanya pun sempat menjadi 'alat politik' yang ditampilkan 
di panggung Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 silam.
 Salah satu kemesraan itu pernah ditampilkan Ahok ke publik lewat akun media 
sosial Instagram pribadinya di hari ulang tahun Vero ke-41.
 Lihat juga:  Kabar Ahok Gugat Cerai Vero dan Tiga Hari Klarifikasi 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180108212015-20-267531/kabar-ahok-gugat-cerai-vero-dan-tiga-hari-klarifikasi/
 
Saat itu, Ahok memamerkan foto berdua dengan Vero yang sedang memegang buket 
bunga. Di depan keduanya pun terlihat sebuah kue ulang tahun setinggi tiga 
tingkat dengan tulisan Veronica di bagian bawah. Selain itu, ada juga dua kue 
ulang tahun lain dengan ukuran lebih kecil dan nasi tumpeng dalam foto tersebut.

Wajah semringah penuh kebahagiaan pun ditampakkan Ahok dan Vero dalam foto 
berwarna hitam dan putih itu. Ahok pun tidak lupa untuk menuliskan keterangan 
(caption) foto yang menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Vero.

"Selamat ulang tahun untuk istri yang selalu setia mendampingi saya, Veronica," 
tulis Ahok.

Sementara itu, keharmonisan keluarga pun sempat ditampilkan Ahok dengan 
mengajak Vero dan putra sulungnya Nicholas Sean untuk menggunakan hak suara di 
hari pencoblosan Pilgub DKI Jakarta 2017 secara bersama-sama, 15 Februari 2017.
 Lihat juga:  Terkejut, Fahri Hamzah Doakan Ahok Tak Cerai dengan Veronica 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180108145623-32-267443/terkejut-fahri-hamzah-doakan-ahok-tak-cerai-dengan-veronica/
 
Mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak, Ahok bersama Vero, dan Nicholas hadir 
sekitar pukul 09.40 WIB di TPS. Mereka datang dengan berjalan kaki dari 
rumahnya.

Namun kini kemesraan itu tampaknya bakal sirna. Gugatan cerai yang dilayangkan 
Ahok terhadap Vero mengaburkan semua kemesraan dan keharmonisan keluarga yang 
ditampilkan ke publik selama ini.
 
 Selama Pilgub DKI 2017 berlangsung, Ahok-Veronica kerap menampilkan kemesraan 
dan keharmonisan. Kini hal itu seakan bakal sirna seiring gugatan cerai dari 
Ahok. (REUTERS/Beawiharta).

 Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing 
mengatakan, kemesraan dan keharmonisan keluarga kerap menjadi salah satu 
senjata bagi sosok yang hendak bertarung di pemilihan umum (Pemilu), baik level 
kepala daerah atau yang lain.

Menurutnya, kedua hal tersebut dapat membantu seorang calon untuk mendapatkan 
dukungan publik.

"Kehangatan keluarga itu sangat penting. Melihat kehangatan keluarga, maka 
sering politikus itu bawa anaknya, jadi sesuatu faktor yang juga dominan, jadi 
faktor voting behavior masyarakat," kata Emrus saat berbincang dengan 
CNNIndonesia.com, Senin (8/1).
 Lihat juga:  Gugat Cerai Vero, Ahok Tegar Terima Kenyataan 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180108151136-20-267449/gugat-cerai-vero-ahok-tegar-terima-kenyataan/
 
Dia menerangkan, menjadikan kemesraan dan keharmonisan keluarga sebagai alat 
politik memiliki keampuhan yang sama dengan menampilkan rekam jejak kinerja. 

Emrus berkata, publik akan tetap mendiskriditkan calon yang memiliki rekam 
kinerja baik, tetapi tidak mampu mewujudkan kemesraan dan keharmonisan di 
tengah keluarganya.

"Ketika tidak harmonis seorang akan menilai bahwa memimpin keluarga saja tidak 
mampu apalagi memimpin lebih besar," ujar dia.

Namun begitu, ia berharap publik lebih cermat dalam menyikapi kemesraan dan 
keharmonisan keluarga yang ditampilkan tokoh politik di tengah upaya menjadi 
dukungan. 
 Lihat juga:  Alasan Ahok Gugat Cerai Veronica Tan 
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180108124143-20-267401/alasan-ahok-gugat-cerai-veronica-tan/
 
Menurutnya, terkadang kemesraan dan keharmonisan keluarga yang ditampilkan 
belum tentu sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

"Keharmonisan yang ditunjukkan itu adalah panggung depan, panggung belakang 
bisa sama, bisa berbeda," ujar Emrus.

Dia menambahkan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) juga dapat membantu publik untuk 
mengetahui rekam jejak calon dalam urusan membangun kemesraan dan keharmonisan 
rumah tangga.

Menurutnya, informasi-informasi tersebut dapat disampaikan ke publik 
berdasarkan data-data yang diperoleh dari calon yang hendak bertarung di 
Pemilu. 

"KPU jelaskan sosok tersebut yang sesuai data. Misalnya sudah pernah cerai tiga 
kali, sampaikan saja atau sudah pernah menjadi narapidana, ya sampaikan dalam 
kasus apa dan (vonis) berapa tahun," ujar Emrus. (osc/gil)



 






Kirim email ke