Berita tahun 2011. Di bawah "sosialisme" a la Deng xiaoping, tani diinjak-injak
haknya, tanahnya dirampas tanpa kompensasi. di mana bedanya dengan Indonesia??
Tahun 2011, terdapat 9830 kasus perampasan tanah. Ini hanya contoh kongkrit
untuk tahun 2011.Tentu buat Chan kurang banyak tuh jumlahnya.
Rising land conflicts in rural China
When developers swooped in to seize Tao Qing Yuan's farmland, he was left with
no compensation, but only a stern warning: protesting would land him in serious
trouble.The 40-year-old corn farmer was left outraged, but remained quietly
confident. Surely in his hometown, he thought, such wrongs could not go
unpunished.His faith, however, began to waver when he made his first visit to
the local village committee. We will look into your case, they told him.Three
months on, he never heard back.What followed was a five-year-long search for
answers, one that took him across every level of local government. He filed
petitions, hired lawyers and took to the courts. Today, he is right back where
his journey started — armed with grievances, but no answers.Mr. Tao's story is
being played out across China's provinces in recent months, where a spike in
land conflicts is leading to calls for reforming a legal system that provides
little recourse to those displaced.Illegal seizures of farmland by local
governments, who are pushing forward development projects, is also raising food
security concerns in Beijing, with the central government appearing unable to
stem rising encroachments on arable land.In the first three months of this
year, the Ministry of Land Resources recorded 9,830 cases of illegal land use
affecting 4,891 hectares, a 3..7 per cent increase from the previous year.The
Ministry warned that the central government would face increasing pressure to
protect land with cash-strapped local governments increasingly relying on the
sale of land for development projects as a source of income.In Beixinxiao, a
small village in China's central Hebei province, the development push has
already begun. Some farmers, like Mr. Tao, have lost their land to commercial
projects.In other villages, projects are also being pushed through under new
guidelines to redevelop the countryside, which envisages reorganising farmland
by demolishing homes and moving every household into apartment blocks.In
Dongxueshang, another Hebei village, the redevelopment plan has not yet been
enforced, but is already dividing opinion.Older farmers like Wang Hui Zhen say
they will be left without a livelihood. “How can I grow vegetables in my
apartment?” she asks.Younger residents, most of whom are employed in nearby
towns, appear more upbeat.Ms. Wang's two daughters, aged 18 and 19, welcome the
move, as long as they are compensated. “We don't want a life in farming,” says
one.The idea behind the plan is to free up farmland for development use by
consolidating smaller holdings, and ensuring that the “red line” of minimum
arable land is not crossed in every county.In the villages of Hebei and
Shandong, however, numerous cases of improper seizures and diverting
agricultural land to commercial purposes have been reported.One survey
conducted by the Ministry of Land Resources estimated that local governments
plan to allocate 1.08 million hectares for projects this year, far exceeding
the 448,900 hectare cap imposed by the central government.Despite the concerns,
the plans will be pushed through this year in every Chinese county, with many
scholars warning of social instability, with rising conflicts over land to come
and uncertainty about how local governments plan to address them.Underscoring
these concerns, one farmer in Jiangxi province set off three bombs outside
government offices this week, after failing to receive compensation following a
10-year-long petition battle.In Mr. Tao's case, the local government's response
was to simply ignore his petitions. He accuses local officials of colluding
with developers to acquire land at below-market rate prices, and turning a deaf
ear to cases like his.“I tried to petition the village committee, and then the
local district office,” he said. “I went there three times.”The last time, he
said, the village committee sent a car full of thugs to prevent him from filing
a petition. They beat him up and told him to stop petitioning.
On Thursday, February 1, 2018 5:02 AM, "'Chan CT' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Kesimpulan Tatiana: Caranya Deng Xiaoping membangun lapangan terbang
dengan langsung membuldozer semuanya tanpa menghiraukan kehidupan massa kaum
tani PERSIS seperti para penguasa di tanah air kita sendiri!!! Lha, kalau
cranya melihat Tiongkok dengan kaca-mata KUDA lalu berkesimpulan begitu, ...
yang terjadi RRT tidak bedanya terseok-seok spt RI sekarang! Dan kalau lebih
parah, yang terjadi PASTI ambruk roboh dengan sendirinya seperti Uni Sovyet!
Dengan KESIMPULOAN begitu bagaimana bisa menjelaskan selama lebih 30 tahun
terakhir ini, RRT bukan saja mencapai perkembangan ekonomi yang begitu
menakjubkan, tapi juga dibidang militer dan teknologi! Dan sekarang dalam
kenyataan kejayaan RRT sudah menjadi ANCAMAN utama AS sendiri!!! Saya tidak
kenal siapa itu Fred Engst, tapi dari apa yang diajukan dibawah ini, mungkin
saja terjadi. Hanya saja apa bisa digeneralisasi begitulah yang terjadi secara
umum di Tiongkok? Bisa saja terjadi membuldozer tanah petani untuk bangun
lapangan terbang di Henan, misalnya, apakah itu terjadi bukan karena KESALAHAN
PEJABAT setempat dlm melaksanakan pembangunan saja? Kenapa Fred tidak
mengungkap apa masalahnya! Kedua, kalau masalah membuldozer di Henan itu bisa
masuk Karya Ketua Mao, jilid-5, artinya jelas masih dimasa Mao hidup, SEBELUM
masa kekuasaan Deng! Lalu, bagaimana pemindahan penduduk untuk pembangunan yang
terjadi di Tiongkok sesungguhnya? Saya kasih contoh 2 proyek BESAR Pemerintah
RRT yang dijalankan di TIongkok dengan keharusan memindahkan jutaan warga,
proyek waduk raksasa Gorges Sungai Yang Tse dekat Wu Han dan puluhan ribu warga
kota Beijing saat bangun kompleks Olympic Beijing-2008 itu! Tidak terlalu
banyak diributkan dunia asing saat proses pemindahan jutaan warga dalam proses
pembangunan waduk Gorges Yang Tse yang menaikkan permukaan air sampai 180m itu,
yang dijalankan dengan penuh kesabaran, bertahap dengan lebih dahulu membangun
perumahan modern diatas pegunungan dengan rapih lengkap dengan wilayah
sawah-ladang nya. Sementara terjadi tidak sedikit warga tua yang ngotot
berkeras tidak hendak menyingkir pindah dari rumah tua mereka, karena
menganggap disitulah jiwa-mereka! Dibiarkan saja sampai air terus naik
mengancam merendam rumah mereka, baru terpaksa pindah kerumah baru mereka yang
sudah disiapkan itu. Akhirnya juga mereka meraskan kenyamanan hidup dirumah
baru dengan aliran listrik dan air yg memudahkan kehidupan. Dan mereka-mereka
itulah yg akhirnya menjadi pekerja propaganda yang cukup baik, saat menghadapi
ada warga desa berikut yang tidak bersedia pindah kerumah baru yang disedikan,
... agar proyek pemebangunan waduk raksasa itu tidak terhambat! Begitulah
proyek raksasa Waduk Gorges Yang Tse itu bisa berlangsung lancar dan selesai
sebagaimana direncanakan, TANPA gunakan buldozer utk menggusur warga tani yang
jutaan harus dipindahkan! Begitu juga yang terjadi di kompleks pembangunan
perkampungan Olympic-Beijing, bagi belasan warga yang ngoto bertahan tidak
hendak pindah kerumah yang sudah disiapkan, juga dibiarkan saja mereka tetap
tinggal dirumah itu. Hanya saja aliran listrik dan air diputus, dan saat
fondasi bangunan digali juga ditinggalkan beberapa rumah itu saja, sehingga
warga rumah itu serba kesulitan utk keluar-masuk, ... protes dan beraksi dengan
banyak kerumunan wartawan asing yg mengekspose kejadian terakhir, ... akhirnya
juga terbukti belasan orang itu termakan suap asing untuk sabotase kelancaran
Olympic-Beijing saja! Dimana terjadi penggusuran warga dgn gunakan buldozer,
... yg tidak manusiawi itu? Tentu disana-sini juga pernah terjadi kekerasan
menggusur warga, spt di pulau Hai Nan, tanah petani di-“BELI” dengan harga
“lumayan” oleh pejabat-korup setempat, ternyata utk bangun lapangan golf dengan
penjualan tanah harga selangit! Petani merasa tertipu, protes dan akhirnya
mogok membangkang tidak mau pindah! Karena jual-beli hak guna tanah sudah
ditandatangani, sipejabat setempat itu gunakan kekerasan menggusur petani!
Kejadian-kejadian negatif begini tentu saja harus diatasi, ...! Tapi bukan
untuk mengekspose dan mengHITAMkan begitulah pemerintah Tiongkok sekarang ini,
... pada saat melihat nila setitik, jangan dianggap rusak susu sebelangga!
Begitu juga saat Fred bandingkan Desa Da-Zhai (baca: Ta Chai) dan Desa Xiao
Gang (baca: Siao Kang), ... tentu ada keunggulan masing-masing juga masih ada
kekurangan. Desa Da Zhai dengan Chen Yong Gui sektretaris Prtainya diangkat
jadi pelopor dan TELADAN ketika itu, bahkan Chen Yong Gui yg dikenal buta-huruf
pun kemudian diangkat jadi wk. PM. Dan dalam wawancara nya dengan wartawan DW
News, ditahun 84, Chen tetap mengakui topi “Buta-Huruf” itu tetap melekat
seumur hidup, sekalipun saya sebenarnya pada pokoknya sudah bisa membaca dan
menulis sendiri, ... . Bicara desa Ta Chai, kalau boleh saya mengkritik Chen
YG, sebagai seorang HEIBAAAT yg menjadikan desanya TELADAN PERTANIAN di
Tiongkok itu, kenapa dia tidak bisa pertahankan KEUNGGULAN dan KEHEIBATAN Ta
Chai itu? Di tahun 80, saat Deng keluarkan membubarkan Komune Rakyat,
membagikan kembali hak-guna tanah pada PETANI, kenapa Chen YG tidak berani
memainkan peran dan pengaruhnya di Ta Chai untuk mempertahankan kerja kolektif
Komune, seperti hal nya yang dijalankan Wu Ren Bao di Desa Hua Xi? Kenapa
membiarkan saja desa Ta Chai juga ikut membagikan kembali hak-guna tanah pad
setiap petani desa Ta Chai, ....? Bukankah dengan pertahankan keunggulan kerja
kolektif komune di Ta Chai itu, Chen YG bisa meneruskan keunggulan Ta Chai dari
desa-desa lain di seluruh Tiongkok, ... menjadi DESA MAKMUR. Tapi ternyata
kesadaran Chen dan kemampuannya tidak sampai kesitu, ... dia mengambil hidup
santai saja bersama istri dan anak bungsu di Beijing dengan pensiunan pejabat
tingkat 13, sebagai mantan wk. PM yang berakhir ditahun 1980 saja. Sedang dalam
melihat keberhasilan desa Siao Kang, Fred Engst juga hanya melihat segi negatif
ke 18 petani pelopor yg justru berhasil membawa maju kehidupan desa Siao Kang.
Yang terlihat hanya pertengkaran yang sering terjadi, ... mungkin Fred tidak
sadar, bahwa komunikasi petani dibanyak desa di Tiongkok memang jadi seperti
orang bertengkar, mereka biasa bicara dengan suara keras seperti marah-marah,
begitulah kebiasaan mereka. Sesungguhnya bukan ribut atau bertengkar, ...!
Kalau saja kekayaan koperasi itu digergoti terusw oleh keluarga yang menjabat
pengurus koperasi, apa iyaa bisa terwujud kenyataan koperasi-desa Siao Kang
itulah yg menunjang pendidikan, kesehatan warga desa? Apa mungkin pembangunan
desa Siao Gang bisa makmur dan diangkat menjadi TELADAN membebaskan diri dari
kemiskinan, ... Kecuali memang Fred seorang bermaksud mengHITAMKAN keberhasilan
Tiongkok saja. Lha, kalau melihat pintu gerbang masuk desa Siao Kang saja
begitu baguuus nya dan rumah disamping jalan, kemudian melihat gedung aulanya
sebegitu megahnya, ... bagaimana bisa dibandingkan dengan rumah-tanah
sebelumnya? Sebetulnya, kalau mau menggunakan orang-asing melihat TIongkok,
kenapa HANYA melihat yang mencela saja dan tidak berani melihat tulisan-tulisan
lain yg banyak memuji keberhasilan, ... tempo hari saya pernah melihat kisah
seorang Amerika yang LAHIR di Yen An, lupa saya namanya jadi tadi aduk-aduk
dok.-file saya tidak ketemu, ... orang-tuanya ahli ternak sapi, yang nyelonong
ke Yen An, kemudian mendatangkan pacarnya sejak sekolah dan akhirnya menetap
terus di Yen An sampai merdeka 1949, diminta pindah hidup di Beijing mereka
juga tidak mau. Tetap hendak hidup sebagai orang biasa pemelihara sapi saja.
Begitulah anaknya, ada 3 hidup sebagai anak Tionghoa biasa saja, bicara dengan
logak daerah San Si. Kisah anak laki ini dimasa RBKP juga juga ikut bersama
teman sekolahnya melancarkan keliling kota naik KA gratis ketika itu, .... baru
tahun 1972 masuk sekolah kembali, dan setelah lulus bekerja dipabrik tripleks
di Shen Yang. Setelah tahun 80-an dia sebagai WN-AS kembali ke AS dan setelah
5-6 tahunan bekerja dipabrik, dia merasa LEBIH NYAMAN bekerja dipabrik di
TIongkok dengan kehidupan bersama orang TIonghoa. Jadi, ditahun 97 (?) dia
kembali hidup dan bekerja di Tiongkok, .... meneliti perkembangan ekonomi di di
TIongkok. Orang-orang macam ini yang bisa melihat secara objektif positif dan
negatif yang terjadi, ... Salam,ChanCT From: Tatiana Lukman
[email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, January 31, 2018 3:20 AMTo:
Yahoogroups ; DISKUSI FORUM HLD ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry
Singgih ; Farida Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; [email protected]
; Ronggo A. ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; [email protected] ;
Sie Tik Tan ; Sahala Silalahi ; Tjoa ; Andreas Sungkono ; GELORA_In ; Nunu
Nugroho Subject: [GELORA45] Wawancara dengan Fred Engst Caranya Deng Xiaoping
membangun lapangan terbang dengan langsung membuldozer semuanya tanpa
menghiraukan kehidupan massa kaum tani PERSIS seperti para penguasa di tanah
air kita sendiri!!! Lha kan cocok sudah!!!Orang remo itu memang tak perduli
kepentingan rakyat... Sekali lagi tercermin bagaimana Deng berlawanan dengan
Mao!!! Untuk kesekian kalinya dibuktikan bagaimana para penguasa dalam Partai
mengubah gerakan pembetulan Mao menjadi gerakan anti-kanan yang kedengarannya
"revolusioner", tapi sebenarnya menyabot kebijakan Mao!!!Hanya orang buta dalam
tempurung revisionis seperti Chan yang tidak pernah mau mengakui pertentangan
antara Mao dan Deng!!! Sebuah contoh lagi dari penelitian orang yang
berdasarkan juga pada pengalamannya langsung ..... Saya tampilkan terjemahan
bebas untuk membantu mereka yang tidak terlalu menguasai bahasa Inggris.
The real question: How to build a new, socialist society? OÜ: So, you spent
quite a lot of time in Maoist China. Western critics of Maoism usually accuse
it of over-politicizing the people and therefore, consistently undermining
stability and institutionalization. How was the daily life of ordinary people
in Maoist China? Did the so-called “over-politicization” of masses really
create a sort of chaos? Jadi, Anda tinggal lama sekali di Tiongkok Maois.
Kritikus Barat terhadap Maoisme biasanya menuduhnya terlalu mempolitisir rakyat
dan karena itu, secara konsisten merongrong stabilitas dan pelembagaan.
Bagaimana kehidupan sehari-hari orang-orang biasa di Tkk Maois? Apakah apa yang
dinamakan “politisasi yang berlebihan” terhadap massa benar-benar melahirkan
semacam kekacauan? FE: Well, that is a loaded question. It comes down to: do
you justify the oppression or do you try to overcome the oppression? In other
words, the problem is: do you want to overthrow the old oppressors to become a
new oppressor or completely eliminate the system of oppression? Sebuah
pertanyaan besar. Inti pertanyaan adalah: apakah Anda membenarkan penindasan
atau Anda mencoba untuk mengatasi penindasan? Dengan kata lain, masalahnya
adalah: apakah Anda ingin menggulingkan penindas lama untuk menjadi penindas
baru atau benar-benar menghilangkan sistem penindasan? There were those people
in the revolutionary ranks who opposed to feudalism, comprador capitalism and
imperialism; but they did not really oppose the system of oppression per se..
So, once the revolutionaries became the rulers, a new problem emerged: Would
they rule in the name of the people together with the people or would they
simply become new oppressors? How to prevent revolutionaries to become new
oppressors was the real issue. Ada orang-orang di jajaran revolusioner yang
menentang feodalisme, kapitalisme komprador dan imperialisme; tetapi mereka
tidak benar-benar menentang sistem penindasan. Jadi, begitu kaum revolusioner
menjadi penguasa, muncul sebuah masalah baru: Apakah mereka akan memerintah
atas nama rakyat , bersama dengan rakyat atau apakah mereka hanya menjadi
penindas baru? Bagaimana mencegah kaum revolusioner menjadi penindas baru.
Itulah sebenarnya masalahnya. In its first seven years from 1949 to 1956,
Mao’s China underwent a very successful transformation of the agriculture into
collectives; per capita income of the farmers steadily rose. And also they
successfully transformed entrepreneur industries into state-owned or joint
venture enterprises. So basically, they were able to complete the
transformation from a capitalist, semi-feudal society to a socialist one. But
then, immediately, some other questions arose when the people in factories,
cities, and provinces started to face some issues. Workers and students were
going on strike over some bureaucratic handling of contradictions. There is a
famous example: Army wanted to build an airport in Henan province without
taking care of the livelihood of the peasants in the village. They just tried
to bulldoze over everything to build the airport, and peasants had no way but
to resist and blockade the way. This example is mentioned in Volume 5 of Mao’s
Selected Works. Selama 7 tahun, dari 1949 sampai 1956, transformasi
kolektivisasi di pertanian sangat berhasil di Tiongkoknya Mao; pendapatan per
kapita kaum tani naik dengan tetap. Mereka juga berhasil mengubah industri
pengusaha menjadi perusahaan milik Negara atau joint-venture. Jadi pada
pokoknya mereka dapat menyelesaikan perubahan dari sebuah masyarakat kapitalis,
semi-feodal menjadi masyarakat sosialis. Tapi, masalah baru muncul ketika
orang-orang di pabrik, di kota-kota dan provinsi mulai menghadapi berbagai isu.
Buruh dan mahasiswa melakukan pemogokan menentang penanganan birokratis
terhadap kontradiksi-kontradiksi ketika itu.. Ada contoh yang terkenal” Tentara
ingin membangun sebuah lapangan terbang di provinsi Henan tanpa memperhatikan
penghidupan/mata pencaharian kaum tani di desa. Jadi mereka langsung
membuldozer semuanya untuk membangun lapangan terbang dan tidak ada jalan lain
bagi kaum tani kecuali melawan dan memblokade jalanan. Contoh ini disebut di
jilid 5 Pilihan Tulisan Mao. OÜ: Mao directly accuses Deng Xiaoping for this…
Dalam masalah ini Mao langsung menuduh Deng Xiaoping… FE: Yes, it was Deng
Xiaoping who did it. There were a lot of examples like that. So the question
here is: how do you overcome day-to-day, inevitable contradictions between the
managers and the managed in the factory? How do you organize production? There
are many different opinions, different ideas about what to do. So, what are the
people in leadership to do? Do they apply the mass line, listen to people, find
a solution, get into consensus or just ride roughshod over the people? These
questions are mainly about how to democratize the production process. Ya,
betul, Deng Xiaoping yang melakukan itu. Banyak sekali contoh-contoh seperti
itu. Maka masalahnya adalah: bagaimana kamu mengatasi kontradiksi yang tak
terhindarkan antara manajer dan mereka yang dimanage di pabrik? Bagaimana kamu
mengorganisasi produksi? Terdapat banyak pendapat yang berbeda, ide yang
berbeda tentang apa yang harus diperbuat. Apa yang harus dilakukan oleh mereka
yang duduk di pimpinan? Apakah mereka menerapkan garis massa, mendengar kan
pendapat massa rakyat, menemukan solusi, mencapai consensus atau melakukan
kehendakmu sendiri tanpa memperhatikan pendapat massa rakyat. Masalah-masalah
ini pada pokoknya adalah tentang bagaimana mendemokratiskan proses produksi. By
1956 it became very apparent that in socialist period there were two very
distinct type of contradictions: On the one hand, old landlords and capitalists
were not happy with losing their control over the land and enterprises, and
they wanted to overthrow socialism. On the other hand, there was another set of
contradictions regarding the nitty-gritty of how to run day-to-day production
process. How do you manage a school or a farm? How do you handle the conflict
between the managed and the managers? What is the limit of the authority of the
managers? These were what was then called “contradictions among the people.”
Because sides of these contradictions did not have the opposite goals; they had
the same goal but they just differed in terms of how to approach it. How to run
a factory better and more efficiently? How to make China overcome its poverty
and its backwardness? How to turn it into an industrialized nation? These were
contradictions among the people. How would you handle them? (Pada tahun 1956
menjadi jelas bahwa di periode sosialis terdapat dua macam kontradiksi yang
berbeda: di satu pihak, tuan tanah dan kaum kapitalis tidak senang kehilangan
control atas tanah dan perusahaan dan mereka ingin menumbangkan sosialisme. Di
pihak lain, ada serangkaian kontradiksi yang berkaitan dengan seluk beluk
bagaimana menjalankan proses produksi sehari-hari. Bagaimana mengelola sebuah
sekolah, atau sebuah peternakan? Bagaimana menangani konflik antara mereka yang
mengelola dan mereka yang dikelola? Di mana dan apa batas-batas otoritas mereka
yang mengelola? Ketika itu ada yang dinamakan “kontradiksi di kalangan rakyat”.
Karena pihak-pihak yang berkontradiksi tidak mempunyai tujuan yang
bertentangan; mereka punya tujuan sama tapi mereka berbeda dalam bagaimana
mendekati/menanganinya. Bagaimana menjalankan sebuah pabrik dengan lebih baik
dan lebih efisien? Bagaimana Tkk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangannya?
Bagaimana mengubah Tkk menjadi sebuah nasion industri? Ini adalah kontradiksi
di kalangan rakyat. Bagaimana menanganinya?) It had become apparent by 1956
that new bureaucrats, people in the leadership were trying to ride roughshod
over the people. So Mao started the Hundred Flowers Campaign to criticize the
people in the leadership and to rectify the Party. And that’s how, to borrow an
English phrase, “the shit hit the fan.” The people who opposed the old
oppressors rather than the system of oppression itself during the Revolution,
the people who wanted to become new rulers felt very threatened by this
rectification campaign. What they wanted was instead to redirect the attack at
anybody criticizing them. (Tahun 1956 menjadi jelas bahwa kaum birokrat baru,
orang-orang yang duduk di pimpinan mencoba untuk berbuat seenak perutnya
sendiri tanpa menggubris pendapat/pikiran rakyat. Oleh karena itu Mao memulai
kampanye 100 bunga untuk mengkritik orang-orang di pimpinan dan membetulkan
partai. Meminjam ungkapan bahasa Inggris “ the shit hit the fan” (secara
harafiah, berarti “tahi melayang kena kipas angin”, artinya kira-kira “timbul
masalah serius”). Orang-orang yang menentang kaum penindas lama, bukan
menentang sistim penindasan itu sendiri selama revolusi berlangsung,
orang-orang yang ingin menjadi penguasa baru merasa sangat terancam dengan
adanya kampanye pembetulan ini. Sebaliknya, yang mereka inginkan adalah
melancarkan serangan kepada siapa saya yang mengkritik mereka..) I think this
is what sounds “chaotic” to some people. They ask why didn’t Chinese just
manage the things in a “normal” way—“normal” in the sense that the term is used
by those in power, those who rule! Why did they have all these political
upheavals in China? Saya pikir inilah yang untuk sementara orang kedengarannya
seperti “kacau balau”. Mereka bertanya mengapa orang-orang Tkk tidak menangani
masalahnya dengan cara yang “normal” saja----“normal” dalam arti kata yang
digunakan oleh mereka yang berkuasa, mereka yang memerintah!! Buat apa ada
berbagai gejolak politik di Tkk? Actually, what they question is why China
didn’t just go back to the old method. Why, they didn’t just let the managers
in the factories become bosses and hold the line? Why did they choose to
criticize these people and try to change their approaches? In fact, these
people were reluctant to change their minds. They felt threatened when they
faced criticism. Being targeted made them very uncomfortable. That’s exactly
why the Party elite turned the rectification campaign into the “Anti-Rightist
Campaign” in 1957. This was a total one-hundred-eighty-degree change. I also
wrote articles about that. Sebenarnya, pertanyaan mereka adalah kenapa sih Tkk
tidak kembali ke metode lama saja. Mengapa, mereka tidak membiarkan para
manajer di pabrik menjadi bos dan memegang jabatan? Mengapa mereka memilih
untuk mengkritik orang-orang ini dan mencoba untuk mengubah pendekatan mereka?
Padahal, orang-orang ini enggan mengubah pikiran mereka. Mereka merasa terancam
saat menghadapi kritik. Menjadi sasaran membuat mereka sangat tidak nyaman.
Itulah mengapa elit Partai mengubah kampanye pembetulan menjadi "Kampanye
Anti-Kanan" pada tahun 1957. Ini adalah perubahan total seratus delapan puluh
derajat. Saya juga menulis artikel tentang itu. I think that is the key to
understand Mao’s last twenty years. How were these conflicts resolved? The
first way was “to cure the disease to save the patient.” This was also the
method used during the Yan’an Rectification Movement in early 1940s. It was
mainly aimed at resolving the conflicts through rectification campaigns. In
this sense, Big Character Posters and mass meetings were treated as the main
tools to target the Party leadership. The second way was targeting the bottom,
the outside of the Party through nit-picking. This method was based on
manipulating the people, telling them who the enemy was, and stirring them up
to attack those who had been accused of being “reactionaries.” Here, the aim
was not “to cure the disease to save the patient,” but rather to knock the
opposite side down. This was the methodology of the Anti-Rightist Campaign as
well. Saya pikir itu adalah kunci untuk memahami dua puluh tahun terakhir Mao.
Bagaimana konflik ini diselesaikan? Cara pertama adalah "menyembuhkan penyakit
untuk menyelamatkan pasien." Ini juga metode yang digunakan dalam Gerakan
Pembetulan Yan'an pada awal 1940an. Gerakan itu terutama ditujukan untuk
menyelesaikan konflik melalui kampanye rektifikasi. Dalam hal ini, Poster
Dengan karakter Besar dan rapat-rapat massa diperlakukan sebagai alat utama
untuk menyasar kepada pimpinan Partai. Cara kedua adalah menyasar ke bagian
bawah, mencari-cari kesalahan di kalangan di luar Partai. Metode ini berdasar
pada manipulasi, mengatakan kepada mereka siapa musuhnya, dan mendorong mereka
untuk menyerang orang-orang yang dituduh "reaksioner." Di sini, tujuannya
bukanlah untuk "menyembuhkan penyakit untuk menyelamatkan pasien," melainkan
untuk menjatuhkan lawan. Inilah metodologi Kampanye Anti-Kanan. So the question
you raised has to be seen through this conflict: how to build a new socialist
society? In absence of that, the things that happened during Mao era just look
crazy. I hope this answer addresses your question. Jadi pertanyaan yang anda
ajukan harus dilhat melalui konflik ini: bagaimana membangun sebuah masyarakat
sosialis baru? Kalau tidak begitu, hal-hal yang terjadi di jaman Mao akan
kelihatan seperti sesuatu yang gila. OÜ: So how was this was reflected in
daily lives of ordinary people? Bagaimana hal ini tercermin dalam kehidupan
sehari-hari orang-orang biasa? FE: Well, people were very directly affected.
Take a factory for example. How do the people in the leadership, manager of a
workshop go about running the production process? If the production falls
behind, what do we do? The capitalist way is simple: they just implement
carrot-and-stick strategies: “If you don’t work hard, I’ll fire you”; “if you
work hard, I’ll give you some extra bonuses”; or “I’m the boss, just listen to
me. I hire you for your muscle, not for your brain,” etc. This is the
capitalist approach. But if the working class is the master of society, how do
you manage the production process? If there is a problem with production, what
do we do? We need to hold meetings to discuss what is going on and find
solutions. If the working class is the master of this society, it is in the
workers’ interest to overcome the problem in the production process. If they
overcome these difficulties, they’ll understand that the working class has
tremendous ability to solve their problems. Seeing what they do is actually in
their own interest unleashes creativity of the people enormously. How the
People’s Liberation Army with just “millets and rifles” could be able to defeat
the Japanese and the Nationalists? Thanks to a firm belief in a common goal; a
belief in overthrowing the oppression. Yah, orang secara langsung sangat
terpengaruh. Ambil pabrik misalnya. Bagaimana mereka yang duduk di pimpinan,
manajer sebuah lokakarya menjalankan proses produksi? Jika produksi
ketinggalan, apa yang kita lakukan? Cara kapitalis mudah: mereka terapkan saja
strategi wortel dan tongkat: "Jika Anda tidak kerja keras, saya akan pecat
Anda"; "Jika Anda kerja keras, saya akan beri beberapa bonus tambahan"; atau
"Saya bos, kamu tinggal dengarkan saya. Saya mempekerjakan Anda karena otot
Anda, bukan karena otak Anda, "dll. Ini adalah pendekatan kapitalis. Tetapi
jika kelas pekerja adalah tuan dalam masyarakat, bagaimana Anda mengelola
proses produksi? Jika ada masalah dengan produksi, apa yang kita lakukan? Kita
perlu rapat untuk mendiskusikan apa yang sedang terjadi dan menemukan solusi.
Jika kelas pekerja adalah tuan dalam masyarakat ini, maka pekerja
berkepentingan untuk mengatasi masalah dalam proses produksi. Jika mereka
mengatasi kesulitan ini, mereka akan mengerti bahwa kelas pekerja memiliki
kemampuan luar biasa untuk memecahkan masalah mereka. Melihat bahwa apa yang
mereka lakukan benar-benar demi kepentingan mereka sendiri, hal itu melahirkan
kreativitas luar biasa di kalangan mereka. Bagaimana Tentara Pembebasan Rakyat
hanya dengan "jawawut and bedil" bisa mengalahkan Jepang dan kaum Nasionalis?
Berkat kepercayaan yang besar pada tujuan bersama; sebuah kepercayaan untuk
menggulingkan penindasan. The same rule applies to daily work at a factory. So,
if the leadership always blames the workers for inefficiency in production and
do not try to understand what is the root cause of the problem, then workers
will normally feel disenfranchised. If the workers feel disenfranchised, if
they feel powerless, then they will slack. They will not show initiatives. When
they see a problem, for instance, when they see the break-down of a machine,
they will not care. They will think that this is not their problem. But if they
have the feeling of belonging, if they have right to criticize the leadership,
if they are able to make suggestions about what to do and these suggestions are
taken seriously, if they really feel they are the masters of their destiny,
then their ability to overcome difficulties will improve enormously. Aturan
yang sama berlaku untuk pekerjaan sehari-hari di pabrik. Jadi, jika pimpinan
selalu menyalahkan pekerja karena inefisiensi dalam produksi dan tidak mencoba
memahami akar penyebab masalah, maka pekerja biasanya menjadi merasa kehilangan
haknya. Jika para pekerja merasa kehilangan haknya, jika mereka merasa tidak
berdaya, maka mereka akan kendur. Mereka tidak akan menunjukkan inisiatif.
Ketika mereka melihat masalah, misalnya, ketika melihat mesin macet/rusak,
mereka tidak akan peduli. Mereka akan berpikir bahwa ini bukan masalah mereka.
Tetapi jika mereka merasa turut memiliki, jika mereka memiliki hak untuk
mengkritik pimpinan, jika mereka dapat memberikan saran tentang apa yang harus
dilakukan dan saran ini dianggap serius, jika mereka benar-benar merasa bahwa
mereka adalah tuan atas nasibnya sendiri, maka kemampuannya untuk mengatasi
kesulitan akan sangat meningkat. We have some opposite examples in this sense.
Dazhai was a model developed by Mao. I’m very familiar with this example: I
have been to Dazhai many times and also stayed there for six months. I worked
with peasants there and visited neighboring places. In Dazhai, you could just
see how a strong leadership mobilized the peasants, and led to discussions
about how to transform backward agricultural practices by hard labor—without
expecting any foreign investment or demanding machinery—can make a huge
difference. That’s a big story in itself. In contrast, there is also the
example of Xiaogangcun Village promoted by Deng after the Reform. There were
eighteen families in that village who were bickering all the time. When your
family became the head of the work team, you were trying to embezzle the
collective wealth. I was fighting against you to undercut your ability and
power. When the next elections came, I was replacing you as the head of the
collective. This time, I was the one trying to embezzle and you were the one
fighting against my power. Change of roles… Of course, a collective cannot
sustain that way. After the Reform, Deng Xiaoping set Xiaogangcun as a “model”
as if Chinese never experienced small, petite peasants’ economy for thousands
of years! This is so ridiculous! So, that is the contrast… Dalam hal ini, ada
beberapa contoh yang bertentangan. Dazhai adalah model yang dikembangkan oleh
Mao. Saya kenal betul contoh ini: Saya pernah ke Dazhai berkali-kali dan juga
tinggal di sana selama enam bulan. Saya bekerja dengan petani di sana dan
mengunjungi tempat-tempat di sekitarnya. Di Dazhai, Anda bisa lihat bagaimana
kepemimpinan yang kuat memobilisasi para petani, dan membawa mereka untuk
mendiskusikan bagaimana mengubah praktik pertanian terbelakang dengan kerja
keras, tanpa mengharapkan investasi asing atau minta mesin, dapat membuat
perbedaan besar. Itu cerita besar tersendiri. Sebaliknya, ada juga contoh Desa
Xiaogangcun yang dipromosikan oleh Deng setelah Reformasi. Ada delapan belas
keluarga di desa itu yang bertengkar terus. Ketika keluarga Anda menjadi kepala
tim kerja, Anda mencoba untuk mencuri kekayaan kolektif. Saya berjuang melawan
Anda untuk melemahkan kemampuan dan kekuatan Anda. Ketika pemilihan berikutnya
datang, saya menggantikan Anda sebagai kepala kolektif.. Kali ini, sayalah yang
mencoba menggelapkan dan andalah yang melawan kekuasaan saya. Perubahan peran
... Tentu saja, sebuah kolektif tidak dapat bertahan seperti itu. Setelah
Reformasi, Deng Xiaoping menempatkan Xiaogangcun sebagai "model" seolah-olah
orang Tiongkok tidak pernah mengalami ekonomi petani kecil selama ribuan tahun!
Ini sangat menggelikan! Jadi, itulah kontrasnya .... (bersambung)
#yiv2227377545 #yiv2227377545 -- #yiv2227377545ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-mkp #yiv2227377545hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mkp #yiv2227377545ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mkp .yiv2227377545ad
{padding:0 0;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mkp ..yiv2227377545ad p
{margin:0;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mkp .yiv2227377545ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-sponsor
#yiv2227377545ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-sponsor #yiv2227377545ygrp-lc #yiv2227377545hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-sponsor #yiv2227377545ygrp-lc .yiv2227377545ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2227377545 #yiv2227377545actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2227377545
#yiv2227377545activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2227377545
#yiv2227377545activity span {font-weight:700;}#yiv2227377545
#yiv2227377545activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2227377545 #yiv2227377545activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2227377545 #yiv2227377545activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2227377545 #yiv2227377545activity span
.yiv2227377545underline {text-decoration:underline;}#yiv2227377545
.yiv2227377545attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2227377545 .yiv2227377545attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2227377545 .yiv2227377545attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2227377545 .yiv2227377545attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2227377545 .yiv2227377545attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2227377545 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2227377545 .yiv2227377545bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2227377545
.yiv2227377545bold a {text-decoration:none;}#yiv2227377545 dd.yiv2227377545last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2227377545 dd.yiv2227377545last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2227377545
dd.yiv2227377545last p span.yiv2227377545yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2227377545 div.yiv2227377545attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2227377545 div.yiv2227377545attach-table
{width:400px;}#yiv2227377545 div.yiv2227377545file-title a, #yiv2227377545
div.yiv2227377545file-title a:active, #yiv2227377545
div.yiv2227377545file-title a:hover, #yiv2227377545 div.yiv2227377545file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2227377545 div.yiv2227377545photo-title a,
#yiv2227377545 div.yiv2227377545photo-title a:active, #yiv2227377545
div.yiv2227377545photo-title a:hover, #yiv2227377545
div.yiv2227377545photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2227377545
div#yiv2227377545ygrp-mlmsg #yiv2227377545ygrp-msg p a
span.yiv2227377545yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2227377545
.yiv2227377545green {color:#628c2a;}#yiv2227377545 .yiv2227377545MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2227377545 o {font-size:0;}#yiv2227377545
#yiv2227377545photos div {float:left;width:72px;}#yiv2227377545
#yiv2227377545photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2227377545
#yiv2227377545photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2227377545
#yiv2227377545reco-category {font-size:77%;}#yiv2227377545
#yiv2227377545reco-desc {font-size:77%;}#yiv2227377545 .yiv2227377545replbq
{margin:4px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-mlmsg select, #yiv2227377545 input, #yiv2227377545 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-mlmsg pre, #yiv2227377545 code {font:115%
monospace;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-mlmsg #yiv2227377545logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-msg
p#yiv2227377545attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-reco #yiv2227377545reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-sponsor
#yiv2227377545ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-sponsor #yiv2227377545ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-sponsor #yiv2227377545ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2227377545 #yiv2227377545ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2227377545
#yiv2227377545ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2227377545