----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Karma, I Nengah [PT. BI-POS]' 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: 
'[email protected]' <[email protected]>; 'Chan CT' 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 2 Februari 2018 01.25.12 GMT+1Judul: 
[GELORA45] Lapan: Gerhana Supermoon Pukulan Telak Penganut Bumi Datar
     


Sudahlah mengalah saja kaum bumi datar, apa lagi bumi dikatakan bumi berbentuk 
segi empat.
 
Lagu  Adibing Slamet sewaktu kecil, yang bilang bumi segi empat pojok saja.
 
Kok kayak balok saja bumi sepi empat mending kue yang bentuknya sepi empat bisa 
dimakan
 
  
 
From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, February 01, 2018 2:08 PM
To: GELORA_In <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Lapan: Gerhana Supermoon Pukulan Telak 
Penganut Bumi Datar
 
  
 
  
 
Lapan: Gerhana Supermoon Pukulan Telak Penganut Bumi Datar
 
KAMIS, 01 FEB 2018 12:58 | EDITOR :FADHIL AL BIRRA
 

 
Fenomena super blue blood moon di Jakarta, Rabu (31/1) malam. (Dery Ridwansah)
 
JawaPos.com – Peristiwa gerhana bulan yang terjadi Rabu (31/1) malam kemarin 
dinilai sebagai bantahan telak bagi penganut paham bumi datar atau Flat Earth 
(FE). Ini diungkapkan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional 
(Lapan) Thomas Djamaluddin.
 
Pria murah senyum itu membuat tulisan di akun Twitter pribadinya @t_djamal yang 
menjelaskan bahwa bayangan gelap yang jatuh pada bulan purnama dan gerhana 
bulan total adalah bayangan bumi. Bayangan gelap pada proses gerhana berbentuk 
melengkung, hal tersebut jelas mengindikasikan bahwa bentuk bumi merupakan 
bulat.
 
Profesor bidang Ilmu Astronomi itu menjelaskan dengan sangat detail mengenai 
fenomena alam gerhana bulan yang disebut menjadi pukulan telak bagi kaum bumi 
datar. “Kejadian gerhana bisa diperkirakan, baik waktu maupun proses. Hal ini 
didasarkan pada model saintifik sistem Bumi-Bulan-Matahari,” terang Thomas saat 
ditemui JawaPos.com usai acara Penyerahan Data Citra Satelit Resolusi Sangat 
Tinggi ke Pemerintah yang digelar di Jakarta, Selasa (30/1) kemarin.
 

 
Kepala Lapan Thomas Djamaluddin. (Rian Alfianto/JawaPos.com)
 
“Gerhana bulan menjadi saat yang tepat untuk membuktikan bentuk Bumi. Sebab, 
ketika bulan menjadi gelap maka akan terlihat bayangan. Bayangan yang 
menggelapi bulan itu adalah bayangan bumi. Jadi kelengkungan bayangan di 
permukaan bulan ketika proses gerhana itu mutlak menunjukan bentuk bumi 
sesungguhnya,” sambung Thomas.
 
Dia menyebut bahwa kelompok bumi datar tidak bisa menjelaskan fenomena gerhana 
bulan secara logis. Waktu kejadian gerhana dan prosesnya pun tidak bisa 
dijelaskan secara sistematis.
 
"Ayo buktikan bumi itu benar-benar bulat dengan melihat gerhana bulan. Semua 
pemahaman bumi datar tergolong sains semu (pseudo science). Kejadian gerhana 
bulan adalah pukulan telak yang membantah dongeng bumi datar," tutur Thomas.
 

 
Bumi bulat Vs bumi datar (BigThink)
 
Peristiwa gerhana bulan atau juga dikenal super blue blood moon yang terjadi 
Rabu (31/1) malam tadi memang telah berlalu. Namun, Thomas menjelaskan bahwa 
peristiwa serupa masih akan terus terjadi di lain kesempatan. Dia mengaku tidak 
bosan meyakinkan penganut paham bumi datar melalui berbagai metode dan 
penjelasan ilmiah dan fenomena-fenomena alam lainnya.
 
Namun, Thomas tetap menghormati perbedaan keyakinan yang dianut kaum bumi 
datar. Dia hanya tertawa saat ditanya awak media terkait apakah berniat 
menyuruh tobat penganut paham bumi datar atau tidak.
 
(ryn/JPC)
 

     

Kirim email ke