http://www.bbc.com/indonesia/majalah-43081228
 Ketika warga miskin 'Cina Benteng' merayakan Imlek 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-43081228 Sri LestariBBC Indonesia
 
 3 jam lalu




Hak atas fotoBBC INDONESIA Keturunan Tionghoa di kawasan Tangerang dikenal 
dengan sebutan Cina Benteng, tinggal di sepanjang pinggiran kali Cisadane. 
Banyak dari mereka yang hidup dalam kemiskinan. Bagaimana mereka merayakan 
Imlek?
 Tan Cang In tengah membersihkan sebuah kuburan di pemakaman Cina Rawa Kucing, 
di Kampung Sewan, Tangerang. Sejak berhenti bekerja sebagai buruh pabrik 
puluhan tahun lalu, dia menjaga sekitar 20 makam.
 "Kalau masalah bayaran saya tergantung orangnya, dia kasih gede milik saya, 
dia kasih kecil ya milik saya juga," ujar Cang In.
 Masalah kesenjangan kaya-miskin 'bukan soal etnis Cina atau bukan' 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39918757 Kue keranjang: yang hadir 
setiap Imlek 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2016/02/160205_majalah_imlek_kue_ny_lauw 
Museum peranakan Cina di tengah Pasar Lama Tangerang 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah-38786706 Dia mengaku mendapatkan paling 
banyak Rp 3 juta per tahunnya untuk menjaga dan membersihkan puluhan makam. 
Penghasilan itu tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya, 
karenanya Cang In juga berjualan penganan kecil.
 Cang in memiliki tiga anak, dua anak laki-lakinya berusia 30 dan 25 tahun, 
sedangkan anak bungsunya masih kelas dua SMP.
 Dia mengaku mendapatkan bantuan dari sebuah organisasi keagamaan, untuk biaya 
sekolah anak-anaknya.
 

 





Cerita Imlek: Mengais rezeki dari makam "Pengennya sih terus dibantu sampai 
selesai gitu sekolahnya," harap dia.
 Nyatanya tak ada yang sekolahnya tinggi di keluarga itu. Agus Tan, anak kedua 
mereka, hanya bisa menyelesaikan sekolah hingga lulus SMP. Dan sekarang 
sehari-harinya Agus kerja serabutan dengan penghasilan sekadarnya.
 "Ya, paling bantu papa mama, kadang diajak saudara," kata Agus.
 "Susah sih cari kerja. Teman saja yang sarjana saja susah. Kalau cewek sih 
cepat (dapat kerja) kayak di konveksi gitu," jelas Agus yang hanya lulusan SMP.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Dia terpaksa berhenti sekolah karena keluarganya tak 
bisa membiayainya lebih lanjut.
 Menjelang imlek, biasanya Agus menerima pekerjaan dari sanggar barongsai.
 "Nanti, pas Cap Go Meh, bakal main di Bogor dan Glodok," jelas dia.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Selain Cang In, banyak keturunan Cina di Kampung 
Sewan yang dikenal dengan Cina Benteng, hidup dalam keterbatasan, tak memilki 
pekerjan tetap.
 Etnis Tionghoa di Tangerang ini merupakan keturunan imigran Cina Hokkian, yang 
konon pertama kali datang di kawasan Tangerang pada 1407 sebelum Vereenigde 
Oostindische Compagnie VOC. Sebutan Cina Benteng ini merujuk pada nama lama 
Kota Tangerang yaitu Benteng, yang dibangun VOC di bagian timur Sungai Cisadane.
 Peleburan budaya Tionghoa pun terjadi sejak dulu antara lain melalui kuliner, 
bangunan rumah dan juga musik gambang kromong.
 Toleransi antar-etnis di "Kota Cina Kecil" Lasem 
http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/02/150219_lasem_toleransi 
'Diskriminasi ras' di Yogyakarta: Kenapa keturunan Cina tak boleh punya tanah? 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/10/161005_majalah_tanah_yogyakarta 
Mengapa istilah 'pribumi' dalam pidato Anies Baswedan memicu kontroversi? 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41648172 Selain di Kampung Sewan, 
keturunan etnik Tionghoa di Tangerang ini juga tersebar di Teluk Naga. Dulu 
sebagian dari mereka merupakan petani seperti Ayah Tan Nun Nio, yang merupakan 
mertua Cang In.
 Setelah rumah dan sawahnya terkena gusur untuk proyek pembangunan bandara 
Sukarno Hatta, mereka pun pindah ke Kampung Sewan pada 1970an.
 "Tadinya (tinggal) di tempat landasan kapal (bandara) terus digusur jadi 
pindah ke sini, duulu waktu saya kecil pindahnya," ujar Nun Nio.
 Orangtua Nun Nio pun tinggal di Kampung Sewan sampai saat ini berusia lebih 
dari 80 tahun.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Sejak menikah dengan Cang In, Nun Nio tinggal di 
sebuah berdinding papan, di dekat rumah orangtuanya. Sekitar dua tahun lalu, 
mereka mendapatkan bantuan pembangunan rumah dari sebuah organisasi amal.
 Di rumah dengan dua kamar tersebut hampir tak ada perabotan kecuali alas tidur 
dan beberapa bangku plastik. Di ruang tamu tampak terdapat altar untuk 
sembahyang seperti yang dilakukan Tan bersama Istri dan anaknya sore hari itu.
 Mereka menghadap altar kecil Dewi Kwan Im yang merupakan dewi welas asih. 
Bergantian ketiganya menyalakan hio dan berdoa.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Di malam imlek, sembahyang biasanya dilakukan di 
klenteng, dan dilanjutkan dengan berkumpul dengan keluarga , jelas Cang In.
 "Saya orang nggak punya, paling di rumah, ke orangtua silaturahmi, paling ke 
rumah ipar, kalau jalan-jalan saya nggak punya ini," jelas Cang In sembari 
menggesekan jari tangannya menirukan gerakan menerima uang.
 Untuk anak-anak, menurut Nun Nio mereka tak pula menyiapkan hal-hal yang 
terlalu istimewa.
 "Paling yang kecil dibeliin baju di pameran, yang murah saja harganya, abis 
itu ya nyayur (masak)," kata dia.
 'Balichinesia': Melihat akulturasi budaya dalam identitas komunitas Cina Bali 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-43069361 WNI keturunan Cina bisa 'lebih 
Indonesia dibanding suku bangsa lain' 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41736620 Korban Mei 1998 dan aksi lilin 
untuk Ahok yang meluas http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39885795 Beberapa 
hari menjelang imlek, tampak tak banyak perubahan di rumah Cang In, tak ada 
hiasan lampion dan pernak Pernik lainnya.
 Agus menjelaskan biasanya memang tidak ada persiapan khusus dalam menyambut 
imlek, namun yang berbeda tahun ini keluarganya menjalani berbagai pantangan 
karena masih dalam suasana duka.
 "Biasanya kalau imlek ada kue Cina, dodol, tapi karena ada yang meninggal jadi 
tak ada, biasanya kan pakaiannya nuansanya merah kalau imlek , tapi sekarang ga 
boleh karena masih ada abu dan belum tiga tahun," jelas Agus.
 Masa duka setelah meninggalnya nenek Agus akan berlangsung selama tiga tahun.
Hak atas fotoBBC INDONESIA Masih di Kampung Sewan, di salah satu gang dekat 
dengan Kantor Kecamatan Neglasari, seorang keturunan Cina Benteng, Oen Sin Yang 
tengah membersihkan botol-botol plastik bekas yang baru saja diambilnya dari 
pinggir kali Cisadane.
 Sin Yang dulu tinggal di pinggir kali Cisadane namun terkena penggusuran 
beberapa tahun lalu.
 "Dulu sih di sana dekat kali tinggalnya, sekarang saya tinggal di rumah 
orangtua ini," kata Sin Yang.
Hak atas fotoISTOCK Menyambut tahun baru imlek yang jatuh pada Jumat 16 
Februari ini, dia mengaku tak melakukan persiapan khusus.
 "Ya saya mah pemulung biasanya di rumah saja, nungguin anak-anak pada pulang 
pada datang, lebaran di rumah kan setahun sekali," jelas dia.
 
 Ketika saya menyusuri sejumlah gang di Kampung Sewan, kemeriahan suasana imlek 
tidak terasa. Tidak seperti di kawasan pasar lama di mana lampion, amplop ang 
pau dan pernak Pernik imlek bergambar simbol tahun Anjing banyak dijual.
 

Kirim email ke