Cerpen yang Memicu Perdebatan Lama tentang Trotskyisme 
https://tirto.id/cerpen-yang-memicu-perdebatan-lama-tentang-trotskyisme-cGbc 
Ilustrasi Tatiana Lukman x Martin Aleida. tirto.id/Fiz 0 Shares    
mailto:?subject=Cerpen%20yang%20Memicu%20Perdebatan%20Lama%20tentang%20Trotskyisme%20%20&body=https://tirto.id:443/cerpen-yang-memicu-perdebatan-lama-tentang-trotskyisme-cGbc
 Reporter: Irfan Teguh 
https://tirto.id/author/irfanteguh?utm_source=internal&utm_medium=topauthor

 16 Maret, 2018dibaca normal 6:30 menit

 Anak mantan Wakil Ketua I CC PKI mengkritik cerpen mantan wartawan Harian 
Rakjat
 Menurut Tatiana Lukman, Martin Aleida tidak jujur soal Revolusi Kebudayaan di 
Tiongkok dalam cerpen "Melarung Bro di Nantalu"
 


 
 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - “Tak 
pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjempul ajal. Kami sadar, 
pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat 
kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di 
hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi […]”

Nurlan alias Martin Aleida (selanjutnya ditulis Martin) membuka cerpennya yang 
bertajuk Melarung Bro di Nantalu dengan kata-kata “ajal”, “mati”, dan “kubur”. 
Ia menceritakan seorang tokoh yang terkatung-katung di negeri orang, dan tak 
bisa kembali ke tanah air Indonesia karena terhalang situasi politik pasca 1965.

Jika membaca buku Melawan dengan Restoran (2007) karya Sobron Aidit & Budi 
Kurniawan, Surat Kepada Tuhan (2002) yang merupakan memoar Sobron Aidit, dan 
buku-buku lain—baik karya Sobron sendiri maupun karya orang lain yang 
menceritakan dirinya, tokoh dalam cerpen Martin ini merupakan kisah kawannya 
tersebut.

Sebagai contoh, Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, 
Jilid 3 (2009) menulis tentang Sobron Aidit yang diundang ke Beijing dan 
menetap di Prancis.

“Saat meletus G30S 1965, Sobron berada di Beijing bersama sejumlah seniman dan 
wartawan Indonesia yang diundang ke RRT merayakan HUT RRT. Sejak itu Sobron 
menetap di luar negeri. Dari RRT bersama wartawan Umar Said ia boyong ke 
Perancis. Bersama Umar Said yang kini sudah jadi warga negara Perancis, Sobron 
mendirikan restoran ‘Indonesia’ di Paris,” (hlm. 184) 

 Baca juga: Mencangkul Batin Manusia 
https://tirto.id/mencangkul-batin-manusia-ctX3 Bagaimana H.B. Jassin Merawat 
Sastra Indonesia? 
https://tirto.id/bagaimana-hb-jassin-merawat-sastra-indonesia-cFWk

Apalagi Martin menulis dalam sebuah paragraf tentang tokohnya ini yang 
mendirikan restoran Indonesia di Paris, maka teranglah siapa tokoh yang 
dimaksud olehnya.

“Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor 
di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan 
restoran masakan Indonesia […] Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang 
mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari,” tulis 
Martin.

Melarung Bro di Nantalu tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010. Martin 
menulis cerpennya dengan liris. Ada emosi tertahan, kesedihan, dan 
kenangan-kenangan yang membubung dalam relasi perkawanan yang jujur: tentang 
pertemanan masa kecil, kematian ayah sahabat yang giris, melarat di negeri 
orang, pertarungan batin yang merubah keyakinan, serta kesulitan pulang ke puak 
akibat badai politik di tanah air.

Cerpen ini kemudian dihimpun beserta cerita Martin lainnya dalam buku berjudul 
Mati Baik-baik, Kawan(2009). Di sampul belakang buku terdapat komentar Agung 
Ayu Ratih—direktur Institut Sejarah Sosial Indonesia 
http://www.sejarahsosial.org/, ia menulis perasan dan kesannya terhadap salah 
satu cerpen Martin. 

“Melarung Bro di Nantalu membuatku menangis […],” tulis Ratih. Kritik Tatiana 
LukmanTujuh tahun sejak terbit di Jawa Pos, cerpen ini “baik-baik saja” karena 
respons pembaca cukup positif. Sampai akhirnya pada Juli 2017, Tatiana Lukman 
(anak mantan Wakil Ketua I CC PKI, MH. Lukman)—penulis buku Panta Rhei: Tidak 
Ada Pengorbanan yang Sia-sia Air Sungai Digul Mengalir Terus!: 2014, menulis di 
Suluh Indonesia http://koransulindo.com/tentang-koran-sulindo/ mengkritik 
cerpen ini karena salah satu fragmennya dianggap “kebohongan, memutarbalikkan 
fakta, fitnah, dan ejekan terhadap rakyat Tiongkok dan Ketua Mao”.

Fragmen yang diserang oleh Tatiana adalah ketika si tokoh (Bro/Sobron Aidit) 
yang tengah berada di Tiongkok bersama istrinya untuk memenuhi undangan menjadi 
guru bahasa Indonesia di sana, disapu Revolusi Kebudayaan (Tatiana menyebutnya 
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar atau RBKP) yang membuat mereka disingkirkan 
dari kota, digiring ke perdesaan dan dipaksa melakukan kerja badan, bertani, 
serta memungut kotoran manusia untuk pupuk tanaman.

“Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, ‘Datanglah ke 
Tiongkok/tengok hari esok,’hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar 
gelas,” tulis Martin menggambarkan prahara yang menempa Bro.

 Baca juga: Bagaimana Peraih Nobel Sastra Mengingat Truk Bekas? 
https://tirto.id/bagaimana-peraih-nobel-sastra-mengingat-truk-bekas-ctCB Utuy 
T. Sontani: Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering 
https://tirto.id/utuy-t-sontani-kisah-cinta-yang-tak-kunjung-kering-coaX

Karena tak tahan dalam pusaran Revolusi Kebudayaan, Bro akhirnya menyingkir 
dari Tiongkok lewat perjalanan darat yang panjang sampai akhirnya tiba di Paris.

Martin Aleida, Penulis “Ulung” 
http://koransulindo.com/martin-aleida-penulis-ulung/, begitu judul tulisan 
Tatiana pada Juli 2017 di Suluh Indonesia. Ia mengawali tulisannya dengan 
membandingkan kualitas penulis zaman Sukarno dan Orde Baru. Martin Aleida 
meraih penghargaan cerpen terbaik Kompas yang berjudul Tanah Air. Dalam 
tulisannya Tatiana bertanya, apakah hanya Martin satu-satunya penulis, di 
antara 20 kandidat lain, yang mempunyai latar belakang hubungan dengan Lembaga 
Kebudayaan Rakyat (Lekra). 

“Kalau jawabannya positif, maka tidak terlalu mengherankan kemenangannya dalam 
kompetisinya dengan penulis-penulis yang lahir dan besar di zaman Orde Baru,” 
tulisnya.

Ada nada meremehkan para penulis pasca Orde Lama dari anak MH. Lukman tersebut. 
Ia yang hidup di Indonesia waktu Sukarno gilang-gemilang di tampuk 
kekuasaannya, dan saat Lekra berkibar sebagai motor kebudayaan, menganggap masa 
itu lebih baik daripada zaman Orde Baru: rezim yang menumpas dan menyingkirkan 
ia, keluarga, beserta penumpang gerbong “komunis” lainnya.

Meski demikian, dalam artikelnya Tatiana justru bukan hendak menyanjung Martin, 
melainkan mengkritiknya. Jika Agung Ayu Ratih dibuat menangis oleh Melarung Bro 
di Nantalu, ia sebaliknya. Tatiana kecewa dan marah karena Martin yang 
dianggapnya telah berbohong tentang kehidupan Sobron Aidit dan orang-orang 
Indonesia lainnya di Tiongkok, serta terhadap RBKP.

“Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, 
yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga 
menemukan nasib yang tak kalah buruk,” tulis Martin.

 Baca juga: S.M. Ardan, Sastrawan Pemotret Kehidupan Orang Betawi 
https://tirto.id/sm-ardan-sastrawan-pemotret-kehidupan-orang-betawi-cA4Z Sastra 
untuk "Dunia yang Penuh Tipu Cedera" 
https://tirto.id/sastra-untuk-dunia-yang-penuh-tipu-cedera-cr4U

Hal ini dibantah Tatiana yang menyebutkan bahwa selama Revolusi Kebudayaan, 
Sobron dan orang-orang Indonesia lainnya mendapatkan makan, minum, tempat 
tinggal gratis, dan untuk menghadapi suhu panas lebih dari 40 derajat celcius, 
orang bisa beli balok es untuk ditaruh di bawah tempat tidurnya. Pendingin 
tersebut adalah barang mewah di waktu itu. 

“Siapa yang mencap dan menjadikan orang-orang Indonesia sasaran Revolusi 
Kebudayaan? Siapa yang menyingkirkan dan menuduh orang-orang Indonesia 
terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya? Dari 120 orang Indonesia 
yang tinggal satu kompleks dengan saya, tak satupun yang pernah jadi sasaran 
RBKP!” tambah Tatiana.

Tak cukup itu, Tatiana juga menyebutkan bahwa untuk menghindari panas yang 
sangat menyengat, orang-orang Indonesia malah pernah diundang tuan rumah untuk 
berlibur ke Tsingdao 
https://www.google.co.id/maps/@35.7408374,119.527169,598405m/data=!3m1!1e3, 
kota pesisir di timur Tiongkok. Dan mereka dijamu dengan tinggal di hotel, 
pemandangan tepi laut, serta makan enak. Hanya karena pertentangan internal 
saja sebagian dari mereka akhirnya tidak ikut ke Tsingdao.

Revolusi Kebudayaan yang dikobarkan Mao mendorong mahasiswa dan kaum 
intelektual lainnya untuk pergi ke perdesaan, tinggal dan bekerja bersama kaum 
tani. Hal ini, menurut Tatiana, juga pernah dilakukan Lekra dengan program 
“turba” (turun ke bawah) yang mengedepankan doktrin “tiga sama”: sama bekerja, 
sama makan, sama tidur. Martin sebagai bekas sastrawan Lekra dan wartawan 
Harian Rakjat, tambah Tatiana, mestinya paham dengan kebijakan tersebut. 

“Apa Martin sudah lupa [dengan kebijakan Lekra]? Mao juga mengajarkan rakyatnya 
untuk belajar kepada kaum tani,” ujarnya.

Fragmen lain yang tidak berkenan bagi Tatiana adalah ketika Martin menceritakan 
nasib Sobron saat mula-mula tiba di Paris. Martin menggambarkan Sobron tak 
ubahnya gelandangan yang tak habis dirundung malang.

“Bro dan kawan-kawannya yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, 
luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, 
terkadang Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus 
tali teraju,” tulis Martin.

Ia menegaskan bahwa Sobron sudah ditunggu banyak kawan yang lebih duluan 
menetap di Paris. Adik D.N. Aidit tersebut tidak terdampar sendiri, juga tidak 
kelaparan di Paris.

“Lukisan patetis ini hanyalah fantasi!” bantahnya.

Kegeraman Tatiana bertalu-talu. Saat Martin melukiskan perjalanan hidup Sobron 
sebagai hidup yang tidak biasa dan tiada tara, ia menyangkalnya dengan sinis, 
“Aduh, begitu dramatis dan penuh heroisme!"

 Baca juga: Bagaimana Amir Hamzah Dibunuh, 71 Tahun Lalu 
https://tirto.id/bagaimana-amir-hamzah-dibunuh-71-tahun-lalu-cltB Amal Sastra 
Armijn Pane dan Kegelisahannya 
https://tirto.id/amal-sastra-armijn-pane-dan-kegelisahannya-cEzK

Ia menjelaskan bahwa kehidupan Sobron sama seperi orang kebanyakan: makan, 
minum, dan tidur gratis. Ia menambahkan, istrinya meninggal pun bukan karena 
“hukuman” atau “siksaan” atau tidak bisa bayar ongkos pengobatan. 

Setelah menjelaskan hakikat Revolusi Kebudayaan dan situasi politik Tiongkok 
pasca Mao Tse-Tung, serta menuduh orang-orang Indonesia yang keluar dari 
Tiongkok dan hidup makmur di negeri-negeri maju sebagai revisionis dan 
pendukung restorasi kapitalis Deng Xiao-ping, Tatiana mengusulkan agar Martin 
mempelajari Revolusi Besar Kebudayaan Proletar.

“Usul saya kepada Martin, pelajari sendiri apa sebenarnya hakikat dari RBKP. 
Jangan hanya menelan bulat-bulat propaganda imperialis anti-Mao dan 
anti-komunis seperti mereka yang masing ‘mengunyah-ngunyah’ propaganda Orde 
Baru tentang peristiwa 1965,” ujarnya. Tanggapan Martin Aleida dan Ihwal Sumber 
Sekunder20 Juli 2017, Martin menanggapi kritik Tatiana yang cukup panjang 
tersebut di status facebook-nya 
https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=459893191052330&id=100010949585156&hc_location=ufi.
 Pendek dan santai saja ia menanggapinya. Ia bahkan membuka facebook dalam 
perjalanan pulang sehabis belanja dari Pasar Minggu. Sebuah foto menyertai: 
foto dirinya yang tengah duduk di pagar tembok sebuah rumah. Ia bercelana 
pendek, mengenakan sepatu, dan memegang dua buah jinjingan. 

Dalam tanggapannya yang pendek tersebut, ia menekankan pada tuduhan Tatiana 
tentang kaum imperialis dan orang-orang Trotskyis yang menganggap Revolusi 
Kebudayaan sebagai hukuman dan siksaan, serta sikap mereka yang meremehkan dan 
menghina kaum tani. 

“[…] Saya senang dia cap saya sebagai Trotskyis, budayawan yang saya kagumi. 
Ketika berkunjung ke Turki beberapa tahun lalu, saya mampir ke pulau Buyucuda 
di mana Trotsky sempat bersembunyi dari persekusi rezim Stalin sebelum dia 
terdampar di Meksiko tempat kepalanya dipenggal dengan kampak oleh pemuja 
setan. Saya anjurkan Tatiana membaca Trotsky dalam Literature and Marxism-nya 
Terry Eagleton dan meneliti Trotsky bukan dari tulisan mereka yang berbulu dan 
berhati musang […],” tulisnya. 

 share infografik


Kritik Tatiana terhadap karya Martin khususnya cerpen Melarung Bro di Nantalu, 
awalnya dipicu saat Martin berkomentar di acara diskusi 
http://rilis.id/bedah-buku-pertentangan-trostky-dan-lenin-dalam-revolusi-sosialis.html
 buku karya Tatiana berjudul Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau 
Revolusi Permanen? (2016) yang diadakan pada Mei 2017. 

Kata Tatiana, Martin berkomentar dan menyatakan pendapatnya terhadap buku 
tersebut bahwa ia tidak percaya pada tulisan yang berasal dari sumber sekunder. 
Menanggapi hal tersebut, Tatiana menyebut bahwa kalau begitu semua buku sejarah 
tidak ada yang patut dipercayai jika kita mengikuti logika Martin. 

“Lantas bagaimana mereka yang ingin menulis dan menganalisa kejadian-kejadian 
sejarah yang para pelakunya sudah meninggal? […] Tidak mungkin kita 
mewawancarai langsung, misalnya, Pangeran Diponegoro, atau Lenin, atau Trotsky, 
atau Napoleon!” tambahnya.

Dua bulan setelah acara diskusi tersebut, terbitlah tulisan Tatiana di Suluh 
Indonesia http://koransulindo.com/martin-aleida-penulis-ulung/ daring, yang 
selain menyerang soal Revolusi Kebudayaan, juga menyerang sumber yang digunakan 
Martin dalam menulis cerpen Melarung Bro di Nantalu.

Karena beberapa fragmen kisah dalam cerpen tersebut bertentangan dengan 
realita, maka Tatiana meragukan sumber penulisannya. Ia tahu bahwa kisah yang 
diceritakan Martin adalah perjalanan hidup Sobron Aidit, tapi ia meragukan 
apakah benar Sobron menceritakannya langsung kepada Martin pengalamannya 
hidupnya selama di luar negeri? Karena hal ini akan menentukan sumber tersebut, 
apakah primer atau sekunder.

 Baca juga: PDS HB Jassin Tak Menolak Dikelola Pemprov DKI 
https://tirto.id/pds-hb-jassin-tak-menolak-dikelola-pemprov-dki-bH5G Koleksi 
Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin 
https://tirto.id/koleksi-pusat-dokumentasi-sastra-hb-jassin-bGh9

Sampai di sana sebetulnya serangan Tatiana sudah cukup untuk membalas 
ketidakpercayaan Martin terhadap sumber sekunder dalam diskusi buku 
Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016). Namun 
rupanya Tatiana meneruskannya dengan sergapan lain.

“Anggaplah Martin bertolak dari sumber primer, karena ia tidak percaya pada 
sumber primer sekunder. Bagaimana kalau sumber primernya itu berisi kebohongan 
dan memutarbalikkan fakta, seperti yang terjadi pada Melarung Bro di Nantalu?” 
ujarnya.

Dari sini kemudian Tatiana menjelentrehkan kehidupan Sobron Aidit saat di 
Tiongkok dan Paris, kehidupan orang-orang Indonesia di Tiongkok saat terjadi 
Kebudayaan Revolusi, dan pandangannya terhadap orang-orang yang ia anggap 
sebagai pengkhianat.

Karena buku Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? 
(2016) dan cerpen Melarung Bro di Nantalu adalah dua teks yang berbeda, yang 
satu fiksi dan satu lagi nonfiksi, maka Martin dalam status facebooknya 
menjawab:

“Sayang eksil yang pernah menetap lama di Kubanya Castro ini tak bisa 
membedakan cara membaca fiksi dan nonfiksi. Dia jadikan kenyataan literer dalam 
cerita pendek saya sebagai fakta historis,” tulisnya.

Tanggapan Martin di Facebook kemudian ditanggapi 
http://koransulindo.com/fiksi-atau-nonfiksi/ lagi oleh Tatiana di media yang 
sama dengan tulisan pertamanya, yang membuat persoalan menjadi berlarat-larat. 
Karena disebut tak bisa membedakan teks fiksi dan nonfiksi, pada tulisannya 
yang kedua ini Tatiana berusaha memblejeti apa yang dimaksud dengan cerita 
fiksi.

Ia memperkuat argumennya dengan mengutip Hilmar Farid yang ikut mengomentari 
cerpen Melarung Bro di Nantalu. Menurut Hilmar Farid, cerpen tersebut 
menghidupkan pertanyaan lama tentang batas prosa dan puisi, fiksi dan fakta, 
dalam hal ini obituari dan cerita. 

“Bahkan, menurut Hilmar, obituari! Obituarinya Sobron Aidit!” tulis Tatiana 
yang tengah berargumen bahwa Melarung Bro di Nantalu menceritakan kehidupan 
nyata, bukan rekaan.

Setelah itu Tatiana kembali tancap gas dengan menyerang Martin soal sumber 
sekunder lagi. Lalu soal Trotsky dan Lenin. 

Tulisan keduanya ini tak ditanggapi oleh Martin. Perdebatan terhenti. Dan hanya 
menyisakan serak jejak digital. 

Saat dihubungi Tirto.id, Selasa (13/3/2018), apakah dia ada tanggapan lain yang 
lebih komprehensif terhadap kritikan Tatiana, Martin Aleida hanya menjawab 
singkat, “Tidak! Saya tidak tertarik pada Tatiana. Ibarruri (anak sulung D.N. 
Aidit) bilang, 'cuma Tuhan yang tidak (dia) debat.' Salam.” 

Baca juga artikel terkait SASTRA 
https://tirto.id/q/sastra-cSH?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword atau 
tulisan menarik lainnya Irfan Teguh  
https://tirto.id/author/irfanteguh?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - irf/zen)

 

 

Kirim email ke