From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Sunday, March 18, 2018 12:14 AM
  





"Drama Politik" Pengunduran Diri Dirut PD Dharma Jaya
17 Maret 2018   13:29 Diperbarui: 17 Maret 2018   13:40







megapolitan.kompas.com
Pengunduran diri Direktur Utama PD Dharma Jaya, Marina Ratna Dwi Kusumajati 
seperti sebuah drama yang sebenarnya terbaca penyebabnya namun dibikin samar 
dalam ceritanya. Kasus Dirut Dharma Jaya boleh jadi merupakan salah satu cermin 
bagaimana pasangan Anies-Sandi mengelola birokrasi.

Kasus ini bermula dari kebijakan Pemprov DKI melalui Wagub Sandiaga Uno yang 
menyatakan menghentikan penyertaan modal daerah (PMD) untuk PD Dharma Jaya. 
Ketika ini ditanyakan Sandiaga, Marina Ratna menjawab bisa dari sudut bisnis.

"Beliau itu salah penger tian ketika aku ditanya pada waktu meeting. Beliau 
tanya, 'Bu Rina enggak dapat PMD bisa enggak?'. Bisa, kalau untuk bisnisnya 
bisa tanpa harus dapat PMD," ujar Marina di Gedung DPRD DKI Jakarta,  Selasa 
(21 Nopember 2017). "(Tetapi) kan beliau tidak tahu secara teknisnya bahwa ini 
buat membeli daging," tambah Marina.

Sandiaga pun tampak bergembira. Ia bahkan mengklaim bahwa jajaran direksi lima 
BUMD DKI Jakarta tak keberatan meski mereka tidak diberi PMD pada 2018. Menurut 
Sandi, jajaran direksi kelima BUMD tersebut justru merasa bersyukur.

"Dari lima BUMD yang PMD-nya pernah diusulkan, bertemu saya, dan bilang, 
'Alhamdulillah, Pak. Dengan begini, kami bisa lebih mandiri. Selama ini kami 
diberikan modal pemerintah justru merasa kebebanan karena ada penugasan dan 
lain sebagainya'," kilah Sandi ketika itu.


Marina mengatakan, PMD itu digunakan untuk membeli daging-daging subsidi bagi 
pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP). Jika PMD dihapus, satu-satunya cara adalah 
memanfaatkan public service obligation (PSO) untuk membawa down payment-nya.

Namun sudah nggak lagi dapat dana PMD, PSO yang dijanjikan Rp 41 miliar pada 
Novermber 2017 belum turun juga.  Akibatnya Marina mengaku harus mengutang ke 
pengusaha pemasok ayam sekitar Rp 80 miliar. Salah satu pagawainya pun ken a 
semprot dari vendor tersebut karena tak kunjung bayar utang.

Karena sudah tak tahan lagi, Rina kemudian menghadap Sandiaga Uno dan 
menyatakan mengundurkan diri sebagai Dirut PD Dharmajaya Selasa (6/3). Ia 
membantah menangis saat itu, namun datang ke Sandiaga mengundurkan diri. "Bahwa 
saya datang nangis-nangis ke Pak Sandi, itu tidak lho. Saya datang ke sana 
mengakukan pengunduran diri. Tolong catat itu. Serius. Saya tidak pernah 
menangis," kata Marina kepada wartawan, Kamis (15/3).

Sehari sebelumnya, Sandiaga Uno mengaku telah bertemu Ratna Dwi Kusumajati 
membahas dana PSO guna membeli ayam untuk subsidi pangan. Dalam pertemuan itu, 
kata Sandiaga, Marina sempat m enangis karena dana PSO itu tak kunjung turun.

Adapun alasan mundur dari Dharma Jaya, Marina mengaku karena kesal dengan 
kinerja satuan kerja perangkat dinas (SKPD) yang mempersulit dirinya.

Sebagai Dirut BUMD yang bertugas menyediakan pasokan daging sapi dan ayam, 
Marina harus terus menyediakan pasokan, tetapi di sisi lain dana untuk subsidi 
yang dijanjikan Sandiaga tak juga dicairkan sejak November 2017 lalu. "Masuk 
akal enggak sih dari bulan November PSO  untuk DP belum keluar sampai tanggal 
segini? Masuk akal nggak?" tanya Marina.

"Saya kalau mau dijatuhkan bukan dengan cara begini! Ini kan pasar 
terus-terusan minta ayam," imbuhnya.

Saat Marina mengajukan pengunduran diri, Sandiaga mengaku telah meminta Marina 
membatalkan rencana tersebut. Pasalnya, Idul Fitri sudah semakin dekat dan 
harga daging dipastikan akan meningkat.

Selain itu Sandiaga mengaku Marina adalah salah satu CEO terbaik yang dimiliki 
BUMD DKI. Ia merupakan satu-satunya CEO perempuan yang memimpin BUMD.

Namun sikap Sandiaga berbeda 180 deraja t dengan sikap Gubernur Anies Baswedan. 
Anies justru mempersilahkan Direktur Utama PD Dharma Jaya Marina Ratna Dwi 
Kusumajati jika ingin mengundurkan diri dari jabatannya.

"Kalau (Dirut PD Dharma Jaya) pengin mundur, mudur saja lah, gak usah pakai 
ancam-ancaman, mundur saja," ujar Anies di Gedung Intiland Jakarta, Jumat 
(16/3).

Anies menambahkan, pada masa kepemimpinannya sebagai gubernur tak ada satu 
orang pun yang tak bisa digantikan. Ia mengaku sangat menghargai orang yang 
bersikap profesional. Namun, saat ditanyai apakah sikap yang ditunjukan Marina 
menggambarkan ketidakprofesionalan, Anies tak menjawab dengan lugas. "Anda 
nilai sendiri. Jadilah orang prof esional titik," kilah Anies.

Mungkin saking kesalnya, Ratna Dwi Kusumajati memang sempat menyebut kinerja 
Anies tidak sebaik masa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Seperti yang dilansir Poskotanews.com,  Marina menilai kinerja dan koordinasi 
antar Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD)  saat ini tidak sebaik saat 
pemerintahan Ahok. Marina mengaku sebenarnya bersedia membantu  pemerintahan 
Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, namun iklim kerja membuatnya sudah t idak 
betah.

Memang sempat ada bantahan dari Sandiaga Uno bahwa ada miskoordinasi antara 
Ratna Dwi dengan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian  dan Badan 
Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) DKI Jakarta. Terutama terkait dengan acuan 
hukum dimana Ratna menggunakan Pergub lama, sedang yang lain pergub baru..

Kepala BKPD DKI Jakarta Michael Rolandi juga mengatakan bahwa dana PSO sudah 
cair. Michael mengatakan jumlah PSO yang cair sebesar Rp 54 miliar. Dana 
tersebut dibagi untuk pembayaran daging periode Desember 2017 sebesar Rp 13 
miliar. Nah yang Rp 41 miliar itu untuk uang muka pengadaan (daging) tahun 2018.

Namun bantahan itu sepertinya tak kan mengubah sikap Marina, termasuk mungkin 
juga Anies yang takkan mau mempertahankannya.

Marina mengaku telah mendengar isu dirinya merupakan direktur BUMD yang akan 
diganti Anies pada April mendatang. Marina memgaku hanya akan bertahan 
menyelesaikan masa jabatannya selain diminta Sandi untuk tetap menjadi Dirut PD 
Dharma Jaya.

Jika merunut ke belakang, sikap Anies dan isu pergantian Marina diduga karena 
ia menjadi sosok Dirut BUMD yang dekat dengan Ahok alias "orang" nya Ahok. 
Munculnya isu bahwa ia sempat mengeluarkan kebijakan sh alat Jumat dua shift 
menjadi salah satunya.

Isu itu muncul tak kala ada tuntutan dari karyawan PD Dharma Jaya dalam sebuah 
unjuk rasa. Berita tersebut langsung dikutip sejumlah media namun bantahan dari 
Marina tak pernah dimuat media yang sama. Ia mengaku tak mungkin melarang umat 
Islam untuk shalat Jumat karena hukumnya wajib. Jika shift yang dimaksudkan 
adalah saat umat Islam shalat Jumat, umat non muslim yang menggantikan. 

Selama memimpin, Marina termasuk dirut yang sukses. Selain mampu 
merestruktrisasi hutang,  laba perusahaan terus mengalami menaikan. Misal laba 
perusahaan di triwulan I sebesar Rp 533 juta. Sedangkan untul laba triwulan II 
tahun 2017 sebesar Rp 552 juta. Di bawah kepemimpinannya, Dharma Jaya termasuk 
kreatif dengan membuka situs jual beli daging di  www.belidaging-dj

Padahal Dirut Dharma Jaya sebelumnya yakni Zainuddin terpaksa ditangkap 
kejaksaan di sebuah hotel di kawasan Cilegon, Banten, karena terlibat korupsi.

Apa boleh buat, politik birokrasi jaman Anies -- Sandi tampaknya tak memberikan 
ruang bagi orang kreatif dan berprestasi seperti Marina .


"Tidak ada orang yang tak bisa diganti, tidak ada orang yang irreplaceable, 
everyone is replaceable," kata Anies.





Kirim email ke