Hendaklah yang tidak makan daging babi jangan diajak untuk makan daging babi,(sate babi, babi guling dsb) biarkan itu haram, sebab kalau mereka turut makan daging babi, harga daging babi akan bisa meningkat drastis dan pemakan daging babi akan kalang kabut karena daging babi menjadi mahal atau sangat mahal dan tidak bisa dibeli oleh pemakan daging babi berpendapatan rendah.
Jangan diutik-utik keharaman daging babi, sekali haram tetap haram! 2018-03-20 20:45 GMT+01:00 kh djie [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Probleemnya yang tidak makan babi, berapa % yang makan babu? > Dan yang makan babi, berapa % yang makan babu ? > Lalu perbedaannya apa significant ? > Probleemnya, mengatakan orang Islam tidak makan babi, tetapi makan babu, > tanpa dukungan angka2 > > 2018-03-20 17:58 GMT+01:00 Jonathan Goeij [email protected] > [GELORA45] <[email protected]>: > >> >> >> >> mengatakan babi haram tentu bukan penghinaan karena kenyataannya begitu >> tentang babu halal saya kurang tahu, tetapi khan ada (ayat?) yg bilang >> budak halal, sedang per-babu-an itu khan boleh dibilang perbudakan pada >> jaman sekarang. >> >> >> On Tuesday, March 20, 2018, 8:55:56 AM PDT, [email protected] >> [GELORA45] <[email protected]> wrote: >> >> >> bisa diperkirakan si saksi agama yang ngomong itu kena smack dengan >> omongan si pendeta ini. >> haram makan babi halal niduri babu.. >> apa lagi coba kalo bukan karena ini? dasar kaum resis ga bisa bersaing, >> di comberan terus hidupnya. >> >> >> >> >> ---In [email protected], <jonathangoeij@...> wrote : >> >> Saya coba baca yg disebut penistaan agama oleh Pdt. Julius Herry Sarwono >> itu, sebenarnya terhitung "mild" sekali dibanding yg diucapkan Habib Rieziq >> Shihab ataupun Ustad Abdul Somad. Tetapi....... >> >> >> kutipan: >> *“Dalam Islam babi haram tapi (meniduri) Babu halal. Sebaliknya non-Islam >> makan Babi halal, tapi meniduri Babu yang haram. Makanan tidak menajiskan >> karena makanan hanya dikunyah, masuk perut lalu keluar ke jamban. Tapi yang >> menajiskan adalah apa yang keluar dari hati: percabulan, kebencian, >> keserakahan, kesombongan dan rupa rupa pencemaran. Itu yang menajiskan >> karena merusak diri dan orang lain”* >> https://seruji.co.id/kanal-warga/berita-warga/inilah-isi-tun >> tutan-kasus-penistaan-agama-yang-dilakukan-pendeta-julius-herry/ >> >> >> ---In [email protected], <ilmesengero@...> wrote : >> >> http://www.panjimas.com/news/2018/03/20/sidang-pendeta-juliu >> s-herry-sarwono-saksi-ahli-sebut-terdakwa-memenuhi-unsur-penistaan-agama/ >> Sidang Pendeta Julius Herry Sarwono, Saksi Ahli Sebut Terdakwa Memenuhi >> Unsur Penistaan Agama >> <http://www.panjimas.com/news/2018/03/20/sidang-pendeta-julius-herry-sarwono-saksi-ahli-sebut-terdakwa-memenuhi-unsur-penistaan-agama/> >> >> 20 Mar 2018 >> >> >> <http://www.panjimas.com/news/2018/03/20/sidang-pendeta-julius-herry-sarwono-saksi-ahli-sebut-terdakwa-memenuhi-unsur-penistaan-agama/> >> >> <http://www.panjimas.com/news/2018/03/20/sidang-pendeta-julius-herry-sarwono-saksi-ahli-sebut-terdakwa-memenuhi-unsur-penistaan-agama/> >> >> >> >> >> *UNGARAN, (Panjimas.com)* – Pengadilan Negeri Ungaran kembali >> mengadakan sidang lanjutan dengan terdakwa Pendeta Julius Herry Sarwono >> terkait *kasus hate speech* penistaan agama. Senin, (19/3). Sidang kali >> ini merupakan sidang ke 4 dari total 14. >> >> Agenda sidang adalah mendengarkan keterangan saksi ahli.. Dari saksi ahli >> yang didatangkan semua menjelaskan bahwa Pendeta Julius Herry Sarwono >> memenuhi unsur penistaan. >> >> DR Fadholan Musyafak yang menjadi saksi pertama menyatakan bahwa semua >> pernyataan Pendeta Julius Herrry memenuhi unsur penistaan dan penghinaan >> agama. >> >> Hal senada juga disampikan oleh Drs Emma Maemunah, ahli bahasa menyebut >> bahwa semua peryataan terdakwa mengandung unsur ujaran kebencian & niatan >> jahat. >> >> Sedangkan saksi ahli pidana dari UGM Prof Edward Omar Syarif menyatakan >> bahwa p Julius Herry memenuhi unsur tindak pidana UU ITE. >> >> Sidang berikutnya akan dilanjutkan pada hari Senin & Selasa minggu depan.. >> [RN] >> >> >> >> > >
