PM Li Keqiang Tegaskan Tiongkok Tak Akan Mengupayakan Ekspansi
2018-03-21 11:09:53 CRI
Sidang pertama Kongres Rakyat Nasional (KRN) ke-13 ditutup di Beijing,
Selasa (20/3) kemarin. Dalam jumpa pers seusai penutupan, Perdana Menteri
Tiongkok, Li Keqiang menyatakan, Tiongkok akan terus mempertahankan perdagangan
bebas, dan membuka pintu lebih lebar terhadap dunia luar. Ia menegaskan,
Tiongkok selamanya tidak akan melakukan ekspansi, tapi akan memusatkan tenaga
dan pikiran pada urusan pribadi.
Tahun ini bertepatan dengan 40 tahun dilaksanakannya kebijakan reformasi
dan keterbukaan Tiongkok. Li Keqiang menyatakan, upaya pemerintah Tiongkok
diarahkan ke pasar yang terdiri dari 1,3 miliar penduduk, Tiongkok akan menjadi
pasar persaingan yang adil bagi sejumlah perusahaan Tiongkok maupun luar
negeri, dan menyediakan lebih banyak pilihan kepada para konsumen Tiongkok. Di
samping itu, Tiongkok juga akan meningkatkan kualitas produk dan layanan.
Selama beberapa tahun terakhir ini, tingkat kontribusi Tiongkok terhadap
pertumbuhan ekonomi dunia melampaui 30%, daya tarik modal dan pasar Tiongkok
menjadi semakin besar. Li Keqiang menegaskan kembali, Tiongkok selamanya tidak
akan melakukan ekspansi. Tiongkok adalah negara berkembang, dan tidak berambisi
melakukan ekspansi. Bahkan jika Tiongkok menjadi negara kuat di masa depan,
Tiongkok tetap tidak akan menempuh jalan hegemoni negara kuat. Tiongkok
memprakarsai "Satu Sabuk Satu Jalan", tapi inisiatif tersebut akan melibatkan
semua negara dalam mendiskusikan, membangun, dan menikmati hasil-hasilnya.
Tiongkok memberikan bantuan kepada negara-negara berkembang, khususnya
negara-negara kurang maju, sesuai batas kemampuannya tanpa persyaratan politik
apapun. Tiongkok akan memusatkan perhatiannya pada urusan sendiri, menciptakan
peluang menang bersama (win-win) bagi perkembangan Tiongkok.
Mengenai hubungan lintas Selat Taiwan, Li Keqiang menyatakan, pihak
Daratan bersedia bersama dengan saudara-saudara setanah air Taiwan untuk
bersama-sama menikmati peluang yang tercipta dari perkembangan Daratan, namun
Tiongkok tidak mentoleransi upaya dan usulan untuk memerdekakan Taiwan, juga
tidak mengizinkan kekuatan asing memainkan "kartu Taiwan".
Li Keqiang mengharapkan Hong Kong dan Makau berintegrasi dalam
perkembangan negara, mempertahankan prinsip "satu negara dua sistem", "urusan
Hong Kong ditangani oleh orang Hong Kong", "urusan Makau ditangani oleh orang
Makau" dan otonomi tingkat tinggi. Kawasan Teluk Besar Guangdong, Hong Kong dan
Makau hanya dibentuk menjadi kutub pertumbuhan yang baru.
Sebagai dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia, perdagangan
bilateral antara Tiongkok dan AS sangat mengundang perhatian umum. Li Keqiang
menegaskan, tidak ada pemenang dalam perang perdagangan. Ia mengharapkan kedua
pihak dapat mengambil sikap rasional, tidak bertindak semena-mena, dan
menghindari perang perdagangan.
Berbicara tentang hubungan ekonomi dan perdagangan antara Tiongkok dan
Rusia, Li Keqiang berharap kedua negara dapat meningkatkan nilai perdagangan
sampai US$ 100 miliar melalui pengembangan potensi dan pembentukan mekanisme
inovasi.
Tentang situasi Semenanjung Korea, Li Keqiang menyatakan, pihak Tiongkok
optimis terhadap peredaan ketegangan situasi di Semenanjung Korea. Tiongkok
mendukung upaya penyelesaian masalah nuklir Korea melalui dialog dan
perundingan, dan berupaya semaksimal mungkin untuk mendorong terwujudnya
denuklirisasi Semenanjung Korea serta memelihara perdamaian dan kestabilan
semenanjung.