http://id.beritasatu.com/macroeconomics/indef-utang-pemerintah-masih-kontraproduktif/173474


*Indef: Utang Pemerintah Masih Kontraproduktif*
Rabu, 21 Maret 2018 | 15:06

[image: Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif Institute for Development of
Economics and Finance (Indef)] Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif
Institute for Development of Economics and Finance (Indef)

Berita Terkait

   -

   Indef: Realisasi Investasi Butuh Konsistensi Regulasi
   
<http://id.beritasatu.com/home/indef-realisasi-investasi-butuh-konsistensi-regulasi/173489>
   -

   Indef: Pembangunan Infrastruktur Belum Berdampak Signifikan
   
<http://id.beritasatu.com/home/indef-pembangunan-infrastruktur-belum-berdampak-signifikan/168641>
   -

   Indef: Target Pertumbuhan 5,4% Sulit Dicapai
   
<http://id.beritasatu.com/home/indef-target-pertumbuhan-54-sulit-dicapai/166744>
   -

   Indef: Pasar Baru RI-IORA Berpotensi Naikkan Produk Hilir
   
<http://id.beritasatu.com/home/indef-pasar-baru-ri-iora-berpotensi-naikkan-produk-hilir/157668>
   -

   Indef: Pembatasan Kepemilikan Asing Perlu Strategi
   
<http://id.beritasatu.com/home/indef-pembatasan-kepemilikan-asing-perlu-strategi/156228>

*JAKARTA*- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and
Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan utang pemerintah yang
besarannya meningkat sejak 2015 masih kontraproduktif.

"Utang yang selama tiga tahun ini bertambah justru mengarah
kontraproduktif. Sektor-sektor riil yang harusnya semakin membaik justru
memburuk," kata Enny dalam konferensi pers di kantor Indef, Jakarta, Rabu.

Ia menilai bahwa masih terjadi anomali atau penyimpangan dari harapan
pemerintah yang berutang untuk mampu mengakselerasi produktivitas dan daya
saing nasional, termasuk meningkatkan kemandirian sebagai bangsa.

"Ketergantungan impor bahkan mulai bertambah ke sektor pangan pokok," ucap
Enny.

Dalam kesempatan yang sama, peneliti Indef, Riza Annisa Pujarama,
mengatakan bahwa utang pemerintah meningkat sejak 2015. Utang pemerintah
tersebut diklaim digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur.

Utang pemerintah melonjak dari Rp3.165,13 triliun (2015) menjadi Rp3.466,96
triliun (2017). Pada akhir Februari 2018, utang pemerintah pusat jumlahnya
mencapai Rp4.034,8 triliun.

"Utang pemerintah meningkat seiring dengan belanja. Secara struktural,
belanja pemerintah pusat tidak banyak berubah terhadap belanja modalnya.
Yang meningkat adalah belanja pegawai, belanja barang, dan pembayaran
kewajiban utang," ucap dia.

Riza juga menyoroti mengenai belanja pemerintah pusat yang masih ditopang
oleh penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dengan persentase kepemilikan
asing yang tinggi. Hal tersebut perlu diwaspadai karena mampu menimbulkan
arus modal keluar (*capital outflow*).

"Kepemilikan SBN banyak dimiliki asing, ini bahaya apalagi kondisi rupiah
sedang terdepresiasi," ucap dia.

Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan hingga akhir Februari 2018,
sebagian besar utang pemerintah masih didominasi oleh penerbitan SBN yang
mencapai Rp3.257,26 triliun atau 80,73% dari total utang pemerintah.

Penerbitan SBN sekitar Rp2.359,47 triliun atau 62,62% diterbitkan dalam
denominasi rupiah dan sebesar Rp897,78 triliun atau 18,11% dalam denominasi
valas.

Selain penerbitan SBN, pembiayaan utang tersebut juga berasal dari pinjaman
luar negeri pemerintah dengan porsi mencapai Rp777,54 triliun atau 19,27%.
Utang yang dalam bentuk pinjaman ini terbagi dari pinjaman luar negeri
sebesar Rp771,6 triliun atau 19,13% dan pinjaman dalam negeri sebesar
Rp5,78 triliun atau 0,14%. (gor/ant)

Kirim email ke