Di Nederland sekarang orang pensiunnya di usia 67 tahun.
Dulu 65 tahun.
Tetapi banyak ahli2 di atas umur 67 tahun kerja jadi konsultan.
Jadi selain terima uang pensiun dari perusahaan, dan AOW dari negara,
masih dapat dari pekerjaan sebagai konsultan. Ini diijinkan.
Kalau di Indonesia, militer umu 58 tahun sudah pensiun. Kan ya berat
buat negara bayari pensiunnya ( masa kerja belum 40 tahun, dan juga
lamanya orang dapat pensiun).
Di Indonesia, di perusahaan swasta, banyak teman2 tetap kerja sampai umur
70 tahun.
Lha, kalau militer umur 58 tahun sudah pensiun, kan jadinya nyerbu ke
bidang2 lain....?

2018-03-23 16:48 GMT+01:00 Marco 45665 <[email protected]>:

> PERTANYAAN YANG SANGAT NAIF !!
>
> *>  Jika sang Penulis cukup Kritis dan pandai membidikkan Tegetnya yang
> Tepat , maka Pertanyaannya mungkin akan berbunyi sebaliknya sbb:*
>
> *>>   **Haruskah Kaum PENSIUNAN ( Terutama Pensiunan Jendral2 dan para
> Pensiunan Ulama  ) tetap diaktiv dan diperlukan serta masih harus dibiarkan
> TERJUN  kedalam Kegiatan Politik Praktis?
> <https://www.suara.com/news/2018/03/22/201236/riuhnya-polemik-tsamara-haruskah-kaum-muda-ke-politik-praktis>*
>
> *>> Sedangkan di Perusahaan2 Swasta maupun Perusahan dan Kantor2
> Pemerintah mengenal Batas Usia dimana Para Pegawai terkait yang sudah masuk
> Usia Pensiunan dan atau sudah melebihi Batas Usia Pensiun seperti yang
> ditentukan Peraturan yang berlaku ...  mau- tak mau **harus **terpaksa
> mengikuti dan mentaati  Peraturan yag berlaku  ....dengan kata lain Harus
> Mundur untuk dipensiunkan ............*
>
> 2018-03-23 7:33 GMT+01:00 Chalik Hamid [email protected]
> [sastra-pembebasan] <[email protected]>:
>
>>
>>
>>
>>
>> ----- Pesan yang Diteruskan -----
>> *Dari:* Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45] <
>> [email protected]>
>> *Kepada:* Yahoogroups <[email protected]>
>> *Terkirim:* Kamis, 22 Maret 2018 21.40.03 GMT+1
>> *Judul:* [GELORA45] Riuhnya Polemik Tsamara, Haruskah Kaum Muda ke
>> Politik Praktis?
>>
>>
>>
>>
>> Riuhnya Polemik Tsamara, Haruskah Kaum Muda ke Politik Praktis?
>> <https://www.suara.com/news/2018/03/22/201236/riuhnya-polemik-tsamara-haruskah-kaum-muda-ke-politik-praktis>
>>
>> Riuhnya Polemik Tsamara, Haruskah Kaum Muda ke Politik Praktis?
>>
>> Suara.com
>>
>> Akhirnya, kaum muda justru membawa kepentingan pertarungan elite negara
>> atas oposisi elitenya, tukasnya.
>>
>> <https://www.suara.com/news/2018/03/22/201236/riuhnya-polemik-tsamara-haruskah-kaum-muda-ke-politik-praktis>
>>
>>
>> Reza Gunadha
>> Kamis, 22 Maret 2018 | 20:12 WIB
>>
>>
>> [image: Riuhnya Polemik Tsamara, Haruskah Kaum Muda ke Politik Praktis?]
>> Tsamara Amany [Antara]
>> Akhirnya, kaum muda justru membawa kepentingan pertarungan elite negara
>> atas oposisi elitenya, tukasnya.
>>
>>
>>
>>
>> *Suara.com - *Opini Tsamara Amany
>> <https://www..suara.com/tag/tsamara-amany>, Ketua DPP Partai Solidaritas
>> Indonesia, mengenai sejarah peran pemuda dalam pentas politik Indonesia,
>> serta anjurannya agar kaum muda milenial berjuang melalui partai politik,
>> menuai kritik dalam kerangka polemik.
>>
>> Tsamara, dalam tulisan opini di salah satu media daring nasional berjudul
>> ”Anak Muda Mental Penjilat?”, menyebut aksi-aksi massa tak lagi menjadi
>> alat ampuh untuk mengintervensi kebijakan politik dan pemerintahan.
>>
>> Menurutnya, jalan ”ekstra-parlementer” seperti itu ampuh pada era 1966
>> dan juga 1998, tapi tidak untuk era kekinian.
>>
>> Sebabnya, Tsamara menilai aksi massa kaum muda pada era ’66 dan medio
>> ’90an merupakan satu-satunya pilihan tatkala rezim yang ada cenderung
>> otoriter.
>>
>> BACA JUGA
>>
>>    - Pola Permainan Sudah Terbaca Bhayangkara, Teco Tetap Pede
>>    
>> <https://www.suara.com/bola/2018/03/22/200727/pola-permainan-sudah-terbaca-bhayangkara-teco-tetap-pede?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga>
>>    - Usai Diperiksa Sebagai Tersangka, Lyra Virna: Alhamdulillah...
>>    
>> <https://www.suara.com/entertainment/2018/03/22/200208/usai-diperiksa-sebagai-tersangka-lyra-virna-alhamdulillah?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga>
>>    - Anies Kesal Eksekusi Penutupan Hotel Alexis Bocor
>>    
>> <https://www.suara.com/news/2018/03/22/194937/anies-kesal-eksekusi-penutupan-hotel-alexis-bocor?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga>
>>
>> Ia mencontohkan, Presiden pertama RI Bung Karno yang menerapkan sistem
>> Demokrasi Terpimpin sehingga membuat kaum muda tak leluasa memberikan
>> masukan. Hal yang sama juga terjadi pada era Orde Baru, tatkala Presiden
>> Soeharto membungkam kaum oposan.
>>
>> Namun, pada era kekinian, Tsamara menilai beragam saluran menyampaikan
>> kritik cenderung terbuka, sehingga aksi massa tak lagi relevan.
>>
>> Ia lantas menganjurkan kaum muda berjuang "masuk ke dalam sistem",
>> seperti menjadi anggota partai politik.
>>
>> Hal itulah yang ia lakukan, dengan menjadi kader sekaligus pemimpin PSI
>> <https://www.suara.com/tag/psi> dan mendukung Presiden Joko Widodo.
>> Tapi, Tsamara mengakui pilihannya itu banyak menuai cibiran.
>>
>> *Kritik*
>>
>> Kritik pertama dilancarkan Ariel Heryanto, profesor program studi
>> Indonesia di Monash University, Australia, sekaligus Deputi Direktur Monash
>> Asia Institute.
>>
>> Melalui akun Twitter miliknya, Ariel menilai Tsamara tak memahami sejarah
>> politik kaum muda Indonesia, terutama pada era 1960-an dan 1990-an.
>>
>> "Saya hormat pada komitmen anak muda ini. Selagi muda, masih banyak
>> PR-nya. Termasuk memahami lebih baik sejarah politik masa lampau, khususnya
>> kurun dekade 1960an. Pemahaman masa lampau yang cacat akan berdampak pada
>> wawasannya pada politik masa kini," tulis Ariel, Selasa (20/3/2018).
>>
>> Menurutnya, opini Tsamara yang menafsirkan sistem Demokrasi Terpimpin era
>> Soekarno sama seperti era Orba—yakni membungkam kritik—justru tak berdasar.
>>
>> ”Yang ditulisnya tentang tahun 1960an  itu hasil hapalan dari bahan
>> indoktrinasi dan propaganda Orde Baru yang dikritiknya sendiri,” tulis
>> Ariel.
>>
>> ”Salah satu pokok yang paling serius dari propaganda Orba adalah
>> pandangan ’Sistem Demokrasi Terpimpin Bung Karno membuat anak muda tak bisa
>> dengan leluasa memberikan masukan.’ Leluasa bagi kaum muda ’kiri’ seusia
>> Tsamara, dan tidak bagi yang ’kanan’ yang promiliter dan Amerika Serikat,”
>> tambahnya.
>>
>>  Sementara seorang perempuan aktivis mahasiswa bernama Asterlyta
>> Putrinda, melalui laman Blogspot, juga melancarkan kritik atas opini
>> Tsamara.
>>
>> Menurutnya, anjuran Tsamara agar kaum muda berjuang melalui parpol
>> peserta pemilu justru mengaburkan akar persoalan pemuda maupun masyarakat.
>>
>> ”Masuk ke dalam politik praktis bukan jalan yang tepat, atau bahkan
>> justru menyesatkan,” tukasnya.
>>
>> Ia menjelaskan, Indonesia memunyai kaum muda yang terbilang besar. Tapi,
>> beragam kebijakan liberalisasi pendidikan membuat banyak kaum muda miskin
>> tak mampu mengakses pendidikan tinggi.
>>
>> ”Alhasil, kaum muda yang banyak ini menghadapi masalah besar seperti
>> pengangguran. Sementara yang mengenyam pendidikan juga harus menghadapi
>> persoalan minimnya lapangan pekerjaan. Lalu apa peran politik praktis
>> kepada pemuda ini? Mampu membebaskan? Atau Tsamara secara individualis
>> hanya berbicara tentang kepentingan borjuasi,” tuturnya.
>>
>> Putrinda juga mengkritik kesimpulan Tsamara bahwa aksi massa tak lagi
>> relevan dilakukan kaum muda kekinian.
>>
>> Menurutnya, hal yang terjadi justru sebaliknya, aksi-aksi massa yang juga
>> dimotori kaum muda di Indonesia maupun negara-negara lain justru semakin
>> marak.
>>
>> Ia mencontohkan, aksi massa pemuda dan elemen masyarakat lain di
>> Filipina, India, Kamboja, Eropa, Afrika, Amerika latin, bahkan di Amerika
>> Serikat sendiri,  justru semakin marak.
>>
>> Hal itu disebabkan beban krisis ekonomi yang dilimpahkan negara-negara
>> Imperialis—pemodal besar berskala internasional—kepada rakyat di dunia
>> semakin besar dan parah.
>>
>> ”Dengan perjuangan rakyat di dunia yang justru kian meningkat, Tsamara
>> malah menegasikan kenyataan tersebut? Jelas, pikiranmu tidak objektif.
>> Belajarlah berjuang dengan buruh dan petani agar pikiranmu tidak kabur,
>> jangan malah belajar sama Jokowi <https://www.suara.com/tag/jokowi>untuk
>> politik 2019, politik borjuasi.”
>>
>> Ia menjelaskan, mengikuti pilihan Tsamara untuk berjuang melalui parpol
>> dan mengikuti pemilu justru akan membuat kaum muda terjebak pada tema-tema
>> persoalan elitis.
>>
>> ”Saya bukan antipartai, tapi memang tidak ada satu pun partai Indonesia
>> yang berani menyentuh isu perampasan dan monopoli tanah, politik upah
>> murah, penggusuran, dan isu rakyat lainnya. Akhirnya, kaum muda justru
>> membawa kepentingan pertarungan elite negara atas oposisi elitenya,”
>> tukasnya.
>>
>> *Terima Kritik*
>>
>> Tsamara, kepada* Suara.com*, Kamis (22/3/2018), mengakui opini dirinya
>> menjadi polemik terutama melalui media-media sosial.
>>
>> “Saya sih senang saja.. Salah satu tujuan menulis bagi saya adalah
>> membuka ruang diskusi,” tuturnya.
>>
>> Mengenai kritik yang dilancarkan kepadanya, Tsamara memberikan jawaban
>> diplomatis.
>>
>> “Meski tentu saya tetap memiliki pandangan sendiri terkait tulisan saya
>> dan sudah saya tuangkan secara utuh argumennya, tapi sekali lagi, ruang
>> diskusi termasuk kritik dan saran, apalagi datang dari tokoh seperti
>> Profesor Ariel harus dianggap sebagai bentuk kepedulian terhadap anak
>> muda,” tuturnya.
>>
>> Sementara mengenai penilaiannya bahwa aksi massa tak lagi relevan bagi
>> kaum muda, Tsamara menuturkan, “Setiap orang memunyai cara pandangnya
>> masing-masing. Saya hargai (perbedaan) itu dan dengan senang hati saling
>> belajar,” tandasnya.
>>
>> 
>>
>
>

Kirim email ke