Terimasakis masukannya bung ajeg. Ini komentar saya.

 

Penomena  
<https://nasional.kontan.co.id/news/ma-tolak-gugatan-uji-materi-pp-holding-pertambangan>
 MA tolak gugatan uji materi PP Holding Pertambangan, menurut pemahan saya 
adalah penomena negatif dipandang dari sudut pandang Pasal 33 UUD 45 ayat (2) 
dan ayat (3), karena  holdingisasi yang dilakukan Pemerintah dengan menghapus 
status BUMN (Persero) PT Antam, PT Bukit Asam, dan PT Timah merupakan kebijakan 
yang bertentangan dengan Pasal 33 ayat (2) dan ayat (3) UUD 1945, UU Keuangan 
Negara, UU BUMN, dan UU Minerba. Dalam konteks ini kita harus di fahami bahwa 
Peranan BUMN erat sekali berkaitan dengan berbagai tujuan yang perlu dicapai 
BUMN, yang meliputi bentuk-bentuk, misalnya : Perusahaan Perseorangan 
(Persero), Perusahaan Umum (Perum), dan Perusahaan Jawatan (Perjan).

 

Tentang Demokrasai :

 

Maunya Jokowi menjadikan demokrasi sebagai sarana untuk memsejahteraan rakyat. 
Tapi sayangnya seruan Jokowi itu hanyalah  ucapan kosong tanpa isi. Mengapa;? 
Karena dewasa  ini  kita berada dalam suasana kemenangan Globalisasi dan 
Neoliberaloisme, adapun kemenangan itu dikarenakan  adanya intervensi negara. 
Neoliberalisme dirancang dan diimplitasikan oleh politisi-polotisi visioner, 
seperti Pinochet di Cili, Thatcher dan lingkaran ultra-konservatifnya di 
kerajaan Ingris, Jenderal TNI AD Suharto dalam menjalankan kekuasaan 
otoriterisme militer di Indonesia, yang kini terus dilanjutkan oleh rezim-rezim 
``reformasi`` di Indonesia; dan tak terkecuali rezim Jokowi-JK pun telah 
hanyaut dalam gelombang budaya Globalisasi dan Neoliberalisme. Oleh karena itu 
wajar jika MA mengikuti kebijakan rezim neoliberal Jokowi-JK dalam kaitannya 
dengan  
<https://nasional.kontan.co.id/news/ma-tolak-gugatan-uji-materi-pp-holding-pertambangan>
  gugatan uji materi PP Holding Pertambangan, yang dilakukan oleh koalisi Sipil 
Penyelamat MUMN.

Jadi dalam kondesi seperti tersebut, sunguh relevan jika kita mengajukan 
pernyataan bahwa seruan Jokowi demokrasi harus sejahteraan rakyat Indonesia 
hanyalah merupakan omong kosong besar tanpa isi. Karena demokrasi Pancasila 
yang didalamnya terkait erat dengan Pasal 33 UUD 45 dalam konteks demokrasi 
Ekonomi, sama sekali tidak mungkin akan dapat dijalankan atau dipraktekkan 
dalam budaya globalisasi dan neoliberalisme yang sekarang telah meresap dan 
mendarah daging dalam rezim-rezim ``reformnasi`` 

 

Roeslan

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Freitag, 23. März 2018 15:54
An: [email protected]
Betreff: AW: [GELORA45] Jokowi Tegaskan Demokrasi Harus Sejahterakan Rakyat

 

  

Lagi, bukti bahwa UUD amandemen betul-betul memaksa Rakyat 

untuk memahami demokrasi sebagai liberalisasi & privatisasi (seperti 

yang waktu Megawati menjuali aset-aset Rakyat).

MA tolak gugatan uji materi PP Holding Pertambangan 
<https://nasional.kontan.co.id/news/ma-tolak-gugatan-uji-materi-pp-holding-pertambangan>
 

 

Apanya yang demokrasi kalau Rakyat Indonesia tak punya alat-alat 

produksi lagi? Tanpa itu mana bisa Indonesia sejahtera.

 

--- roeslan12@... wrote:

 

Terimakasih koreksinya bung ajeg

Salam,

Roeslan,

Von: ajeg

Satu lagi yang dianggap menyimpang keluar dari jalan menuju cita-cita 
kemerdekaan dan tetap ditandatangani yaitu, pembentukan holding BUMN Migas.

Koreksi sedikit, Idrus Markham bukan TNI, jadi dia bukan jenderal. 

Yang sudah pasti jendral ya Luhut itu.

--- roeslan12@... wrote:

REFLEKSI :  Demokrasi yang dapat melaksanakan kesejahteraan Rakyat, seharusnya 
adalah demokrasi sejati, yaitu demokrasi Pacasila, yang mewakili mayoritas 
golongan dalam masyarakat, yang didalamnya terangkum kaum buruh dan tani 
sebagai kekuatan substansinya. Karena dalam demokrasi Pancasila terkandung 
didalamnya adalah ekonomi Pancasila, yang berpedoman pada Pasal 33 UUD 45..

Jika kita berbicara mengnai Demokrasi harus melaksanakan kesejahteraan rakyat, 
seperti yang di tegaskan oleh Presiden Jokowi; maka menurut pengamatan saya, 
Indonesia  di era reformasi ini masih berada  jauh dipersimpangan jalan. Karema 
kekuasaan politik disana masih dikuasai oleh kekuatan oligarki ekonomi , yaitu 
saudagar-saudagar kaya raya yang cengkeramannya sangat kuat dalam kekuasaan 
politik Jokowi-JK. Selaian dari pada itu menurut pengamatan saya banyak mantan 
jenderal Orde baru yang menglilinggi kekuasaan Jokowi, yang dalam Reshuffle  
baru-baru ini justru diperkuat dengan masuknya empat Jenderlan TNI dalam 
kabinet Jokowi, yaitu Jenderal TNI Idrus Marham. Jenderal TNI Moeldopa, 
Jenderal TNI Agum Gumelar dan Masekal Madya Yuyu Sutisna. 

Menurut mengamatan saya Reformasi itu seharusnya dapat memunculkan suatu 
kekuasaan politik yang mewakili mayoritas golongan dalam masyarakat, yang 
didalamnya terangkum Kaum buruh dan tani sebagai kekuatan substansinya. Tapi 
sayangnya apa yang terjadi di era reformasi ini kekuasaan politik secara 
hakekat didalamnya terangkum kekuatan elemen-elemen oligarki mekonomi dan 
mantan jenderal-jenderal orde baru sebagai kekuatan substansinya. Pretanyaannya 
adalah : Dengan menempatkan kembali mantan jenderal-jenderal ordre baru itu 
dalam kekuasaan politik, apakah penomena seperti itu tidak berarti bahwa rezim 
reformasi telah melakukan ketidak sopanan dalam berpolitik ????? 

Dampaknya adalah kekuasaan politik disana masih bisa dimanipulasi oleh 
golongan-golongan yang tidak bisa dikatakan mewakili kepentingan yang sesungguh 
 dari Rakyat Indonesia secara keseluruhan.

Jadi kesimpulannya : Jangan lagi Indonesia dikatakan ada Demokrasi, kebebasan  
demokrasi saja adanya masih terbatas (cermatai UU MD 3), hasil karya DPR dan 
pemerintah Jokowi 2018.

Roeslan.

 

Von: temu_eropa@... <mailto:[email protected]> 

From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 

https://news.detik.com/berita/d-3929765/jokowi-tegaskan-demokrasi-harus-sejahterakan-rakyat?_ga=2.70270873.825254785.1521658377-446834336.1521658377

Kamis 22 Maret 2018, 01:05 WIB


Jokowi Tegaskan Demokrasi Harus 


Sejahterakan Rakyat


Ray Jordan - detikNews

 

Presiden Jokowi berbicara tentang demokrasi. (Rengga Sancaya/detikcom) 

Jakarta - Dalam Rapat Pimpinan Nasional II Partai Perindo, Presiden Joko Widodo 
berbicara tentang demokrasi. Jokowi menegaskan demokrasi itu harus berdampak 
pada kesejahteraan masyarakat.

Jokowi mengatakan, sebagai pelaku utama dalam demokrasi, partai politik dan 
politikus harus menunjukkan demokrasi menjadi mekanisme yang paling baik untuk 
membawa bangsa ini pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

"Demokrasi juga harus mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik dan menjadi 
pendukung penting bagi penguatan daya saing bangsa Indonesia," kata Jokowi 
dalam Rakernas II Perindo di Plennary Hall Jakarta Convention Center, Senayan, 
Jakarta, Rabu (21/3/2018) malam..


Baca juga:  
<https://news.detik.com/read/2018/03/21/233836/3929726/10/didukung-koalisi-gemuk-maju-pilpres-2019-jokowi-ya-mantaplah>
 Didukung Koalisi Gemuk Maju Pilpres 2019, Jokowi: Ya Mantaplah!


Jokowi mengatakan partai-partai politik dan para politikus juga harus membuat 
demokrasi yang mendukung tata kelola pemerintahan yang baik.. Juga harus bisa 
mengatasi persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

"Untuk mengatasi kemiskinan, untuk pemerataan kesejahteraan, untuk mendukung 
pertumbuhan ekonomi, dan untuk meningkatkan daya saing bangsa," katanya.

Jokowi pun mengingatkan, proses pemilu yang berlangsung setiap 5 tahun harus 
mendukung keberlanjutan pembangunan yang ada. Pilkada dan pemilu juga tidak 
boleh menginterupsi program-program pembangunan. 

"Jangan sampai karena pilkada dan pemilu justru kegiatan ekonomi tersendat, dan 
peningkatan kesejahteraan rakyat menjadi terganggu. Proses demokrasi, khususnya 
pilkada 2018 beserta Pileg dan Pilpres 2019, tidak boleh mengganggu momentum 
pembangunan nasional yang sedang kita lakukan," jelasnya.

Jokowi kembali mengingatkan soal pilkada, pileg, dan pilpres. Ditegaskan dia, 
kontestasi tersebut harus menjunjung tinggi etika dan tata krama. Kontestasi 
harus saling menghargai dan menghormati dan tidak saling mencemooh. 


Baca juga:  
<https://news.detik.com/read/2018/03/21/221531/3929624/10/jokowi-kritik-harus-dengan-data-lengkap-dan-beri-solusi>
 Jokowi: Kritik Harus dengan Data Lengkap dan Beri Solusi


"Perbedaan jangan mengganggu persatuan dan kesatuan. Perbedaan pendapat dan 
perbedaan pilihan itu biasa. Sekali lagi, harus menjunjung tinggi sopan santun 
dan adat ketimuran. Kita tidak saling menghujat dan mencemooh, tidak pula 
menyebar berita bohong dan ujaran kebencian," urai Jokowi.

Jokowi pun mengajak Partai Perindo serta seluruh parpol dan politikus untuk 
memfokuskan pada adu program dan prestasi dalam pilkada, pileg, serta Pilpres 
2019. Adu program dalam hal menyejahterakan rakyat, meningkatkan ekonomi, 
menjaga persatuan bangsa, hingga membawa Indonesia menjadi negara maju. 

"Marilah kita bekerja sama untuk meningkatkan kualitas demokrasi kita, membuat 
demokrasi yang menyejahterakan rakyat dan kebebasan politik yang santun, yang 
konstruktif, sesuai dengan adat istiadat bangsa kita Indonesia," tutupnya. 
(jor/elz)

 



Kirim email ke