Demi Naik Haji, Juru Parkir Rela Hanya Makan Nasi Garam 
https://www.suara.com/news/2018/03/29/185355/demi-naik-haji-juru-parkir-rela-hanya-makan-nasi-garam
 Reza Gunadha
 Kamis, 29 Maret 2018 | 18:53 WIB

 
 H Asnawi melakukan tanggungjawabnya sebagai juru parkir (Jukir) Taman Bungkul, 
Surabaya. [Achmad Ali]

 
 "Yang jelas per hari saya menabung Rp 2000-Rp 5000," kata Asnawi
 

 

 

 Suara.com - Asnawi, seorang juru parkir (Jukir) di Taman Bungkul 
https://www.suara.com/tag/taman-bungkul Surabaya 
https://www.suara.com/tag/surabaya tak menyangka bisa menunaikan ibadah haji 
untuk kali kedua.
 Berbekal kesabaran dan kesederhanaan, dia bisa mencium Hajar Aswat (Batu 
Hitam) yang menempel di dinding Kakbah bersama istrinya, Siti Maryam.
 Asnawi adalah seorang kakek kelahiran Sampang Madura 78 tahun silam. Dia nekat 
merantau ke Kota Pudak, Gresik tak lama setelah menikah.
 Di sana, dia memilih berdagang kaca mata untuk bisa bertahan hidup.
 
 
 

 
 




 



 
 BACA JUGA
 Merger BTPN dengan Bank Sumitomo Mitsui Masih Tahap Uji Tuntas 
https://www.suara.com/bisnis/2018/03/29/185039/merger-btpn-dengan-bank-sumitomo-mitsui-masih-tahap-uji-tuntas?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga
 BTPN Bagi Dividen Tahun 2017 Sebesar Rp574,5 miliar 
https://www.suara.com/bisnis/2018/03/29/184356/btpn-bagi-dividen-tahun-2017-sebesar-rp5745-miliar?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga
 Satu Jam, PSK Apartemen Kalibata City Patok Tarif Rp850 Ribu 
https://www.suara.com/news/2018/03/29/184304/satu-jam-psk-apartemen-kalibata-city-patok-tarif-rp850-ribu?utm_source=desktop&utm_medium=BacaJuga
 Kesederhanaan di rumah kontrakan, menjadi pilihan Asnawi demi bisa menjalankan 
Rukun Islam ke 5.
 Bahkan, untuk menyisihkan uang hasil jerih payahnya demi berhaji, dia rela 
makan nasi dan garam saja.
 "Untuk bisa naik haji https://www.suara.com/tag/naik-haji, saya harus menabung 
setiap hari. Per hari tidak pasti besaran yang saya tabung. Yang jelas per hari 
saya menabung Rp 2000-Rp 5000," kata Asnawi saat ditemui Suara.com di tempat 
kerjanya, Taman Bungkul, Surabaya.
 Karena memiliki tekad kuat untuk menunaikan haji, Asnawi berpesan pada 
istrinya untuk tidak berfoya-foya.
 Istri Asnawi tidak pernah protes dan menuntut lebih selama hidup bersamanya.
 "Alhamdulillah istri saya patuh terhadap perintah saya, dan tidak pernah 
menuntut lebih," terang Asnawi.
 Alhasil, setelah uang terkumpul, pada tahun 1990, Asnawi berangkat ke Arab 
Saudi untuk beribadah haji bersama istrinya. Sesampainya di mekah, Asnawi 
mengakui menangis bahagia bisa tercapai keinginannya.
 Selepas haji, Asnawi memilih tinggal di Surabaya untuk menjadi juru parkir di 
Taman Bungkul, atas ajakan keponakannya.
 Ia menceritakan, setelah menetap kurang lebih 3 tahun, Asnawi bertemu dengan 
orang etnis Tionghoa. Dia mengaku didatangi warga Pecindilan itu untuk meminta 
bantuan menjadi mualaf.
 "Dia mendatangi saya untuk meminta dipertemukan pada seorang kiai. Dia 
bermaksud masuk Islam. Dia menjanjikan ke saya, setelah masuk Islam akan 
memberangkatkan saya dan istri berhaji," cerita bapak satu anak ini.
 Janji itu dipenuhi. Pada tahun 1993, Asnawi dan istrinya kembali naik haji 
untuk kali kedua.
 "Saya tidak menyangka bisa kembali ke Mekah untuk kedua kalinya. Saya sangat 
bahagia," aku Asnawi yang terlihat matanya berkaca-kaca.
 Nasib Asnawi semakin hari semakin mujur. Kini Asnawi telah diangkat menjadi 
pegawai pemerintah di bidang perparkiran. Gaji yang diterimanya per bulan sudah 
sesuai nilai UMK Kota Surabaya.
 
 "Sekarang enak, tidak kayak dulu. Sudah 3 bulan ini saya menerima gaji 
bulanan. Senang sekali," tambahnya. [Achmad Ali]
 

Kirim email ke