https://koransulindo.com/kisah-tiongkok-sosialis-vs-tiongkok-kapitalis-imperialis/
Kisah Tiongkok Sosialis vs Tiongkok Kapitalis-Imperialis

17 April 2018

   -


<https://koransulindo.com/wp-content/uploads/2017/07/Foto-Untuk-Budaya.jpg>Tatiana
Lukman (penulis) bersama Sobron Aidit, istri dan tiga kawan lainnya di
depan hotel dalam salah satu kunjungan di Tiongkok. Tercerminkah wajah
orang-orang yang “dihukum”, “disiksa” dan “sasaran” RBKP? [Foto:
Dokumentasi Pribadi]

*Koran Sulindo* – Seorang teman memberi tahu tentang tulisan wartawan Irfan
Teguh dengan judul *Cerpen yang Memicu Perdebatan Lama tentang Trotskyisme*..
Tidak menyangka kritik terhadap cerpen *Melarung Bro di Nantalu* yang saya
tulis lebih dari enam bulan lalu menarik perhatian reporter *Tirto.id*.

Kudeta merangkak yang disertai pembantaian, penghilangan paksa, penyiksaan
dan pemenjaraan jutaan rakyat tak berdosa telah menegakkan kediktatoran
militer fasis Soeharto. Perubahan drastis dalam haluan politik negara
Indonesia telah membuat ribuan orang Indonesia yang ketika itu ada di luar
negeri dan setia kepada pemerintah Soekarno tidak bisa pulang ke Tanah Air.
Sejumlah besar dari mereka kebetulan berada di Tiongkok. Jumlahnya
bertambah besar dengan kedatangan mereka yang tinggal di Uni Soviet dan
negeri-negeri Eropa Timur.

Sejak pertengahan 60-an, rakyat Tiongkok di bawah pimpinan Mao melancarkan
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Tesis Mao yang mendasari RBKP
adalah kontradiksi dan perjuangan kelas masih ada dalam periode transisi
sosialis yang akan makan waktu panjang. Kemenangan sosialisme belum
definitif, maka perlu meneruskan revolusi di bawah kondisi kediktaturan
proletariat.

Pengkhianatan kaum revisionis modern Uni Soviet kepada sosialisme sejak
Kongres Partai Komunis Uni Soviet ke-20, pada 1956, telah membuat rakyat
berbagai negeri berpaling kepada Tiongkok sebagai sumber inspirasi
perjuangan melawan neo-kolonialisme dan imperialisme. Klik revisionis
modern Khrushchov telah mengakhiri peran Uni Soviet sebagai sumber
inspirasi dan dukungan bagi perjuangan rakyat sedunia untuk pembebasan
nasional dan keadilan sosial. Ini tercermin dalam sikap Uni Soviet yang
tidak mengutuk kudeta militer Soeharto 1965. Inilah salah satu sebab
timbulnya arus orang Indonesia meninggalkan Uni Soviet dan negeri Eropa
Timur lainnya menuju pusat revolusi dunia ketika itu: Peking (Beijing).

Selama satu dekade berlangsungnya RBKP, semangat berontak kaum muda
Tiongkok melawan kaum revisionis di dalam partai dan pemerintah yang
mengambil jalan kapitalisme telah menginspirasi dan mendorong kaum pemuda
di berbagai negeri untuk terjun dalam perjuangan mendobrak sistim yang
berdasarkan pada penghisapan dan penindasan guna membangun hari depan
sosialis.

Kalau mereka yang tidak langsung menyaksikan RBKP saja bisa merasakan
pengaruh revolusionernya, apa lagi orang-orang asing yang tinggal di
Tiongkok. Adalah normal kalau gelombang belajar pikiran Mao Zedong juga
menyentuh masyarakat asing yang tinggal di berbagai kota di Tongkok. Itulah
periode yang saya gunakan untuk mengenal dan mempelajari karya Mao.
Berakhir periode belajar dan tidak ada lagi kemungkinan untuk menimba
pengetahuan lebih jauh, maka saya tinggalkan Tiongkok.

Bahaya restorasi kapitalis sudah dicanangkan Mao selama RBKP berkobar.
Bahaya itu tidak datang dari serangan kaum imperialis, melainkan dari dalam
Partai Komunis Tiongkok. Mao meninggal 9 September 1976. Kemudian, 6
Oktober 1976, kudeta dilakukan oleh komplotan Hua Guofeng, Marsekal Ye
Jianying, Jenderal Wang Dongxing, Li Xiannien dan pejabat tinggi partai dan
tentara lainnya. Jiang Qing, istri Mao dan anggota politbiro, Zhang
Chunqiao, wakil perdana menteri, Wang Hongwen, wakil ketua PKT dan Yao
Wenyuan, anggota politbiro diundang untuk menghadiri rapat
politbiro.Ternyata sebuah perangkap untuk menangkap keempat pemimpin dan
pengikut setia garis revolusioner Mao.

Segera setelah itu, dimulai gelombang penangkapan dan persekusi terhadap
hampir semua pengikut Mao yang mencapai puluhan juta. Mereka ditangkap dan
dianiaya dengan kejam. Ambil contoh di Provinsi Zhejiang, dari 1976 sampai
1980, semua wakil rakyat yang duduk dalam pimpinan di berbagai tingkat, tak
perduli dari massa, tentara, kader veteran partai, aktivis akar rumput di
tim produksi desa menjadi sasaran persekusi dan penangkapan. Aktivis RBKP
yang ditangkap dan dianiaya mencapai lebih dari empat juta orang. Di
wilayah Taizhou, hanya di lembaga pemerintah, dua orang ditembak, 11 orang
bunuh diri, 23 orang dijatuhi hukuman penjara, 50 orang dipecat dari
partai, 3.200 guru dipecat dari pekerjaannya. (*The Paris Commune in
Shanghai: the Masses, the State, and Dynamics of “Continuous Revolution”
oleh Hongsheng Jiang*)

Sejak klik revisionis yang dipimpin Deng Xiaoping memegang kekuasaan dalam
partai dan negara, dimulailah reformasi kapitalis yang setahap demi setahap
menghancurkan basis ekonomi sosialis yang sudah dibangun rakyat Tiongkok di
bawah pimpinan Mao. Perubahan watak kelas Partai Komunis tercermin dalam
kebijakan dan keberpihakannya. PKT di bawah pimpinan Mao adalah partai
kelas buruh dengan kaum tani sebagai sekutu terpercaya dan terdekat. Mao
tidak takut massa berdemonstrasi atau buruh mogok, malah mendorong mereka
untuk mengeluarkan pendapatnya dengan bebas. Mao tidak akan pernah
mengizinkan Tentara Pembebasan Rakyat menindas aksi protes di lapangan
Tiananmen 1989.

Sebaliknya, PKT di bawah Deng Xiaoping berpihak kepada kaum kapitalis untuk
melakukan pengisapan terhadap kaum buruh dan kaum pekerja lainnya. Kaum
buruh dan kaum tani yang berani menuntut hak-haknya, kaum Maois yang
mendirikan grup-grup studi Marxisme-Leninisme dan Fikiran Mao Zedong
mengalami penindasan dan persekusi.

Orang-orang Indonesia yang mendapat perlindungan pada zaman Mao, begitu
Deng berkuasa, dihadapkan pada pilihan: kalau ingin terus tinggal di
Tiongkok, dilarang melakukan kegiatan politik. Kalau masih mau berpolitik,
akan dibantu untuk meninggalkan Tiongkok. Deng tahu bahwa orang-orang ini
tinggal di Tiongkok karena pilihan politik, bukannya karena mau berturisme.
Deng ingin menunjukkan kepada Jenderal fasis Soeharto kesediaannya untuk
memulihkan hubungan diplomatik melalui tindakan mengusir orang-orang
komunis dan progresif dari negerinya.

*Kisah Bro di Cerpen Martin*
Sampailah akhirnya kita pada cerita si Bro di cerpen Martin Aleida yang
saya kritik karena pemutarbalikan fakta dan fitnah terhadap Tiongkok
sosialis dan Mao Zedong yang telah mengulurkan tangan solidaritasnya kepada
orang-orang Indonesia yang menentang kudeta militer Soeharto. Bro termasuk
mereka yang meninggalkan Tiongkok setelah Deng berkuasa. Kalau mau membenci
Tiongkok, bencilah Tiongkok kapitalis Deng yang telah mengusirnya. Jangan
mencampur aduk Tiongkok sosialis dengan Tiongkok kapitalis-imperialis!

Sejak tinggal di negeri Belanda, bergaul dan turut serta dalam berbagai
kegiatan yang diselenggarakan komunitas Indonesia, perlahan-lahan saya
menjadi sadar akan perubahan sikap dan pikiran orang-orang yang dulu
ideologinya (saya anggap) sudah tinggi dan punya kedudukan tertentu dalam
organisasinya, dibanding dengan saya yang tidak tahu apa-apa.

Ketika terjadi pembantaian pada 1965/66, tak terhitung jumlahnya mereka
yang mengalami penyiksaan kejam di tangan para algojo sadis. Tak heran
mereka yang tak tahan siksaan akhirnya mengkhianati keyakinan dan
kawan-kawannya. Ternyata itu tidak terjadi di Indonesia saja. Tanpa
mengalami kelaparan, kedinginan, atau siksaan, dengan suka rela sementara
orang bersedia *to sell his soul to the devil*.

Kebohongan seperti yang diceritakan di *Melarung Bro di Nantalu*, saya
temukan juga dalam wawancara Agam Wispi yang dimuat majalah *Tempo*. Begini
fiksi Agam: ”Kami pergi ke desa-desa menjalani re-edukasi. Kami disuruh
mengangkat tahi dengan tangan. Banyak yang diserang disentri dan lever.
Bersama beberapa kelompok saya berontak.”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Seperti Bro, Agam Wispi juga pernah
tinggal satu kompleks dengan saya. Saya kenal sekali Agam Wispi. Setiap
hari ia selalu datang ke tempat Fransiska Fangiday yang tinggal satu gedung
dengan saya. Saya senang sekali mendengar cerita dan pengalaman mereka
dalam perjuangan. Di samping itu masih ada satu hal lagi yang mendekatkan
kami: musik klasik. Obrolan berhenti kalau Fransiska pasang plat Chopin
piano concerto Nomor 1. Sekeliling kami terasa sunyi, hanya terdengar
alunan piano. Sesekali terdengar bisikan tante Siska: “aduuuh, manisnya.”

Saya jadi bertanya-tanya kapan Agam dipaksa angkat tahi dengan tangannya?
Siapa yang kena disentri? Tak sekalipun saya dengar ada kawan yang kena
disentri. Memang di antara orang Indonesia ada yang sakit lever. Tapi
penyakit itu tidak didapatnya di Tiongkok atau disebabkan karena kerja
keras, makan kurang dan angkat tahi di Tiongkok. Bisa jadi ditemukan
penyakit itu ketika sudah di Tiongkok, tapi sebetulnya di Indonesia sudah
kena lever, tapi tidak ketahuan.

Dan itu logis. Mana ada aktivis politik yang makanannya bergizi dan hidup
sehat? Jangan lupa ketika itu ada orang-orang Indonesia yang memang datang
ke Tiongkok untuk berobat. Delegasi orang sakit. Bukan hanya sakit lever.
Ada yang sakit paru-paru, diabetes dan sebagainya. Saya tidak tahu penyakit
apa saja yang mereka derita. Yang jelas perhatian tak kurang kepada mereka
yang sakit. Juga tersedia sanatorium.

Kemudian tentang re-edukasi. Apa bentuk re-edukasi yang dimaksud Agam? Yang
jelas kami sering diundang berkunjung ke desa untuk mendengarkan cerita
bagaimana kaum tani turut serta dalam perjuangan kelas dan belajar Fikiran
Mao Zedong. Kemudian diundang nonton opera Peking, balet, sendratari,
konser piano dengan tema-tema baru yang lahir dalam RBKP. Tidak ada paksaan
untuk menerima undangan ini. Siapa yang tak tertarik, bisa saja tinggal di
asrama. Ketika itu sedang terjadi perubahan besar untuk merevolusionerkan
seni dengan menampilkan buruh, tani dan prajurit sebagai tokoh-tokoh
utamanya. Mereka bahagia dan bangga dikunjungi orang asing yang mendukung
Revolusi yang sedang mereka lancarkan. Apakah ini yang dimaksud re-edukasi?

Agam bicara tentang pemberontakan. Saya tertawa terbahak-bahak ketika
membaca Agam berontak. Berontak melawan siapa? Ia meninggalkan Tiongkok dan
tunduk kepada orang-orang revisionis di Republik Demokratik Jerman.
Padahal, ketika itu, pada umumnya orang Indonesia yang tinggal di Tiongkok
sangat anti-revisionis, termasuk Agam. Tapi, demi izin tinggal di Jerman
Timur, ia buang “anti-revisionisnya”. Sementara itu, orang-orang yang
anti-revisionis, berbondong-bondong pergi ke Tiongkok. Maka itu timbul
pertanyaan, Agam berani berontak melawan siapa?

Semua orang berhak meninggalkan keyakinan dan cita-cita yang pernah dianut
dan diperjuangkannya. Yang memuakkan dan lebih lanjut merendahkan diri
mereka sendiri adalah perbuatan menyebar kebohongan, fitnah dan
pemutarbalikan fakta. Apakah sebuah tindakan terpuji mengejar kemenangan
sayembara dengan menggunakan penderitaan orang yang dulunya satu barisan?
Tatiana tidak menarik buat Martin Aleida karena menolak menceritakan kisah
hidupnya untuk kemudian dijadikan objek guna lebih lanjut mengharumkan
namanya. *[Tatiana Lukman]*

Kirim email ke