Redaksi Nama Tionghoa untuk Zarra Zetira
Oleh: Dahlan Iskan
SENIN, 23 APR 2018 17:49 | EDITOR : EBIET A. MUBAROK
 
Dahlan Iskan (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)


Berita Terkait
  a.. Imam Pindah di Mihrab Nabi
   
  b.. Dag-dig-dug Pemilu MalaysiaKomentar Zara Zettira, via Twitter. Kalau 
namaku jadinya bagaimana dalam huruf Chinese?

Komentar Disway: Zettira yang cantik, Anda serius ingin punya nama Tionghoa? 
Saya lihat ada empat pola pemberian nama di Tiongkok. Bagi yang lebih tahu, 
tolong koreksi saya.

Pertama: Yang memang punya nama Tionghoa. Kedua: Orang asing yang tanpa 
sepengetahuan mereka diberi nama Tionghoa. Ketiga: Orang asing yang minta 
diberi nama Tionghoa. Seperti Anda ini. Atau seperti saya ini. Keempat: Orang 
Tionghoa yang ingin punya nama asing. Misalnya Robert Lai. Nama aslinya: Lai 
Chong Wing.

Pemberian nama itu dianggap luar biasa penting. Umumnya orang tua mereka yang 
memberi nama. Setelah konsultasi dengan orang pintar. Bahkan ada golongan yang 
fanatik: pemberian nama bayi adalah hak kakeknya. Bukan hak orang tuanya.

Nama itu umumnya terdiri dari tiga huruf Mandarin. Meski ada juga yang hanya 
dua huruf. Huruf pertama adalah marga. Misalnya Chen (陳) atau Li (李) atau Chang 
(張) atau Huang (黃) atau yang lain. Ada hampir 200 marga. Tapi itulah lima 
besarnya. Huruf kedua biasanya menunjukkan tingkatan dalam keluarga. Misalnya, 
jalur kakak/pakde lebih tinggi dari jalur adik/paman. Baru huruf ketiga 
benar-benar namanya.

Tapi untuk dua huruf terakhir itu harus dicarikan huruf yang bunyinya dan 
artinya naik. Seperti harapan. Atau doa. Misalnya nama saya: 余世甘€‚Huruf pertama 
itu marga. Saya dianggap dari marga 余(Yu – baca: I). Itu karena nama saya 
diawali dengan huruf I (Iskan).

Huruf kedua (世–/SHI – baca: se) artinya jagat raya. Huruf ketiga (甘”˜/GAN – 
baca: kan) artinya manis. Bunyi nama Mandarin saya menjadi Isekan. Mirip nama 
asli saya. Artinya pun bagus: jagat yang manis. Atau menyebar rasa manis ke 
seluruh dunia.

Kelompok kedua, orang asing yang diberi nama Mandarin. Ini unik. Orang Tiongkok 
sangat sulit mengucapkan nama-nama orang asing. Dan lagi tidak ada huruf yang 
bunyinya bisa mengakomodasikan nama orang asing. Maka surat kabar, radio, tv, 
internet, memberi nama Mandarin untuk semua orang yang mereka beritakan. Anda 
tidak akan menemukan nama Donald Trump atau Meryl Streep atau Liverpool di 
koran-koran Tiongkok.

Kalau di koran ada tulisan 特朗普itulah nama Donald Trump. Kalau dieja bunyinya: 
Te Lang Pu. Kalau di koran ada tulisan 利物浦 itu bunyinya: Li Wu Pu. Maksudnya: 
Liverpool. Siapakah pencetak gol terbanyak Liga Inggris dari Li Wu Pu? Dialah 
沙拉赫/ Sa La He. Maksudnya Mohamad Salah. Yang sudah cetak gol sebanyak 30 untuk 
Li Wu Pu.

Tapi nama bintang film terkemuka Holywood ini ditulis sampai tujuh huruf: 
梅丽尔·斯特里普 / Mei Li Er Si Te Li Pu. Tidak perlu mikir panjang. Itulah nama 
Mandarinnya bintang kesayangan saya: Meryl Streep.

Halooooo…. Zettira….. apakah Anda masih ingin saya beri nama Mandarin? Kalau 
mau, inilah nama Anda: 蔡蒂亚 . Tulisan latinnya: Cai Ti Ya. Artinya: Ratu. 
Nah, Zettira lewat nama itu Anda jadi ratu.

Komentar Diva Jakarta via WhatsApp

Saya kok membayangkan tulisan pembayaran aneka transaksi menggunakan HP. Saya 
yakin kelak yang namanya aneka kartu di Indonesia akan sirna (daripada 
menuh-menuhin dompet). Saat ini masih okelah warga Indonesia menjejali 
dompetnya dengan aneka kartu kredit, debit, tol, member aneka to/mall, kartu 
busway, KRL (bentar lagi kartu MRT) dan sebagainya.

Saya lihat pak Yusuf Mansur mulai menggerakan umat Islam utk membeli saham BRI 
Syariah. Beliau sukses dengan Paytren-nya dan bentar lagi e-money diizinkan 
sama Allah utk beredar di Indonesia. Sedih kan ya. Kapan kita berdaulat secara 
ekonomi kalau kita gak gerak?

Komentar Disway

Diva, kita tunggu pemerintah. Kapan siap dengan peraturan bidang itu. Saya 
dengar langkah Ustad Yusuf Mansyur juga terhambat. Belum adanya peraturan. 
Beliau menghentikan beberapa rencana. Agar tidak melanggar hukum.

Saya malu setiap makan di mal di Tiongkok. Setelah duduk di kursi kok tidak ada 
pelayan yang datang. Tengok sana tengok sini. Abai. Terpaksa panggil pelayan. 
Minta menu. Pelayan menunjuk pojok meja. Di situ ada tertempel barcode.

Oh… maksudnya… agar saya cukup memotret barcode itu. Dengan HP. Menu akan 
tersaji di layar HP. Tinggal pilih. Klik. Pilih klik. Otomatis dapur akan 
mengerjakan pesanan via HP itu. Harganya pun sudah tertera di layar. Lengkap 
dengan total yang harus dibayar. Klik. Bayar di situ pula.

Bingung sendiri melihat tetangga meja mengorder makanan dan bayar dengan 
handphone-nya.  Saya lihat kian banyak restoran yang seperti itu. Tentu masih 
ada yang belum. Tapi wabah barcode di pojok meja itu sangat merajalela. Diva, 
kita tunggu bersama ya…(dis)

(bj/*/bet/JPR)

Kirim email ke