https://nasional.tempo.co/read/1088154/tragedi-trisakti-dan-cerita-diktat-bernoda-darah-
hafidhin-royan?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_1
Tragedi Trisakti dan Cerita Diktat Bernoda Darah
Hafidhin Royan
Reporter:
Caesar Akbar
Editor:
Juli Hantoro
Sabtu, 12 Mei 2018 14:20 WIB
Suasana kamar Hafidhin Royan di rumahnya, Jalan Sirnagalih, Kota
Bandung, 29 April 2018. Tempo/Caesar Akbar
<https://statik.tempo.co/data/2018/05/12/id_704901/704901_720.jpg>
Suasana kamar Hafidhin Royan di rumahnya, Jalan Sirnagalih, Kota
Bandung, 29 April 2018. Tempo/Caesar Akbar
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Kamar itu masih seperti 20 tahun lalu saat
Tragedi Trisakti
<https://nasional.tempo.co/read/1088027/tragedi-trisakti-peristiwa-kelam-yang-terus-membayang>pecah.
Buku-buku dan diktat kuliah Hafidhin Royan tersimpan rapi di lemari.
Sunarmi Junus kemudian menunjuk satu buku yang terdapat noda berwarna
coklat. “Itu buku terakhir yang dia bawa, warna coklat di diktat itu
bercak darah,” ujar Sunarmi saat menemani Tempo melihat kamar anaknya di
Jalan Sirnagalih, Bandung, Jawa Barat beberapa waktu lalu. Hafidhin
Royan adalah mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas Trisakti yang
gugur ditembus peluru aparat saat aksi unjuk rasa 12 Mei 1998 lalu.
Tragedi Trisakti itu memukul keluarga Sunarmi Junus. Ayah Hafidhin,
Enus Junus, menjadi orang yang sangat terpukul atas kematian anaknya
yang ditembak aparat. Sebagai seorang pegawai negeri saat itu, Enus yang
telah lama mengabdi pada negara harus menghadapi kenyataan pahit:
Anaknya dibunuh justru oleh aparat negara.
Huda Nurjanti, kakak Hafidhin Royan berkisah, sejak Tragedi Trisakti
yang menewaskan 4 mahasiswa termasuk sang adik, bapaknya itu kerap
mengliping berita. Ia pun rajin merawat kamar anaknya. Semua barang
milik anak lelaki satu-satunya di keluarga itu dia pajang. "Awalnya,
hanya untuk dinikmati oleh Bapak, hingga akhirnya tersebar dari mulut ke
mulut oleh orang-orang," kata Huda.
Baca juga: 20 Tahun Reformasi: Halte 12 Mei Pengingat Tragedi Trisakti
<https://metro.tempo.co/read/1087889/20-tahun-reformasi-halte-12-mei-pengingat-tragedi-trisakti>
Ibu Hafidhin Royan, Sunarmi Junus, 76 tahun di rumahnya, Jalan
Sirnagalih, Kota Bandung, 29 April 2018. Tempo/Caesar Akbar
Kamar itu seperti bercerita tentang Tragedi Trisakti yang ikut
menghilangkan nyawa Hafidhin Royan. Peristwa 20 tahun lalu itu terpatri
dari foto-foto yang dipajang di sana. Sebuah pigura berisikan tulisan,
“Perjuanganmu akan kami teruskan sampai titik darah penghabisan”
terpampang di dinding berbaur dengan foto, lukisan, poster band,
tempelan kucing Garfield, pajangan mobil Volkswagen, hingga piagam milik
Hafidhin.
Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 lalu berawal dari unjuk rasa yang
digelar kampus biru itu untuk menuntut reformasi. Kondisi negara yang
saat itu sedang kritis dengan ekonomi yang hancur membuat mahasiswa
turun ke jalan untuk menuntut pergantian rezim. Mahasiswa Trisakti yang
turun ke jalan awalnya berunjuk rasa dengan damai. Mereka bahkan sempat
membagikan bunga kepada polisi yang berjaga.
Tapi saat matahari tergelincir di sore hari, suasana tiba-tiba berubah
chaos. Aparat keamanan menembakkan gas air mata dan peluru dari senjata
laras panjangnya. Heru P Sanusi, dosen Universitas Trisakti ingat betul,
bunyi desing peluru yang mengenai dinding kampus. Heru pun menjadi saksi
kebrutalan aparat yang menewaskan mahasiswanya. Ia mengangkat tubuh
seorang mahasiswa yang ditembak di bagian lehernya. Mahasisa itu
kemudian diketahui sebagai Hendriawan Sie yang kuliah di Fakultas Ekonomi.
Hendriawan menjadi korban bersama Hafidhin Royan, Elang Mulia Lesmana,
Heri Hartanto. Sunarmi meyakini Hafidhin Royan ditembak dengan peluru
tajam. "Lubang masuknya sebesar 0,6 sentimeter. Saat dibalik, batang
otaknya sampai tersembul," ujar ibu lima anak itu. Dia menyebut darah
itu mengenai ransel Hafidhin sebelum membercaki buku-buku di dalamnya.
Pada saat Tragedi Trisakti terjadi, Sunarmi tengah berada di Jakarta
karena Huda, kakak Hafidhin baru saja melahirkan. Ia mendengar peristiwa
itu melalui telepon dari seorang mahasiswa Trisakti. Sunarmi kemudian
meluncur ke Sumber Waras. Ia menemui anaknya telah terbujur kaku dengan
luka tembak di kepala.
"Ibu yang lain sempat pingsan, alhamdulillah saya masih diberi
kekuatan," tutur dia. Sunarmi sekeluarga akhirnya mengantar Hafidhin
untuk dimakamkan di belakang rumahnya di Bandung pada Rabu, 13 Mei 1998
sekitar pukul 06.00 WIB. Sebelum itu, jenazah Hafidhin telah terlebih
dahulu diotopsi dan disemayamkan di kampus Trisakti.
Wafatnya Hafidhin, kata Sunarmi, sangat memengaruhi suaminya. "Bapak dan
Pak Bagus (ayah Elang Mulya) stres berat karena meninggalnya anak kita,
itu sangat tampak," ujar dia. Hampir setiap menjelang tanggal 12 Mei
sang suami selalu merasa tak tenang. Sebab, setiap tahunnya kenangan
yang hampir dilupakan suaminya itu kembali tampak menjelang tanggal
tersebut.
Bahkan, Sunarmi merasa peristiwa itu pun memengaruhi alam bawah sadar
suaminya. "Pernah ketika kami sahur bersama, Bapak terus ngomong yang
aneh-aneh, memanggil Royan," tutur dia. Beban pikiran itu, ujar Sunarmi,
kemudian memengaruhi kesehatan suaminya hingga akhirnya sang suami
meninggal di usianya yang ke 64 tahun pada 2006 lalu.
Selain sang suami, Sunarmi menuturkan kematian Hafidhin juga memengaruhi
anak bungsunya, Hayyu Rakhmia, yang kala itu masih duduk di bangku kelas
1 Sekolah Menengah Atas. "Nilainya jadi banyak merahnya," kata dia.
"Biasanya kalau enggak bisa itu minta diajarin hafidin pas dia pulang."
Setelah 20 tahun reformasi, kasus meninggalnya empat mahasiswa Trisakti
masih menyisakan tanya. Pemerintah memang telah menghukum beberapa
polisi yang saat itu bertugas. Namun hingga kini tak diketahui dari mana
perintah penembakan itu berasal dan siapa pucuk pimpinan yang
bertanggung jawab.
Sunarmi geram, karena berbagai rekomendasi yang dikeluarkan tim gabungan
pencari fakta tragedy Trisakti tak ditindaklanjuti pemerintah. Harapan
sempat timbul di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Saat itu orang
tua korban Tragedi Trisakti diundang ke Istana untuk pemberian gelar
pejuang reformasi.
Suasana Malam Gelora, yang memperingati 20 tahun Tragedi Trisakti di
Kampus A, Grogol, Jakarta, 11 Mei 2018. TEMPO/Maria Fransisca Lahur.
Sunarmi mengatakan di sisa usianya, dia masih mengejar tanggung jawab
negara atas kematian sang anak. Hingga kini pemerintahan Joko Widodo,
Sunarmi tetap menagih janji presiden yang pada saat kampanye mengatakan
akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Baca juga: Prabowo Jenguk Ibunda Elang, Gerindra: Tak Terkait Trisakti
<https://nasional.tempo.co/read/1063469/prabowo-jenguk-ibunda-elang-gerindra-tak-terkait-trisakti>
Sayang memang, orang yang diminta menangani masalah ini adalah Menteri
Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Wiranto. Sunarmi mengatakan
Wiranto memang pernah mengajak bertemu para orang tua korban, namun saat
itu ia tak bisa hadir. Menurut Sunarmi, Wiranto yang saat itu menjadi
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang juga membawahi
Polri harusnya ikut bertanggung jawab. “Harusnya bertanggung jawab.”
Keinginan agar Wiranto bertanggung jawab atas Tragedi Trisakti
<https://foto.tempo.co/read/64881/cerita-halte-12-mei-reformasi-untuk-mengenang-tragedi-trisakti>juga
diungkapkan Lasmiyati. Ibunda Heri Hartanto itu mengatakan saat bertemu
dengan orang tua korban Wiranto berjanji akan membicarakan masalah
Tragedi Trisakti ini dengan Presiden Jokowi. Janji tinggalah janji.
Lasmiyati kini masih tetap menuntut pemerintah melaksanakan janjinya
mengungkap dalang penembakan di Trisakti. “Harusnya negara bertanggung
jawab,” kata dia sebelum berziarah ke makam anaknya di Tanah Kusir pada
Rabu 9 Mei 2018 lalu.