disita untuk dikorupsi..... 

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 Sita kekayaan Koruptor.......
 
 2018-05-28 3:06 GMT+02:00 ChanCT SADAR@... mailto:SADAR@... [GELORA45] 
<[email protected] mailto:[email protected]>:
   
 
 
 
 
 -------- 轉寄郵件 -------- 主旨: [GELORA45] Rakyat Malaysia Patungan Bayar Utang 
Negara, Indonesia Bisa? 日期: Sun, 27 May 2018 19:50:09 +0200 
 
 
 
 
 
 
 
   
 
 
 https://finance.detik.com/ moneter/d-4040837/rakyat- 
malaysia-patungan-bayar-utang- negara-i 
https://finance.detik.com/moneter/d-4040837/rakyat-malaysia-patungan-bayar-utang-negara-indonesia-bisa
 
 
 
 Minggu, 27 Mei 2018 14:00 WIB
 Rakyat Malaysia Patungan Bayar Utang 
 Negara, Indonesia Bisa? Hendra Kusuma - detikFinance
 
 
 
https://finance.detik.com/moneter/d-4040837/rakyat-malaysia-patungan-bayar-utang-negara-indonesia-bisa?_ga=2.251379077.2036978852.1527443272-1750492243.1527443272#komentar
 
 Halaman 1 dari 4 
 Foto: BBC World 
 
 
https://finance.detik.com/moneter/d-4040837/rakyat-malaysia-patungan-bayar-utang-negara-indonesia-bisa?_ga=2.251379077.2036978852.1527443272-1750492243.1527443272#komentar
 
 
 
  
 
  
 Jakarta - Setelah Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad mengambil 
keputusan untuk memotong gajinya dan para menteri kebinetnya, kini giliran 
warganya yang mengambil inisiatif menggalang dana untuk mengurangi utang negara.
 
 Mahathir menyebut akan memotong gaji kabinetnya sebesar 10% untuk mengurangi 
jumlah utang negaranya yang sebesar 1 triliun ringgit.
 
 Sedangkan warga Malaysia yang bernama Nik Shazarina Bakti memprakarsai aksi 
yang diberi nama 'Please Help Malaysia'. Dia mengampanyekan aksi tersebut lewat 
media sosial dan situs Go Get Funding.
 
 Dia menulis napak tilas bagaimana perjuangan warga Malaysia juga pernah 
bersatu membantu mewujudkan kemerdekaan Malaysia dari Inggris, melalui 
sumbangan yang diberikan. Terakhir dilihat, sudah ada sumbangan dari warga 
sebanyak US$ 3.633 dari target US$ 100.000 (sekitar Rp 1,4 miliar).
 
 Aksi tersebut mendapat perhatian putri Mahathir Mohamad, Marina Mahathir. Dia 
pun mengapresiasi dan ikut mendukung Shazarina. Menurutnya aksi itu menunjukkan 
betapa warga Malaysia begitu mencintai negara mereka.
 
 "Saya tahu banyak orang ingin membantu dengan utang besar kita. Ini 
menunjukkan betapa banyak orang Malaysia mencintai negaranya," tulisnya dalam 
postingan di Facebook.
 
 Tak hanya warga, anggota parlemen Malaysia pun ikut menyumbangkan gajinya ke 
Kementerian Keuangan. Nga Kor Ming, anggota parlemen Malaysia yang mewakili 
wilayah Teluk Intan mendonasikan gaji pertamanya untuk membantu pelunasan utang 
negaranya yang sebelumnya dipimpin Najib Razak.
 
 Lalu bagaimana hal tersebut juga diterapkan di Indonesia, mengingat jumlah 
utang pemerintah berjumlah Rp 4.180,61 triliun per April 2018. Apalagi, jumlah 
masyatakat Indonesia banyak sekitar 260 juta.
 
 Apakah Indonesia akan menerapkan kebijakan tersebut? Simak selengkapnya di 
sini: (zlf/zlf)
 
 
 Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima 
Yushistira menilai aksi yang dilakukan warga Malaysia cukup brilian.
 
 "Idenya cukup brilian dengan membuat crowdfunding pelunasan utang. Meskipun 
hasilnya tidak seberapa dibandingkan total utang pemerintah yang akan 
dilunasi," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, kemarin.
 
 Bhima mengatakan, penggalangan dana untuk melunasi utang juga menjadi bagian 
pencerdasan publik terutama generasi muda. Sebab, utang jangka panja bukan 
menjadi stimulus perekonomian melainkan menjadi beban ke depannya.
 
 "Karena utang adalah pajak yang ditunda, jika pemerintah berutang dalam jumlah 
besar sekarang, ke depannya akan dilunasi dari pajak generasi selanjutnya. Jadi 
model utang seperti itu harus dikurangi," terang Bhima.
 
 Dengan demikian, menurut Bhima, pemerintah bisa mempertimbangkan menggalang 
pendanaan seperti aksi warga Malaysia yang membantu pemerintahannya demi 
kurangi utang negara.
 
 "Indonesia harusnya bisa memulai hal yang sama, karena secara aplikasi fintech 
crowdfunding banyak pemain yang siap memfasilitasi," tutur dia.
 
 
 Pemerintah menilai aksi yang dilakukan warga Malaysia membantu mengurangi 
utang negaranya dengan melakukan penggalangan dana tidak perlu diikuti oleh 
masyarakat Indonesia. Staf Khusus (Stafsus) Presiden Joko Widodo Bidang Ekonomi 
Ahmad Erani Yustika kondisi ekonomi nasional dengan Malaysia pun menjadi salah 
satu hal yang mendasari tidak perlunya masyarakat mengikutinya.
 
 "Saya kira kasus di Indonesia dan Malaysia pasti tidak sama, dan data-data di 
Indonesia data ekonomi termasuk utang tidak ada yang mengkhawatirkan, sehingga 
seluruhnya masih bisa dikelola oleh pemerintah dengan menggunakan 
instrumen-instrumen yang biasa di gunakan," kata Erani saat dihubungi 
detikFinance pekan lalu.
 
 Erani mengungkapkan, pemerintah juga telah mengelola dan menjaga perekonomian 
sesuai APBN. Contohnya utang, rasionya terhadap produk domestik bruto (PDB) 
baru mencapai 29% atau masih jauh dari batas UU yang sebesar 60%.
 
 "Kembali kepada pertanyaan tadi, saya rasa tidak ada hal yang diperlukan oleh 
pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang di luar domain 
pemerintah itu, seperti yang dikerjakan di Malaysia," tambah dia.
 
 Menurut Erani, aksi masyarakat yang melibatkan pemerintah sejauh ini lebih 
pada isu-isu yang langsung menyentuh kepada masyarakat, mulai dari kesehatan, 
pendidikan, bukan pada soal utang pemerintah.
 
 "Kalau isu ekonomi itu masih ada dalam koridor kesanggupan pemerintah, toh 
pada akhirnya isu membayar utang dan seterusnya itu juga selama ini berasal 
dari warga misalnya dari disiplin membayar pajak," kata mantan Inspektur 
Jenderal Kementerian Desa PDTT itu.
 
 
 
 
 Komisi XI DPR mengajak masyarakat Indonesia agar tidak latah usai melihat aksi 
masyarakat Malaysia yang ingin membantu mengurangi beban utang. Anggota Komisi 
XI DPR Mukhamad Mibakhun mengatakan pemerintah Indonesia saat ini masih sanggup 
melunasi utang.
 
 Berdasarkan catatan Kementerian Keuangan utang pemerintah per April 2018 
mencapai Rp 4.180 triliun.
 
 "Indonesia tidak perlu latah dan ikut-ikutan cara Mahathir mengambil upaya 
populis," kata Misbakhun saat dihubungi detikFinance.
 
 Misbakhun menjelaskan utang pemerintah sudah dibahas dengan DPR. Dia juga 
menilai, aksi-aksi penggalangan tersebut juga menjadi suatu pembelajaran bagi 
masyarakat.
 
 "Seharusnya masyarakat di edukasi dengan benar bahwa ada aspek-aspek yang 
positif dan manfaat yang besar dari kebijakan utang yang diambil oleh negara 
seperti Indonesia dalam kebijakan utang sebagai salah satu sumber pembiayaan 
pembangunan," jelasnya.
 
 Sehingga, Misbakhun bilang, jika ingin mengatasi utang maka bukan hanya dengan 
saweran tetapi dengan membayar pajak kepada negara.
 
 "Jadi sebesar berapapun utang, negara tidak akan pernah negara meminta setiap 
individu warga negara untuk membayar utang negara karena mekanisme dan 
sistemnya sudah ada, yang utama adalah rakyat patuh dan taat dalam membayar 
pajak," tutur Misbakhun.
 (zlf/zlf) Kirim Kontribusi Seputar Mobil atau Truk Bermuatan Lebih di 
Sekitarmu ke pasangmata.com
 
 
https://newrevive.detik.com/delivery/ck.php?oaparams=2__bannerid=22220__zoneid=683__cb=ac4b8f946d__oadest=http%3A%2F%2Fpasangmata.detik.com%2Ftopic%2F56
 
 
 
 
 
 
 
 
 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 不含病毒。www.avg.com 
http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient
 #m_246193582519276072_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2
 
 
 
 
 




 

Kirim email ke