*Ratusan Pasien Inggris Tewas Akibat Kesalahan Rumah Sakit*
*CNN International*, CNN Indonesia | Jumat, 22/06/2018 05:09 WIB
Ratusan Pasien Inggris Tewas Akibat Kesalahan Rumah SakitIlustrasi
kematian. (Thinkstock/Fergregory)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kerabat dari 450-an pasien yang tewas karena
kelebihan obat saat dirawat di rumah sakit menuntut
pemerintah*Inggris*<https://www.cnnindonesia.com/tag/inggris>untuk
mengakui kesalahan di balik kematian mereka.
Laporan yang dipublikasikan oleh sebuah panel independen pada Rabu
(20/6) menyimpulkan bahwa seorang dokter di Gosport War Memorial
Hospital bertanggung jawab atas kebijakan memberi penawar rasa sakit
dengan dosis kuat pada pasien lanjut usia hingga menewaskan ratusan orang.
"Ada pengabaian jiwa manusia dan budaya memperpendek nyawa banyak
pasien," bunyi laporan itu, menambahkan bahwa kebijakan rumah sakit itu
dilakukan "tanpa pembenaran medis."
Ibu dari Ann Reeves, Elsie Devine, dirawat di rumah sakit karena infeksi
saluran urin dan jadi salah seorang pasien yang meninggal dunia dalam
perawatan. Dia meninggal dunia empat pekan setelah dirawat dan Reeves
meyakini kematian itu akibat dosis tinggi.
Lihat juga:
Kekhawatiran Imigrasi Picu Krisis dalam Politik Barat
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180621124229-134-307799/kekhawatiran-imigrasi-picu-krisis-dalam-politik-barat/>
"Obat itu bisa membunuh Anda, bisa membunuh siapapun," ujarnya
kepada/CNN
<https://edition.cnn.com/2018/06/21/health/gosport-hospital-opioid-deaths-intl/index.html>/.
"Dia (Elsie Devine) tak punya kesempatan."
Laporan panel independen menduga Jane Barton, dokter sekaligus asisten
klinik yang mengunjungi bangsal setiap hari, adalah orang yang
bertanggung jawab atas kebijakan ini. Selama 11 tahun, dari 1989 hingga
2000, setidaknya 456 orang meninggal dunia setelah diberi diamorphine,
heroin sintetis, sebagai penawar rasa sakit.
Selai itu, sekitar 200 pasien juga diduga meninggal lebih dini karena
obat-obatan yang diberikan perawat di bangsal, di bawah arahan Barton.
Barton dinyatakan bersalah atas "kesalahan profesional serius" dan
dikecam atas kegagalan merawat 12 pasien antara 1996 hingga 1999. Namun,
dia tak pernah didakwa, berkeras dirinya selalu memprioritaskan
kepentingan pasiennya.
"Sepanjang karir saya, saya selalu mencoba yang terbaik untuk seluruh
pasien dan hanya memenuhi kepentingan dan kesehatan mereka sepenuh
hati," ujarnya dalam pernyataan 2010 silam. Dia pensiun tak lama setelahnya..
Lihat juga:
Keluarga Kerajaan Inggris Gelar Pernikahan Sesama Jenis
<https://www.cnnindonesia.com/internasional/20180619111704-134-307199/keluarga-kerajaan-inggris-gelar-pernikahan-sesama-jenis/>
Laporan panel independen mengklaim rumah sakit, pihak berwenang lokal
dan nasional, gagal bertindak "melindungi pasien dan kerabat." Ini jadi
pembenaran parsial bagi Reeves yang telah mencari kebenaran selama 19 tahun..
Namun, dia menyatakan tak akan menyerah hingga pemerintah mengakui
perannya dalam tragedi ini.
"Saya adalah suaranya sekarang, dan saya tak akan berhenti, hingga
seseorang di pemerintahan, di Departemen Kesehatan, bisa menenangkan
saya dan berkata, 'ini alasan kami memberi ibu Anda obat tersebut'."
Pada Rabu, Menteri Kesehatan Inggris Jeremy Hunt meminta maaf "atas nama
pemerintah dan NHS (Badan Kesehatan Nasional)" atas kematian yang terjadi.
*(aal)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com