Fahri Hamzah Tolak Anies Baswedan Jadi Capres di 2019, Kenapa?

Reporter:


       M Rosseno Aji

Editor:


       Dwi Arjanto

Rabu, 11 Juli 2018 03:38 WIB

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai menjalani pemeriksaan lanjutan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Rabu, 2 Mei 2018 TEMPO/Andita RahmaWakil Ketua DPR Fahri Hamzah usai menjalani pemeriksaan lanjutan di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Rabu, 2 Mei 2018 TEMPO/Andita Rahma

*TEMPO.CO*,*Jakarta*-Wakil Ketua DPRFahri Hamzah <https://metro.tempo.co/read/1101171/batal-cabut-laporan-presiden-pks-ini-kata-fahri-hamzah>memilih tidak setuju Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mencalonkan diri sebagai presiden. Dia mengingatkan Anies soal gelaran Pilkada DKI Jakarta 2017 yang menurut dia berdarah-darah.

"Saya merasa rakyat Jakarta janganlah dipermainkan seperti ini. Pilkada DKI yang lalu berdarah-darah. Bacalah tanda-tanda zaman, jangan lupa," kata dia lewat laman Twitternya @Fahrihamzah, Selasa, 10 Juli 2018.

*Baca :Fahri Hamzah Batal Cabut Laporannya, Presiden PKS Tidak Berkomentar <https://nasional.tempo.co/read/1101054/fahri-hamzah-batal-cabut-laporannya-presiden-pks-tak-komentar>*

Fahri Hamzah mengatakan tidak setuju Anies mencapreskan diri seperti saat dia menolak Joko Widodo mencalonkan diri menjadi presiden pada 2014. Dia mengatakan jangan mempermainkan rakyat Jakarta.

"Saya tidak setuju @aniesbaswedan maju jadi capres, sederhana karena saya dulu tidak setuju @jokowi meninggalkan jabatannya di Jakarta," kata dia.

Sebelumnya, nama Anies digadang-gadang maju sebagai capres oleh partai yang membesarkan nama Fahri yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sementara, Partai Gerindra berwacana mengusulkan Anies maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

Fahri<https://nasional.tempo.co/read/1101054/fahri-hamzah-batal-cabut-laporannya-presiden-pks-tak-komentar>Hamzah <https://nasional.tempo.co/read/1101054/fahri-hamzah-batal-cabut-laporannya-presiden-pks-tak-komentar>tidak menjelaskan maksud dia soal Pilkada Jakarta yang berdarah-darah. Namun, seperti diketahui gelaran Pilkada DKI 2017 diikuti oleh gelombang unjuk rasa yang menuntut calon Gubernur inkumben Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dipenjara karena dianggap menista agama Islam.



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke