Iyaa juga, bung Djie, ... mestinya ada aturan ketat bagai transportasi barang-barang yang mudah terbakar, dan mungkin tidak ditaati dengan baik oleh kapal "Dwikora" dari PELNI ini, jadi disini khususnya tanggungjawab NAKODA! Salah-salah saat angkut kendaraan bermotor keatas kapal juga tidak mengosongkan tank-bensin? Lalu didek kapal juga tidak ditaroh tabung-tabung pemadam kebakaran??? Jadi, begitu terjadi kebakaran kalang-kabut entah gimana menanganinya, ... Tapi yaah, akhirnya juga dibayar dengan nyawanya sendiri, sungguh apeees!

Salam,

ChanCT



kh djie [email protected] [GELORA45] 於 27/7/2018 12:49 寫道:
Bung Chan,
Di tempat2 yang kemungkinan  terjadi kebakaran harus disediakan alat pemadam kebakaran
dan juga saluran air dengan slang pemadam kebakaran.
Yang sering terjadi :
Di tempat mobil2 dan kendaraan diparkir, meskipun mesin dimatikan. Bisa saja terjadi kortsluiting dalam kendaraan, dan kalau terjadi kebakaran dapat menjalar cepat ke kendaraan lain. Jadi di sini harus disediakan banyak alat pemadam kebakaran yang mudah disemprotkan. Ada macam2 type dari penyemprotan dengan CO2, ada yang dengan busa dll. Kalau sekarang dipasangi detektor, yang langsung membuat alarm berbunyi, dan air otomatis menyemprot dari atas, dan penjaga dari suatu ruangan bisa langsung mengetahui tempat kebakaran.Kalau jaman dulu ya mestinya di tempat2 tsb. ada orang yang jaga. Prinsipnya, begitu timbul kebakaran, harus langsung dipadamkan sebelum
menjalar ke mana-mana, yang akan sulit dipadamkan.
Di Kamar mesin, sering terjadi kortsluiting. Ini haus langsung dipadamkan.
Di kamar penumpang. Di lorong harus disediakan beberapa pemadam kebakaran, juga slang air bertekanan tinggi dan pipa2 saluran air, dan alarm yang bisa distart untuk memberitahu adanya kebakaran. Jaman sekaang ruangan dan kamarq2 dilengkapi detector. Begitu terjadi kebakaran, ada asap, langsung detector berfungsi. Di perusahaan dulu, semua orang dilatih untuk mmadamkan kebakaran kecil, tiga bulan sekali. Alat2 pemadam kebakaran dicheck. Lha, kalau tidak dilatih, ada alatnya, tetapi tidak tahu cara pakainya.Perusahaan juga punya mobil pemadam kebakaran dan punya anggota pemadam kebakaran yang terlatih. Perusahaan juga kerjasama
dengan perusahaan2 lain, untuk saling bantu kalau terjadi kebakaran.
Di samping itu pemadam kebakaran dari perusahaan bisa dipangil oleh pemadam kebakaran dai kotapraja untuk
bantu memadamkan kebakaran besar.
Juga ada kejelasan, kalau terjadi kebakaran, kita harus mengungsi, kumpul di mana, siapa yang harus mematikan
saluran gas. Lift tidak boleh dipakai dll.

2018-07-27 2:16 GMT+02:00 ChanCT [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]>>:

    Bung Yono yb,

    Saya tidak berhasil menangkap apa maksud komentar yang bung ajukan
    itu, ... "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang
    Jenderal Soeharto"? Dimana sang nakoda berada?

    Atau mungkin hanya karena saya belum baca buku "Neraka di Laut
    Jawa" jadi tidak tahu dimana masalahnya?

    Tapi, dari pemberitaan dibawah, "Kapal Dwikora" tenggelam karena
    terjadi kebakaran yg dimulai dari dek-kendaran bermotor, dan, ...
    menurut saya sekilas tentunya, nampak terjadi KEPANIKAN nakoda
    Rivai, yang berakibat berbuat KESALAHAN! Nakoda TIDAK SEGERA
    gerakkan pompa-air berusaha memadamkan api dan melapor ke pusat
    PELNI kapalnya terjadi kebakaran, sebaliknya lebih dahulu
    mematikan mesin kapal yg berakibat pompa-air juga tidak berfungsi!
    Artinya, kesalahan pertama, nakoda perlambat usaha memadamkan
    kebakaran yg terjadi.

    Kedua, begitu api tidak berhasil dipadamkan, nakoda seharusnya
    lebih cepat kirim SOS dan usaha menyelamatkan penumpang sudah
    harus dilakukan, tidak menunggu setelah kapal miring, ...
    secepatnya turunkan sekoci, perintahkan setiap penumpang kenakan
    baju-pelampung dan terjun kelaut.

    Hanya saja saya tidak mengerti, mengapa begitu mesin dimatikan,
    listrik dalam kapal juga mati, sehingga nakoda tidak bisa gunakan
    pengeras-suara untuk perintahkan segenap penumpang keluar dari
    kamar dan naik ke dek-kapal siap selamatkan diri. Pompa-air ikut
    mati, mungkin saja. Karena aliran listrik cadangan hanya digunakan
    penerangan dan radio dikapal yg tidak boleh terhenti!

    Namun KESALAHAN nakoda, Rivai dari pemberitaan ini, yang dikatakan
    orang terakhir melompat ke laut, ... sudah TIDAK hadir dalam
    sidang Mahkamah digelar, karena berada dalam daftar orang yang TEWAS!


    Salam,

    ChanCT



    Noroyono 1963 [email protected]
    <mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 27/7/2018 3:54 寫道:
    Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang
    Jederal Suharto" pada tahun 1966, dimana ya sang nakhoda berada?
    Sangat sulit bagi saya sampai hari ini untuk memahami sikap dan
    tindakan yang diambil oleh sang nakhoda "Kapal Kabinet Dwikora"
    saat kapal yang dinakhodainya ditenggelamkan oleh kapal perang lawan.
    *Noroyono *
    *26/07/2018*
    --------------------------------------------------------------------
    
*https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang
    
<https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>*
    *Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang*
    Liputan6 <https://www.liputan6.com/>**
    17 Des 2013, 19:52 WIB
    
<https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>
    Inline-afbeelding
    Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal
    milik PT Pelni itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air
    laut masuk. Tampomas II berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam
    pada akhirnya.

    Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat
    bicara. "Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya.

    Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua
    penumpang selamat?"

    Kisah itu tergambar dalam buku /Neraka di Laut Jawa: Tampomas
    II/ yang ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para
    jurnalis /Sinar Harapan/ dan /Mutiara./

    Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain
    untuk terjun ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam
    pasti lebih fatal. Ketika yakin semua penumpang sudah terjun ke
    laut, baru Rivai melompat dari kapal.

    Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981
    pukul 09.55 WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar).
    Seharusnya, kapal itu berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan
    mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.

    Kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak
    kapal. Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak
    terdaftar di manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor.

    Pada 25 Januari sekitar Pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di
    geladak bawah. Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor
    (/car deck/). Api menyambar tong minyak pelumas. Kebakaran terus
    membesar. Kapal itu tengah berada di perairan Masalembo, Laut Jawa.

    Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia
    ingat, pada Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di
    perairan Ujung Pandang. Sang Nakhoda paham, kebakaran di /car
    deck/ sangat berbahaya karena dekat dengan kamar mesin. Kalau
    mesin sampai meledak...

    Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak
    berfungsi. Api kian ganas, menyebar ke ruangan lain. Bahkan,
    mulai memakan korban sejumlah penumpang.

    Rivai memutuskan untuk menyalakan mesin kembali. Ia akan menuju
    pulau terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantainya. tapi, mesin
    tak berhasil menggerakkan baling-baling. Panas telah melumpuhkannya.

    Radio pun mati, tak bisa mengirim kabar SOS./ Flares/ (isyarat
    cahaya) yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II
    benar-benar dalam bahaya.

    Api terus berkobar, korban terus berjatuhan karena panas yang
    menjalar di lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke
    laut. Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.

    Senin datang. Ketika matahari sudah bersinar terang, baru
    beberapa kapal melihat Tampomas II.

    Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe.
    Markonis KM Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15.
    KM Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan. Lalu, muncul
    juga kapal tangker Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata.

    Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal penolong susah merapat
    karena gelombang yang kuat.

    */Nakhoda Tampomas II, Kapten Abdul Rivai/*

    Akhirnya, pada Selasa 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang
    mesin. Air laut masuk. Semakin banyak air masuk dan kapal mulai
    miring.

    Pada pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam
    setelah percikan api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut
    Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.

    Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah
    dengan 82 awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang
    berjumlah 1.442 orang, termasuk sejumlah penumpang gelap. Tim
    penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143 jenazah ditemukan
    dan 288 orang hilang bersama kapal), sementara 753 orang berhasil
    diselamatkan.

    Lalu, Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang
    dan dihukum karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak
    ikut disidang karena ditemukan tewas.

    Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers
    di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal
    abnormal di ruang mesin. Kelainan terjadi di /car deck/.
    Guncangan gelombang laut yang cukup kuat memungkinkan timbulnya
    percikan api.

    Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE
    Nasution. Hasilnya: ada tindak pidana korupsi dalam pembelian
    kapal bekas itu. Misalnya, dalam perjanjian disebut sebagai kapal
    penumpang meskipun sebenarnya kapal barang.

    Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap
    berjasa menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan
    nyawanya sendiri. (*Yus*)


    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
        不含病毒。www.avg.com
    
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>


    <#m_2099643506080968329_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>






---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke