Bung Chan,
Di tempat2 yang kemungkinan terjadi kebakaran harus disediakan alat
pemadam kebakaran
dan juga saluran air dengan slang pemadam kebakaran.
Yang sering terjadi :
Di tempat mobil2 dan kendaraan diparkir, meskipun mesin dimatikan.
Bisa saja terjadi kortsluiting
dalam kendaraan, dan kalau terjadi kebakaran dapat menjalar cepat ke
kendaraan lain. Jadi
di sini harus disediakan banyak alat pemadam kebakaran yang mudah
disemprotkan. Ada macam2
type dari penyemprotan dengan CO2, ada yang dengan busa dll. Kalau
sekarang dipasangi detektor,
yang langsung membuat alarm berbunyi, dan air otomatis menyemprot dari
atas, dan penjaga dari
suatu ruangan bisa langsung mengetahui tempat kebakaran.Kalau jaman
dulu ya mestinya di tempat2
tsb. ada orang yang jaga. Prinsipnya, begitu timbul kebakaran, harus
langsung dipadamkan sebelum
menjalar ke mana-mana, yang akan sulit dipadamkan.
Di Kamar mesin, sering terjadi kortsluiting. Ini haus langsung dipadamkan.
Di kamar penumpang. Di lorong harus disediakan beberapa pemadam
kebakaran, juga slang air bertekanan
tinggi dan pipa2 saluran air, dan alarm yang bisa distart untuk
memberitahu adanya kebakaran. Jaman sekaang
ruangan dan kamarq2 dilengkapi detector. Begitu terjadi kebakaran, ada
asap, langsung detector berfungsi.
Di perusahaan dulu, semua orang dilatih untuk mmadamkan kebakaran
kecil, tiga bulan sekali. Alat2 pemadam
kebakaran dicheck. Lha, kalau tidak dilatih, ada alatnya, tetapi tidak
tahu cara pakainya.Perusahaan juga punya
mobil pemadam kebakaran dan punya anggota pemadam kebakaran yang
terlatih. Perusahaan juga kerjasama
dengan perusahaan2 lain, untuk saling bantu kalau terjadi kebakaran.
Di samping itu pemadam kebakaran dari perusahaan bisa dipangil oleh
pemadam kebakaran dai kotapraja untuk
bantu memadamkan kebakaran besar.
Juga ada kejelasan, kalau terjadi kebakaran, kita harus mengungsi,
kumpul di mana, siapa yang harus mematikan
saluran gas. Lift tidak boleh dipakai dll.
2018-07-27 2:16 GMT+02:00 ChanCT [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>>:
Bung Yono yb,
Saya tidak berhasil menangkap apa maksud komentar yang bung ajukan
itu, ... "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang
Jenderal Soeharto"? Dimana sang nakoda berada?
Atau mungkin hanya karena saya belum baca buku "Neraka di Laut
Jawa" jadi tidak tahu dimana masalahnya?
Tapi, dari pemberitaan dibawah, "Kapal Dwikora" tenggelam karena
terjadi kebakaran yg dimulai dari dek-kendaran bermotor, dan, ...
menurut saya sekilas tentunya, nampak terjadi KEPANIKAN nakoda
Rivai, yang berakibat berbuat KESALAHAN! Nakoda TIDAK SEGERA
gerakkan pompa-air berusaha memadamkan api dan melapor ke pusat
PELNI kapalnya terjadi kebakaran, sebaliknya lebih dahulu
mematikan mesin kapal yg berakibat pompa-air juga tidak berfungsi!
Artinya, kesalahan pertama, nakoda perlambat usaha memadamkan
kebakaran yg terjadi.
Kedua, begitu api tidak berhasil dipadamkan, nakoda seharusnya
lebih cepat kirim SOS dan usaha menyelamatkan penumpang sudah
harus dilakukan, tidak menunggu setelah kapal miring, ...
secepatnya turunkan sekoci, perintahkan setiap penumpang kenakan
baju-pelampung dan terjun kelaut.
Hanya saja saya tidak mengerti, mengapa begitu mesin dimatikan,
listrik dalam kapal juga mati, sehingga nakoda tidak bisa gunakan
pengeras-suara untuk perintahkan segenap penumpang keluar dari
kamar dan naik ke dek-kapal siap selamatkan diri. Pompa-air ikut
mati, mungkin saja. Karena aliran listrik cadangan hanya digunakan
penerangan dan radio dikapal yg tidak boleh terhenti!
Namun KESALAHAN nakoda, Rivai dari pemberitaan ini, yang dikatakan
orang terakhir melompat ke laut, ... sudah TIDAK hadir dalam
sidang Mahkamah digelar, karena berada dalam daftar orang yang TEWAS!
Salam,
ChanCT
Noroyono 1963 [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] 於 27/7/2018 3:54 寫道:
Saat "Kapal Kabinet Dwikora" ditenggelamkan oleh "Kapal Perang
Jederal Suharto" pada tahun 1966, dimana ya sang nakhoda berada?
Sangat sulit bagi saya sampai hari ini untuk memahami sikap dan
tindakan yang diambil oleh sang nakhoda "Kapal Kabinet Dwikora"
saat kapal yang dinakhodainya ditenggelamkan oleh kapal perang lawan.
*Noroyono *
*26/07/2018*
--------------------------------------------------------------------
*https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang
<https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>*
*Kisah Tampomas II, Terbakar Lalu Tenggelam, 431 Nyawa Melayang*
Liputan6 <https://www.liputan6.com/>**
17 Des 2013, 19:52 WIB
<https://www.liputan6.com/news/read/775639/kisah-tampomas-ii-terbakar-lalu-tenggelam-431-nyawa-melayang>
Inline-afbeelding
Kapten Abdul Rivai berdiri di anjungan KM Tampomas II. Kapal
milik PT Pelni itu telah mengalami kebocoran di lambungnya. Air
laut masuk. Tampomas II berangsur-angsur miring. Pasti tenggelam
pada akhirnya.
Awak kapal, Karel Simanjuntak yang berada di dekat Rivai angkat
bicara. "Sebaiknya kita turun saja, Kep," katanya.
Nakhoda itu menjawab, "Buat apa kita turun kalau belum semua
penumpang selamat?"
Kisah itu tergambar dalam buku /Neraka di Laut Jawa: Tampomas
II/ yang ditulis Bondan Winarno berdasarkan reportase para
jurnalis /Sinar Harapan/ dan /Mutiara./
Ya, Rivai tetap di kapal sambil memerintahkan penumpang lain
untuk terjun ke laut. Bertahan di kapal yang segera tenggelam
pasti lebih fatal. Ketika yakin semua penumpang sudah terjun ke
laut, baru Rivai melompat dari kapal.
Tampomas II bertolak dari Tanjung Priok, Sabtu 24 Januari 1981
pukul 09.55 WIB dengan tujuan Ujung Pandang (kini Makassar).
Seharusnya, kapal itu berangkat pada 23 Januari. Namun, kerusakan
mesin membuat pelayaran tertunda satu hari.
Kapal itu membawa 980 penumpang dewasa, 75 anak-anak, dan 85 awak
kapal. Diyakini, ada ratusan penumpang gelap, yang tentu saja tak
terdaftar di manifes. Juga diangkut 191 mobil dan 200 sepeda motor.
Pada 25 Januari sekitar Pukul 20.00 WITA, terjadi kebakaran di
geladak bawah. Tepatnya, di bagian penyimpanan kendaraan bermotor
(/car deck/). Api menyambar tong minyak pelumas. Kebakaran terus
membesar. Kapal itu tengah berada di perairan Masalembo, Laut Jawa.
Di anjungan, Rivai melihat ke arah buritan yang terbakar. Ia
ingat, pada Juli 1980, dapur Tampomas II juga terbakar di
perairan Ujung Pandang. Sang Nakhoda paham, kebakaran di /car
deck/ sangat berbahaya karena dekat dengan kamar mesin. Kalau
mesin sampai meledak...
Mesin dimatikan. Tapi, ini membuat selang penyemprot air tak
berfungsi. Api kian ganas, menyebar ke ruangan lain. Bahkan,
mulai memakan korban sejumlah penumpang.
Rivai memutuskan untuk menyalakan mesin kembali. Ia akan menuju
pulau terdekat, lalu mendamparkan kapal di pantainya. tapi, mesin
tak berhasil menggerakkan baling-baling. Panas telah melumpuhkannya.
Radio pun mati, tak bisa mengirim kabar SOS./ Flares/ (isyarat
cahaya) yang dilontarkan ke udara tak menyala. Tampomas II
benar-benar dalam bahaya.
Api terus berkobar, korban terus berjatuhan karena panas yang
menjalar di lantai dek. Beberapa yang tak tahan panas meloncat ke
laut. Sejumlah awak kapal dan penumpang mulai menurunkan sekoci.
Senin datang. Ketika matahari sudah bersinar terang, baru
beberapa kapal melihat Tampomas II.
Kapal lain yang pertama melakukan pertolongan adalah KM Sangihe.
Markonis KM Sangihe mengirimkan pesan morse SOS pada pukul 08.15.
KM Ilmamui menyusul untuk melakukan pertolongan. Lalu, muncul
juga kapal tangker Istana VI, KM Adhiguna Karunia, dan KM Sengata.
Tapi, pertolongan tak bisa maksimal. Kapal penolong susah merapat
karena gelombang yang kuat.
*/Nakhoda Tampomas II, Kapten Abdul Rivai/*
Akhirnya, pada Selasa 27 Januari pagi, terjadi ledakan di ruang
mesin. Air laut masuk. Semakin banyak air masuk dan kapal mulai
miring.
Pada pukul 12.45 WIB atau pukul 13.45 WITA, sekitar 30 jam
setelah percikan api pertama, Tampomas II tenggelam ke dasar Laut
Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.
Seluruh penumpang yang terdaftar berjumlah 1.054 orang, ditambah
dengan 82 awak kapal. Namun diperkirakan total penumpang
berjumlah 1.442 orang, termasuk sejumlah penumpang gelap. Tim
penyelamat memperkirakan 431 orang tewas (143 jenazah ditemukan
dan 288 orang hilang bersama kapal), sementara 753 orang berhasil
diselamatkan.
Lalu, Mahkamah Pelayaran digelar. Sejumlah awak kapal disidang
dan dihukum karena dianggap lalai dalam bertugas. Rivai? Ia tak
ikut disidang karena ditemukan tewas.
Menteri Perhubungan Roesmin Nurjadin dalam penjelasan pada pers
di kantor Departemen Perhubungan, mengatakan tidak terjadi hal
abnormal di ruang mesin. Kelainan terjadi di /car deck/.
Guncangan gelombang laut yang cukup kuat memungkinkan timbulnya
percikan api.
Pemerintah membentuk Tim Penyelidikan dipimpin Jaksa Bob RE
Nasution. Hasilnya: ada tindak pidana korupsi dalam pembelian
kapal bekas itu. Misalnya, dalam perjanjian disebut sebagai kapal
penumpang meskipun sebenarnya kapal barang.
Rivai dinobatkan menjadi Nakhoda Utama oleh PELNI. Ia dianggap
berjasa menyelamatkan nyawa para penumpang dengan mengorbankan
nyawanya sendiri. (*Yus*)
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
不含病毒。www.avg.com
<http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
<#m_2099643506080968329_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>