Londo-londo ireng RMS dan OPM ya melihat kita-kita ini, ireng-ireng Indonesia 
ini yang "menjajah" mereka!!! Seperti saya bilang, karena londo-londo ireng itu 
sudah mengidentifikasi dirinya seolah-olah mereka sudah hampir jadi londo-londo 
bule dengan kehidupan yang lebih tinggi sedikit dari pada massa rakyat makanya 
mereka tidak "merasa" dijajah!! Ya kaya "suartepit" itu, bangga dan senang 
dengan kedudukannya sebagai "teman"nya Sinterklas yang bule!!!Relalah dia 
mengabdi pada "teman" bulenya itu. 

    On Saturday, August 18, 2018 6:01 PM, ajeg <[email protected]> wrote:
 

 Jadi, seperti apa londo RMS & londo OPM memandang 
perjuangan mereka di sisi londo bulenya? Masih belum 
pada sadar juga cuma dikasih pangkat "suartepit"?
--- jetaimemucho1@... wrote:

Cara Belanda menanggapi sejarah perang kemerdekaan Indonesia
 August 17, 2018 2.11am BST
Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 sesudah berada 
dalam kekuasaan Perusahaan Dagang Hindia Timur Belanda dan pemerintahan negara 
Belanda selama 350 tahun, serta pendudukan Jepang selama Perang Dunia 
II.Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, Belanda mengobarkan perang untuk 
mengembalikan kekuasaan kolonial atas Indonesia. Perang, yang korbannya 
termasuk orang Indonesia yang dibunuh tanpa peradilan, menewaskan 300.000 orang 
Indonesia dibandingkan dengan sekitar 6.000 korban di pihak Belanda.Di 
Indonesia, identitas nasional dibangun seputar sentimen anti-kolonial. Sejarah 
kekejaman Belanda diajarkan dan didiskusikan. Publik Indonesia memperhatikan 
perkembangan di Belanda ketika pengadilan di sana pada 2011 menetapkan Belanda 
harus meminta maaf untuk pembantaian tahun 1947 di Rawagede dan ketika gambar 
eksekusi mengemuka pada tahun 2012 . Di Indonesia kekerasan Indonesia terhadap 
Belanda kurang ditekankan, tetapi tidak diabaikan.Bagaimana cara Belanda 
menanggapi sejarah ini?Sebagai ilmuwan sosial dan direktur studi Belanda dan 
Flemish di University of Michigan, saya mengajukan pertanyaan ini dalam 
tulisan-tulisan saya dan kuliah saya tentang masalah inklusi di daerah-daerah 
berbahasa Belanda.Jawaban atas pertanyaan itu: Belanda mengabaikan pengorbanan 
orang Indonesia. Ini alasannya.
Kebebasan yang dibayar
Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949 berakhir dengan penandatanganan 
perjanjian kemerdekaan yang dimediasi oleh komunitas internasional yang 
mengharuskan Indonesia mengambil alih utang pemerintah Hindia Belanda Timur. 
Indonesia membayar Belanda 4,3 miliar gulden untuk kemerdekaannya. Pembayaran 
berlanjut hingga 2002.Belanda, sebagai sebuah bangsa Eropa Barat dengan 
demikian membangun kembali negaranya setelah Perang Dunia II dengan Pinjaman 
Marshall Plan dari Amerika Serikat, ditambah jumlah yang cukup banyak dari 
Indonesia, yang juga sama-sama menata diri dari efek perang.Perjuangan untuk 
keadilan bersejarah untuk Indonesia berlanjut hari ini. Salah satu ekspresi 
perjuangan itu terlihat pada Hari Peringatan Nasional di Belanda setiap 4 Mei, 
hari ketika Belanda mengingat orang-orang yang terbunuh pada Perang Dunia II 
dan sesudahnya. Hari itu melibatkan upacara dengan dua menit mengheningkan 
cipta dan peletakan karangan bunga oleh raja dan ratu Belanda.Orang Indonesia 
yang berperang melawan Belanda dan terbunuh dalam perang ‘45 -'49 tidak 
diperingati dalam upacara ini, meskipun Belanda secara resmi mengakui mereka 
sebagai bagian Belanda saat itu.Patung relief di Indonesia yang menggambarkan 
pembunuhan massal orang Indonesia yang dilakukan oleh militer Belanda selama 
perang kemerdekaan Indonesia. Foto AP / Masyudi S. Firmansyah
Hari Peringatan eksklusif
Banyak protes terhadap Hari Peringatan Nasional karena mengabaikan 
korban-korban lain. Korban dari Indonesia bukan satu-satunya yang diabaikan di 
hari mengheningkan cipta ini.Butuh beberapa dekade, misalnya, untuk korban 
Holocaust Belanda untuk diingat .Sebuah gerakan di Belanda bernama “Tiada 4 Mei 
Untuk Saya” memprotes pengabaikan korban Indonesia dari ritual peringatan 
sementara pembunuh mereka dikenang. Di antara para pembunuh orang Indonesia 
adalah mantan Nazi Belanda, yang dikirim ke Indonesia setelah Perang Dunia II 
untuk memperjuangkan Belanda dalam Perang Kemerdekaan.
Mengakui kemerdekaan Indonesia
Jadi siapa, dan siapa yang tidak, diperingati pada Hari Peringatan 
Belanda?Kunci untuk jawabannya adalah ini: Belanda tidak secara resmi mengakui 
kemerdekaan Indonesia tahun 1945–Belanda mengakui tahun 1949 sebagai perjanjian 
kedaulatan.Ini alasan mengapa Belanda tidak dapat mengakui kemerdekaan 
Indonesia 1945: Jika Belanda mengakui tahun tersebut, itu berarti negara 
tersebut telah menyerang negara yang berdaulat setelah Perang Dunia II dengan 
tujuan untuk menjajahnya. Dan maka, pembantaian, yang di Belanda disebut secara 
eufimistis sebagai “tindakan penegakan hukum,” tidak dapat dikatakan “tindakan 
penegakan hukum” tetapi lebih tepat disebut sebagai kejahatan perang, seperti 
yang dijelaskan dalam buku yang akan terbit oleh Ady Setyawan dan Marjolein Van 
Pagee..Pejuang kemerdekaan Indonesia pada 1945. Sebagian besar bersenjata bambu 
runcing. Tropenmuseum / Museum Nasional Budaya Dunia., CC BY
Aksi militer
Menurut cerita resmi Belanda, bagaimanapun, Indonesia adalah “Belanda” selama 
terjadi “tindakan penegakan hukum”, dan dengan demikian membunuh orang-orang 
Anda sendiri bukan kejahatan perang, tetapi penegakan hukum yang salah.Hanya 
saja para penegak hukum dalam tindakan tersebut bukanlah petugas polisi tetapi 
tentara yang bertugas di militer Belanda.Publikasi “De Doden Tellen” 
(“Menghitung Orang Mati”) yang dirilis komite Hari Peringatan Nasional Belanda 
menunjukkan tidak konsistennya cerita resmi Belanda. Publikasi tersebut 
menyebut konflik sebagai “tindakan penegakan hukum” sementara secara bersamaan 
menggunakan bahasa “penaklukan” militer.“Selama berlangsungnya apa yang disebut 
tindakan penegakan hukum, Belanda menaklukkan berbagai wilayah dan menyatakan 
mereka sebagaiwilayah Belanda sekali lagi,” tertulis di publikasi tersebut.
Apartheid
Belanda ingin menghitung orang-orang yang mereka bunuh sebagai bagian Belanda, 
agar tidak dianggap melakukan kejahatan perang, sementara pada saat yang sama 
tidak memperingati kematian mereka.Di balik pengecualian ini adalah pemisahan 
atas dasar ras.Kolonialisme Belanda tidak memberikan kewarganegaraan kepada 
orang Indonesia asli. Sekarang, 70 tahun kemudian, kebijakan apartheid kolonial 
yang memisahkan, merugikan, dan merendahkan satu ras demi kepentingan ras 
lainnya diterapkan setelah kematian, pada Hari Peringatan Belanda. Pada hari 
yang memperingati korban sipil dari perang, korban sipil Indonesia tidak 
diperingati karena mereka tidak memiliki kewarganegaraan di bawah kekuasaan 
kolonial.Ketua Komite Peringatan Hari Nasional Belanda, Gerdi Verbeet, 
mengakuinya ketika dia mengatakan bahwa “mereka yang tidak memiliki paspor 
Belanda tidak diingat pada saat ini. ”Ada bukti lebih lanjut tentang kebijakan 
pengucilan rasial pada Hari Peringatan Belanda: korban Indonesia pada Perang 
Dunia II juga tidak diperingati.Meskipun nomor tersebut tidak diverifikasi, 
korban sipil dari Perang Dunia II di Indonesia umumnya diperkirakan mencapai 4 
juta orang. Dokumen resmi yang menghitung orang mati untuk diperingati pada 
daftar Hari Peringatan Belanda mendata sekitar 20.000 orang, perbedaan yang 
menakjubkan. Belanda mendapatkan angka yang sangat berbeda tersebut karena 
mereka mengecualikan semua penduduk asli. Jutaan orang terhapus pada Hari 
Peringatan Belanda.
Menghitung orang mati
Hari Peringatan Belanda adalah sebuah kisah tentang nilai kehidupan manusia, 
tentang siapa yang diperhitungkan, siapa yang tidak dan siapa yang dapat 
menentukan hitung-hitungan tersebut.Empat juta korban sipil berkulit coklat 
dalam Perang Dunia II tidak dihitung; 300.000 korban berkulit coklat dari 
“tindakan penegakan hukum” mereka juga tidak dihitung.Dan dalam putaran yang 
menyedihkan dalam kisah ini, tepat satu kelompok orang kulit coklat dihitung: 
para prajurit Indonesia yang gugur, yang berjuang di samping Belanda selama 
perang rekolonisasi. Mereka adalah pelaku yang dilihat sebagai korban oleh 
penjajah kolonial setelah sejarah eksploitasi yang berabad-abad 
lamanya.Pemikiran kolonial sebagai bentuk supremasi rasial tidak pernah jauh di 
Belanda. Di Indonesia, ini mengambil bentuk asumsi hak untuk memperbudak orang, 
membunuh mereka, dan mengambil tanah mereka untuk mendapatkan 
keuntungan.Pendidik dan penulis Belanda keturunan Suriname Gloria Wekker, dalam 
bukunya “White Innocence,” menganalisa pemikiran kolonial Belanda sebagai 
pengecualian berdasarkan ras yang menghasilkan kebudayaan orang kulit putih 
Belanda yang buta terhadap begitu banyak bentuk rasisme saat ini.Rasisme 
Belanda terlihat jelas dalam kenyataan bahwa negara ini memiliki catatan 
terburuk dalam kesempatan kerja bagi orang kulit berwarna di Eropa selain 
Swedia.Dalam contoh lain, partai politik terbesar kedua, Partai untuk 
Kebebasan, menempatkan iklan kampanye dalam bahasa Belanda dan Inggris yang 
mendehumanisasi para muslim di negara itu. Iklan tersebut menyatakan bahwa 
agama mereka sama dengan “diskriminasi,” “ketidakadilan” dan “pembunuhan atas 
nama kehormatan,” di antara atribut-atribut lain..Seorang legislator 
memperingatkan tentang bahaya pencampuran darah Belanda dan non-Belanda. Baru 
tahun lalu, orang Belanda keturunan Suriname-dan Antillean dilarang menghadiri 
peringatan 4 Mei jika mereka berbicara secara terbuka tentang sejarah 
perbudakan Belanda di koloni-koloni perbudakan Belanda tempat leluhur 
mereka.Versi Belanda Santa Claus, Sinterklaas, atau St Nicholas, dan sidekicks 
hitamnya ‘Zwarte Piet’ atau ‘Piet Hitam. ’ AP / Peter DejongPengingat 
kolonialisme dan perbudakan Belanda yang paling dikenal luas datang setiap 
tahun dalam bentuk “Piet Hitam,” karikatur para pembantu berkulit hitam 
Sinterklaas pada tradisi paling penting bangsa ini.
Berbagi memori
Elizabeth Eckford, salah satu siswa Afrika-Amerika pertama di sekolah yang 
telah dipisahkan, mengatakan “rekonsiliasi sejati hanya dapat terjadi ketika 
kita dengan jujur mengakui masa lalu yang menyakitkan milik bersama.”Di 
Belanda, pesan ini tercermin dalam suara para pengunjuk rasa “Tiada 4 Mei Untuk 
Saya”, yang ingin orang mati dihitung tetapi menemukan sebuah kebudayaan yang 
buta terhadap kesalahannya sendiri dan tidak mau menciptakan memori 
bersama.Membangun memori bersama bisa dimulai hari ini, dengan pengakuan 
Belanda tentang Hari Kemerdekaan Indonesia dan peringatan korban perang 
Indonesia.Annemarie Toebosch
Director of Dutch and Flemish Studies, University of Michigan
 

  

   

Kirim email ke