Situasi Politik Panas, Jokowi: Ini karena Banyak Kompor
Reporter:
Antara
Editor:
Juli Hantoro
Minggu, 25 November 2018 11:08 WIB
KOMENTAR
<https://nasional.tempo.co/read/1149445/situasi-politik-panas-jokowi-ini-karena-banyak-kompor/full&view=ok#comments>
001
#
#
#
#
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyapa peserta jalan sehat
bertajuk Sehat Bersama 01JokowiLagi di Lampung, Sabtu 24 November 2018.
Jalan Sehat Bersama #01JokowiLagi tersebut diikuti oleh ribuan peserta.
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
<https://statik.tempo.co/data/2018/11/24/id_799276/799276_720.jpg>
Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo menyapa peserta jalan sehat
bertajuk Sehat Bersama 01JokowiLagi di Lampung, Sabtu 24 November 2018.
Jalan Sehat Bersama #01JokowiLagi tersebut diikuti oleh ribuan peserta.
ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Presiden Joko Widodo
atauJokowi<https://nasional.tempo.co/read/1149407/penyebar-hoax-pki-ditangkap-jokowi-itu-yang-namanya-nabok>berpesan
kepada masyarakat agar jangan mudah dipanas-panasi "kompor" yang
menggunakan hoax dan isu-isu negatif pemecah-belah persatuan bangsa.
Baca juga: Sama-sama Berkampanye di Pasar, Ini Gaya Jokowi vs Sandiaga
Uno
<https://pilpres.tempo.co/read/1149429/sama-sama-berkampanye-di-pasar-ini-gaya-jokowi-vs-sandiaga-uno>
Saat menyampaikan sambutan setelah menerima gelar adat Rajo Balaq Mangku
Nagara, di Griya Agung, Palembang, Minggu pagi, 25 November 2018 dia
mengatakan, "Saya kadang-kadang geleng-geleng ini satu kampung, satu RT
atau RW, tidak saling menyapa gara-gara pilihan bupati, gubernur, atau
presiden. Ada majelis taklim, gara-gara pilihan presiden tidak saling
menyapa." Masyarakat setempat berduyun-duyun hadir pada gelaran itu,
yang juga dihadiri Ibu Negara, Iriana Joko Widodo.
Padahal, kata Jokowi, pilihan bupati, gubernur, presiden, wali kota
bukan saat ini saja atau rutin setiap lima tahun itu ada.
"Kita ini saudara, sebangsa, dan se-Tanah Air. Jangan lupakan itu. Ini
karena banyak kompor, karena dipanas-panasi, dikompor-kompori jadi panas
semuanya," katanya.
Ia berpesan agar masyarakat menggunakan hati nurani dan pendapat
masing-masing serta rasional dalam menentukan pilihannya.
"Pilihan gubernur silakan pilih A, B, C, atau D kalau calonnya empat,
yang bupati juga silakan pilih A, B, atau C. Tapi jangan sampai ada
gesekan sekecil apapun, jangan sampai ada konflik," katanya.
Jokowi kembali mengingatkan, Indonesia adalah negara besar dengan 714
suku dengan bahasa daerahnya juga berbeda-beda. Sementara bahasa daerah
ada lebih dari 1.100 yang juga berbeda di berbagai wilayah.
"Saya belajar di sini nanti pergi ke Jawa Barat, lupa lagi. Dari Jawa
Barat pergi ke Sumut lupa lagi. Saya sering ingat misalnya seperti di
Jawa Barat, setelah salam 'sampurasun'. Kemudian di Sumut ada 'horas',
tapi saya pernah tiga kali keliru," katanya.
Ia mengatakan, perbedaan itu anugerah Allah yang diberikan kepada bangsa
Indonesia yang harus disyukuri.
ADVERTISEMENT
"Sudah menjadi sunnatullah, sudah menjadi garis, bahwa kita ini
bermacam-macam, berbeda-beda, dan berwarna-warni. Tapi kalau kita bisa
menyatukan, ini akan menjadi aset terbesar, energi besar, bagi bangsa
ini maju ke depan," katanya.
Baca juga: Jokowi Minta Caleg Partai Koalisi Sampaikan Capaian
Pemerintah
<https://pemilu.tempo.co/read/1149302/jokowi-minta-caleg-partai-koalisi-sampaikan-capaian-pemerintah>
Oleh karena
itu,Jokowi<https://nasional.tempo.co/read/1149001/polisi-tangkap-pemilik-akun-instagram-pembuat-hoax-jokowi-pki>berpesan
agar jangan sampai Indonesia maju secara teknologi tapi mundur secara
kebudayaan.
"Teknologi indonesia maju, tradisi, adat dan kebudayaan bangsa kita juga
harus ikut maju," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, dia juga mengajak masyarakat adat Komering
untuk berperan aktif dalam menjaga persatuan dan kerukunan bangsa Indonesia.
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com