Penyebab lainnya mungkin :
1.Patriotisme yang selalu dipupuk di Tsinghua University.
2.Beberapa universitas/fakultas tertentu dijadikan centre of excellence,
   diberi dana untuk perpustakaan, laboratorium, bengkel yang luar biasa
   banyak dengan docent2 terpilih.
3.Merit system.

Dulu di Indonesia, Prof. Dr. Ir O Hong Djie menganjurkan universitas2
Res Publica harus bagus dalam kuliah teori, sedangkan di jakarta harus
punya bengkel, laboratorium yang canggih, tidak boleh kalah dengan
dari luar negeri. Untuk itu Universitas Respublica di daerah2 perlu bantu
dana untuk bikin centre of Excellence di Ureca Jakarta. Mahasiswa mahasiswa
tingkat terakhir dari daerah2 dikirim ke jakarta untuk menggunakan
fasilitas di pusat
dengan peralatan yang canggih.
Saya kira ini cara kerja pinter. Kalau dana dibagi rata, tidak satupun
universitasnya
punya peralatan yang memadai, kalau negara atau organisasi masih miskin.
Waktu tahun 86 kami ke Tiongkok, istri saya diundang seorang assistent
professor
dari instituut Geologi universitas Peking, yang pernah kerja di universitas
Utrecht 6 bulan.
Istri saya terkejut waktu itu, karena peralatan lab. nya jauh lebih hebat
dari universitas
utrecht. Saya bilang, ya mungkini Beida yang dijadikan centre of excellence
untuk bidang
Geologi. Tidak mungkin semua universitasnya begitu bagus perlengkapannya.
Mana
ada uangnya. Dan juga tidak hanya unuk mendidik mahasiswa, pasti juga
dipakai untuk
penyelidikan2 dan mengajari mahasiswa tingkat akhir dari fakultas daerah2.

On Sat, 24 Nov 2018 at 22:13, [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
>
> Kelihatannya, dari artikel ini, ada 3 penyebab:
> 1. mengirim sekolah keluar negeri se-banyak2nya
> 2. memberi salary, tunjangan dan hal lain yg membuat lulusan luar itu
> datang kembali utk bekerja di Tiongkok
> 3. memberi banyak intensif utk research
>
> Pertanyaannya apakah indonesia bisa melakukan hal ini? Sementara
> pendidikan lebih terfokus pd ilmu agama, belajar keluar negeri juga ke Arab
> Saudi dan sebangsanya, research-nya manfaat minum kencing unta.
>
> ---In [email protected], <bhjo@...> wrote :
>
> Deng -Xping adalah tokoh genius yg membuat TKK negara yg bisa/akan/telah
> mengalahkan AS dibidang ekonomi dan pendidikan science & technology setelah
> mengalahkan infrastruktur dimana saja didunia ini. Tentu ada tokoh genius
> masa modern lainnya yaitu Lee Kuan Yew yg membuat Singapore paling maju di
> Asia Tenggara. Dulu dikuatirkan terjadinya brain drain dari TKK ke negara2
> Barat, terutama ke AS tetapi prediksi Deng betul bahwa reverse brain
> drain akan terjadi dan benar2 telah mulai dan terjadi.
>
> Quote: Yang Bin, its vice-president, says “the most important moment in
> the development of Tsinghua” was in 1978, when Deng Xiaoping said China
> would send larger numbers of students abroad. “We need to send tens of
> thousands,” Deng said. “This is one of the key ways of…improving our level
> of scientific education.” Officials worried that few of them would return,
> but Deng insisted that enough would. He was right.
>
> Forty years on, Tsinghua and the country’s other top universities are
> reaping the rewards. The return flow of highly trained people is gathering
> pace. The government has provided extra resources to attract them. Tsinghua
> cannot match the best American packages, but it can offer six-figure dollar
> salaries—and the opportunity for young parents to bring up their children
> in their own culture. Qian Yingyi (Columbia, Yale, Harvard, Stanford,
> Berkeley and subsequently dean of Tsinghua’s school of economics and
> management) and Shi Yigong (dean of Tsinghua’s school of life sciences;
> previously at Johns Hopkins and Princeton) are among the star returnees who
> have transformed the university. “Those intellectuals played a very
> important role, changing the whole climate, raising standards,” says Mr
> Yang.
>
>
> BH Jo
>
>
> 
>

Kirim email ke