Penangkapan Bos Huawei dan Perang Teknologi AS-China
CNN Indonesia | Selasa, 11/12/2018 09:53 WIB
Bagikan :
Penangkapan Bos Huawei dan Perang Teknologi AS-ChinaIlustrasi
(REUTERS/Aly Song)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penangkapan penerus tahta sekaligus Chief
Financial Officer
(CFO)*Huawei*<https://www.cnnindonesia.com/tag/huawei>Meng Wanzhou
menggambarkan makin intensifnya perang antara *Amerika Serikat
<https://www.cnnindonesia.com/tag/amerika-serikat>*dan*China*<https://www.cnnindonesia.com/tag/china>untuk
merajai teknologi.
Sebab, menurut James Andrew Lewis Direktur Program Kebijakan Teknologi
di Pusat Strategi dan Studi Internasional di Washington kemampuan
menguasai teknologi saat ini menjadi barometer kekuatan sebuah negara.
Berbeda dengan abad ke-20, dimana sumber daya alam dan kemampuan
memproduksi barang dalam jumlah besar yang menjadi kekuatan nasional.
"Dasar-dasar keamanan dan kekuatan berbeda hari ini. Kemampuan untuk
menciptakan dan menggunakan teknologi baru adalah sumber kekuatan
ekonomi dan keamanan militer," kata Lewis seperti yang diwartakan*CNN
<https://edition.cnn.com/2018/12/08/tech/huawei-cfo-tech-cold-war/index.html>*.
Lihat juga:
Operator Mesti Bayar Triliunan Untuk Copot Perangkat Huawei
<https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210194149-185-352566/operator-mesti-bayar-triliunan-untuk-copot-perangkat-huawei/>
Melalui pandangan itulah beberapa orang di pemerintah China menilai
alasan besar dari penangkapan Meng. Meng ditangkap pada 1 Desember di
Kanada atas permintaan otoritas AS dan meminta agar perempuan itu
diekstradisi untuk menghadapi tuntutan di AS.
Huawei adalah salah satu pabrikan ponsel pintar dan peralatan jaringan
terbesar di dunia. Huawei menjadi ujung tombak ambisi Cina untuk
mengurangi ketergantungannya pada teknologi asing dan menjadi kekuatan
inovasi di negaranya.
"AS sedang mencoba melakukan apa pun yang bisa menahan ekspansi Huawei
di dunia karena perusahaan ini adalah perusahaan teknologi yang
kompetitif China," kata salah satu editorial di koran pemerintah China
Daily.
Untuk memenuhi ambisi penguasaan teknologi, China memompa ratusan milyar
dolar ke dalam rencana "Made in China 2025". Lewat rencana ini, China
ingin menjadi pemimpin global dalam industri seperti robotik, mobil
listrik dan cip komputer.
Lihat juga:
Senator AS Bakal Minta Kongres Cegat Perusahaan China
<https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210015153-185-352340/senator-as-bakal-minta-kongres-cegat-perusahaan-china/>
*Hambat penguasaan 5G*
Saat ini prioritas utama Huawei adalah memperkenalkan teknologi nirkabel
jaringan generasi kelima yakni 5G. Paul Triolo, Kepala perusahaan
kebijakan resiko teknologi global Eurasia Group menyebut Huawei menjadi
satu-satunya perusahaan di dunia yang bisa memproduksi semua elemen
jaringan 5G.
Mulai dari perangkat untuk BTS, pusat data, antena, hingga ponsel.
Mereka pun bisa memproduksi barang-barang ini dengan skala besar dan
harga lebih terjangkau.
"Xi Jinping menyebut ingin China menguasai pasar 5G secara global,"
jelas Lewis kepada CNN Business. "Banyak orang yang memperkirakan
teknologi (5G) ini akan menjadi gelombang teknologi berikutnya, seperti
internet dan smartphone."
Tapi ambisi menguasai 5G butuh peran AS. Sebab, dari 92 komponen pemasok
komponen ke Huawei, 33 diantaranya berasal dari AS. Intel, Qualcomm dan
Micron memasok perangkat keras, sementara Microsoft dan Oracle digunakan
untuk perangkat lunak, seperti disebutkan Tom Holland dari Gavekal Research.
Lihat juga:
Meng Wanzhou, Calon Penerus Tahta Huawei yang Terbelit Kasus
<https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181210014833-185-352339/meng-wanzhou-calon-penerus-tahta-huawei-yang-terbelit-kasus/>
Penerapan perang dagang oleh AS menjadi perlawanan terbuka untuk
mempertahankan dominasi negara itu.
Penangkapan Meng disebut analis Jefferies, Edison Lee akan membuat
rencana 5G China seikit terhambat. Sebab, larangan ekspor terhadap
Huawei bisa menghambat diluncurkannya layanan 5G perusahaan itu, "atau
setidaknya mengurangi volumenya," jelas Lee.
Sejumlah negara telah melarang penggunaan produk telekomunikasi dari
perusahaan China, merujuk pada Huawei dan ZTE. Bersama dengna AS,
Australia dan Selandia Baru telah mengesahkan aturan itu. Jepang tengah
mengusulkan pelarangan serupa di negaranya. Sementara grup perusahaan
telekomunikasi di Inggris, BT, menyebut mereka tak akan membeli
perangkat 5G Huawei.*(jnp/eks)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com