Baca Quran bisa menolak tsunami, tidak perlu warning system lagi.
 ---
 Pengamat: Wacana Capres-Cawapres Uji Baca Quran Tanda Menguatnya Politik 
Identitas 
https://www.teraslampung.com/pengamat-wacana-capres-cawapres-uji-baca-quran-tanda-menguatnya-politik-identitas/
 
 Oleh
 Teras Lampung https://www.teraslampung.com/author/teraslampung/  -

  30 Desember 2018
 

 
https://i1.wp.com/www.teraslampung.com/wp-content/uploads/2018/12/Karyono-Wibowo.jpeg?fit=533%2C500&ssl=1
 Direktur Ekskutif Indonesian Public Isnstitute (IPI) Karyono Wibowo 

 TERASLAMPUNG.COM — Direktur Ekskutif Indonesian Public Isnstitute (IPI) 
Karyono Wibowo menilai uji baca Al Quran bagi dua pasangan capres-cawapres 
pertanda menguatnya politik identitas.
 Dalam siaran persnya yang diterima teraslampung Minggu (30/12) Karyono Wibowo 
juga mgatakan tes baca Alquran sebenarnya tak ada dalam undang-undang tentang 
Pemilu maupun Peraturan KPU (PKPU).
 “Munculnya ide tes baca Al qur’an bagi pasangan capres-cawapres ini tidak 
lepas dari menguatnya politik identitas yang ditandai dengan mencuatnya 
simbul-simbul agama. Sejak pilkada DKI Jakarta.”
 “Dalam konteks undangan dari Dewan Ikatan Dai Aceh ke dua pasangan 
capres-cawapres tidak ada kewajiban untuk hadir. Namun, jika capres-cawapres 
mau hadir di uji baca Alquran untuk meyakinkan rakyat Aceh, maka hal itu 
berpulang kepada masing-masing capres,” ungkapnya.
 Menurut Karyono, politik identitas dan isu SARA mulai dimainkan pada masa 
pilpres 2014 dan yang dihantam dengan isu tersebut adalah Jokowi. Saat itu 
Jokowi dituduh keturunan Cina hingga kader PKI. Pada pilpres 2019 ini Prabowo 
Subiyanto pun tak luput dari isu agama juga.
 “Kita masih ingat bagai mana pak Jokowi dihantan berbagai isu yang berbau 
SARA, macam-macam opini dibangun untuk mendelegitimasi keislamanya.”
 “Sekarang pak Prabowo yang kena juga bagaimana isu yang dibangun soal keraguan 
keIslaman beliau hingga tidak bisa menjadi imam sholat,” ujarnya.
 Akhirnya, masih kata Karyono pihak-pihak yang terlibat dalam kontestasi pemilu 
2019 ini mulai terjebak dengan suasana politik identitas. Hal ini membuat 
demokrasi kita mengalami defisit.
 “Pemilu yang seharusnya menjadi perwujudan kedaulatan rakyat untuk memilih 
calon pemimpin yang berkualitas dan berintegritas akhirnya bergeser menjadi 
sekadar caci maki yang penuh ujaran kebencian.”
 Selain itu, Karyono mengingatkan dampak dari menguatnya politik identitas bisa 
merusak esensi demokrasi dan mendorong segregasi sosial, isu SARA berpotensi 
menimbulkan disintegrasi bangsa.
 “Saya berharap, semua pihak terutama elit politik harus segera menghentikan 
semua jenis narasi kampanye yang berbau SARA. Karena hal ini bisa berdampak 
luas terhadap persatuan dan keutuhan bangsa,” pungkasnya.
 
 Dandy Ibrahim

Kirim email ke