Orang bijak bilang kalau menilai sesuatu berlebih-lebihan dari
kenyataannya itu namanya "BOHONG".
Juga menilai sesuatu dengan menjelek-jelekannya di luar kenyataannya,
itu juga namanya "BOHONG"
Yang baik ialah menilai sesuatu sesuai dengan kenyataannya tidak
berlebih-lebihan dan juga tidak di kurang
kurangi.
AA
https://tirto.id/benarkah-klaim-prabowo-soal-indonesia-akan-impor-bbm-100-di-2025-dcTr
Benarkah Klaim Prabowo Soal
Indonesia akan Impor BBM 100% di
2025?
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menari saat menghadiri
silaturahmi dengan pengusaha Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu
(22/12/2018). ANTARA FOTO/Moch Asim.
<https://tirto.id/benarkah-klaim-prabowo-soal-indonesia-akan-impor-bbm-100-di-2025-dcTr>
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto menari saat
menghadiri silaturahmi dengan pengusaha Tionghoa di
Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (22/12/2018). ANTARA FOTO/Moch Asim.
Oleh: Hendra Friana - 1 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Prabowo menyebut Indonesia akan impor BBM 100% pada 2025. Bagaimana
fakta di lapangan?/
tirto.id <https://tirto.id/> - Calon presiden nomor urut 02 Prabowo
Subianto kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial. Kali ini, pidato
Prabowo yang diunggah di laman Facebook
<https://www.facebook.com/PrabowoSubianto/videos/2559187734110572/>
resminya memicu polemik lantaran menyebut Indonesia akan sepenuhnya
mengimpor bahan bakar minyak (BBM) pada 2025.
Dalam pidato bertajuk syarat “Negara Adil Makmur” itu, mantan Danjen
Kopassus tersebut mengatakan bahwa masyarakat Indonesia harus
bersiap-siap menghadapi krisis minyak. “Tahun 2025 Indonesia akan impor
100 persen BBM. [BBM] Kita habis 100 persen. [Kita impor] 2 juta barel
sehari,” kata Prabowo.
Prabowo menekankan jika Indonesia tidak mengantisipasinya dari sekarang,
maka pada 2025 akan benar-benar krisis minyak.
Namun demikian, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas)
Kementerian ESDM Djoko Siswanto membantah prediksi tersebut. Sebab, kata
dia, produksi minyak Indonesia baru akan benar-benar habis 20 tahun
mendatang dengan asumsi bila tidak lagi ditemukan cadangan minyak.
Saat ini, kata Djoko, /lifting/ minyak mentah Indonesia memang terus
mengalami tren penurunan dari tahun ke tahun. Menurut dia, tahun ini
saja penurun diperkirakan sebanyak 775 ribu hingga 800 ribu barel per
hari (bph).
Dengan estimasi penurunan 5 persen dibandingkan tahun lalu—yang sebesar
804 ribu bph—serta cadangan minyak sekitar 3 miliar barel, kata Djoko,
maka minyak mentah Indonesia baru akan habis 20 tahun mendatang.
“Itu pun kalau tidak ada temuan minyak, kalau ada?” kata Djoko di Kantor
Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, pada Senin (31/12/2018).
Baca juga:PR Berat Dwi Soetjipto di SKK Migas Setelah Lengser dari
Pertamina
<https://tirto.id/pr-berat-dwi-soetjipto-di-skk-migas-setelah-lengser-dari-pertamina-daTe>
Berdasarkan laporan tahunan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha
Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) 2017, cadangan terbukti minyak dan
kondensat Indonesia sekitar 3,17 miliar barel, turun sebesar 4%
dibandingkan 2016, yaitu 3,31 miliar barel [PDF, hal 22
<https://skkmigas.go.id/images/upload/file/2018/05/AR_SKK_MIGAS_INDO.pdf>].
Sementara Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dalam acara bertajuk
“Kedaulatan Energi Memasuki Indonesia Emas 2045
<https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/ini-angka-cadangan-migas-indonesia-dan-cara-meningkatkannya>”
di Jakarta, pada 25 Maret 2018 menyebut cadangan terbukti minyak bumi
Indonesia sekitar 3,3 miliar barel.
Menurut Arcandra, dengan asumsi produksi konstan 800 ribu per hari tanpa
adanya temuan cadangan baru, maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan
Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.
Faktor teknologi dan temuan cadangan baru, kata Arcandra, adalah kunci
keberlangsungan produksi minyak bumi di Indonesia. Menurutnya, teknologi
eksploitasi minyak bumi saat ini hanya dapat mengambil 40-50 persen
cadangan minyak dari dalam perut bumi.
Baca juga:
* Indonesia Tanpa Cadangan Penyangga Minyak
<https://tirto.id/indonesia-tanpa-cadangan-penyangga-minyak-bH65>
* Janji Swasembada Energi Prabowo-Sandi yang Sudah Dibuat Pertamina
<https://tirto.id/janji-swasembada-energi-prabowo-sandi-yang-sudah-dibuat-pertamina-c9qY>
*Prabowo Dinilai Terlalu Berlebihan*
Menanggapi hal ini, Direktur Eksekutif Institute for Essential Services
Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai pernyataan Prabowo yang mengatakan
Indonesia akan benar-benar kehabisan cadangan minyak pada 2025 kurang
tepat.
Namun demikian, Fabby tak memungkiri jika posisi cadangan minyak
Indonesia dapat habis dalam waktu dekat, sekitar 10 hingga 11 tahun
mendatang.
“Data di pemerintah itu cadangan minyak kira-kira sekitar 10-11 tahun
lagi. Jadi /resource/ (potensi cadangan) ada /reserves/ (cadangan), yang
bisa diproduksi. Artinya, kan, ada sumber daya lainya yang belum bisa
jadi /reserve. /Nah, untuk mengetahuinya harus eksplorasi [blok-blok
minyak baru]” ujarnya.
Menurut Fabby, potensi-potensi ini belum bisa diketahui jumlahnya
lantaran eksplorasi sumber-sumber migas baru Indonesia juga mengalami
penurunan. Ia mencontohkan, dari 104 sumur yang direncanakan akan
dieksplorasi pada tahun ini, yang terealisasi hanya sekitar 18 sumur.
“Untuk sumur /eksisting/ realisasi 70 persen dari target, dan sumur
pengembangan juga jauh dari target,” kata Fabby.
Karena itu, kata dia, kritik yang disampaikan Probowo Subianto harusnya
lebih eksplisit. Misalnya, kata Fabby, mengapa eksplorasi migas di
Indonesia terus menurun? Hal ini, kata Fabby, yang semestinya dikritik.
Apalagi, kata Fabby, saat ini pemerintah telah menerapkan sistem bagi
hasil dengan skema /gross split/ yang kian menyurutkan investor untuk
melakukan eksplorasi migas di Indonesia. Padahal, kata Fabby, besaran
investasi migas itu hampir sama dari tahun ke tahun.
“Karena investasi migas di Indonesia, kan, kurang menarik. Dari sisi
/return/ ke investor, kan, lebih kecil dibandingkan negara-negara lain,”
kata Fabby menambahkan.
Baca juga:
* Cadangan Migas Hampir Habis, Brunei Kian Mesra dengan Cina
<https://tirto.id/cadangan-migas-hampir-habis-brunei-kian-mesra-dengan-cina-cGCA>
* Berharap Pada Kilang Bontang dan Tuban
<https://tirto.id/berharap-pada-kilang-bontang-dan-tuban-cjZF>
Hal senada diungkapkan Kepala Biro Fasilitasi Penanggulangan Krisis dan
Pengawasan Energi Dewan Energi Nasional (DEN) Ediar Usman. Ia menyebut
cadangan minyak Indonesia masih punya potensi untuk terus bertambah
karena eksplorasi sumur-sumur baru terus berlanjut.
Berdasarkan data SKK Migas, kata Ediar, pada 2019 akan ada 12 proyek
hulu migas yang akan beroperasi (/on stream/).
Dua proyek di antaranya, kata Ediar, adalah Full Well Steam Kedung Keris
oleh ExxonMobil Cepu Ltd dengan target produksi 3.800 barel per hari
(bph) dan proyek YY dengan target produksi puncak 4.605 bph dan 25,5
mmscfd oleh PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java.
Selain itu, kata Ediar, pemerintah juga telah mengarahkan Kontraktor
Kontrak Kerja Sama (KKKS) untuk menjual hasil produksi minyaknya ke PT
Pertamina (Persero). Artinya, kata dia, impor minyak mentah bisa ditekan
dengan tetap mengandalkan cadangan dalam negeri.
“Tidak mungkin Indonesia mengimpor seluruh BBM pada 2025. Sekarang saja
sudah ada sejumlah lapangan migas yang akan dikembangkan,” kata Ediar.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Hendra Friana
<https://tirto.id/author/hendrafriana?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Ekonomi)
Reporter: Hendra Friana
Penulis: Hendra Friana
Editor: Abdul Aziz
Data SKK Migas: Indonesia memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 3,17
miliar barel