Terkena debu PLTU, warga Tidore ramai-ramai minta direlokasi
Minggu, 6 Januari 2019 09:27 WIB
Terkena debu PLTU, warga Tidore ramai-ramai minta direlokasi
Ilustrasi. Suasana pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sumur adem
terlihat dari areal sawah di Sukra, Indramayu, Jawa Barat, Kamis
(23/11/2017). (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Ternate (ANTARA News) - Sejumlah warga Kelurahan Rum Balibunga di
Kepulauan Tidore, Maluku Utara, khususnya yang berdomisili di sekitar
areal Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Rum Tidore mengeluhkan debu
dampak penggunaan batu bara dari pembangkit listrik dan minta direlokasi.
Salah seorang warga Rum Balibunga, Risman saat dihubungi dari Ternate,
Sabtu, mengaku pasrah dengan kondisi yang ada dan saat tidurpun mereka
terpaksa menggunakan masker karena adanya debu batu bara.
Keluhan tersebut sudah berulangkali-kali disampaikan, baik dalam
pertemuan antara pihak PLTU maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Tidore
Kepualuan. Namun sampai saat ini pun belum mendapat solusi.
Hal ini juga termasuk janji pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat
untuk menguji kelayakan udara yang dijanjikan pun tidak kunjung
dilaksanakan.
Pemkot Tidore Kepulauan, Maluku Utara, menyatakan belum dapat
mengabulkan permintaan relokasi warga yang terkena dampak debu batu bara
dari operasional PLTU Rum Tidore.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan Muhammad Sinen dalam
siaran persnya mengatakan untuk saat ini pihaknya belum dapat
merealisasikannya dengan pertimbangan besarnya anggaran relokasi.
"Untuk relokasi itu membutuhkan anggaran yang cukup besar, jadi saya
minta warga harus lebih banyak bersabar," katanya.
Sinen mengatakan terkait persoalan debu yang mengganggu aktivitas warga
itu seharusnya jangan hanya menyalahkan pihak PLTU saja, mengingat jauh
sebelum dibukanya pembangkit listrik tersebut, masalah dampak
pembangunannya telah dibahas bersama, tetapi justru warga masyarakat
setempat yang menerima pengoperasiannya.
"Saya sewaktu masih di DPRD, masalah dibangunnya PLTU ini sudah ditolak
karena masalah dampaknya yang terlalu besar. Hanya oleh masyarakat
dengan harapan supaya dapat biaya pembebasan lahan yang lebih besar,
maka saya dibilang provokator, sekarang baru mereka mengeluh," kata Sinen.
*Baca juga:Perusahaan nasional selesaikan pembangunan PLTU Tidore
<https://www.antaranews.com/berita/582734/perusahaan-nasional-selesaikan-pembangunan-pltu-tidore>*
*Baca juga:Peneliti ingatkan limbah PLTU tingkatkan suhu lau
<https://www.antaranews.com/berita/774977/peneliti-ingatkan-limbah-pltu-tingkatkan-suhu-laut>
Baca juga:Laporan dari San Fransisco - GCAS suarakan bisnis energi hijau
<https://www.antaranews.com/berita/748123/laporan-dari-san-fransisco-gcas-suarakan-bisnis-energi-hijau>*
Pewarta:Abdul Fatah
Editor: Virna P Setyorini
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com