http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1581-optimisme-terukur-perekonomian
/*Optimisme Terukur Perekonomian*/
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Rabu, 09 Jan 2019, 05:00 WIB Editorial
MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1581-optimisme-terukur-perekonomian>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1581-optimisme-terukur-perekonomian>
MENAPAKI awal 2019, senyum pemerintah merekah. Realisasi penerimaan
negara melampaui target dengan belanja nyaris tercapai 100%. Laju
inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa pun tetap terjaga di tingkat
yang rendah.
Optimisme bertambah. Kali ini disumbangkan tren nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS yang cenderung terus menguat. Bahkan, rupiah sempat
menembus kembali level 13-an ribu, setelah pada tutup 2018 masih berada
di 14.390 per dolar AS.
Rupiah memang kembali tergelincir ke 14.145 per dolar AS, kemarin. Meski
begitu, banyak kalangan baik pelaku pasar maupun ekonom memperkirakan
penguatan rupiah masih akan berlanjut. Mereka meyakini rupiah bakal
kembali bertengger di 13-an ribu.
Kondisi eksternal berperan besar dalam menentukan pergerakan rupiah.
Tahun lalu, rupiah dibuat babak belur oleh ekspektasi penaikan suku
bunga Bank Sentral Amerika Serikat. Ketegangan perdagangan antara AS dan
Tiongkok turut melesakkan hantaman terhadap rupiah.
Perkembangan situasi eksternal pula yang membawa rupiah terapresiasi.
Rupiah perlahan terangkat dari level terburuk sepanjang sejarah, yakni
di atas 15.000. Tren penaikan suku bunga acuan AS yang lebih landai
ketimbang ekspektasi, prospek pertumbuhan AS yang melemah, dan
antisipasi kesepakatan dagang AS-Tiongkok membuat rupiah semringah.
Namun, penguatan rupiah tak semata akibat faktor eksternal. Tidak dapat
dimungkiri ada peran kondisi internal dalam pergerakan mata uang kita
menjadi lebih perkasa.
Sudah menjadi tabiat pelaku pasar untuk melihat fundamen perekonomian
ketika angin segar berembus ke negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia. Semakin baik indikator-indikator perekonomian negara yang
bersangkutan, penguatan mata uang yang didapat kian besar.
Seperti yang terjadi pada Indonesia. Dalam lonjakan penguatan rupiah
terdapat apresiasi atas fundamen ekonomi. Pertumbuhan tetap melaju di
tingkat yang moderat kendati perekonomian global lesu. Inflasi juga
cenderung jinak, bahkan di periode libur Lebaran, Natal, dan Tahun Baru.
APBN pun terkelola dengan baik.
Sebaliknya, pelaku pasar hanya akan fokus pada indikator paling lemah
ketika gelombang tekanan mata uang melanda. Walau fundamen perekonomian
Indonesia tergolong baik, ada lubang menganga dalam bentuk defisit
transaksi berjalan. Itu membuat rupiah terpuruk lebih dalam dari nilai
semestinya pada saat mendapat tekanan.
Menutup lubang tersebut ialah syarat mutlak memperbaiki ketahanan nilai
tukar rupiah. Tantangan terletak pada kemauan dan kemampuan memoles daya
tarik investasi langsung.
Pemerintah memang sudah menempuh sejumlah cara untuk memperbaiki iklim
berusaha mulai perbaikan birokrasi, regulasi, hingga kebijakan insentif
fiskal. Bank Dunia melalui pemeringkatan kemudahan berusaha 2018 pun
mengakui terdapat sejumlah perbaikan yang telah dilakukan Indonesia.
Skor yang diperoleh Indonesia naik.
Akan tetapi, peringkat Indonesia turun dari ke-72 menjadi ke-73.
Artinya, perbaikan kemudahan berbisnis di Indonesia tidak seagresif
negara-negara lain.
Tugas pemerintah tidak hanya menelurkan dan menerapkan kebijakan.
Pemerintah juga harus tanpa henti mengevaluasi efektivitas tiap
kebijakan dan segera memperbaiki kebijakan yang majal. Dengan begitu,
akan timbul pula optimisme terukur terhadap perekonomian kita, bukan
optimisme buta tanpa dasar yang solid.