https://suara-islam.com/kampanye-jokowi-dilanda-krisis/


*Kampanye Jokowi Dilanda Krisis*

9 Januari 2019


 Ilustrasi

Ada rapat penting pimpinan parpol pengusung Jokowi yang tak dibahas secara
mendalam. Padahal, rapat ini mengisyaratakan ada sesuatu yang sangat urgen
terkait kampanye paslonpres 01, Jokowi-Ma’ruf Amin (Ko-ruf). Rapat itu
langsung dipimpin oleh Ketua Dewan Pengarah Tim Kampanye Nasional (TKN),
Jusuf Kalla. Berlangsung di rumah Wapres Jalan Brawijaya, Menteng, Jakarta,
pada 17 Desember 2018.

Kalau dilihat dari *‘nature’ *pertemuan ini, yang mereka sebut pertemuan
tertutup, tentulah ada hal-hal ‘tak enak’ yang mereka bicarakan. Kalau
situasi kampanye Ko-Ruf bagus, pastilah mereka menggelar pertemuan terbuka
dengan sorotan banyak kamera TV. Sebaliknya, rapat tertutup hampir pasti
membahas masalah-masalah yang sangat sensitif tentang kampanye Ko-Ruf yang,
secara kasat mata, semakin terdesak belakangan ini.

Sebetulnya, sejak Reuni 212 (2 Desember 2018), kampanye Ko-Ruf dilanda
*‘psychological
war effect’. *Ada semacam ‘efek perang psikologis’. Kubu Jokowi, khususnya
Tim Kampanye Nasional (TKN) kelihatan hilang semangat. Mereka semua
bagaikan patah arang. Tak ada kutik. Tak ada cuit. Semuanya ciut.

Kampanye Ko-Ruf dilanda krisis. Krisis percaya diri. Mereka sudah bisa
membayangkan di mana tempat berlabuh Ko-Ruf. Isyarat itu semakin jelas.

Menyusul pukulan Reuni 212, kampanye *face-to-face *Ko-Ruf ditolak di
mana-mana. Di berbagai daerah, terlihat barisan kursi kosong di ruangan
kampanye *‘indoor’. *Di Jakarta, Pekanbaru, Banda Aceh, dll.. Kehadiran
massa secara artifisial adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan. Ke
mana Jokowi pergi, di situ dilakukan pengerahan massa.

Sialnya, di antara massa yang dikerahkan itu banyak ‘orang pintar’. Dan
mereka nekat. Nekat mempermalukan Jokowi. Mereka itu anak-anak muda. Tetapi
juga banyak orang dewasa. Belakangan ini, berswafoto dua jari dengan latar
belakang Jokowi, trendy di mana-mana. Menyambut Jokowi di pinggir jalan
dengan acungan dua jari, sekarang menjadi fenomenal.

Jadi, Jokowi tak hanya ‘disakiti’ dengan mengosongkan kursi-kursi kampanye
ruangan *(indoor). *Melainkan juga ‘didera’ dengan acungan dua-jari (‘V’).
Dan ini terjadi meluas. Bahkan di depan Istana sekali pun. Masyarakat tidak
lagi perduli tantangan yang mereka hadapi dalam menunjukkan perlawanan

Kirim email ke