Soemarsono di Surabaya
Kesaksian Rosihan tentang peristiwa Surabaya tak bersifat mutlak.
Bonnie Triyana <https://historia.id/@bonnie.t>
13 Des 2010, 01:00
https://historia.id/persona/articles/soemarsono-di-surabaya-DpKl6
Soemarsono di Surabaya
PADA 10 November 2010 harian/Kompas/ memuat artikel wartawan senior
Rosihan Anwar yang berjudul “Inga-Inga 10 November 1945”. Ada tiga hal
yang dia ingin katakan dalam artikelnya:/pertama/, dia adalah saksi
sejarah yang turut hadir dalam beberapa peristiwa penting pada era awal
revolusi Indonesia;/kedua/, dalam masa revolusi banyak orang yang tak
bisa dipegang omongannya seperti para pemuda yang justru tidak ikut
pertempuran; dan/ketiga/, seperti yang ditulis pada paragraf terakhir
artikelnya, dia adalah seorang/Sjahririest/atau pengikut Sutan Sjahrir.
Untuk persoalan yang ketiga, penulis tidak akan campur urusan.
Satu hal lain pula yang menarik adalah kesaksiannya yang menyebutkan
kalau pemuda Soemarsono tak ada dalam pertempuran di Surabaya.
Sebelumnya, Rosihan pernah menulis hal yang sama di harian/Pikiran
Rakyat/, 22 November 2006. Sebagai sebuah kesaksian, apalagi hasil dari
sebuah laporan pandangan mata seorang wartawan yang bertugas meliput
pertempuran, tentu hal tersebut sah-sah saja./Tokh/namanya sejarah sudah
pasti terdiri dari beragam versi dan sudut pandang sepanjang berimbang
dan jujur.
Tapi tulisan Rosihan tentang peristiwa Surabaya itu bak hendak meringkus
satu kesimpulan final dalam genggamannya: karena dia tak melihat
Soemarsono dalam tiga hari kunjungan reportasenya maka Soemarsono tak
punya peran dalam pertempuran Surabaya. Pada paragraf 21 tertulis,
“Selama tiga hari berada dalam kota pertempuran itu tidak satu kali pun
saya lihat pucuk hidung para pemuda pejuang... Soemarsono juga tidak ada
jejaknya sama sekali.” Seperti hendak meneguhkan tuduhannya, Rosihan
kembali melanjutkan kalimatnya, “Inilah contoh klasik kasus perkataan
bertentangan dengan perbuatan.”
Karena tidak melihat batang hidung Soemarsono di Surabaya, yang menurut
kesaksiannya ia temui pada Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta pada
10 November 1945, Rosihan menyimpulkan bahwa “di zaman revolusi pun
–yang konon penuh dengan kesediaan berkorban– sudah ada pemuda yang
berjiwa perhitungan, pragmatis, realistis. Dasar orang Indonesia tidak
berubah tabiatnya.” Kesaksian yang semula berdasarkan pandangan mata,
kini turun menjadi sebuah penilaian yang bersifat personal.
Baru-baru ini terbit buku/Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat
Surabaya 1945 yang Dilupakan/yang disusun oleh Harsutejo dan diterbitkan
Pustaka Sinar Harapan (2010). Buku tersebut membeberkan pengalaman
Soemarsono dalam peristiwa di Surabaya. Dari buku itu dapat diketahui
bahwa Soemarsono ada dalam pertempuran Surabaya dan peristiwa
pertempuran itu tidak berdiri sendiri. Ada berbagai peristiwa yang
mendahuluinya, yakni insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Oranje
pada 19 September 1945, rapat umum di Tambaksari, 21 September 1945 dan
terbunuhnya Brigjend. AWS Mallaby pada 30 Oktober 1945 dan perintah
sekutu kepada arek-arek Surabaya untuk menyerahkan senjata.
Menurut kesaksiannya, Soemarsono turut dalam peristiwa perobekan bendera
di Hotel Oranje sebagai pemimpin Angkatan Muda Minyak (AMM). Dia bersama
Ruslan Wijayasastra, wakilnya di AMM, berteriak-teriak, “/Keep down the
flag, keep down the flag./” Soemarsono pun jadi saksi bagaimana
Ploegman, seorang Belanda yang mengamuk dengan mengibas-kibaskan balok
ke arah pemuda akhirnya tewas di tangan para arek.
Pemuda Soemarsono juga berpidato dalam rapat umum di Tambaksari dan
beberapa hari setelahnya ia mendirikan sekaligus menjadi ketua Pemuda
Republik Indonesia (PRI) yang berpusat di Surabaya. Rapat umum
Tambaksari tersebut memiliki arti penting dalam sejarah perlawanan
rakyat di Surabaya terhadap sekutu. Pada rapat itulah rakyat yang
dipelopori pemuda berkumpul menyatukan tekadnya memertahankan
kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta.
Menurut Soemarsono perlawanan rakyat Surabaya memiliki landasan
ideologi yang kuat, yakni Pancasila itu sendiri.
“Saya menjelaskan arti kemerdekaan dan Pancasila menurut Bung Karno.
Dalam kesatuannya Pancasila ini bagaikan lima jari yang terkepal untuk
meninju kaum penjajah dan anteknya,” kata Soemarsono mengenang kembali
pidato dalam rapat umum Tambaksari.
Banyak pihak menilai perlawanan pemuda di Surabaya tidak dilandasi
ideologi dan pemahaman terhadap arti perjuangan itu sendiri. Sutan
Sjahrir salah satu orang yang mencemaskan hal itu. Dalam risalah
“Perdjoangan Kita” yang ditulisnya ia merisaukan perlawanan pemuda akan
bersifat fasistis karena mewarisi perilaku Jepang.
Soemarsono berpendapat lain. “Perjuangan rakyat Surabaya bukanlah
perjuangan amuk-amukan tetapi perjuangan yang dibimbing ideologi untuk
mempertahankan dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia yang bermartabat,”
kata dia.
Pada 9 November 1945 sore, Soemarsono yang bersama Subandi Widarta
berada di Yogyakarta untuk mengikuti kongres pemuda, mendengar laporan
keadaan gawat di Surabaya. Maka malam itu juga mereka kembali ke
Surabaya tanpa menghadiri kongres dan baru tiba di Surabaya pada pagi
buta. Inggris menepati janjinya. Bom berjatuhan di seluruh penjuru
Surabaya pada 10 November 1945 pukul 06:00 pagi. Keterangan Soemarsono
itu berbeda dengan kesaksian Rosihan yang menyebutkan kalau pemuda
Soemarsono hadir dalam kongres dan naik ke mimbar untuk menyuruh para
pemuda Surabaya pulang kampung bertempur melawan Inggris.
Menurut Soemarsono orang yang berpidato di panggung pada kongres pemuda
di Yogyakarta itu adalah Muntalib wakil PRI dan wakil delegasi pemuda
Jawa Timur. Muntalib sendiri kemudian gugur dalam pertempuran di
Surabaya sekembalinya dari Yogyakarta. Pada 10 November 1945, setibanya
di Surabaya, Soemarsono bermarkas di Pacarkeling. “Tiap pagi saya keluar
dari tempat tersebut bersama Bambang Kaslan dan Supardi sesuai dengan
situasi pertempuran,” kata Soemarsono seperti dikutip oleh Harsutejo.
Dalam buku Rosihan yang terdahulu,/Kisah-Kisah Zaman Revolusi,
Kenang-Kenangan Seorang Wartawan 1946-1949/(Pustaka Jaya, 1975), yang
juga mengisahkan tentang perjalanan liputannya ke Surabaya, disebutkan
kalau dia tak tahu geografi kota Surabaya dan tak pernah menyebutkan
secara jelas di mana dia berada saat itu. Dalam buku yang sama dia juga
tidak menulis secara jelas apakah ia datang ke front pertempuran atau
hanya berdiam diri di belakang garis pertempuran. Jadi alasan Pak Cian
di awal paragraf artikelnya di harian/KOMPAS/ tiga pekan lalu mungkin
bisa diterima sebagai apologia, “Pada usia 88 tahun apalah yang saya
ingat dari peristiwa 10 November 1945 –65 tahun silam– saat arek
Suroboyo melawan tentara Inggris. Wajah orang zaman itu telah kabur,
namanya lupa, kejadiannya pun tampak samar-samar.”
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com