https://tirto.id/pertumbuhan-utang-paling-tinggi-era-sby-atau-jokowi-ddT9
<https://tirto.id/q/ekonomi-kP>
Periksa Data
Pertumbuhan utang Paling Tinggi: Era
SBY atau Jokowi?
Ilustrasi Periksa Data Berapa Pertumbuhan Utang Luar Negeri di Era
Jokowi. tirto.id/Nadya
<https://tirto.id/pertumbuhan-utang-paling-tinggi-era-sby-atau-jokowi-ddT9>
Ilustrasi Periksa Data Berapa Pertumbuhan Utang Luar Negeri
di Era Jokowi. tirto.id/Nadya
Oleh: Hanif Gusman - 10 Januari 2019
Dibaca Normal 2 menit
/Dari sekian sumber utang, utang luar negeri sering menjadi sorotan oleh
lawan petahana, termasuk soal jumlah dan pertumbuhannya./
tirto.id <https://tirto.id/> - “Ini bukan soal angka, ini soal luka,
Luka Indonesiaku. Saya katakan ini karena saya menyadari betapa beratnya
tugas yang menunggu kita semua di depan sana. Saya sayang kalian semua
kawan – kawan”
Cuitan juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Gamal
Albinsaid diunggah di akun Twitter pada 5 Januari 2019 pukul 6.38 WIB.
Dalam cuitan tersebut, Gamal juga menyertakan tiga poster yang berisikan
tentang utang luar negeri dan utang BUMN.
Salah satu hal menarik yang disajikan pada poster yaitu soal pertumbuhan
utang luar negeri. Pada poster pertama, disebutkan “pertumbuhan utang
luar negeri tertinggi dalam perjalanan bangsa yaitu 4.395,9 T pada
November 2018” disertai ilustrasi wajah Presiden Jokowi. Poster tersebut
juga menampilkan perbandingan angka-angka utang untuk setiap era
kepresidenan sejak era Soeharto, minus angka pada era Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY).
Namun, infografik tersebut tidak menyertakan periode waktu, keterangan
mata uang serta sumber rujukan. Jika merujuk pada angka 4.395,9 T,
cenderung merujuk pada total utang pemerintah pusat yang dilaporkan
Kementerian Keuangan pada APBN Kita edisi Desember 2018 (PDF
<https://tirto.id/%20https:/www.kemenkeu.go.id/media/11284/apbn-kita-edisi-desember-2018.pdf>).
Pada laporan tersebut, total utang pemerintah pusat disebutkan sebesar
Rp4.395,97 miliar per November 2018. Angka tersebut terdiri dari
pinjaman luar negeri, pinjaman dalam negeri, serta surat berharga negara
(SBN).
Total utang pemerintah pusat terdiri atas pinjaman luar negeri Rp777,78
triliun (17,69%), pinjaman dalam negeri Rp6,6 triliun (0,15%) dan surat
berharga negara (SBN) Rp3.611,59 triliun atau porsinya 82,16%. SBN
terdiri dari denominasi Rupiah Rp2.612,6 triliun (73%) dan denominasi
valuta asing Rp998,9 triliun (27%).
Sedangkan total utang luar negeri Indonesia, termasuk kelompok
pemerintah dan bank sentral serta kelompok swasta dilaporkan secara
rutin oleh Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter secara berkala
melalui Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI), jumlahnya tentu
lebih besar lagi.
Per Oktober 2018, total utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar
USD360,53 miliar atau setara Rp5.080,95 triliun (Kurs USD1 = Rp14.093).
Terdiri atas kelompok pemerintah dan bank sentral sebesar USD178,33
miliar atau setara Rp2.513,20 triliun (49,46%), dan kelompok swasta
sebesar USD182,20 miliar atau setara Rp2.567,74 triliun (50,54%).
Artinya utang yang disumbang dari swasta lebih dominan daripada pemerintah.
Dari rincian itu, utang luar negeri menjadi hal yang sensitif di
masyarakat. Menteri Keuangan
<https://tirto.id/%20https:/finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4302256/sri-mulyani-bicara-respons-publik-soal-utang-luar-dan-dalam-negeri>Sri
Mulyani pun pernah mengakui hal ini. Ia bilang "secara emosional mungkin
ada bedanya kalau (utang) luar negeri lebih kesal kalau dalam negeri
kagak". Padahal, menurut Sri Mulyani tak ada bedanya meminjam utang luar
negeri atau dalam negeri.
Bagaimana perkembangan utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan?
Bagaimana pertumbuhannya?
Infografik Periksa Data Pertumbuhan Utang Luar Negeri
Untuk mengetahui perbandingan berapa pertumbuhan total utang luar negeri
Indonesia, /Tirto/ mencoba menghitung pertumbuhannya dengan membatasi
sejak 2004 hingga 2018 atau dari era Presiden SBY hingga era Presiden
Jokowi.
Pada akhir 2004, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD141,27
miliar. Utang tersebut sempat berkurang menjadi USD134,5 miliar pada
2005 dan USD132,63 miliar pada 2006. Namun setelahnya, nominalnya
bertambah setiap tahun. Sejak 2004 hingga akhir periode pertamanya
menjabat di 2009, total utang luar negeri Indonesia bertambah sekitar
USD31,6 miliar (22,4%).
Peningkatan utang tersebut terjadi pada kelompok pemerintah dan bank
sentral maupun kelompok swasta. Namun BI mencatat kenaikan utang luar
negeri tersebut juga diiringi dengan peningkatan Pendapatan Domestik
Bruto (PDB) yang cukup besar yaitu USD291,8 miliar
<https://www.bi.go.id/en/iru/economic-data/external-debt/Pages/ExtDebtStat%20Feb%2010.aspx%20>
atau sekitar 113,3 persen.
Pada tahun pertama di periode kedua SBY menjabat sebagai presiden
2009-2014, total utang luar negeri bertambah cukup banyak. Tercatat pada
akhir 2010, posisi utang luar negeri sebesar USD202,41 miliar. Angka
tersebut meningkat sebesar 17,09 persen dari tahun sebelumnya sebesar
USD172,87 miliar.
Penambahan tersebut lebih banyak disumbang oleh kelompok swasta dari
USD73,61 miliar pada 2009 menjadi USD83,79 miliar pada 2009. Sedangkan
kelompok pemerintah dan bank sentral meningkat dari USD99,26 miliar pada
2009 menjadi 118,62 miliar pada 2010. Penambahan utang dengan persentase
dua digit terus terjadi hingga akhir periode SBY pada 2014, meskipun
pada 2013 sempat menurun dengan penambahan hanya sebesar 5,45 persen.
Pada 2014 total utang luar negeri di posisi USD293,33 miliar. Pada akhir
2015 utang luar negeri tercatat makin membesar hingga USD310,73 miliar,
meningkat 5,93 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut terus
bertambah hingga tahun-tahun berikutnya. Bahkan pada 2017, utang luar
negeri meningkat 10,27 persen menjadi USD352,88 miliar dari tahun
sebelumnya sebesar USD320,01 miliar.
Kenaikan tersebut terutama dipicu sektor keuangan; industri pengolahan;
listrik, gas, dan air bersih; serta sektor pertambangan yang menguasai
76,9 persen utang luar negeri kelompok swasta.
*Pertumbuhan Total Utang* *Luar Negeri*
Jika melihat dari posisi utang luar negeri pada saat ini, memang
terlihat besar. Hingga Oktober 2018, utang luar negeri tercatat sebesar
USD360,53 miliar. Namun angka tersebut tidak datang dengan sendirinya.
Utang tersebut tumbuh sejak era pemerintahan sebelumnya. Total utang
luar negeri mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda dari masing-masing
pemerintahan.
Infografik Periksa Data Pertumbuhan Utang Luar Negeri
Pada 2009, utang luar negeri tercatat sebesar USD202,41 miliar. Dalam
kurun waktu lima tahun angka tersebut meningkat menjadi USD293,33 miliar
pada 2014. Artinya, ada penambahan utang sebesar 90,92 miliar dolar AS
atau tumbuh sekitar 44,92 persen. Total utang luar negeri berada
USD293,33 miliar pada akhir 2014 dan terus bertambah.
Hingga Oktober 2018, utang tersebut menjadi USD360,53 miliar. Selama
2014-2018, total utang luar negeri bertambah 67,2 miliar dolar AS atau
tumbuh sekitar 22,91 persen.
Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA
<https://tirto.id/q/periksa-data-gqo?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Hanif Gusman
<https://tirto.id/author/hanifgusman?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Ekonomi)
Penulis: Hanif Gusman
Editor: Suhendra
Ketika SBY mulai menjabat pada akhir 2004, utang luar negeri Indonesia
tercatat sebesar USD141,27 miliar