http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1415-rasa-ayem
/*Rasa Ayem*/
Penulis: *Saur Hutabarat Dewan Redaksi Media Group* Pada: Kamis, 10 Jan
2019, 05:00 WIB podium <http://mediaindonesia.com/podiums>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1415-rasa-ayem>
<http://twitter.com/home/?status=Rasa Ayem
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1415-rasa-ayem via
@mediaindonesia>
Rasa Ayem
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/podiums/2019/01/f8d9eb52104d99a0463ae725a1500133.jpg>
SURVEI terbaru menunjukkan tingginya minat rakyat memilih presiden pada
pemilu mendatang. Hanya 1,1% yang menyatakan tidak akan memilih/golput.
Demikian temuan survei nasional Indikator Politik Indonesia yang dirilis
Selasa (8/1). Survei itu dilakukan 16-26 Desember 2018 dengan sampel
1.220 responden dan margin of error 2,9%.
Yang juga menggembirakan ialah rakyat yang tidak tahu/tidak menjawab
siapa yang bakal dipilih menjadi presiden hanya 9,2%. Masih ada waktu di
masa kampanye ini untuk membuat mereka tahu siapa yang dipilih.
Saya pendukung Jokowi (pengakuan ini demi tegaknya etika). Sudah tentu
saya merasa ayem bila pemilu diselenggarakan ketika survei dilakukan,
Jokowi terpilih menjadi presiden untuk masa jabatan kedua.
Ayem karena perolehan suara Jokowi-Ma'ruf Amin unggul 20,1%. Seandainya
semua (9,2%) yang tidak tahu/tidak menjawab memilih Prabowo Sandiaga
Uno, hasilnya masih bikin saya ayem, yaitu Jokowi-Amin unggul 10,9%.
Bahkan, apabila margin of error negatif (-2,9%) dimasukkan, Jokowi-Amin
masih unggul 8%.
Akan tetapi, apa arti rasa ayem itu? Digali lebih dalam ruang publik
diwarnai perdebatan yang tidak bermutu. Kata lembaga survei Indikator,
informasi yang beredar bukan mengenai rekam jejak kinerja capres dan
cawapres, melainkan isu yang menyerang personal setiap kandidat.
Emosi pemilih dibahasakan sebagai diaduk-aduk dengan bermacam isu
personal yang belum tentu kebenarannya. Katanya, bila pun ada percakapan
tentang kinerja, itu hanya sebatas untuk menimbulkan kemarahan publik,
belum dimaksudkan untuk mencari solusi yang berbasis fakta.
Tentu tidak ada yang baru bahwa ruang publik dirasuki media sosial yang
berisi kebohongan/hoaks. Seperti berjayalah post-truth. Orang tidak
percaya fakta objektif. Orang lebih percaya keyakinan pribadi. Kendati
demikian, survei itu menunjukkan kepercayaan yang tidak tergoyahkan.
Betapa pun sadisnya isu yang menyerang capres secara personal, toh yang
cinta Jokowi tetap saja mencintainya. Mayoritas yang mencintai Jokowi
tidak percaya dengan isu-isu yang menerpa Jokowi. Demikian pula yang
cinta Prabowo. Indikator menyimpulkan, "Ini membuktikan bahwa sikap
partisan terhadap calon presiden menentukan sikap terhadap informasi,
bukan sebaliknya."
Sikap partisan itu menghasilkan Jokowi meraih kemenangan. Saya ayem.
Namun, itu tidak menghilangkan kegusaran saya bahwa sedikit atau banyak
sedang terjadi kematian fakta objektif di ruang publik.
Ruang publik mestinya dipelihara bersama agar jernih dan bermutu. Rasa
ayem itu seyogianya milik semua anak bangsa. Siapa pun terpilih menjadi
presiden, presiden kita bersama.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1415-rasa-ayem>
<http://twitter.com/home/?status=Rasa Ayem
http://mediaindonesia.com/podiums/detail_podiums/1415-rasa-ayem via
@mediaindonesia>