Islam Dalam Pemikiran Soekarno
http://www.berdikarionline.com/islam-dalam-pemikiran-soekarno/
15 MARET 2012 | 19:00
<http://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fislam-dalam-pemikiran-soekarno%2F>
Seperti yang kita ketahui bersama, Soekarno adalah seorang Muslim.
Namun, ternyata Soekarno bukanlah lahir dari keluarga yang kental nuansa
Islamnya. Sang ayahanda, Raden Sukemi Sosrodihardjo, lebih dikenal
sebagai penganut kepercayaan teosofi Jawa atau Kejawen, meskipun secara
formal beragama Islam. Sementara ibunda Soekarno, Idayu, bukan penganut
Islam. Ibunda Bung Karno adalah seorang pemeluk agama Hindu-Bali.
Jadi, bila merujuk pada kategorisasi umat Islam Indonesia yang digagas
oleh Antropolog Amerika Clifford Geertz, dapat dikatakan bahwasanya
Soekarno berasal dari kalangan Islam abangan. Penganut Islam abangan
sendiri memiliki arti secara identitas-formal menganut Islam, namun
dalam praktiknya masih melakukan hal-hal maupun ritual yang bukan
berasal dari agama Islam atau lebih tepatnya dari tradisi pra-Islam.
Berdasarkan latar belakang keluarga seperti itu, maka bisa disimpulkan
bila Islam yang dianut Soekarno merupakan Islam akulturatif, atau Islam
yang telah berakulturasi dengan kultur lokal (Jawa).
*Pro-Pluralisme dan Anti-Taqlidisme*
Seiring dengan waktu, pemahaman Soekarno terhadap Islam secara lebih
mendalam pun muncul tatkala Soekarno menginjak usia remaja dan tinggal
di kediaman H.O.S Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam (SI), di Surabaya.
Melalui berbagai diskusi dan bacaan, Soekarno mulai mengenal Islam
secara intensif ketika itu. Kesadaran diri sebagai seorang Muslim datang
beriringan dengan kesadaran anti kolonialisme dalam diri Soekarno di
masa remajanya.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh keterlibatannya dalam kegiatan
pergerakan yang diselenggarakan SI sebagai organisasi bergaris massa
yang paling maju tendensi anti kolonialnya pada masa itu. Sehingga Islam
yang berkembang dalam diri Soekarno adalah Islam yang anti penindasan
dan anti penjajahan.
Tetapi, tetap saja cakrawala berpikir Soekarno tidak terbatas pada satu
paradigma religiusitas ke-Islam-an saja. Ia juga menyerap ajaran-ajaran
teologis lainnya yang hidup dalam alam pikiran masyarakat nusantara,
dan itu makin memperkaya keyakinannya akan Sang Khalik.
Dalam buku “Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat” (1966), Soekarno berujar :
/“ Tahun 1926 adalah tahun dimana aku memperoleh kematangan dalam
kepercayaan. Aku beranjak berpikir dan berbicara tentang Tuhan.
Sekalipun di negeri kami sebagian terbesar rakyatnya beragama Islam,
namun konsepku tidak disandarkan semata-mata kepada Tuhannya orang
Islam. Pada waktu aku melangkah ragu memulai permulaan jalan yang
menuju kepada kepercayaan, aku tidak melihat Yang Maha Kuasa sebagai
Tuhan kepunyaan perseorangan. Menurut jalan pikiranku, maka
kemerdekaan seseorang meliputi juga kemerdekaan beragama,”/
Dari pernyataannya ini, tampak jelas pengakuan Soekarno akan eksistensi
ajaran teologis dari agama selain Islam yang hidup dalam masyarakat
nusantara sejak lama. Selain itu, Soekarno juga telah mengakui adanya
kemerdekaan beragama sebagai bagian dari kemerdekaan individu. Dalam
pengertian lain, Soekarno telah menghargai pluralisme beragama sejak ia
muda.
Upaya Soekarno mengkaji ajaran Islam makin intens ketika putra ‘sang
fajar’ itu dibuang ke Ende, Flores oleh penguasa kolonial pada tahun
1933. Pada saat yang sama pula, Soekarno mulai menyatakan berbagai
pemikirannya tentang Islam kepada para sahabatnya, salah satunya
A.Hassan dari organisasi Persatuan Islam (Persis).
Ketika itu, beliau sering melakukan komunikasi via surat dengan para
sahabatnya itu. Dalam surat-surat tersebut yang dikemudian hari
dikenal sebagai “Surat-Surat Islam Dari Ende”–menjadi bagian dari buku
Di Bawah Bendera Revolusi (DBR) Jilid I, Soekarno mengutarakan
pandangannya mengenai Islam serta korelasinya dengan kehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Salah satu pandangannya yang menarik adalah mengenai hukum syariat dan
era kekhalifahan yang banyak diklaim kalangan Islamis sebagai masa
‘keemasan’ Islam. Berikut pandangan Soekarno mengenai hal itu seperti
yang tertulis dalam Surat-Surat Islam Dari Ende (DBR Jilid I, 1964) :
“/Islam harus berani mengejar jaman, bukan seratus tahun, tetapi
seribu tahun Islam ketinggalan jaman. Kalau Islam tidak cukup
kemampuan buat mengejar seribu tahun itu, niscaya ia akan tetap
hina dan mesum. Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan
kembali pada ‘zaman chalifah’, tetapi lari ke muka, lari mengejar
jaman. Itulah satu-satunya jalan buat menjadi gilang gemilang
kembali. Kenapa toch kita selamanya dapat ajaran, bahwa kita harus
mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang toch tahun 1936
dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900?/
/Mengapa kita musti kembali ke zaman ‘kebesaran Islam’ yang
dulu-dulu? Hukum Syariat? Lupakah kita, bahwa hukum Syariat itu
bukan hanya haram, makruh, sunnah, dan fardlu saja? Lupakah kita,
bahwa masih ada juga barang ‘mubah’ atau ‘jaiz’? Alangkah baiknya,
kalau umat Islam lebih ingat pula kepada apa yang mubah atau yang
jaiz ini! Alangkah baiknya kalau ia ingat bahwa ia di dalam urusan
dunia, di dalam urusan statemanship, ‘boleh berqias, boleh
berbid’ah, boleh membuang cara-cara dulu, boleh mengambil cara-cara
baru, boleh beradio, boleh berkapal udara, boleh berlistrik, boleh
bermodern, boleh berhyper-hyper modern’, asal tidak nyata di hukum
haram atau makruh oleh Allah dan Rasul! Adalah suatu perjuangan yang
paling berfaedah bagi ummat Islam, yakni berjuang menentang
kekolotan. Kalau Islam sudah bisa berjuang mengalahkan kekolotan
itu, barulah ia bisa lari secepat-kilat mengejar zaman yang seribu
tahun jaraknya ke muka itu. Perjuangan menghantam orthodoxie ke
belakang, mengejar jaman ke muka, perjuangan inilah yang Kemal
Attaturk maksudkan, tatkala ia berkata, bawa ‘Islam tidak menyuruh
orang duduk termenung sehari-hari di dalam mesjid memutarkan tasbih,
tetapi’ Islam adalah perjuangan.’ Islam is progress: Islam itu
kemajuan!”/
Soekarno secara tegas menolak pandangan sebagian kalangan Islam yang
memandang ‘kembali ke era khalifah’ sebagai tolok ukur kemajuan Islam.
Ia juga menolak interpretasi hukum syariat secara kaku karena hal itu
akan menyebabkan umat Islam menentang modernitas.
Terkait hal tersebut, Soekarno memang seorang Muslim yang modernis dan
rasionalis. Ia secara tegas menganjurkan umat Islam untuk menyerap
perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan (IPTEK) meskipun bukan
produk peradaban Islam. Oleh karena itu pula Soearno sangat menentang
kultur taklid dalam umat Islam. Taklid merupakan pola pengajaran agama
Islam tanpa referensi yang logis dan mudah dipahami.
/“Taqlid adalah salah satu sebab yang terbesar dari kemunduran Islam
sekarang ini. Semenjak ada aturan taqlid, disitulah kemunduran Islam
cepat sekali. Tak heran! Dimana genius dirantai, dimana akal
fikiran diterungku, disitulah datang kematian./
/….Saya sendiri, sebagai seorang terpelajar, barulah mendapat lebih
banyak penghargaan kepada Islam, sesudah saya mendapat membaca
buku-buku Islam modern dan scientific. Apa sebab umumnya kaum
terpelajar Indonesia tak senang Islam? Sebagian besar, ialah oleh
karena Islam tak mau membarengi jaman, karena salahnya orang-orang
yang mempropagandakan Islam: mereka kolot, mereka orthodox, mereka
anti-pengetahuan dan memang tidak berpengetahuan, takhayul, jumud,
menyuruh orang bertaqlid saja, menyuruh orang percaya saja, mesum
mbahnya mesum!/
/Bagi saya anti-taqlidisme itu berarti : bukan saja ‘kembali’ kepada
Qur’an dan Hadits, tetapi ‘kembali kepada Qur’an dan Hadits dengan
mengendarai kendaraannya pengetahuan umum.”/ –Soekarno dalam Surat
Ende 1936 (DBR Jilid I, 1964).
Pandangan Soekarno tersebut mencerminkan sikap Soekarno yang tidak
‘mengharamkan’ produk kebudayaan modern seperti IPTEK yang notabene
‘lahir’ dari masyarakat non-Islam atau yang sering disebut sebagian umat
Islam sebagai masyarakat ‘kafir’. Soekarno berpandangan bila hal itu
baik bagi kemajuan umat Islam, maka tak ada salahnya diadopsi, meskipun
tanpa menanggalkan sikap kritis umat Islam tentunya.
*Api Islam*
Soekarno sendiri tidak senang dengan sebagian kalangan Islam yang gemar
sekali melontarkan kata-kata atau tudingan ‘kafir’ sebagai refleksi
ketidaksenangannya terhadap kaum non-Islam. Padahal realitasnya hal itu
justru menggambarkan sikap mereka yang terbelakang dan anti-kemajuan.
Dalam Surat Ende 1936, Soekarno menegaskan :
/“Kita royal sekali dengan perkataan ‘kafir’. Pengetahuan
Barat-kafir; radio dan kedokteran –kafir; pantolan dan dasi dan
topi-kafir; sendok dan garpu dan kursi-kafir; tulisan Latin-kafir;
ya pergaluan dengan bangsa yang bukan Islam pun-kafir! Padahal apa
yang kita namakan Islam? Bukan roh Islam yang berkobar-kobar, bukan
api Islam yang menyala-nyala, bukan amal Islam yang mengagumkan,
tetapi dupa dan kurma dan jubah dan celak mata! Siapa yang mukanya
angker, siapa yang tangannya bau kemenyan, siapa matanya dicelak dan
jubahnya panjang dan menggenggam tasbih yang selalu berputar-dia,
dialah yang kita namakan Islam. Astagafirullah! Inikah Islam? Inikah
agama Allah? Ini? Yang mengkafirkan pengetahuan dan kecerdasan,
mengkafirkan radio dan listrik, mengkafirkan kemoderenan dan
ke-up-to-date-an? Yang mau tinggal mesum saja, tinggal kuno saja,
yang terbelakang saja, tinggal ‘naik onta’ dan ‘makan zonder sendok’
saja ‘seperti di jaman Nabi dan Chalifahnya’? Yang menjadi marah dan
murka kalau mendengar kabar tentang aturan-aturan baru di Turki atau
di Iran atau di Mesir atau di lain-lain negeri Islam di tanah Barat?”/
Soekarno sangat tidak sepakat dengan kecenderungan sebagian orang Islam
kala itu (bahkan hingga kini) yang terlalu gegabah menolak segala hal
berbau modern sebagai produk kafir yang haram digunakan umat Islam.
Dalam hal ini, watak progresif dalam keberagamaan Soekarno tampak dengan
jelas melampaui zamannya.
Progresifitas Soekarno juga terlihat ketika ia menanggapi adanya
pemikiran sebagian orang islam yang hanya memperhatikan hal-hal yang
tidak substansial dalam agama. Terhadap kaum Islam yang semacam ini,
Soekarno menjuluki mereka sebagai Islam Sontoloyo. Ia pun menuliskan
pandangannya mengenai Islam Sontoloyo itu dalam sebuah artikel berjudul
sama yang dimuat media Pandji Islam (1940) :
/“Islam melarang kita memakan babi. Islam juga melarang kita
menghina kepada si miskin, memakan haknya anak yatim, memfitnah
orang lain, menyekutukan Tuhan yang Esa itu. Malahan yang belakangan
ini dikatakan dosa yang terberat, dosa datuknya dosa. Tetapi apa
yang kita lihat? Coba tuan menghina si miskin, makan haknya anak
yatim, memfitnah orang lain, musyrik didalam tuan punya pikiran dan
perbuatan, maka tidak banyak orang yang menunjuk kepada tuan dengan
jari seraya berkata: tuan menyalahi Islam. Tetapi coba tuan makan
daging babi, walau hanya sebesar biji asampun dan seluruh dunia akan
mengatakan tuan orang kafir! Inilah gambaran jiwa Islam sekarang
ini: terlalu mementingkan kulit saja, tidak mementingkan isi.”/
Jadi, menurut Soekarno, seorang Muslim yang sejati haruslah paham
substansi dari ajaran Islam. Karena bila tidak ada pemahaman semacam
itu, maka yang terjadi adalah penyempitan makna islam hanya sebatas
‘pengharaman babi’ atau ‘penutupan aurat’ belaka.
Ada juga tindakan dan pemikiran Soekarno lainnya yang menentang
diskriminasi terhadap kaum perempuan yang acapkali berlangsung atas
nama Islam. Di awal tahun 1939, Soekarno telah membuat suatu ‘kehebohan’
dikalangan Islam. Kehebohan itu berawal ketika Ia dengan sikap tegas
meninggalkan rapat umum organisasi Islam Muhammadiyah sebagai wujud
protesnya terhadap pemasangan tabir antara laki-laki dan perempuan oleh
panitia rapat.
Kekesalan itu ia tuangkan dalam sebuah tulisan yang muncul di Pandji
Islam pada tahun yang sama. Tulisan itu ia beri judul ‘Tabir adalah
Lambang Perbudakan’. Berikut uraian pendapat Soekarno mengenai tabir
dalam tulisan tersebut :
/“Saya anggap tabir itu sebagai suatu simbol. Simbolnya perbudakan
perempuan. Keyakinan saya ialah, bahwa Islam tidak mewajibkan tabir
itu. Islam memang tidak mau memperbudakkan perempuan. Sebaliknya
Islam mau mengangkat derajat perempuan. Tabir adalah salah satu
contoh dari hal yang tidak diperintahkan oleh Islam, tetapi diadakan
umat Islam.”/
Bayangkan, tabir pemisah antara laki-laki dan perempuan yang memang
lazim digunakan dalam acara-acara yang diselenggarakan organisasi Islam
pada masa itu (termasuk organisasi yang mengklaim diri modernis seperti
Muhammadiyah), justru ditentang oleh Soekarno. Ia bahkan dengan tegas
menyebut hal semacam itu sebagai simbol perbudakan perempuan. Sebuah
sikap yang sangat progresif dan revolusioner , terutama dalam konteks
zaman itu.
Demikianlah sebagian pemikiran Soekarno yang dapat dikatakan
merepresentasikan pemikirannya secara keseluruhan terhadap Islam.
Islam yang modernis, rasional, progresif, pluralis, humanis dan
substansial. Paradigma ke-Islam-an semacam itulah yang dibutuhkan umat
Islam Indonesia kini. Paradigma yang berbasiskan pada api Islam, bukan
abu nya.
*HISKI DARMAYANA*
/Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang
Sumedang/*)
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com