*Kalau ruang gerak syair sangat luas, supaya seimbang kemungkinannya yang
bukan syiar makin sempit atau diperkecil? hahahahahaha*

https://sp.beritasatu.com/home/tgb-ruang-gerak-syiar-islam-di-indonesia-sangat-lapang-dan-luas/128271


*TGB: Ruang Gerak Syiar Islam di Indonesia Sangat Lapang dan Luas*
Sabtu, 26 Januari 2019 | 11:30

[JAKARTA] Ketua Bidang Keumatan Partai Golkar Muhammad Zainul Majdi atau
yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) menilai Indonesia sebagai negara
yang paling memberikan keleluasaan dalam syiar ajaran Islam. Kondisi
tersebut patut disyukuri di tengah maraknya isu pembatasan ruang gerak
syiar Islam di Tanah Air.

Politisi yang juga mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) itu
mengatakan, jika dibandingkan dengan berbagai negara di dunia, Indonesia
bahkan dapat dikatakan sebagai negara yang memberikan kebebasan dalam
berislam.

"Kadang karena kita sejak lahir sudah lahir dalam suasana keislaman yang
sangat kental, kita pikir di seluruh dunia kaya begitu. Tetapi, ketika kita
ke negara-negara luar, kita bisa mengkomparasi. Dan saya yakin, secara
objektif hasil dari komparasi itu adalah kesimpulan bahwa berislam di
negara ini sangat lapang dan luas," kata TGB dalam keterangan tertulis yang
diterima di Jakarta, Sabtu (26/1).

TGB mencontohkan mengenai syiar agama atau pengajian yang dikumandangkan
melalui pengeras suara. TGB meyakini hal itu tidak akan ditemukan di negara
lain. Bahkan, lulusan Universitas Al Azhar, Kairo itu menambahkan, tidak
hanya keleluasaan dalam berekspresi kepada umat Islam, pemerintah juga
memberikan fasilitas, seperti penyediaan perangkat undang-undang yang
memfasilitasi syiar Islam hingga tingkat daerah.

"Indonesia memang bukan negara agama, tetapi nilai-nilai agama itu tidak
pernah lepas dari praktik pemerintahan di Indonesia. Jadi kita harus
bersyukur, sebagai umat di Indonesia punya keleluasaan dalam berislam,
termasuk juga umat-umat yang lain," ujarnya.

TGB menekankan, Islam hadir membawa kedamaian dan kemaslahatan bagi umat
manusia. Untuk itu, nilai-nilai dan semangat Islam harus terus dijaga untuk
memperkokoh tali persaudaraan di antara sesama anak bangsa.

"Tidak usah kita mempertentangkan paling islami, paling pejuang Islam. Mari
kita rawat nilai-nilai kebaikan yang sesuai dengan fitrah manusia. Kita
cinta Indonesia, namun bukan berarti meletakkan nasionalisme seperti agama
karena menyia-nyiakan Indonesia merupakan bagian dari kufur nikmat,"
ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi menyatakan, persoalan
yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini adalah kerap kali agama dibawa ke
wilayah yang lebih privat dalam berpolitik. Ketua Dewan Kemakmuran Mesjid
(DKM) Tajug Gede Cilodong itu menganggap saat ini, nilai-nilai keagamaan
seolah tersekat oleh ikatan politik, terlebih menjelang Pemilihan Presiden
(Pilpres), 17 April 2019 mendatang.

"Seperti ada anggapan ulama pendukung nomor urut satu (Jokowi-Ma'ruf),
ulama pendukung nomor urut dua (Prabowo Subianto-Sandiaga Uno)," kata Dedi
mencontohkan.

Mantan Bupati Purwakarta ini menegaskan, sehebat apapun ilmu agama ulama
yang dicap pendukung capres-cawapres nomor urut 01, tak akan digubris oleh
masyarakat pendukung capres-cawapres nomor urut 02. Hal ini juga berlaku
sebaliknya.

"Nomor dua juga sama, sehebat apapun ulama nomor dua, kubu nomor satu
enggak mau dengar," imbuhnya.

Dedi menegaskan, kondisi tersebut mutlak harus segera dibenahi. Apapun
alasannya, pilihan politik tidak boleh dibawa ke ranah keyakinan yang
bersifat keimanan beragama.

"Jadi pilihan politik itu tidak ada kaitannya dengan keimanan," katanya.
[F-5]

Kirim email ke