https://www.antaranews.com/berita/794155/ujaran-kebencian-dan-hoaks-ibarat-penjajahan-gaya-baru
Ujaran kebencian dan hoaks
ibarat penjajahan gaya baru
Sabtu, 2 Februari 2019 00:24 WIB
Pengamat Muchlis Ahmady sebut ujaran kebencian dan hoaks sebagai
penjajahan gaya baru (Istimewa)
Jakarta (ANTARA News) - Pengamat sosial media Muchlis Ahmady menyebut
penyebarluasan ujaran kebencian dan kabar bohong atau hoaks merupakan
bentuk penjajahan gaya baru.
"Kalau dahulu penguasaan ekonomi suatu negara terhadap negara lain
melalui kolonisasi, kemudian muncul developmentalisme. Setelah ia tidak
populer lagi untuk dijual, muncullah globalisasi," kata Muchlis di
Jakarta, Jumat.
Instrumen yang digunakan untuk hal itu di antaranya ujaran kebencian dan
hoaks.
Tujuan akhir dan esensinya, kata Muchlis, sama yakni penguasaan aset dan
penjajahan gaya baru melalui ekonomi.
"Aktornya bermacam-macam mulai dari state actor, nonstate actor dan
state sponsor actor," kata Sekolah Bisnis IPB itu.
Penyebarluasan ujaran kebencian dan kabar bohong banyak digunakan dalam
penjajahan gaya baru di samping menggunakan instrumen narkoba dan "human
trafficking".
Menurut Muchlis, seiring berjalannya waktu, spektrum ancaman terhadap
suatu negara semakin kompleks.
Ia menambahkan, ancaman tidak hanya bersifat tradisional saja akan
tetapi lebih banyak bersifat nontradisional dan seringkali tidak
terlihat, salah satunya adalah perang proksi.
"Biasanya kepentingan merupakan faktor utama yang menyebabkan suatu
negara menjadi korban dari perang proksi," katanya.
Ia berpendapat, besarnya penetrasi internet dan media sosial dalam
kehidupan sosial masyarakat suatu negara akan berdampak secara positif
sekaligus negatif.
"Secara positif dapat dikembangkannya perekonomian berbasis teknologi
komunikasi, sedangkan sisi negatifnya maka media sosial dapat dipakai
untuk menyebarkan pesan-pesan provokatif dan ukaran kebencian serta
hoaks yang dapat memecah belah suatu bangsa," katanya.
Menurut dia, perpecahan inilah yang akan berkembang menjadi perang
proksi baik disadari atau tidak.
Ia menambahkan kelompok radikal melalui media sosial akan mengambil
peranan yang sangat besar dalam memberikan informasi kepada publik
khususnya kaum muda.
Oleh karena itu, media sosial memegang peran penting dalam memberikan
informasi ke publik terhadap isu-isu radikalisme.
"Melalui media sosial itulah masyarakat dengan mudah terprovokasi dan
dengan membangun sebuah situs khusus yang digunakan sebagai media untuk
melakukan koordinasi semua kegiatan yang terkait dalam pelaksanaan
radikalisme," katanya.
*Baca juga: Kemendagri: Masyarakat perlu kemampuan klasifikasi berita
hoaks
<https://www.antaranews.com/berita/793982/kemendagri-masyarakat-perlu-kemampuan-klasifikasi-berita-hoaks>
Baca juga: Ulama serukan masyarakat tidak terpecah belah karena hoaks
<https://www.antaranews.com/berita/793919/ulama-serukan-masyarakat-tidak-terpecah-belah-karena-hoaks>
Baca juga: Jokowi sebut sangat bagus saat Muslimat NU deklarasi anti
hoaks
<https://www.antaranews.com/berita/791985/jokowi-sebut-sangat-bagus-saat-muslimat-nu-deklarasi-anti-hoaks>*
Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019