*Jokowi turut berdoa, tetapi ternyata doa yang diucapkan kyai Zubair adalah
untuk kemenangan Prabowo, jadi apakah Allah menerima permohon Kyai Zubair,
kita lihat saja hasilnya di bulan April yang akan datang. Apa pendapat
Anda, apakah doa Kyai dikabulkan?*


https://suara-islam.com/suara-langit-untuk-prabowo/


*Suara Langit untuk Prabowo*

3 Februari 2019

 2 minutes read

Cetak

Google+

Twitter

Facebook
 Ilustrasi

Amien Rais mengatakan doa Kyai Maimoen Zubair untuk Prabowo yang beliau
lantunkan di samping Jokowi, adalah takdir Yang Maha Kuasa. Tentu saja
pendapat ini seratus persen benar. Di dalam keyakinan Islam, tidak satu hal
pun yang terjadi tanpa pengaturan Allah SWT.

Karenanya, upaya untuk meralat doa yang tertukar itu menjadi tidak relevan.
Boleh dibilang ‘absurd’. Doa adalah apa-apa yang tersimpan di hati. Kalau
doa yang telah direncanakan dengan baik tetapi terucapkan lain, tidaklah
harus disikapi dengan perasaan negatif. Tidak pula harus disusul dengan
perilaku yang dinilai oleh banyak orang sebagai tindakan yang ‘melanggar
kesopanan’ untuk Kyai senior sekaliber Mbah Moen.

Tindakan yang dianggap tak sopan itu terjadi ketika Ketua Umum PPP Muhammad
Romahurmuziy (Romi) mengikuti Mbah Moen masuk ke kamar pribadinya.
Kemudian, Pak Romi meminta Mbah Moen berbicara yang intinya menyatakan
dukungan kepada Jokowi. Romi melakukan swarekam dan tersebar di dunia maya.
Kalangan santri dikatakan marah terhadap tindak-tanduk Romi yang dianggap
tidak hormat kepada Mbah Moen.

Romi dibully banyak netizen. Macam-macam komentar tentang Ketua Umum PPP
ini. Pada dasarnya publik menyesalkan cara Romi ‘mengejar’ Mbah Moen sampai
ke kamar pribadinya.

Sebetulnya, masalah doa salah ucap itu sederhana saja. Tidak rumit. Ada
acara Sarang Berzikir, Jumat (01/02/2019). Pak Jokowi hadir dan duduk
bersebelah dengan Kyai Maimoen. Kertas doa sudah disiapkan Kyai yang sangat
dihormati itu. Beliau simpan di dalam saku bajunya.

Tibalah saat acara akan ditutup dengan doa yang disampaikan oleh Mbah Moen.
Doa ini dimaksudkan untuk kesuksesan Pak Jokowi terpilih kembali menjadi
presiden kedua kali. Setelah selesai sederetan ‘iftitah’ (pembuka) doa,
sampailah ke kalimat-kalimat kunci. Yaitu, kalimat doa untuk Jokowi.

Diperkirakan, nama Jokowi tertulis di kertas yang berwarna kuning itu.
Tetapi, entah bagaimana dengan kuasa Allah, Mbah Moen menyebut lebih-kurang
“…Pemimpin ini, presiden ini, Pak Prabowo, jadikanlah ia terpilih kedua
kalinya.”

Romi memang memberikan penjelasan yang masuk akal. Doa dalam bahasa Arab
itu aslinya dimaksudkan untuk Pak Jokowi. Logis apa yang dikatakan oleh
Romi. Karena memang ada tertera dan tersebut kata “dua kali”. Tentu yang
dimaksudkan adalah Jokowi.
Hanya saja, lisan Kyai Maimoen ‘digerakkan’ untuk menyebut “Prabowo”.
Memang tidak logis Prabowo didoakan terpilih kedua kalinya. Selama beberapa
saat, penyebutan nama Prabowo itu mengalir natural. Sampai akhirnya Romi
bangkit dari kursinya dan menghampiri Mbah Moen untuk mengatakan bahwa
beliau salah sebut nama.

Romi meminta Kyai mengulangi doa di bagian nama Jokowi supaya sebutan
“Prabowo” diganti dengan “Jokowi”. Dalam proses untuk mengulang itu,
mikrofon terganggu. Tak keluar suara.

Namun, setelah masalah mik teratasi, Mbah Moen masih terpeleset menyebut
nama Prabowo. Kata orang-orang, Romi menjadi sedikit panik. Tetapi,
Alhamdulillah, ralat doa bisa juga terlaksana.

Jadi, tujuan awal doa itu tidak ada yang membantah. Yaitu, untuk Pak
Jokowi. Pastilah. Tak mungkin untuk Pak Prabowo. Dan Mbah Moen pun
bermaksud mendoakan Pak Jokowi. Tidak ada yang bisa membantah ini.

Yang menjadi pertanyaan, apakah suasana batin Mbah Moen waktu itu lebih
kuat tersambung ke Prabowo atau ke Jokowi? Ini yang tidak mudah dijawab
dengan tulus. Pertanyaan lainnya, apa kira-kira yang menyebabkan Mbah Moen
terpeleset mengucapkan “Prabowo” di atas nama “Jokowi” dalam ‘flow’
(aliran) yang terdengar lancar?

Kelihatannya kita perlu melakukan investigasi panjang-lebar untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan ini. Sayangnya, hampir mustahil investigasi itu bisa
dilakukan mengingat salah satu nara sumbernya adalah Mbah Moen sendiri.

Yang bisa kita lakukan hanyalah sebatas observasi. Sebagai contoh, di
tengah intensitas kampanye pilpres yang sangat tinggi di seluruh Indonesia,
khususnya di Jawa Tengah, saat ini, saya membayangkan Mbah Moen tak mau
ketinggalan berita tentang itu. Seperti kita juga. Wallahu a’lam. Saya
yakin beliau mengikuti jalannya kampanye yang boleh dikatakan ‘terseru’
dalam sejarah pilpres pasca-reformasi.

Saya menduga, Mbah Moen mungkin mendapat kabar juga betapa banyaknya
kejanggalan dalam bentuk ketidakadilan yang dialami oleh paslon 02. Nah,
mungkinkah akumulasi ketidakadilan yang sampai ke Mbah Moen itu mengusik
nurani beliau? Sehingga nama Prabowo semakin ‘mengeras’ di dalam memori
Tuan Guru? *Wallahu a’lam*. Ada kemungkinan.

Bagi saya pribadi, didasarkan pada persiapan kunjungan Jokowi ke pesantren
Mbah Moen, yang pasti dilakukan secara cermat dan rapi, plus kertas doa
yang sudah disiapkan oleh Tuan Guru, saya yakin ‘salah sebut’ dalam doa itu
bukan sesuatu yang bisa dikatakan kesalahan ‘rehearsal’ (latihan).

Ada sesuatu yang ‘lebih’ dari itu. Subjektivitas saya cenderung menyebutnya
sebagai “Suara Langit untuk Prabowo”.

*Asyari Usman*
*(Penulis adalah wartawan senior)*

Kirim email ke