Gesendet von Yahoo Mail auf Android 
 
   ----- Weitergeleitete Nachricht ----- Von: "Islam Bergerak" 
<[email protected]> An: "[email protected]" 
<[email protected]> Cc:  Gesendet: So., März 10, 2019 at 13:23 Betreff: 
[Pos baru] Politik Perempuan Independen: Refleksi untuk  International Women’s 
Day (IWD) 2019   #yiv6982999354 a:hover {color:red;}#yiv6982999354 a 
{text-decoration:none;color:#0088cc;}#yiv6982999354 
a.yiv6982999354primaryactionlink:link, #yiv6982999354 
a.yiv6982999354primaryactionlink:visited 
{background-color:#2585B2;color:#fff;}#yiv6982999354 
a.yiv6982999354primaryactionlink:hover, #yiv6982999354 
a.yiv6982999354primaryactionlink:active {background-color:#11729E 
!important;color:#fff !important;}#yiv6982999354 
WordPress.com
|   Arlandy Ghiffari menulis:"Lanskap Historis: Perdebatan AwalDalam tulisan 
dan pidato para feminis sosialis akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20—khususnya 
di Eropa—hampir semua menyoroti persoalan hak pilih bagi perempuan (women’s 
suffrage). Persoalan ini memang hampir memenuh"  
|   
|  
|  |


|  
 Pos baru pada Islam Bergerak 
  |   |


|  
|  
|    |  
Politik Perempuan Independen: Refleksi untuk  International Women’s Day (IWD) 
2019 
 oleh Arlandy Ghiffari   |

 
Salah satu pegiat Forum Islam Progresif berorasi di depan massa IWD 2019 di 
Jakarta. Kredit Foto: Amalia Salabi

Lanskap Historis: Perdebatan Awal
Dalam tulisan dan pidato para feminis sosialis akhir abad ke-19 dan awal abad 
ke-20—khususnya di Eropa—hampir semua menyoroti persoalan hak pilih bagi 
perempuan (women’s suffrage). Persoalan ini memang hampir memenuhi seluruh 
ruang perdebatan gerakan perempuan kala itu—sosialis vis- à-vis borjuis. Bagian 
awal berikut juga akan menyoroti lintasan perdebatan tersebut secara singkat. 
Hal ini penulis anggap penting karena nantinya akan membawa kita pada lanskap 
Konferensi Perempuan Sosialis Internasional Kedua (the Second International 
Conference of Socialist Women) di Kopenhagen tahun 1910 yang menghasilkan 
kesepakatan penting: pengorganisiran dan peringatan IWD setiap tahun; serta 
relevansinya dalam konteks nasional hari ini.

Seminggu setelah Rusia memperingati IWD untuk pertama kalinya, Alexandra 
Kollontai mengawali tulisannya di surat kabar Pravda dengan pertanyaan “Apa 
‘Women’s Day itu?’ Benarkah masih diperlukan?”[1] yang mana pertanyaannya 
tersebut bukan pertanyaan retoris. Dalam tulisan bertitimangsa 1913 itu, selain 
mengkritik cara kerja partai yang masih menganggap persoalan perempuan adalah 
persoalan kelas dua, Kollontai juga menyoroti bahwa Women’s Day harus menjadi 
perjuangan perempuan pekerja dengan isu-isu yang dekat dengan keseharian 
mereka—perlindungan untuk ibu, regulasi tentang buruh perempuan, biaya hunian 
yang meningkat, dll. Dalam uraiannya itu Kollontai mencoba memberikan distingsi 
antara perjuangan perempuan borjuis dengan perempuan pekerja, bahwa perjuangan 
perempuan pekerja tidak hanya tentang hak pilih bagi perempuan semata. Namun, 
tak hanya melontarkan gagasan melalui tulisan, Kollontai juga mewujudkannya 
dengan membentuk Departemen Perempuan (Zhenotdel)[2] yang memiliki dua tujuan: 
membantu pengorganisiran dapur-dapur, pengasuhan anak, dan pencucian pakaian 
yang semuanya bersifat komunal untuk mulai membebaskan perempuan dari beban 
kerja rumah tangga; dan membantu perempuan meraih kepercayaan diri untuk keluar 
dari tradisi-tradisi kuno dan ikut ambil bagian dalam kehidupan politik negara 
yang baru.

Tidak hanya di Rusia, di Jerman, Clara Zetkin, anggota Komite Eksekutif Komunis 
Internasional (Komintern), juga merupakan salah seorang intelektual perempuan 
sosialis yang membawa isu perempuan pekerja ke permukaan melalui pidato dan 
tulisan-tulisannya. Dalam papernya untuk Kongres Partai Sosial Demokrat 
Jerman[3], Zetkin juga menyoroti hak pilih bagi perempuan sebagai tuntutan 
utama dari program politik Partai Sosial-Demokrat. Namun, tuntutan ini 
merupakan “[…] konsekuensi langsung dari mode produksi kapitalis” bukan terjadi 
serta-merta apalagi alamiah seperti dipropagandakan gerakan perempuan borjuis 
yang terinspirasi dari filsuf spekulatif abad ke-18 dan 19. Karenanya, jika pun 
tuntutan ini nampak sama seperti tuntutan gerakan perempuan borjuis, bagi 
Zetkin hal ini hanya bersifat sementara (transient conditions) seturut kondisi 
material historisnya. Dengan kata lain, tuntutan gerakan perempuan sosialis di 
setiap zaman tentu akan berbeda-beda.

Dalam pidatonya di Kongres Partai Sosial-Demokrat Jerman tahun 1896 berjudul 
Only in Conjunction With the Proletarian Woman Will Socialism Be Victorious,[4] 
Zetkin melihat bahwa persoalan perempuan (women’s question) muncul ketika mode 
produksi kapitalis menghancurkan sistem ekonomi keluarga lama—periode 
pra-kapitalis—yang menjamin penghidupan dan makna hidup bagi perempuan. Salah 
satu persoalan perempuan itu ialah buruh perempuan yang diupah murah (cheap 
labour). Zetkin memberikan ilustrasi: perempuan yang bekerja ingin membantu 
suaminya, namun ia justru masuk ke dalam persaingan yang tidak adil; perempuan 
yang bekerja ingin menciptakan hidup yang lebih layak bagi anaknya, namun ia 
justru hampir sepenuhnya terpisah dari anaknya itu karena jam kerja yang 
panjang. Maka, kata Zetkin, musuh perempuan kelas pekerja bukanlah laki-laki 
sesama kelas pekerja, justru perempuan kelas pekerja harus bahu-membahu “[…] 
dengan laki-laki kelas pekerja melawan masyarakat kapitalis” yang telah 
mengeksploitasi kedua jenis kelamin ini. Selaras dengan Zetkin, kompanionnya, 
Rosa Luxemburg, tidak menampik bahwa hak pilih bagi perempuan akan memajukan 
dan menajamkan perjuangan perempuan kelas pekerja,[5] namun ia tidak melihat 
hal itu sebagai tujuan utama melainkan “[…] perjuangan kelas pekerja, baik 
laki-laki maupun perempuan” yang harus menjadi perhatian bersama.

Meski isu hak pilih bagi perempuan ini nampak menjadi perjuangan bersama 
feminis sosialis dan borjuis, namun ada perbedaan penting yang mendasarinya: 
hak pilih universal atau hak pilih parsial. Feminis borjuis berposisi bahwa hak 
pilih bagi perempuan harus parsial yang didasarkan pada kepemilikan dan 
pembayaran pajaknya—maka, parsial di sini berarti hak pilih bagi perempuan 
hanya berlaku bagi perempuan kelas menengah atau menengah-atas. Dalam polemik 
itu, Zetkin menulis bahwa hak pilih bagi perempuan harus menjadi hak seluruh 
perempuan, terlepas dari kelasnya.[6] “Seluruh perempuan,” tulisnya, “di mana 
pun posisi mereka, harus menuntut kesetaraan politik untuk kehidupan yang lebih 
bebas dan untuk menghasilkan masyarakat yang kaya.” Polemik ini berlangsung 
hingga Konferensi Perempuan Sosialis Internasional Pertama yang berlangsung di 
Stuttgart tahun 1907—konferensi ini diinisiasi oleh Partai Sosial-Demokrat 
Jerman dalam kongresnya tahun 1906. Kollontai menyoroti polemik ini dengan baik 
dalam laporannya tentang Konferensi Stuttgart.[7]

Selain alasan yang diajukan Zetkin, mengapa anggota Partai Sosial-Demokrat 
Jerman yang menjadi delegasi Konferensi Stuttgart mengajukan posisi hak pilih 
universal? Kollontai melihat bahwa ini berarti dua hal: menuntut partai-partai 
sosialis untuk mengamankan kesetaraan politik perempuan secara penuh dan 
menarik batasan yang tegas dengan feminisme borjuis. “Dalam mempertahankan 
kepentingan perempuan pada kelasnya, Sosial-Demokrat Jerman mempraktekkan 
demokrasi dalam bentuknya yang penuh,” tulisnya. Di lain pihak, delegasi dari 
Inggris, khususnya, ia pandang sebagai representasi dari feminis borjuis yang 
tidak meletakkan perjuangan kelas dalam posisinya sehingga ketika kepentingan 
kelasnya terancam, posisinya menjadi sangat rentan. Dukungan perempuan pekerja 
delegasi Inggris untuk hak pilih parsial ditulisnya sebagai “[…] pengkhianatan 
yang hina dan tak termaafkan dari kelas proletar.” Dengan mayoritas suara 47 
berbanding 11, konferensi memutuskan hak pilih universal sebagai posisi akhir. 
Kecuali persoalan hak pilih, hampir semua delegasi menyetujui 
persoalan-persoalan lain, seperti mendesak standar kerja internasional menjadi 
8 jam per hari; pembayaran upah bagi perempuan pekerja yang mengandung atau 
sedang merawat anak; dan pembentukan sekretariat gerakan perempuan sosialis 
internasional di Jerman.

Di seberang Benua Eropa, Amerika Serikat, isu perempuan kelas pekerja juga 
menemukan gaungnya. Kondisi perempuan pekerja di sana, khususnya di 
pabrik-pabrik tekstil yang jumlahnya tak kurang dari 30 ribu orang berada dalam 
kondisi yang buruk: jam kerja yang panjang, sanitasi yang buruk, dan upah yang 
kecil. Pada 8 Maret, 1908 kurang lebih 15 ribu perempuan pekerja tekstil di New 
York melakukan pemogokan besar-besaran untuk menuntut kondisi kerja yang layak, 
pengurangan jam kerja, dan hak pilih.[8] Setahun setelahnya, untuk memperingati 
pemogokan ini, Partai Sosialis Amerika Serikat menjadikan 8 Maret sebagai 
‘Women’s Day’. Setelahnya, dari 1909-1910 perempuan pekerja tekstil di New York 
dan beberapa kota lain melakukan rangkaian mogok yang merupakan mogok perempuan 
pekerja terbesar dalam sejarah Amerika Serikat. Salah satu tokoh perempuan 
penggeraknya adalah Clara Lemlich.

Hal ini kemudian menginspirasi Luise Zietz dan Clara Zetkin sebagai delegasi 
Jerman dalam Konferensi Perempuan Sosialis Internasional kedua di Kopenhagen, 8 
Maret 1910 untuk mengajukan istilah “International Women’s Day’ di konferensi 
tersebut. Dengan kata lain, akar dari IWD adalah perjuangan perempuan kelas 
pekerja yang menuntut hak-haknya. Ini secara eksplisit dinyatakan dalam 
konferensi yang dihadiri 100 delegasi dari 17 negara tersebut:


“Sejalan dengan politik kesadaran kelas dan serikat-serikat buruh dari berbagai 
negara, perempuan sosialis seluruh dunia harus mengorganisir ‘Women’s Day’ 
(Frauentag) untuk mempromosikan hak pilih bagi perempuan dalam propagandanya 
bersamaan dengan persoalan-persoalan perempuan yang lain sesuai dengan konsepsi 
sosialis.”[9]


Konferensi Kopenhagen tersebut juga memutuskan 4 tuntutan utama untuk 
perjuangan sehari-hari: hak pilih bagi perempuan, perlawanan terhadap ancaman 
perang, perjuangan untuk kesehatan ibu dan bayinya, dan perjuangan melawan 
meningkatnya harga-harga.

Peringatan IWD pertama dilakukan setahun setelah Konferensi Kopenhagen. 
Awalnya, IWD diperingati tanggal 19 Maret karena delegasi Jerman melihat 
sejarah dari tanggal itu dimana kelas pekerja Jerman mengambil peranan penting 
pada Revolusi 1848. Barulah nanti ketika 1913, IWD diperingati setiap tanggal 8 
Maret. Di Rusia, peringatan IWD ke-6 pada 1917 ditandai dengan mogok 
besar-besaran perempuan kelas pekerja yang menuntut diakhirinya Perang Dunia I, 
diakhirinya krisis pangan, dan jatuhnya rezim Tsar. Di kemudian hari, pemogokan 
ini dikenal dengan Revolusi Februari. Dalam pemogokan itu, rezim Tsar melakukan 
kekerasan dengan menembaki para demonstran. Sesuatu yang semakin memicu 
kemarahan rakyat sampai nanti terjadi Revolusi Oktober pada tahun yang sama.

Situasi Nasional dan Catatan Kritis
Lantas, hari ini, bagaimana kita melihat kondisi perempuan Indonesia—khususnya 
kelas pekerja—dalam peringatan IWD ke-109? Pertanyaan selanjutnya, apakah 
semangat peringatan IWD di Indonesia kali ini masih berselimutkan api 
perlawanan seperti semangat awalnya sesuai ‘konsepsi sosialis’?

Secara umum, kondisi sosio-politik Indonesia hari ini sangat tidak 
menguntungkan rakyat, terlebih perempuan kelas pekerja, karena polarisasi 
politik yang tercipta sangat mengabaikan persoalan-persoalan riil. Alih-alih 
memberikan ruang demokratis bagi setiap individu dan kelompok untuk 
berpartisipasi, politik elit hari ini justru menjadi kendaraan para elit 
membajak politik partisipatoris kaum buruh, perempuan, dan rakyat tertindas 
lain. Partai yang dapat berlaga dalam percaturan kekuasaan hanyalah partai yang 
bermodal besar—karena UU Pemilu memustahilkan adanya partai yang berangkat dari 
rahim rakyat[10]—dan populis—mengikuti logika pasar sehingga kerja-kerja 
perebutan kekuasaan menjadikan isu kerakyatan sebagai komoditas semata.

Partai-partai politik tidak hanya memainkan politik uang demi mendulang suara, 
melainkan juga memainkan isu ras, agama dan segala politik adu domba lainnya 
yang memecah belah gerakan rakyat. Padahal, partai-partai politik—baik dari 
pihak petahana maupun oposisi—tidak benar-benar terbelah. Mereka 
terkonsolidasikan dalam jejaring oligarki politik yang saling menopang 
pembangunanisme beraroma Orde Baru.[11] Menyebarnya isu populisme agama 
menyebabkan maraknya persekusi terhadap kaum minoritas, penyegelan dan 
perusakan rumah ibadah, pembubaran acara keagamaan, banyaknya perda 
syariah—termasuk juga Perda Kristen di Manokwari—dan kebijakan-kebijakan 
intoleran lain. Negara juga amat patriarkis dengan mempersekusi 
kelompok-kelompok identitas minoritas. Lihatlah bagaimana di Aceh beberapa 
waktu lalu, para transgender yang tidak mengganggu atau sama sekali tidak 
merusak fasilitas umum digelandang dan dicukuri rambutnya.

Juga di ranah legislasi, pengesahan RUU PKS (Penghapusan Kekerasan Seksual) 
yang telah berjalan berlarut-larut belum dianggap penting oleh negara. Padahal 
kasus kekerasan seksual meningkat dari tahun ke tahun. Kasus-kasus kekerasan 
seksual tidak hanya terjadi di ruang-ruang tertutup, pelaku semakin berani 
melakukannya di ruang publik, seperti jalan raya, mall, taman, gang, angkutan 
umum, di tempat kerja, institusi pendidikan hingga ruang maya. Di ranah 
perburuhan, persoalan outsourcing yang melegitimasi praktek fleksibilitas 
tenaga kerja masih menjadi persoalan besar yang perlu segera diatasi, utamanya 
oleh gerakan buruh. Kondisi buruh perempuan bisa dikatakan lebih parah: 
kebijakan cuti pra dan pasca melahirkan yang tidak layak; kondisi kerja yang 
buruk; upah yang minim; dll.

Dari kompleksnya situasi nasional seperti penulis ringkas di atas, bagaimana 
momentum IWD ini dapat menjadi gebrakan atau minimal dorongan menyatukan 
kekuatan rakyat untuk membangun politik independen seperti temanya? Yang juga 
penting, bagaimana menyatukan isu perempuan dengan kelas pekerja seperti 
semangat IWD yang digagas para perempuan sosialis, dan tidak mereduksinya pada 
hanya satu-dua isu saja? Ini adalah hal yang krusial, jika bukan mendesak, 
karena pembacaan yang keliru atas situasi nasional—bahkan internasional—akan 
berakibat pada setidaknya kebuntuan gerakan itu sendiri.

Komite IWD 2019 yang berupaya merespon situasi nasional dengan mengelompokkan 
masalah perempuan ke dalam 8 klaster[12]—perempuan dan ketenagakerjaan; 
perempuan dan pendidikan; perempuan dan kekerasan seksual; perempuan dan 
kesehatan; perempuan, identitas, dan ekspresi; perempuan, ruang hidup, dan 
agraria; perempuan, kebijakan, dan perlindungan hukum; perempuan, media, dan 
teknologi—semuanya ini harus merepresentasikan kondisi rakyat. Dengan kata 
lain, ia harus benar-benar berangkat dari bawah, tidak diinjeksi dari atas. 
Pertanyaan lanjutannya, jika tidak ingin sebatas seremonial, setelah ini apa 
yang bisa dilakukan untuk membangun politik perempuan independen tanpa 
menegasikan semua isu tersebut?

Jika dulu, ketika terjadi Perang Dunia I para perempuan sosialis melakukan 
demonstrasi untuk tidak mendukung blok Barat atau blok Timur karena perang 
imperialis tersebut hanya akan merugikan perempuan kelas pekerja, maka dalam 
konteks hari ini bagaimana semangat independensi tersebut bisa kita ambil untuk 
melawan penindasan struktural yang ada? Ini adalah, terutama, pertanyaan untuk 
kita semua. Akhir kata, selamat Hari Perempuan Internasional! Hidup rakyat, 
hidup perempuan!

Catatan akhir:

[1] Lih. ‘Women’s Day’ oleh Alexandra  Kollontai, 1913 
(https://www.marxists.org/archive/kollonta/1913/womens-day.htm)

[2] Departemen Perempuan yang dibentuk pada 1919 berada dalam Kongres Soviet 
Seluruh Rusia Kedua (Second All-Russian Congress of Soviets) dimana Kollontai 
terpilih sebagai komisaris kesejahteraan sosial. Lih. 
https://isreview..org/issue/87/international-womens-day

[3] Lih. ‘Social-Democracy & Woman Suffrage’ oleh Clara Zetkin, 1906 
(https://www.marxists.org/archive/zetkin/1906/xx/womansuffrage.htm)

[4] https://www.marxists.org/archive/zetkin/1896/10/women.htm

[5] Lih ‘Women’s Suffrage and Class Struggle’ oleh Rosa Luxemburg, 1914 
(https://www.marxists.org/archive/draper/1976/women/4-luxemburg.html)

[6] Lih. ‘Social-Democracy & Woman Suffrage’ oleh Clara Zetkin, 1906 
(https://www.marxists.org/archive/zetkin/1906/xx/womansuffrage.htm)

[7] https://www.marxists.org/archive/kollonta/1907/is-conferences.htm

[8] 
https://www.leftvoice.org/International-Women-s-Day-Feminism-and-Workers-Movements

[9] 
https://www.jacobinmag.com/2017/03/international-womens-day-clara-zetkin-working-class-socialist

[10] Lih. ‘Tibanya Tahun Pemilu 2019 dan Mendesaknya Politik Alternatif’ oleh 
Amalia Salabi, 2019 
(https://islambergerak.com/2019/01/tibanya-tahun-pemilu-2019-dan-mendesaknya-politik-alternatif)

[11] Lih. ‘Developmentalisme, Otoritarianisme, dan Nasionalisme: Menggagas 
Studi Pembangunan Radikal di Indonesia (Bagian 1)’ oleh Rizki Amalia Affiat, 
2018 
(https://islambergerak.com/2018/11/developmentalisme-otoritarianisme-dan-nasionalisme-menggagas-studi-pembangunan-radikal-di-indonesia-bagian-1)

[12] Lih. Rilis Pers Komite IWD 2019.
   Arlandy Ghiffari | 10/03/2019 pukul 12:26 pm | URL: https://wp.me/p4Cvrx-Jm  
 

| Komentar |    Lihat semua komentar |

 |

 |


|  
 Berhenti berlangganan dari  agar tidak lagi menerima pos dari Islam Bergerak.
 Ubah pengaturan email Anda di Kelola Langganan. 
 
 Sulit mengeklik? Salin dan rekatkan URL ini ke peramban Anda: 
http://islambergerak.com/2019/03/politik-perempuan-independen-refleksi-untuk-international-womens-day-iwd-2019/
 
  |

 |


|  |

  |


 |

  

Kirim email ke