*Kalau diizinkan pasti ada saja yang mau; dari pada paham Abunawas, karena
pahamnya tidak bisa menciptakan kenyataan tentang kemajuan teknologi yang
mempermudah kebutuhan hidup manusia modern, demikian keterangan seorang
pakar ilmu duniawi.*


https://suara-islam.com/mau-pancasila-atau-komunisme-pki/
*Mau Pancasila atau Komunisme PKI?*

31 Maret 2019



 Prabowo-Jokowi dalam debat keempat. [foto: ANTARA]

Saya akan tulis singkat saja soal pilihan ideologi kita. Supaya mudah
dipahami. Agar pilihan itu tidak abu-abu. Agar kita semua tidak ragu-ragu.

*Pertama. *Dengan segala macam insiden masa lalu, ternyata hari ini umat
Islam telah memahami sepenuhnya status Pancasila sebagai landasan falsafah
dalam berbangsa dan bernegara. Insiden masa lalu itu tidak perlu kita
uraikan di sini.

Mengapa tak perlu? Karena insiden-insiden itu tidak mewakili sikap
mayoritas umat Islam. Terus, berbagai insiden masa lalu itu menyimpan
jejak-jejak rekayasa. Ada konspirasi jahat untuk memojokkan umat Islam dari
waktu ke waktu.

Intinya adalah bahwa sebagian elemen umat, waktu itu, masih berayun seperti
pendulum. Ibarat proses “soul-searching” yang belum selesai.. Proses
pencarian landasan ideologi yang belum tuntas pada masa itu.

Sekarang, pendulum ideologi itu telah berhenti di satu titik yang stabil.
Titik itu adalah Pancasila. Semua penumpang kapal besar Indonesia, dengan
keberagaman yang sifatnya eksternal dan internal, kultural dan spiritual,
kini rela dan senang beridentik dengan Pancasila. Alhamdulillah.

*Kedua. *Ada ideologi komunisme yang dianut, disuburkan, dan kemudian
dipemer-berontakkan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Setidaknya ada
tiga kali pemberontakan PKI. Satu kali di era kolonial (1926) dan dua kali
di era pasca-kemerdekaan (1948 dan 1965). Menurut para sejarawan lain,
pemberontakan itu sudah lima kali berlangsung.

Soal berapa kali, tidak begitu relevan. Yang teramat penting dicatat adalah
bahwa penghadang terbesar pemberontakan komunisme itu adalah umat Islam.

*Ketiga. *Dalam beberapa hari ini, tokoh senior kubu Jokowi, yaitu
Hendropriyono, mengeluarkan pernyataan yang provokatif bahwa pilpres kali
ini adalah pertarungan antara ideologi Pancasila dan Khilafah. Tentunya
sangat mudah dibaca bahwa yang dia maksud Pancasila itu adalah Jokowi; dan
yang dimaksudkan Khilafah itu adalah Prabowo Subianto (PS).

Dalam statemen tegas di acara debat keempat capres malam tadi (30/3/2019),
Prabowo mengatakan Pancasila sudah final. Semua elemen umat Islam juga
tidak ada masalah dengan Pancasila. Sehingga, pernyataan provokatif
Hendropriyono sama sekali tidak relevan.

Lantas pertarungan apa yang relevan untuk dikaitkan dengan pilpres 17
April?.

Kirim email ke